Notes On

Friday, September 12, 2008

On Jo's Being Radical, The Balance of Power and Character

Dear Jo,
Let my earthly thought speak out, on your "The Balance of Power and Character"

Yes, reading you, I agree we cannot deny that the “stock” of power promised within the calling, is not parallel “utilized” with the character of a person who respond the call.
Why then the power should be promise at all if there is a risk of character conflict within, that might follow the person along the way. Is He not wise enough to offer such a “call”?
Let me try my “spiritual” thoughts on these..

It seems like I might need to go around the corner and see, what is so important for being radical. I've hear it for so many years.
“We need to be radical for Christ,” said a preacher.
“Amen”, answered the congregation.
The “amen” for years, has shut up the pop up question of mine: “for what, on what purpose?”
We never go far enough to explore the reason why we can hear the call. Far enough to see the scene: God himself plant the seed of faith in us.
There, for he has plant a seed in us, we need to be radical. Be with radix.

So why does it so important to be radical, and on what purpose?
I think because "being radical" logically means, being with radix or root. I feel a need to be with root in the world where counterfeit and EZ (ez pay, ez money) are accepted as a must. I think it would be cool stuff to have a “root” on something.

Being radical then would be being different. You will stand up, you will speak up, when everything around you are floating, carried away with the mass, by the mass.
By having a root, then we can carry on with life, as we are destined to live. No dead seed needs root. By having root, and only by having root we can fulfill our destiny.
Moreover, my radix, the root, on which I am standing, is Jesus. Christ. What a thought!

And what an interesting part to add on the idea of “it’s cool” of being within Christ: is the power. But, why is it important to have the power "..to cast out demons and to heal all sickness and illness.." as said in the Book of Matthew.

Actually, we all glance on the same scripture also: the power is within you. But comically, it seems like we are all waiting for a dramatically scene where the lightning tear up the sky before the power then is installed in us.

In my simple thought: the power must be understand as some kind of “tool” that meant to facilitates the nature of being radical, the nature of the calling. Just like a plant reacts to the power of growth within it, and then give out leaves, branch, and buds, so a radical one will facilitate the healing, the deliverance. It should be comes out just like that. It can’t be stopped, as no one can’t stop the growth of a plant, which is plant properly.

So where does the character go wrong?
Friend of mine, I Nuntung make an interesting tag line on his facebook page, .. tiada akar, batangpun pasti tak ada.."
In line with the idea, within my simple thought the character went wrong because when the seed of new creation was planting (even more, which did God himself plant), the seed was “not allow” to get it roots rooted by so called ”success”; which is come to us with so many different faces and names. The pursuing of success of manifesting (it is no longer facilitating) power, slow down and even stop the process of being radical. the process of to be with radix, be with root. Because the nature to produce root has been allocated to the achievement of success parameter.


I might be wrong. I might be the one without power. Nevertheless, I understand a lesson on being a person with character, and even more, being empowered by grace.

Thanks Jona. Again what a thought!!

Sunday, September 7, 2008

Mengupas Keindahan Naturalistas

ini refleksi, saya dan diri sendiri berhadapan, dengan kenaturalan -tulisan Onna Tahapary: duta kerajaan, pendengar, penulis, dan pengajar - sebagai cermin.

NATURAL itu APA ADANYA, LIAR. Juga indah. Ya. Setuju. Meski terus terang agak sulit menemukan "keindahan" di dalam ke-apaadanya-an itu. Selain keindahan itu relatif, dan subyektif.  Pula betapa sulitnya memahami "keliaran" sebagai keindahan. Atau mari jujur-jujuran:  apakah mungkin? 

DIKOTOMI MORALITAS DAN NATURALITAS. Saya sering kali takut mengakuinya. Tapi begitulah. Ada dalam benak: hidup, berakar, bahwa moralitas tidak mungkin berjalan sejajar dengan menjadi apa adanya atau menjadi liar. Dari pengalaman menyelam, dan berbagai pertemuan dengan peristiwa alam, saya perhatikan alam, nature, tidak pernah bersikap agresif. Atau sikap agresif tidak hadir tanpa pemicu. Setiap unsur dari sebuah habitat mempunyai wilayah tumbuhnya sendiri. Zona aman, comfort zone. Sikap -yang terbaca agresif- adalah reaksi purba dari rasa terancam, rasa takut, yang melahirkan upaya-upaya mempertahankan diri, di dalam wilayah aman itu. Jadi saya kira, keliaran sama sekali tidak identik dengan sikap-sikap agresif, dan mengancam.
Tapi tidak ada tempat lain untuk menemukan ke-apaadaan, kesejatian selain berada di habitat asal. Berada di tempat, di situasi yang menelanjangi diri saya sedemikian rupa. Memaparkan saya sepenuh-penuhnya kepada: rasa takut, naluri-naluri purba untuk mempertahankan diri.

karena kehidupan tidak hitam-putih, karena kehidupan begitu kompleks, keliaran yang ditawarkan Onna, - keberagaman, bukan keseragaman- adalah pilihan yang sulit untuk diakui bahwa kita memerlukannya. Sama sulitnya memahami bahwa karena kita manusia, sekali lagi, JUSTRU karena kita manusia, “terserah” adalah tantangan terbesar bagi kenaturalan. Sebab meski kenaturalan memiliki hukum-hukumnya sendiri, pada manusia, hukum-hukum itu tidak sekedar “boleh-tidak boleh”, “haram-halal”, tapi juga “terserah.”

Ini membuat ke-apa-adanya-an, dan keliaran dalam ide naturalitas Onna, harus dimulai dan dipahami sebagai , naturalitas seorang yang lahir baru. Tanpa dasar kelahiran baru, being natural, menjadi apa adanya, ada ide yang mengerikan untuk para pencari surga yang mengerangkeng dirinya dalam ritual-ritual atau upacara-upacara keagamaan yang diselenggarakan atas dasar takut berdosa. 
Meski saya berpikir demikian, saya tetap menyarankan supaya ide ini perlu dipertimbangkan untuk diperlakukan sebagai “sesat dan menyimpang”: bahwa ada orang yang melakukan ritual-ritual keagamaan karena takut berdosa.  Bukan memanfaatkan ritual itu sebagai fasilitas komunikasi. Tempat membangun hubungan. Tempat berkonsolidasi. Sebab, saya tidak lagi yakin ritual-ritual itu dihadirkan semata-mata untuk keperluan transendental antara kita dan Sang Aku adalah Aku. Tapi pada saat yang sama, merasa iba pada mereka yang ragu-ragu untuk segera menceburkan diri ke dalam ide gila ini. Menceburkan diri ke dalam ketersediaan sang Pencipta, yang notabene pemilik blue print hakekat kehadiran seseorang dalam dunia. Kegembiraan yang liar.
Saya teringat  pada suatu sore, sekelompok anak-anak di tepi tanggul di belakang sebuah hotel di Baubau.. mereka saling menjatuhkan temannya dari kontruksi kayu , atau menjatuhkan dirinya sendiri, berteriak riuh ketika melayang jatuh ke dalam laut dan tertawa tergelak di dalam air, berlomba naik ke darat, untuk saling mendorong lagi. Kegembiraan itu: apa adanya dan liar -menghitung resikonya-. Tapi berdosakah mereka?

Mungkin naïf, analogi ini, tapi dimerdekaan dalam Kristus, adalah landasan kita untuk tergelak, menikmati kegembiraan didorong dan mendorong orang menikmati “mandi-mandi”.. ini. Takut basah, tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk membiarkan “keliaran” lepas, dan mencoba berenang.

Ya.Saya juga setuju bahwa menjadi apa adanya, punya resiko besar. Resiko itu adalah menjadi bagian dari berbeda. Tidak semua orang bersedia menjadi berbeda atau menghargai perbedaan. Mudah dipahami betapa sulit menerima ide bahwa berbeda adalah ide otentik Sang Aku adalah Aku. Terbiasa dengan “copy-paste”, dan hidup dimasa “copyright” diterjemahkan sebagai “my right to copy” , beberapa orang – saya, maksudnya- sering lupa membayar “franchise fee” kepada yang punya ide. In short, ada sejumlah besar orang yang tidak punya rasa segan/respect/ hormat pada originalitas. Buat saya itu tindakan mungkar: ketika kita berlomba-lomba menjadi sama. Sama disorientasinya, sama dangkalnya. Kira-kira itu barangkali alasan Yesus bilang: "lebar jalan menuju kebinasaan"

Kayaknya, menjadi apa adanya -dalam Kristus- adalah tujuan penciptaan. Kegagalan menerima dan menghargai ide naturalitas-Nya, menggiring orang dengan posisi strategis tertentu, pada tindakan kesewenang-wenangan. Ke-apa-adanya-an, keliaran , tidak sering merupakan sesuatu yang dijadikan "target pembangunan". Dalam konteks komunitas di mana Onna berkubang  "target pembangunan" adalah berbagai bentuk upaya, sekali lagi, upaya , atau kerja keras seseorang untuk memaksakan result nilai-nilai yang diyakininya ke dalam kehidupan orang lain. Upaya-upaya yang kalau dianalogi akan seperti bersikeras menyeragamkan usia panen tomat, kepada durian. what an effort kan? Konyol, but some people melihat hal itu sebagai bukti pencapaian, keberhasilan, sukses.

Contoh lain dari kesewenang-wenangan dalam menerima kenaturalan, adalah begitu sering kita -setidaknya saya- tergoda untuk menginterpretasi "kecukupan", sebagai "kemiskinan". Seperti menimbang pohon ketapang di tepi laut, dengan pohon jati yang telanjang tanpa daun di musim kemarau berdasarkan rimbun daun dan kehijauan. Siapa atau apa yang mendorong terbentuknya difinisi "miskin" pada si jati malang itu?

Maksud saya:  siapa kita, untuk merasa lebih baik dari orang lain, dan ukuran pencapaian kita, kita pasungkan ke pada orang lain?

Asumsi saya, karena keterjebakan pada ukuran-ukuran materialistis, serta kegagalan melihat beda "cukup dan "serba kekurangan" dalam gambar biru sang Pengendara Musim. Saya harus terus melihat dua hal yang natural itu atas gambar biru. Bukan pada fotocopian kabur yang kita copy dengan mesin fotocopy merek “kata orang”.

Di gambar biru itu, kelihatannya “pas” , “seimbang” adalah salah satu keterangan yang mendampingi ide “diciptakan menurut gambar dan rupa Allah” , sebagai salah satu kata kunci dari kenaturalan, atau menjadi natural..

Para pemuja surga, cenderung bermain di wilayah aman. Para peziarah kebenaran akan berjalan sejauh-jauhnya, tanpa takut kehilangan jalan pulang, seperti Henokh.

Monday, July 21, 2008

Tungku

tak ada api dirimu abu
dingin. di perapian terserak
rindu beriak
aku menggelepar digoreng gelisah

July 2008

Saturday, July 5, 2008

Kepergian: Kita

then another page was added about you

/2/

angin membawa bau hutan, bertiup dari lautan
sarat dengan 'jangan',
berat oleh 'tak boleh', menyisirkan bimbang.

Lalu hujan jatuh,
membalurku
dengan perih dan gigil
yang memamah dirinya sendiri
ketika berhenti.

2008

di dermaga

:k

kabut di laut, hari larut di langit hampa, kepada bayang hitam perahu pulang.
rindu tersangkut di tiang dermaga.
ombak mengusap kayu, waktu mengusapku.mengusap risau yang sebahu.


bagiku kau binatang karang di tiang-tiang dermaga, lekat, pada surut dan pasang
pada pecah gelombang, tumbuh dan diam.
tentangmu: waktu adalah tangan yang melambai, melepas pergi. pun aku, buih busa di buritan kapal , kenangan yang tak jejak, tak sisa.


di dermaga, kuantar kenangan pulang ke malam.


2008

Tuesday, July 1, 2008

Ketika Menunggu Di Pelabuhan

Prolog:

Perjalananmu, tentulah jauh melebihi pengalamanku. Kalau mencatatnya seperti ini, itu hanya supaya tidak lupa dan semata ingin bercerita. Dalam ketidaktahuan, dan kedunguanku terhadap apa, siapa yang telah kau temui dalam perjalanan.

Semalam Ariel -si sulung- berangkat ke Surabaya, dengan kapal laut. Fasilitas angkutan umum di mana orang diperlakukan tidak berbeda dengan barang oleh buruh-buruh angkut. Mengiringnya dengan mata, melihatnya terhimpit diantara penumpang lain, didesak didorong oleh buruh angkut di tangga kapal dengan backpack sepanjang punggungnya, saya terharu melihat senyum kemenangannya ketika dia melambai dari koridor kapal setelah berhasil mencapai puncak tangga.

Rasa haru ini, membersitkan rasa bangga, ketika Dantje, person in charge dalam rombongan yang diikuti Ariel, menelpon Nonie, ibu Nathan -teman serombongan Ariel- “mengeluh”: “kalau pulang nanti, pakai pesawat saja, ci Non.Ededeee, perempuan menggendong bayi saja tidak dianggap.”

Komentar saya: “tidak apa-apa. Ini kesempatan untuk belajar.”

Saya tahu, saya hanya bisa berharap Ariel akan memakai kesempatan ini untuk belajar. Belajar bagaimana survive. Belajar berada di posisi “tidak istimewa, hanya salah satu.” Belajar menguji nilai-nilainya sendiri. Bukankah hidup memang begitu?

Kita , saya setidaknya, semalam pada saat menunggu, melihat “tidak apa-apa. Ini kesempatan untuk belajar”-ku itu seperti ini: usaha saya menyingkirkan rasa terhimpit dan tertindas yang semakin meningkat seiring kemampuan capital saya membeli kenyamanan. Membeli ruang-ruang kenyamanan yang saya ukur dari pengalaman masa lalu.

Dengan kata lain -tanpa bermaksud menggurui-: kalau dulu saya naik kapal kelas ekonomi, tidur di emperan lorong, karena dana yang pas-pasan untuk pergi ke Jawa, anak saya harusnya tidak usah mengalami hal-hal itu. Pengalaman saya dulu, saya jadikan ukuran “nyaman-tidak nyaman”, sehingga ketika sekarang mau bepergian, ukuran itu saya jadikan pertimbangan. Pertimbangannya tidak menghitung kenyataan, betapa tak ternilainya pelajaran yang saya timba di perjalanan, betapa tak ternilainya pengalaman kebersamaan. Atau hal-hal lain yang kemudian membuat semua kita menyimpan rasa terimakasih pada kelas-kelas kehidupan yang telah kita masuki, dan memberi kita cukup alasan untuk stand up and sing: "let's celebrate life, i'm prosper!!"

Pertimbangannya lebih pada, dulu tidak ada uang, sekarang ada. Pada gengsi yang disamar-samarkan sebagai “mo libur kok malah susah,” “harus yang nyaman dong”, “itu jaman kesusahan, sekarang kan beda”. Pertimbangan “nyaman” itu, akhirnya membuat peristiwa “pergi bersama” menjadi semakin sempit, dan secara otomatis peluang untuk melakukannya semakin tipis. Setidaknya itu cara saya menghitung, sekarang.

Sebenarnya, kalimat panjang ini, hanya untuk bilang: saya telah berubah. saya hampir lupa, saya pernah ada di antara para penumpang kapal PELNI itu bertahun lalu. Berselonjor diatas kertas koran, menunggui ransel bawaan seperti induk ayam membentangkan sayapnya, tapi gembira, penuh gairah. Bukan saya yang sekarang, memilih kenyamanan diatas segalanya, dan lelah secara emosional oleh rutinitas.

Padahal, berapa banyak sebenarnya yang mampu saya beli? Saya bahkan tidak bisa membeli subtitusi dari kerendahan hati. Ketika kembali berada di tengah bau keringat, ruang pengap, saya mual. Padahal, ada ratusan orang lain di ruang tunggu itu, dan mereka menunggu dengan kepasrahan yang mengigilkan pada system yang begitu korup. Saya bertahun lalu ada di antara mereka. Dengan idealisme yang menggigilkan ttg masyarakat sejahtera, dengan kemarahan berbuncah pada ketidakadilan dan kesewenangan, juga empati pada kemiskinan, yang saya potret di pelabuhan. Potretnya sama. Saya tidak ada lagi ada disana.

Mungkin tidak perlu ada, tapi saya merasa dengan ruang yang lebih luas yang sekarang saya miliki, saya tidak seharusnya membuang hal-hal yang saya rekam dan saya alami, seburuk apapun itu. Mestinya, idealisme itu tidak hilang, mestinya buncah kemarahan itu tidak mereda lalu dingin, mestinya empati tidak perlu saya tukar dengan gengsi.

“Tidak ada di sana”, juga menjadi jembatan kepada hal lain mengenai Ariel, ketika menunggu itu. Dia akan bertualang. Dan sendirian. Maksudku, tanpa saya. Sebelum itu, ketika memelukku di pelataran pelabuhan, saya bilang: “have fun”, dan sambil melangkah, Ariel memberi tanda OK dengan jemarinya

Melihatnya menghilang ke lambung kapal, rasanya seperti melepas seorang sahabat. Kami sama tahu, kami akan saling merindukan, tapi perpisahan ini adalah kegairahan tersendiri. Sebuah perjalanan , sebuah kesempatan, yang sering kali harus ditempuh masing-masing orang, semata dengan dirinya sendiri. Kali ini, Ariel tidak melakukannya bersamaku. Itu saja. Ada kegairahan lain, ada kesempatan lain, yang akan disodorkan waktu untuk kami tempuh berdua. Yang perlu saya lakukan adalah menunggu.

Bagaimana saya akan menunggu, adalah sebuah pilihan sikap hati. Sikap hati yang baru akan terbaca kemudian, tapi direkam oleh "sekarang". seperti potret menunggu di pelabuhan. Potretku, menunggu di pelabuhan.

Ketika “tidak ada disana” itu hadir, berelasi dengan orang-orang terkasih: anak, suami dan sahabat saya ingin berterimakasih. Karena “tidak ada disana” adalah sebuah dimensi saja, dimensi fisik. Kehadiranmu ( "-mu" baca: orang-orang terkasih) memenuhi setiap ruang, ruangku sebagai ibu, sebagai istri, lebih dari itu sebagai orang.

Semalam ketika menunggu Ariel pergi, saya penuh ingatan padamu. Pada kesediaanmu menemani. Kesediaanmu menelan sendiriku yang sering tanpa hati.


2008
last day with IFC-AS Indonesia.

Farewell Email : the running track

this is the note, written on my last day with IFC-Indonesia..

It's like get my self on the start line of a running track.

Today, i finished my run with IFC Indonesia, not as a quitter, off course, and I'm facing the new track.
I haven't finished the up coming run, but knowing you are there, cheer me up, : "ayo kamu bisa!!", I can't help not to feel excited.

Thank you. all of you.
I want to thank special people that have made my 3 years with IFC unforgettable. The year of learning, expanding and improving. But on top of this, thank you for the opportunity to become not only your colleague, but also your friend.
I have a list of special "terimakasih", this "terimakasih special pake telor" goes to:
Pak Bruce, Ibu Dina, Iain Neish, the people that risk their trust and then allow me to grow.
My colleagues : Makassar team (makassar bisa tonji, guys!), Ida Aji, Titiek, Danny, Bido, Nyoman, Mbak Astie, Shinto, Sandra, Veby, Aceh Team (guys, u always have special place in my heart ever!), Indra. Pak Hans (let me know pak, if you are in Makassar)

As you cheer me up, i would also like to say: "ayo, kamu bisa" for everyone that will continue the good work we've initiated all these years.

Today, as I finished my precious run with IFC, I am standing on my running track in confidence. I have what I need to go for a run. a new run.


Keep in touch,

Luna Vidia
lunavidya@gmail.com, lunavidya@yahoo.com,
+624116170101, +628124225333

Sunday, June 22, 2008

Malam di Losari


berhadapan dengan malam
bau laut menggantung
pekat
sudah selarut ini
kau masih belum kembali
pada trotoar losari kosong berangin
pada gerobak dengan peti-peti sepi pembeli
pada sayup pelita di buritan sampan
ada aku terhampar
di antara angin dan malam
padamu kukemas rindu

seperti angin silir, ombak, es dalam kotak sepi
tak putus-putus dingin
melarutkan malam
rindu tak jemu kularung ke arahmu
semoga sampai
sebelum pagi

/2/
kabut di laut, hari larut di langit hampa, kepada bayang hitam perahu pulang
rindu tersangkut di tiang dermaga
ombak mengusap kayu, waktu mengusapku.mengusap risau yang sebahu.
bagiku kau binatang karang di tiang-tiang dermaga, lekat, pada surut dan pasang
pada pecah gelombang, tumbuh dan diam.
tentangmu: waktu adalah tangan yang melambai, melepas pergi. pun aku, buih busa di buritan kapal , kenangan yang tak jejak, tak sisa.
di dermaga, kuantar kenangan pulang ke malam.

/3/

di sebuah pantai lain,
angin membawa bau hutan,
bertiup dari lautan sarat dengan 'jangan', 
sarat oleh 'tak boleh',  menghembuskan gamang
menyisirkan bimbang.
Lalu hujan jatuh,
membalurku dengan perih dan gigil
yang memamah dirinya sendiri
ketika berhenti.

2008

Saturday, June 14, 2008

Tanda Musim Kita

then another page was added about you

datangnya seperti gelombang dari kejauhan,
mengombak lalu pecah di bibir pantai.
dan selain buih busa,
juga rasa kosong yang tak terpahami musababnya
tak ada apa yang di bawanya.

angin dan aku mungkin telah berpapasan
di silirnya tentulah terbeban pesan
tentang musim hujan dan musim angin
tentang penanda tiba musim buah di hutan
tentang bau pantai yg tumpah ruah dengan penggal kehidupan,
angin dan aku tentulah telah berpapasan
tapi telingaku tak hirau pada pesan
"musim angin telah datang,
sakal atau banal, ia telah berubah haluan"

datangnya seperti riuh kelelewar Maespun
mengejar musim buah di pulau besar
yang ditinggalkannya,
kenangan ranum buah
separuh luka terbuka

2008

?

datangnya seperti gelombang dari kejauhan,

mengombak lalu pecah di bibir pantai. dan selain buih busa,

juga rasa kosong yang tak terpahami musababnya

tak ada apa yang di bawanya.

angin dan aku tentulah telah berpapasan

di silirnya tentu terbeban pesan


tentang musim hujan dan musim angin
tentang bau musim buah di hutan
tentang bau pantai yg tumpah ruah dengan penggal kehidupan,
angin dan aku tentulah telah berpapasan
tapi telingaku tak hirau pada pesan.
"musim angin telah datang,
sakal atau banal, ia telah berubah haluan"


datangnya seperti riuh kelelewar Maespun*
mengejar musim buah di pulau besar
yang ditinggalkannya,
kenangan ranum buah
separo luka terbuka

*Maespun: pulau yang dihuni kelelawar di perairan Raja Ampat

2008

Friday, June 13, 2008

Cemburu Yang Membakarku

then another page was added about you



cemburu? ada masa yang panjang saya tertawa atas kata itu.. cemburu hanya milik mereka yang dimanjakan kepalsuan. dan dua-duanya: kepalsuan dan manja, bukan sepantasnya menjadi bagianku. Tapi malang sekali, hari ini di depanmu saya dengan panik mencari pegangan dan kendali atas diriku sendiri. Tiba-tiba ingin kuraih saja bayang kesombongan -juga palsu- yang menonton kepanikanku dengan bibir terkatup.

ya saya cemburu.
datangnya seperti gelombang dari kejauhan, yang mengombak dan pecah di bibir pantai. dan selain buih busa, tak ada apa-apa yang di bawanya. Ah. juga rasa kosong yang tak terpahami musababnya.

apa alasannya?
tidak tahu. saya tak punya penjelasan. terlebih alasan, kenapa perlu cemburu. Ini hanya sebuah peristiwa dari keteledoran membaca musim. Ini hanya kesalahan. Kesalahan sering kali tidak memerlukan penjelasan tentang alasan. Barangkali. Sederet kalimat ini, semata barangkali dan mungkin, juga entahlah.

seringkali, dan sering sekali saya tidak punya jawaban untuk kejutan-kejutan emosional seperti ini. Jika itu -terkejut - adalah indikator ketidaksiapan, maka dalam beberapa hal mencemburuimu adalah kesalahan. kesalahannya ada padaku. salahku sendiri. Sebab kenapa mesti terkejut? Dirimu tidak rumit dibaca.
Kalau mau beranalogi, kau bukan aksara lontara untuk orang papua yang tak mahir meninggalkan jejak perjalanan di atas "kertas". Tapi tentu saja, kau tak bisa bilang: aku lebih berbudaya hanya karena telah mencapai aksara. Karena kau pun tentu paham, jejak dapat ditinggalkan dengan wujud yang lebih sederhana: pada ukiran dan patung-patung. Tapi justru lebih merdeka, saya pikir. Ah, ini tidak ada hubungannya.
Kembali ke cemburu, keterkejutan itu. gelombang yang lalu mengombak dan sekarang pecah ini, tidak terjadi kecuali saya menginjinkannya -gelombang itu- sampai ke pantai. sesuatu yang mestinya tak terjadi lagi. Telah saya bangun pemecah ombak untuk segala yang dibangkitkan lautku sebagai respon terhadapmu. Tapi ternyata, saya tidak cermat. Ada ombak kecil yang telah sampai di pantaiku belakang hari ini.. yang membuatku berdebar. berdebar lagi. tapi keras kepala dan keangkuhanku melarang untuk melihatnya sebagai pesan perubahan..
pesan tentang musim yang berubah. angin yang membawa bau hutan, mulai bertiup lagi dari arah lautan. Membangkitkan kerinduan dengan sangat. Meski kerinduan itu sarat dengan perih dan gigil yang memamah dirinya sendiri ketika segala berhenti.

Cemburu yang membakar, menghangus-abukanku, dibangkitkan olehmu.

Thursday, June 12, 2008

Alkisah: Di Luxemburg

SEEKOR MERPATI TERBANG


Rimbun taman ditembus remang petang
seekor merpati terbang ,
sunyi di bawah sayapnya memasuki seluruh taman
pada terbang dan hinggap merpati
aku melihat diri di antara riap-rimbun kasih sayang
membangun sarang
dari mana seribu esok kemudian kulaga kujelang

di bawah sayapku
petang
semata sepetak ruang
dalam taman

2008

KAU BERJALAN SENDIRI DI TROTOAR KOTA

jelas kudengar suara sepatumu
suara sepi dan rindu
ketika hari itu berjalan sendiri di trotoar kota
menjauh

kuseru namamu
yang menjawab
masih suara dahulu
trotoar panjang kesendirian
dan rindu adalah gegas di kakiku
mencarimu

2008
LV

Saturday, June 7, 2008

Di Depan Jendela


1/
masih begini pagi, daun asoka berputik embun
seperti ketika pertama jumpa,
pagi ini dengan kelu kupetik kata
dari pohon mangga di halaman.
ceritakan padaku
apa yang di letakkan malam
di luar jendelamu?

2/
Kau tahu disini musim membuahi sudah datang?
Setiap pagi halaman dipenuhi jejak musim bersetubuh:
Putik dan buah yang kalah bertarung
seperti tiap pagi kau penuhi rahimku dengan jejakmu
jejak musim tumbuh
benih yang kau tabur
di antara dengus dan erang kasihmu
setubuh indah dahsyat tak berwaktu.

Pagi ini,
Ketika bangun halaman telah tersapu
Putik gugur menyerak di sudut halaman
Aku tahu untuk mangga di halaman
Musim akan terus bersetubuh
di atas putik gugur
tapi halamanku tak lagi akan kau tabur
dengan jejak musim tumbuh

2008

Thursday, June 5, 2008

Perjalanan Bersama

then another page was added about you

Perjalanan Bersama

Ketika kau pergi, sendiri
siapa yang kau temui di perjalanan? orang-orang asing, tentu saja.
tapi wajah asing mereka, tentulah wajahku juga:
wajah dengan mata yang seperti pantai menunggu
ombak menyapu dengan rindu,.
atau wajah dengan leret parit luka seperti wajahmu
pada wajah asing yang sangat kau kenal
perjalanan bersama kau teruskan .


Ketika pergi sendiri siapa yang aku temui diperjalanan?
Ruang-ruang kosong yang tak pernah ragu
Bermanja di pangkuan, menyulut perut dengan birahi tak putus
Ruang kosong yang makin menganga karena kau tak ada
Ruang kosong yang memompakan gegas
pada menuju, tunggu, pada waktu.

Dan diantara leret tunggu dan ruang kosong
Roda perjalanan sendiri
kita tempuh bersama

Wednesday, June 4, 2008

Early Dinner, Late Lunch

then another page was added about you


Apa yang ingin kuingat tentang kencan early dinner , late lunch kita ini?
Kau berubah My.
Terlalu tenang, pertemuan ini menjadi terlalu wajar.. meski kau toh tak mampu menyembunyikan rasa gelisahmu ada di dekatku.
Atau saya ji itu yang (seperti biasa) merasa kau gelisah ada di dekatku.

ini rupanya jam terbaik untuk kita. Di tempat itu tak ada orang lain yang datang selain kita. Jamnya membuatmu sedang lapar-laparnya, tapi tak juga digegas "harus pulang waktu magrib".
dan waktu kerjakupun sudah sangat dekat ke selesai..
pokoknya timingnya, oks. oks banget malah.


kita bicara berdua, tanpa bertengkar. Meski mungkin di kepala kita berseliweran arus-arus ingatan. tapi kita telah ngobrol. Dan bahwa kau mendengar itu tidak lebih penting dari kenyataan kau tidak menghindari appointment ini.

sulit buat saya memikirkan -dulu- akan ada waktu seperti ini.. kita cuma berdua, dan makan dengan tenang (lahap, menghabiskan semua hidangan, dan tau akan ada yang membayar -yang membayar bukan saya, ha ha ha-) pula tanpa berdebat. Meski pembicaraan kita materinya sangat personal, sangat kau, sangat aku. sungguh atmosfirnya seperti sedang "date" beneran.. he he he

saya gak berani -meski ada- meneruskan imaji tentang "date" itu.. kau tahu saya suka terlalu jauh kesana dan kemudian termangu-mangu oleh kenyataan saya hanya sendirian disana..

dan (semoga saya tak salah menafsirkan) hal seperti ini, sangat mungkin terulang lagi.
hanya kita. kau tahu betapa berartinya itu untukku, duduk semeja denganmu tanpa prasangka.
dengan rasa nyaman.

Juga rasa nyaman, rasa nyaman berada di dekatmu. Bagiku, yang paling mendasar adalah kau tahu aku mencintaimu

Monday, June 2, 2008

Imaji Pilu - Kitakah itu?

di pantai yang menegaskan jarak kita
apa yang kau lakukan
ketika waktu memisahkan dulu dan lusa?

aku ingat angin
yang membawa dingin
ketika jarak membungkam raung dan erang
yang mendidih dalam nadi
yang mengabu dalam ingin

kalau ditegas jarak kita
ada rasa dingin
menyusup sela belulang
itu aku
meninggalkan jejak pilu
sedingin dan sengilu itu
sendiri tanpa dirimu

lalu tentang waktu?
waktu melata
dalam nadi yang terbakar oleh ingin.
segala dan seluruh ingin.

Wednesday, May 21, 2008

Menjauh Darimu


Sabtu:
Ada rasa gamang.
Kesedihan menggantung seperti kabut di antara pohonan pinus malino. Dan oleh sedikit angin saja, rasa pilu itu telah ada di depanku, menyungkupku. Seperti bossara pada sajian . Seluruh. Sedikit angin dan aku terhidang, tak berdaya, ada dalam deret pilihan. Di sana, di jamuan pernikahan yang di bawah tendanya aku tergeletak terpanggang.

Seperti pagi-pagi musim kering, kabut akan tinggal lebih lama di antara pohonan pinus di halaman penginapan. Di jalan. Kau tahu, seperti aku berandapun pekat oleh kabut. Di depan jendela, menggumamkan namamu, kuusir-usir ragu. Sebagaimana tanganmu biasa melingkari pinggangku, dari belakang pilu yang menggigilkan memelukku, rapat, ketat, menawarkan kehangatan: “menyerah saja, kau menunggu yang tak akan datang. Bersamaku saja.”
Aku berdesir, dengan jemari goda kusisir. “aku ingin menunggu kabut pergi, karena matahari. Dingin ranjang ini, kekasihku yang akan menghardikmu pergi.”

Dengan tak perduli, pilu duduk di meja makanku tertawa. “Jangan pura-pura tak kau lihat”, katanya. “Ada bayang-bayang berkelebat di antara pohonan, dalam kabut. Mengintip dan mengendap. Lalu siapa akan bersaksi, bukan waktu yang akan menikammu di halaman depan? Kau tak akan dibiarkannya mati, seketika. Percayalah. Tapi karena itu, kau tahu: seperti pada luka damak beripuh, nadimu hanya bisa mengalirkan racunnya ke jantung. Tidak memuntahkannya."

Dan matahari masih tumpul hingga kini. Kabut terus menggantung. Jantungku terus memompakan namamu.

Waktu, kau kah itu?

Ingin sekali memburu bayang berkelebat, yang mengintipkan derita di sudut-sudut mata. Mencengkramnya di bahu dan berkata: “Katakan siapa dirimu. Jangan mengendap-endap dalam kabut sungai. Atau bersembunyi di rimbun pohonan. Ke rumah ibuku, naiklah bertelanjang dada. Di rumahku, tinggallah.”

Minggu:

1/
Seperti haluan perahu kau merobekku.
Meninggalkan busa diburitan
Tanpa sempat merasa sendirian , aku hilang.

2/
Selaut lukaku
Menjelma kemaluan pelacur.
Tak ada rahasia , segala bisa menyelam di sana.

Juga putus asa.

2008

Saturday, May 17, 2008

Tentang Tangan Tunggu

suatu hari
kita duduk di depan jendela
berdampingan,
melepaskan angan-angan
seperti angin melepaskan bau laut
"anyir", kataku. "harum", katamu.


matamu menjelma laut di hari yang surut
melihat apa hati dr jendela imaji?
tangan yang melambai?
Temanmu? Teman lama? Yang mana?
khianat atau rasa bosan?
sejauh apa dia dari kita?
3 hari perjalanan, musim panas yang akan datang, atau akhir tahun
atau berdiri di jendela
kau sedang menanti saat ia menjemputmu
semata menunggu ketukan di pintu?
di jendela,
jendela yang sama:
menjalin jemari menakar waktu
aku mencium lagi bau angin laut. Baunya pilu.

kau akan meninggalkanku akhirnya.
tapi siapa yang bisa mengelakkan perpisahan
mari berpesta!
lalu lupa.
memang hanya perahu karam yang tinggal dekat dermaga
dilapukkan waktu di pantai landai
pula dengan segala yang kau punya
sungguh patut jika laut jua
yang memeluk kibar layarmu
yang merengkuh gelisah kembaramu.
di depan kaca kesedihan berdandan
menunggu waktu itu tiba.

tapi jangan pergi diam-diam
kau akan kuantar sampai ke pekarangan
membenahi letak topi yang kau kenakan
sebelum lepas menyelamlah di mataku
kau tahu
nanti aku akan baik-baik saja
pula luka niscaya kukebas lepas bagai debu
di depan pintu masa lalu

tangan tunggu, kukuh merengkuhku.
ketika bibir gemetar menyebut namamu
dan wajah kubenam dalam sepi yang ngilu


2008

Thursday, April 24, 2008

Masih Tengah Malam

then anoth er page was added about you


Still midnight
Still is the night
No breeze, no falling leaves,
How could I still the night in me?
I am waiting here,
Waiting for the first light of your love



Masih tengah malam
malam diam
tak ada angin semilir, tak ada daun gugur

dengan apa akan kuteduhkan malam dalam diriku?
aku menunggu
menunggu cintamu rekah bagai fajar.

Monday, April 21, 2008

Langit Cerah

:hhd

Langit cerah saling lambai dengan angin laut

Risau sambar tipis-tipis

Angin jadi anyir di pantai Tomia, mairo mengering

Angin anyir sambar tipis-tipis mengeringkan kata-kata

Masa lalu, selaut tipu

Mau bikin aku tunduk? Nanti dulu.

Meski kering seperti mairo di galesong,

Kepalaku tengadah!

Lihat!

Langit cerah

2008

Wednesday, April 16, 2008

Cerita dari laut

dari sini,
(Jatuh dalam lengkung ombak jauh dari pantai
Angin santer.Hujan ditabur di dalamnya)

kucintai kedalaman,
yang menopang perlawananku dengan deras arus.
Meski tidak pernah ia menjanjikanku apa-apa.

Disini, di bawah langit penuh matahari
aku menggigil berdiri tanpa perlawanan
kehilangan pegangan.
memandang pantai dengan mata berdarah
berhadapan dengan kenangan.

Kucintai kedalaman itu,
ketika cuma aku dan rahasia
bermain di antara karang dan anemon
dan dirimu adalah ke tigabelas manta yang melintas di atas kepala.

2008

Jangan!

“Jangan!”
kularang bayang bicara pada malam
tentang percik keliaran yang terlempar ke langit-langit kamar
menggambarinya dengan tubuh-tubuh telanjang
tubuh kita

“jangan!”
kularang rindu menepis perih yang gigit ujung hati.
“Jangan”
kularang hati bicara pada rindu pada bayang padamu.


“Siapa itu?”
“Masih aku, masih saja mencintaimu”

Dengan jangan
terus kuketuk pintu mungkin dan tunggu

2008

Bulan Gugur

:rina
Rahim yang berdarah, pagi ini bersepakat dengan maut:
Aku harus meminjamkan gendongan bayi kepada harapan

:vonny
Nyanyian yang kudengar di bibirmu semalam,
Dan kita dengungkan bersama
Sebelum matamu pejam
Dinyanyikan orang ketika aku mengantarmu ke pemakaman.

2007

Tuesday, April 15, 2008

then another page was added about you

Sosok hidup berdiri di peranginan, ketika badai datang
Dalam angin kesiuk, cuaca teruk,
ia berdiri berhadapan dengan amuk
dirinya sendiri.
Membiarkan angin menerjang,
angin hempas dalam diri
Sesekali ia huyung,
liar meliuk dalam belit badai,
dan jutuh terpuruk
Tapi dengan keras kepala, terus berdiri di situ
Langit coba ia peluk dalam kain koyak:
Baju pengatin dan panji masa lalu.

dengan keras kepala,
terus berdiri di situ
Langit coba ia peluk dalam kain koyak:
Baju pengatin dan panji masa lalu.

badai di peranginan

Sosok hidup berdiri di peranginan, ketika badai datang
Dalam angin kesiuk, cuaca teruk,
ia berdiri berhadapan dengan amuk
dirinya sendiri.
Membiarkan angin menerjang,
angin hempas dalam diri.
Sesekali ia huyung,
liar meliuk dalam belit badai,
dan jutuh terpuruk
Tapi dengan keras kepala, terus berdiri di situ
Langit coba ia peluk dalam kain koyak:
Baju pengatin dan panji masa lalu.

April 2008

Monday, April 14, 2008

Waktu Kau Sebut Namaku

(tentang kawan: edisi sugi kepada nyonri)

Waktu kau sebut namaku
Embun luruh, di tempat-tempat jauh

Waktu kau sebut namaku
Laut nguap, jadi awan , jadi hujan di dalamku.
Dan angin dari penjuru yang tak
Di sebut oleh peta
Mengantar rindu ke depan rumahku

Sugi
(tersanjung.. episode 414 2008)

Wednesday, April 9, 2008

Waktu Menunggu

(1)
Di jejer bangku kosong ruang waktu
Kududukan rindu dan bilang padanya:
"Duduk di sini, kalau beruntung namamu akan diserunya,
hari ini. Jika tidak,
Besok kita kembali."

(2)
Kalau kau bangun nanti, kekasihku
Kemana kau akan mencariku
Di halaman atau ke dalam dirimu?

(3)
Hujan sering turun minggu ini
Setelahnya ujung daunan basah
Menetesi mimpi dengan cinta

(4)
Pintu kaca di depanku perlahan menutup,
Membungkam cemburu
Harubiru, warna waktu

(5)
Gerobak sampah baru pergi
Birahiku bangkit lagi.
brengsek

2008

Monday, April 7, 2008

Bulir Padi Bumi Sepi



Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah
Demikian tangan waktu menimbaku

Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah hingga menyesak ke sudut
Demikian waktu menyesakkan hadirmu
ke sepi paling murni jiwaku

Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah hingga menyesak ke sudut pada waktu petang
Demikian bayangmu datang padaku di rembang petang
silau langit tertoreh lalu jatuh hujan ke ladangku
hujan akhir musim , di sepetak ragu berbatas langit
yang terus kutanami meski berbuah pahit

seperti bulir padi dijauhkan orang dari waktu yang kelam
demikian kuikat mulut malam
tempat kita kusimpan
lalu menunggu
diriku ditanak waktu
musim demi musim
bersendiri
seperti bulir padi
pecah jadi nasi.

2008


Wednesday, April 2, 2008

Your Song, My

as per today : i love you.

They're Singing Your Song

From a story told by Alan Cohenin his book: Wisdom Of The Heart

When a woman in a certain African tribe knows she is pregnant, she goes out into the wilderness with a few friends and together they pray and meditate until they hear the song of the child. They recognize that every soul has its own vibration that expresses its unique flavor and purpose. When the women attune to the song, they sing it out loud. Then they return to the tribe and teach it to everyone else.

When the child is born, the community gathers and sings the child's song to him or her. Later, when the child enters education, the village gathers and chants the child's song. When the child passes through the initiation to adulthood, the people again cometogether and sing. At the time of marriage, the person hears his or her song. Finally, when the soul is about to pass from this world, the family and friends gather at the person's bed, just as they did at their birth, and they sing the person to the next life.

To the African tribe there is one other occasion upon which the villagers sing to the child. If at any time during his or her life, the person commits a crime or aberrant social act, the individual is called to the center of the village and the people in the communityform a circle around them. Then they sing their song to them.The tribe recognizes that the correction for antisocial behavior is not punishment; it is love and the remembrance of identity. When you recognize your own song, you have no desire or need to do anything that would hurt another.

A friend is someone who knows your song and sings it to you when you have forgotten it. Those who love you are not fooled by mistakes you have made or dark images you hold about yourself. They remember your beauty when you feel ugly; your wholeness when you are broken; your innocence when you feel guilty; and your purpose when you are confused.

You may not have grown up in an African tribe that sings your song to you at crucial life transitions, but life is always reminding you when you are in tune with yourself and when you are not. When you feel good, what you are doing matches your song, and when you feel awful, it doesn't. In the end, we shall all recognize our song and sing it well. You may feel a little warbly at the moment, but so have all the great singers. Just keep singing and you'll find your way home.

PS:
I hope someday I would have another chance to sing your song, and sing it in a correct tune.

Thursday, March 27, 2008

Daun Kelu, Bunga Pilu

Kenapa rasa ngilu ini?

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

22.3

Betapa asingnya dirimu. Betapa cerobohnya saya mengartikan keramahanmu dan pertolonganmu. Itu sama sekali belum berarti seluruh sembuh lukamu. Sama sekali tidak berarti kau merelakan pengampunan. Seperti yang kau "minta" dalam emailmu bahkan.

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

Rasa ngilu itu, mendengarmu membisikan luka yang kutoreh ke hatiku. Karena melukaimu. Kata-kata yang mengalir lancar, dengan nada-nada rendah. Kekecewaanmu.

Lalu kemarahan yang melata diam itu, tanpa pengampunan. Bahwa kau melakukannya untukkku, hal terakhir yang akan kau lakukan untukku. Bahwa engkau hanya "toyboy". Toyboy?

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

Saya perlu waktu untuk mengukur kejujuran sendiri, bahwa engkau hanya permainan. Semata permainan. Betapa menyakitkan hal itu nanti, jika ternyata itu tidak benar. Karena itu tidak mengubah apapun yang saya dengar hari ini. Tuduhan. Asumsi. Dan saya tidak berdaya, tidak berdaya membuktikan kau tidak benar. Saya tidak punya alternative untuk memberi bukti bahwa itu tidak benar, selain mengisi halaman-halaman ini. Yang ada padaku hanya keterbatasan yang tidak bisa saya bengkokan sampai kapanpu, untuk bilang padamu dengan cara apapun , kau telah memenuhi hidupku. Mempermainkanmu, adalah mempermainkan hidupku.

Pada "kau telah memenuhi hidupku" itulah halaman-halaman ini telah mempunyai alasan yang sangat kuat untuk terus ada. Apakah pemaknaan yang kutelusuri ini akan bernilai sama, itu soal lain, yang tidak ingin saya hampiri sekarang. Atau kapanpun. Saya tidak inign melukai diriku sendiri dengan asumsi, kau tidak pernah perduli bahwa ada halaman-halaman hidupku, yang hanya terisi olehmu.

Kau tidak perduli. Kau tidak perduli pada jam-jam panjang di tengah kewajiban ini itu pekerjaan, sebagai ibu, pegawai, dan istri, yang kuabdikan dengan bodoh kepada permintaanmu. "bisa terjemahkan?", atau selalu memposisikan diri sebagai pemohon.

Saya perlahan mulai takut, kalau-kalau nanti dengan angkuh kau akan kembali bertanya, "did I ever ask you to do so?" saya tahu saya telah melakukannya karena saya ingin melakukannya untukmu. Karena saya ingin memberimu dukungan apa saja yang masih ungkin dari segala ketidakberdayaanku. sama seperti pertanyaan : "did I ever hurt you?"
untuk pertanyaan ini pun saya tak punya jawaban selain melihat diri sendiri, yang berlari menyongsong luka, luka yang saya tabrakan sendiri. Karena selain terluka, tak ada cara lain untuk mendekatimu, merasakan kehadiranmu di sekitarku.

Betapa menggoda rasa angkuh , untuk melemparkan ke hadapanmu, jam-jam panjang, dan harapan-harapan yang bertunas di dalamnya itu, dan berbantah denganmu soal : "permainan" dan "I do it for you". Tapi saya memilih untuk menerima bagian ini: kau benar, kau tidak pernah melukaiku –pada kalimat sendu bersembilu di restoran baruga siang itu: "do I ever hurt you?". Harapan dan pengabdianku telah melukaiku. Saya memilih untuk terus menyirami halaman tumbuh ini. Untuk alasan yang terus menerus akan melukaiku, aku mencintaimu.

Saya ingin mengingatnya seperti ini, am not belong here. Here in your heart.


23.3,

Kepedihan itu terus mengikutiku. Terus merobekku. Terpikir, apa yang saya butuhkan untuk menyembuhkan kepedihan ini. Yodium? Atau valium? Atau penghilang rasa sakit sesaat lainnya. Apa yang menyakitkan adalah seperti apapun kebutuhanku untuk menawar rasa sakit ini, ada kesadaran yang kuat bahwa "sesaat" jelas tidak menyembuhkan.

Saya harus menghadapimu,sekali lagi. Saya harus menyongsong luka sekali lagi.

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

saya mencari alasan yang paling logis untuk bisa menjumpaimu. Tapi kau tidak bergeming. Jadi saya mendatangimu di kantor Oxfam. Saya ingin mengingatnya sebagai draft -sesamar mungkin- karena saya tidak punya banyak peristiwa dengan dirimu . Peristiwa di mana saya kehilangan keangkuhan saya, dan hanya menjadi diriku saja. Tanpa rencana dan rancangan. Peristiwa dimana diriku hanya molusca tanpa perisai. Ketika oleh bujukan angin lembut saya keluar dari persembunyian untuk menemukan titian sembilu. Di ujungnya bayang-bayangmu berkelebat. Saya pergi juga menjumpaimu. Melata dengan perut, mengemis kerinduan darimu. Perut terbelah, saya menunggu.

"bisaki ketemuka di luar?" lalu dari seberang jalan melalui jeruji pagar, saya melihat kakimu mendekat. Pintu terkuak, dan dirimu. Senyummu. Tidak sama sekali kau tidak gembira. Dengan segera kegelisahan yang selalu menyergapmu setiap berhadapan denganku muncul lagi. Kau berusaha untuk mengusirku. Apapun alasan itu.

Dengan perut terbelah saya memohon sedikit saja dari waktumu. Wahai..

Apapun percakapan kita nanti, setelah sore itu, saya tidak ingin mengingatnya lagi. Tidak ingin mengingat apa yang kau katakan. Karena semakin ke mari, semakin terasa, kau sedang mempermainkanku. Tapi tentang apa yang saya katakan, saya memilih untuk mengingatnya seperti ini:

Jangan lagi pernah mengusirku pergi dengan alasan yang dicari-cari, karena sudah sepantasnya saya tidak berada di sekitar kehidupanmu.

Kau selalu punya cukup kekuatan untuk melakukan banyak hal. Karena dirimu, adalah kekuatanku dan inspirasi bagiku.

Kau selalu bisa meminta apa saja, dan akan kulakukan untukmu seperti yang selalu berlangsung sebelum ini. Entah bagaimana caranya. (tapi bagian ini tidak pernah akan kau dengar, karena pada prinsipnya, begitu kalimat "penyedia jasa" itu terlontar, saya telah kehilang ketulusan. Saya telah menghianati " kepadamu, aku semua-mua, kepadaku kamu semau-mau."

I'll do my best for you, dan sejak sekarang, karya kreatifku is dedicated for you. Kenapa? Entahlah. Ada seribu alasan bisa kuberi peluang. Tapi saya akan menunggu. Sampai saya mendengar sendiri dari hatiku. Sampai saat saya menemukan ada alasan lain selain ini: aku mencintaimu.


24.3

"sekali nanti, akan kutemukan nama bagi pohon hari

Tumbuhan asing yang kusirami air beras dari petak sawahku

Daunnya pilu, bulirnya kelu. "

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

Saya bertemu Mila,dalam perjalanan ke Jakarta untuk event Makkunrai di TIM. Dalam perjalan untuk mendedikasikan "the best for you". Dia menceritakan padaku, "pengaduanmu". Duh. Kau mengadu. Kau mencari sekutu untuk menghadapiku. Duhai. Perihnya.

Jam-jam setelah itu, adalah jam-jam yang hampa. Tidak ada lagi artinya. Saya tidak terlalu angkuh dan keras kepala untuk meniadakan kenyataan itu, bahwa kau mencari sekutu untuk memusuhiku. Mencari sekutu untuk mendapatkan pembelaan. Perihnya. Tidak ada yang dapat mengubah kenyataan itu. Saya tidak bisa menolak kenyataan bahwa pada jam-jam hampa itu, benih keangkuhan telah meruak kulit ari kepercayaanku pada harapan, kau tidak sedang mempermainkanku.

Saya tidak ingin mengingat penampilan semu di TIM itu, sampai kapanpun. Sama sekali tidak berarti.

Saya tergoda untuk memangkas rata, mencabut dan membiarkannya tercerabut dari tanah, perasaan yang semu ini.

Tapi saya tahu, ini juga adalah peristiwa penting, sekaligus indicator kejujuran saya pada diri sendiri, tentang posisimu dalam permainan ini. Permainanmu saya pikir. Jadi lebih tepat kalau: posisiku dalam permainan ini

Jadi inget lagu Beatles: "yesterday, love was such an easy game to play. Now I need a place to hide away. Oh yesterday, came suddenly."

Mungkin akan datang juga jemu. Tapi hari ini, biarkan aku mabuk

Mabuk oleh rindu yang kuhirup dari cawan retak.

Pecahan kaca yang tertelan

Di perutku jadi nyanyian cinta


27.3

U'r back in town.. saya ingin bereaksi "biasa-biasa" saja pada moment yang ingin saya ingat ini. Kau menelpon. Tapi tidak bisa. Saya tidak bisa membiasa-biasakan dirimu. Ah, kenapa harus cinta yang jadi tempatku bergelayut? Padahal ada begitu banyak sulur di rapat dan rimbun rasa. Kenapa harus cinta, pula cinta yang sedemikian luka dan terlarang, pula kau campakkan?

My, meski dungu saya toh terus saja mengisi lembaran ini. Meski dungu, kepedihan yang terus merobekku adalah kebutuhan adalah dorongan untuk kembali padamu. Dan ketika menyirami halaman ini dengan kata-kata, kepedihan itu menjadi air beras untuk pohon "jati cinta"ku. inilah percakapan kita, sejati percakapan kita. hening yang beranak pinak, di tengah kita..

My, kenapa harus cinta? pula yang luka dan terlarang seperti ini?

tapi terus kusirami, terus kusiangi.. pada embun menggangtung diujungnya..

kulihat diriku, perawan. Menunggumu.

Monday, March 17, 2008

No.2, what a last glimpse !

then another page was added about you

Saya ingin mengingatnya seperti ini..

Rasa dingin itu. Rasa dingin yang mengantarkan ngilu sampai ke ujung jemari. Bergerak ke dalam, ke ulu hati. Rasa dingin yang mengepulkan asap. Selain rasa ngilu, tidak ada apa-apa di sana. Di rasa dingin itu. Tapi kemudian, ia segera menjadi seperti retakan, retakan pada dinding bendungan kepedihan. Sekali waktu akan bobol. Mungkin tidak hari ini.
Saya seperti menemukan pintu tertutup. Pintu tertutup kita. Saya tahu yang paling buruk adalah jika setelah ini, kita terpaksa memenuhi pertemuan kita dengan basa-basi. Tapi saya mau kau tahu, saya tidak akan lebih buruk dari sekarang.

Kau salah kalau menyangka saya berniat membujukmu dengan mengirim email no 1, itu. Tidak sama sekali. Saya hanya bukan orang yang meninggalkan sesuatu dalam keadaan samar-samar. Saya tidak akan mengkompromikan hal yang sangat sulit itu, dengan kebiasaanmu tidak menjawab. Berlalu diam-diam, tanpa penjelasan. Cukuplah keadaan ini. Kita telah saling memahami. Saya mengerti. Mengerti TIDAKmu. Saya mengerti pilihanmu . Mungkin baru sekarang saya paham, mungkin baru nanti saya akan sangat paham. Tapi untuk sekarang, cukuplah. Saya sudah put everything on the table and what a bonus I got.. u replied and put yours on the table.

Saya mula-mula menerima sms itu. “Saya salah. Saya minta maaf”. Lalu saya delete. Saya tidak ingin ditawan oleh kenangan dan harapan.. kau tahu saya cenayang yang buruk. Saya tidak ingin kecengengan saya sekali nanti membacanya: “I love you”.. ha ha ha.. sama seperti teks IMU yang pernah kau kirim.. saya tidak pernah membacanya lain dari : I miss u..

Email dengan subject : Re: NO 1 itu membuat saya merasa bahagia, karena saya kembali menemukanmu. .
“Pesona yang kau beri”, katamu.. dan meski berusaha memasuki waduk kepedihan with style.. saya toh gemetar mengetahui bahwa tidak ada lagi puisi yang akan sampai padamu. Setidaknya sampai saya memutuskan menebang seluruh tulisan ini. Pada waktu itu, saya ingin kamu membacanya. Pada waktu halaman-halaman ini telah jadi pohon yang setiap dahan dan rantingnya dipenuhi oleh kejujuran tanpa pulasan tentangmu.
Kekecewaanku, kemarahanku, kepedihanku, dan kerinduanku.. yang (buseeet banget..) pasti berdarah-darah.

juga terasa pilu. “bye”-mu itu benar-benar terasa sebagai perpisahan yang lama.. saya ingat kamu pernah bilang: when I say bye, it means forever. What a last glimpse!
Saya mencintaimu, My. Sesamar apapun kehadiranmu, sudah cukup.

Apapun itu, sudah saya buang sampah di dalamku. Maafkan karena sampah itu saya share denganmu.

jala koyak

pada jala yang koyak
mataku
berurai benang waktu
menjahit masa depan jadi kenangan

March 2008

Tuesday, March 11, 2008

Ada Plang di Halaman

Kapan telah memanggil belalang pelahap
ke dalam kebun harap
Kenapa mengundang angin panas dari tenggara
Mengobarkan sengsara
di antara tunas dan kelopak. Juga buah muda.

Mereka pasti tak bisa membaca tanda penawaran
yang kuletakkan di jalan depan:

saya mencintaimu. hanya itu.

March 2008

Mencapai Bulan

Seperti melihat musim tumbuh di ujung pohonan
Putih, hijau terang, merah, di wajah hutan
Kulihat cinta tumbuh di bawah langit telanjang
sulur tanpa penopang
telah mencapai bulan
tanpa warna. Atau hitam?

March 2008

Friday, March 7, 2008

Manggigil*)

Batu di ombak itu,
menunggu di pantai tanpa angin,
memaku mata pada laut yang tak mengalun
sambil mengunyah waktu
dan pada lembah-lembah hari
Duka memanggilnya dari pucuk kering pohonan
jadi helai angin

Batu ombak itu,

mata bermuara tanya:
Kenapa
kepiting bunting
Berendam tenang di sekujur lukanya


Yang diam di ombak itu
dipeluk hidup karang sebelum jadi pasir.
adalah bongkah duka
lupa pada namanya,
yang tanya di mata : " kenapa kelu?"
terbahak-bahak melihat 
pilu riang bermain gelombangpantai berangin, laut mengalun
 

batu ombak itu
telah menjelma aku
kedalaman,
adalah ketenangan yang ganjil.
Sedih yang menggigil

Manggigil = menggigil (Maluku)

March, 2008

Monday, February 4, 2008

Percakapan Setelah Pemakaman

Posting ini adalah komentar yang terkumpul tentang tulisan Kaluma. Di kampung p! ini saya tulis sebagai "Peperangan terhadap Ibu".




Dari : Ami (when suharto’s still dying)
Luna yang baik.
Kamu telah menulis sebuah esei yang saya kira Arge pun akan "terkapar", kumat asam uratnya, lantaran kemilau gagasan dan kecemerlangan diksi yang kamu gunakan mengomentari "banjir" Soeharto.
Namun terlepas dari semua itu, dengan memilik terminologi "kaluma" untuk menyebut "pembangunan" kita memang tak bisa lain, harus takluk. Untung kamu tidak tamat SD Inpres, sehinga alif ba ta mu samasekali tak berkaitan lansung dengan program Soeharto.
Yang ingin saya komentari ialah, bahwa saya sangat setuju dengan kekuatan individu yang kamu paparkan -- karena bangsa, atau apapun identitas lain dalam pergaulan dunia, selalu memang mesti lebih kuat individunya. Dan dalam konteks kaluma pembangunan-isme itu, saya kira pandanglah sebagai sebuah batu asah yang akan melincin dan mengkilatkan giok yang terpendam dalam potensi individual-mu. Saya selalu ingat ecip untuk hal yang satu ini: 'takkan lahir pelaut ulung di laut tenang' -- tetapi tentu saja kita harus pelaut dulu dan bukan hanya pelaut-pelautan yang hanya menghayalkan tantangan sambil duduk di beranda menghadap samudera.
Luna, terima kasih...


27-01-2008
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.comSalam, saya lebih memilih sepakat dengan komentar Romo Mangun Wijaya tentang gelar bapak pembangunan yang disematkan kepada Soeharto, bahwa meskipun Indonesia masih dibawah jajahan Belanda, akan tetap ada pembangunan di negeri ini, bahkan bisa jadi lebih baik dari yang pernah dilakukan Soeharto buat negara ini. Hakikat kemerdekaan bukanlah mampu membangun infra struktur semata, tapi lebih dari itu, yakni, bangunlah jiwanya....lebih dulu...sebelum membangun badannya... Hidup Indonesia Raya....Saya pribadi, sulit memaafkan Soeharto, kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukannya sangat terlalu.


27-01-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Kita telah ditinggalkan oleh "Bapak Pembangunan" yang menyisakan hutang luar negeri yg harus dibayar hingga anak cucu kita, yang membuat sejarahwan harus kerja keras untuk meluruskan kembali sejarah, yang "mendiamkan dengan tangan dingin" orang-orang yang berseberangan, dan peninggalan paling menonjol adalah tersibgahnya "budaya" korupsi dari tingkat atas hingga ke tingkat bawah.


28-01-2008
Dari : Lacigau | andi_acox@yahoo.com
Dulu bicara yang tidak bebas, pangan melimpah, listrik hingga ke desa. Kemana mana tidak takut......aman.Utan g banyak ada buktinya, jalan lintas sumatera, lintas sulawesi terbangun. Sekarang Bebas bicara hingga lupa kerja. Listrik sulit , kaum kapitalis telah sampai ke kampung-kampung.Tana h negara dijual kepala desa. Kemana-mana kita ragu dan takut. Upah naik harga barang 2x naik.Kerja bakti harus ada uangnya. Jalan didepan rumah rusak, tinggal bilang urusan PU. Banjir di mata kaki minta sumbangan. Haluan negara tidak jelas. Ulat ingin jadi naga, belalang ingin jadi elang, ijazah palsu merajalela. Anak tidak dengar orang tua, orang tua seperti anak-anak. Bupati dan gubernur tambah banyak, mobil dinas bertambah.Inikah reformasi?.......... ..apa yang direformasi ?


30-01-2008
Dari : syamsoe | toyota-gue.com
tak ada gading yang tak retak, biar bagaimanapun, kita harus tetap menghargai jasa2 bapak pembangunan, soeharto.. kalo memang ada salah, biarlah nanti berpulang kepada siapa yang memperbuat, peradilan akherat yang memutuskan... tidak munafik juga sih, sebagai anak yang besar dari seorang pns, mungkin saya juga pernah merasakan hidup dari seorang pns yang berpayung partai golkar, atau mungkin tanpa kita sadari, kita pernah merasakan beasiswa supersemar atau mungkin hal2 yang lain yang mungkin berujung pangkal dari seorang jasa pak harto


30-01-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
dear luna, esai anda yang sangat menyentuh ini membuat saya berulang kali untuk membacanya, berulangkali saya harus berpikir, diantara rasa lelah saya karena mata yang kian rapuh dan perasaan serta pikiran menanggung beban informasi yang saya usahakan untuk saya hindari, namun tak terhindari. saya bertanya-tanya, benarkah saya tidak bersentuhan atau berhubungan langsung dengaan 'sang tiran'? benarkah saya langsung berhubungan dengan 'bapak pembangunan'? benarkah bahwa julukan 'sang tiran' datang dari 'luar negeri' dan 'bapak pembangunan' dari 'diri kita', dari 'dalam'? jika ada seorang perempuan beranak dua, isteri ketua serikat buruh kereta api menangis dengan kedalaman suara yang tertahan diantara pepohonan pisang di seberang sungai, dan beberapa serdadu menggagahinya, dan tetangganya tak berdaya, dan saya hanya dicekam rasa takut dan tak bisa bersuara, dan ingatan itu terus mengejar diri saya sejak saya di smp sampai kini, di mana letak, posisi suharto? tentu bukan suharto yang melakukannya, dia juga tidak melakukannya terhadap diri saya ketika beberapa serdadu menangkapi anak-anak remaja kampung yang protes kepada seorang hansip yang suka berlagak koboi yang selalu menakuti orang kampung dengan granat atau senjata api. dan 4 remaja itu direndam di kolam kantor kodim selama 2 hari 2 malam, dan semuanya membawa tanda: kuku jempol kakinya pecah dan bengkak selama berminggu-minggu karena selama interogasi empat kaki meja ditaruh diatas jempol, dan empat serdadu duduk di atas meja sambil membentak-bentak dan menempilingi kepala 4 remaja, diselingi dengan tendangan ditulang kering kaki 4 remaja itu. tanda itu bukan hanya sampai dijempol kaki, bukan hanya ditulang kering yang kini kian pupus karena celana panjang melindunginya. adakah akan hilang? tapi kenapa ingatan ini terus memagut? suharto juga 'tidak-ikut' bertindak dan 'tidak-melarang' ketika ada jenasah yang telah 3 hari terbujur dan para tetangga akan menguburkannya diantara rasa takut dan ada seseorang yang berani mengajak orang-orang untuk menguburkannya dan menyumbang peti jenasah, dan mereka diinterogasi oleh serdadu, karena sang jenasah adalah mantan makhluk yang dianggap lepra politik oleh sang rejim yang baru mencengkeramkan kukunya melalui teror. dan kenapa pula liem tjoe-sen mesti bolak-balik ke kantor kodim hanya karena ingin menyumbangkan peti jenasah? suharto tidak tahu tentang hal itu. dear luna, di rumah kami yang hanya beberapa meter dari sungai kecil yang membelah kampung mangga dua dan kebon sayur dan sebuah sumur yang dibuat oleh ayah saya untuk umum, menjadi saksi dan bagian dari peristiwa pemusnahan buku-buku koleksi kakak saya dan menjadi bagian kehidupan saya. ratusan buku, hampir seribuan bersama majalah, sebagian besar dari koleksi itu,ditenggelamkan oleh ibu saya. jelas, bukan tindakan serdadu, apalagi suharto. cuma rasa takut yang terus-menerus mencengkam ibu saya yang membuatnya melakukan tindakan yang dia tahu benar bahwa buku menjadi bagian penting dari keluarganya, tapi karena setiap minggu 2-3 kali serdadu melakukan kontrol ke rumah-rumah di kampung kami, dan mencurigai setiap rumah yang memiliki buku. ibu saya berpikir, bagaimana melindungi keluarga dari gangguan serdadu. suharto juga tidak ikut menggagahi seorang remaja perempuan yang duduk di smp, jika remaja itu menengok ayahnya yang menjadi tapol sebelum ayahnya dipindah ke pulau buru. dear luna, antara serang dan kota banten-lama jaraknya 10 km, jalan yang pernah begitu indah dengan deretan pohon asam yang kokoh dan rinbun, hasil kolonialisme belanda. dari serang ke batukuwung terbentang 30 km jalan-tanah yang sempit, dan di sana ada tempat tamasya. dari serang ke merak 3o km. dari cilegon ke anyer 30 km. dan di kota serang ada sarana olahraga di alun-alun. kami menyebutnya gelanggang olahraga (gor) dan ada gedung pertemuan yang sudah dirobohkan setelah hampir 20 tahun dibangun, sementara gor-nya, beberapa tahun yang lalu masih saya saksikan. kedua gedung itu di'bangun' oleh tapol atas kontrol serdadu, seperti juga tempat tamasya batukuwung (juga disebut batitit). dan jalan-jalan yang dijaman bung karno rusak berat itu, diperbaiki oleh tapol atas perintah serdadu. dear luna, apa yang saya sampaikan ini ingin menegaskan esai anda, bahwa rekayasa penabalan menciptakan kondisi mistis dan kita dicengkam olehnya, ditarik ke dalam selubung mistis yang seakan-akan (atau sejatinya?) tak mampu menguaknya, seolah-olah menjadi 'takdir' diri kita. saya ingin menarik garis logika ini, bahwa serdadu itu melakukannya juga demi suharto yang bukan hanya sosok tapi lebih dari itu sudah sebuah sistem mistis itu. dan sebagai sistem, tak ada lagi batas antara penabalan dari 'luar negeri' dan 'dalam negeri'. sebagai 'tiran' dan 'bapak pembangunan' dia diciptakan dalam konstelasi kepentingan dalam negeri dan internasional (baca: amerika cs), kepentingan ideologi pembangunan, yang sampai kini kita masih mengabsahkannya, bahkan dengan hal-hal yang paling konyol, misalnya pernah mendapatkan bea siswa super semar. catatan akhir dari tanggapan ini, saya ingin bertanya kepada anda, apakah pernyataan anda tentang anggapan, penabalan 'tiran' kepada suharto itu oleh 'pihak luar' (di antara tanda kutip. hhd.) karena anda membaca dari media luar, analis luar, atau analis indonesia yang ada dan hidup di luar nusantara, sementara itu tak ada media kita yang berani menyebut suharto sebagai 'diktator' atau 'tiran'? atau anda ingin menyatakan bahwa media kita melakukan manipulasi, hipokrisi, tak berani menyampaikan 'realitas' sejarah sosial-politik yang ada dihadapannya?


31-01-2008
Dari : fahrie | www.dokter-unhas.org
Dalam setiap kehidupan pasti ada hitam dan putih, bahkan juga abu-abu , mulai dari gradasi abu-abu tua hampir hitam sampai abu-abu muda nyaris putih. Untuk menakar kehidupan seorang Soeharto dengan kaca mata hitam putih tentulah absurd, seabsurd kita mempertanyakan apakah beliau seorang tiran atau bapak pembangunan. Biarlah yang Maha adil yang memutus -bukan kita - karena boleh jadi kita tanpa sadar lebih tiran dari Soeharto dalam skala peran kita yang serba kecil. Saya hanya tertarik untuk melihat betapa kontras sikap rakyat kecil dan kaum 'intelek' dalam memaknai kepergian seorang Soeharto. Dan saya rasa bahwa teori sederhana Maslow mungkin bisa sedikit menjawab fenomena itu. Bahwa dikalangan rakyat kecil yang masih sibuk memikirkan hari ini mesti makan apa, atau besok si becce kecil harus mulai sekolah tapi ongkos masuk sekolah entah mesti dicari di mana, belum lagi sekolah desa yang nyaris roboh dimakan usia. Bagi mereka, Soeharto adalah pahlawan yang mampu mengatasi itu. Suatu kemampuan yang sayangnya tidak dimiliki para petinggi negara setelah Soeharto. Sementara bagi sebagian dari kita yang mengaku intelek dan pernah mengecap bangku bergengsi kampus, itu bukan lagi masalah buat kita, karena kebutuhan kita telah bergeser kearah yang lebih tinggi, ke jenjang kebebasan aktualisasi diri yang terbelenggu di era sang 'bapak pembangunan' Satu hal menarik lagi adalah ketika gema kebebasan yang lama kita perjuangkan itu akhirnya bisa kita raih, satu borok terkuak betapa sebagai bangsa kita ternyata belum cukup matang untuk memanggul menara emas kebebasan itu, terbukti dari betapa setelah bebas beraktualisasi kita justru sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri, semua merasa berhak untuk mencari untung sebanyak-banyaknya tanpa peduli nasib saudaranya. Soeharto membuktikan bahwa untuk saat ini, masyarakat kita memang masih perlu di'cambuk' untuk bisa bergerak maju secara sinergis demi kepentingan bersama. Satu ujar bijaksana dari Mario Teguh lantas terngiang ditelinga saya: "Seorang pemimpin adalah orang yang mampu memaksakan kehendaknya untuk kepentingan semua orang" Siapapun orang itu.... pastinya bukan seorang peragu yang sibuk bercermin memikirkan citra positif dirinya tanpa mampu membuat perubahan apapun.


31-01-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
bung fahrie, ada ribuan orang, walaupun kompas hanya melaporkan dari sisi sebuah keluarga korban waduk kedung ombo di jateng, yang masih membenci suharto. juga terdapat ribuan orang korban waduk wonogiri, yang mereka anggap suharto membuat mereka miskin: dipindahkan ke sumatera (kalau nggak salah ke daerah sitiung dan sibolangit), di sana mereka akhirnya bergelandangan, dan banyak yang kembali ke jawa dalam kondisi miskin. sementara itu di daerah transmigran, banyak yang jadi gelandangan dan menjadi beban daerah itu. dengan kata lain, untuk menilai suharto, siapapun tidak perlu untuk menjadi 'intelek'. karena, perasaan keadilan, tidak dibentuk oleh dunia pendidikan yang kita miliki. sedikit saja punya kepekan, siapapun bisa menilai, apakah suharto menciptakan keadilan atau tidak? dan saya setuju kepada anda, justeru ketika pintu terbuka, kalangan elite kita kian tak mampu menciptakan kondisi lebih baik. mereka berebut dan menjadi kanibal. dan kini yang menjadi korban adalah kembali kalangan bawah, yang kian menggunung. tapi, bukankah kondisi 10 tahun setelah reformasi juga akibat dari proses yang dibentuk oleh rejim suharto? betapa 'ahistoris'nya jika kita menilai dengan sobekan waktu: reformasi dan 4 presiden pasca suharto adalah 'awal baru', 'sejarah baru', tidak ada hubungannya dengan jaman suharto?! dan tentang 'cambuk suharto', bung fahrie', justeru lebih tepat ditujukan kepada anak-anak cucunya, ketimbang kepada warga. sebagai pejalan, saya banyak menemui kalangan bawah yang rajin, betapapun mereka dalam kemiskinan. lihatlah para nelayan di selayar, taka boneratte, atau tak jauh-jauh, di paotere, hanya untuk sesuap nasi mereka menyabung nyawa di tengah laut! dan betapa rajin para petani di desa menanam cengkeh dan memeliharanya bertahun-tahun sebagai simpanan untuk hari tua, untuk anak isterinya. dan siapa pula yang merusak kondisi tata niaga cengkeh di sulsel, sulut, sumatera melalui bppc, seperti juga tata niaga jeruk? bukankah cambuk itu pantas ditujukan kepada putera kesayangan suharto, tommy? tentu saya bersetuju pula, ini yang mungkin anda maksudkan, bahwa 'tidak sepenuhnya' kesalahan itu pada suharto. namun, bukankah dia yang meraih 'bapak pembangunan', bukankah dia yang menduduki posisi tertinggi? bukankah jabatan membawa konsekuensi logis tanggungjawab? noblesse oblige, kata tetangga jean-paul sartre.


01-02-2008
Dari : fahrie | www.dokter-unhas.org
Terima kasih banyak atas tanggapan bung Halim, saya sangat menghargai pendapat anda. Dan dalam beberapa poin sependapat dengan anda. Sayapun tidak bisa menutup mata untuk menyangkal 'dosa-dosa' Soeharto. Sebagai orang nomer 1 dinegeri ini, amat sangat wajar kalau semua salah yang pernah ada dalam 32 tahun pemerintahannya diarahkan kepadanya. Namun sebaliknya, tentunya kepada beliau juga kita bisa melayangkan acungan jempol untuk beberapa pencapaian yang ada di era itu. Tentang 'cambuk', sebagai orang yang pernah melewatkan hari-hari di beberapa daerah dan negara di Asia Tenggara, saya melihat satu persamaan antara kita dengan 'mereka' para jiran kita. Karakteristik singaporean, malaysian, philipinos, kurang lebih sama dengan kita. Lantas apa yang membuat Saingapore dan Malaysia bisa maju sedangkan kita dan Phillipine jalan ditempat, bahkan cenderung bergerak mundur??? Saya menganggap yang membedakan adalah pemerintahnya! Siapapun - saya yakin - akan setuju kalau saya bilang gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew 'sedikit' diktator dan Mahathir 'cenderung' tiran. Tapi justru itu yang membuat mereka maju. Sebaliknya Philipine yang - karena pengaruh demokrasi ala Amerika - sengkamma ngaseng ji dengan kita. Gonta-ganti pemimpin, korupsi, saling sikut saling jambak. Maaf kalau kemudian saya beranggapan bahwa perlu seorang 'diktator' untuk bisa membawa kita keluar dari lingkaran setan yang kita sebut 'reformasi' ini. Satu figur pemimpin yang sayangnya belum lagi terlihat dari deretan muka-muka lama yang kelihatannya akan kembali berebut tampuk kekuasaan di pemilu 2009. Salahkah kalau dalam rasa kecewa dan frustrasi yang mumbuncah itu, kemudian figur tiran Soeharto terlihat begitu menggoda?????


04-02-2008
Dari : Sugi' |
Mas halim, makasih untuk obrolan ini. Meski saya tidak bisa menampik kebenaran yang disebutkan Ami, mengomentari bahwa "Untung kamu tidak tamat SD Inpres, sehinga alif ba ta mu samasekali tak berkaitan langsung dengan program Soeharto." Atau karena kemampuan keuangan keluarga kami yang cukup, saya tidak mengejar beasiswa supersemar yang disebutkan mas Halim, padahal saya pikir secara akademis, saya memenuhi syarat; Saya harus jujur mengakui, sekarang setelah saya menulis kaluma, bahwa saya takut. Kalau saya menyebutnya tiran, dan membubuhi luar negeri di belakangnya, seperti dugaan mas halim, karena saya ada pada deretan mereka yang "diam-diam" setuju pada julukan itu. Julukan yang, sekali lagi mas halim benar, saya temukan dari bacaan saya yang tidak terbit di dalam negeri.
Saya mungkin terlalu naif untuk menarik keterkaitan Suharto dengan peristiwa matinya Gento. Sahabat kakak saya yang menjadi bagian keluarga kami. Gento ditemukan mati dengan leher terjerat kabel, terkesan terdampar di pantai, karena dia katanya aktivis OPM. Meski kami pun tahu dia memang aktivis OPM. Siapa pelakunya? Saya menyimpan "siapa" itu dalam bisik-bisik di sekitar pemakaman. Mereka yang mas halim sebut "serdadu". Sejak itu saya mengerti kenapa orang tua saya yang dua-duanya pegawai negeri, melarang kami menyebut, mengesankan sosok suharto dengan maksud membuat lelucon. Larangan, dan "hus.. gak boleh itu" juga yang menumbuhkan pengertian saya pada hal-hal yang tidak bisa mereka jelaskan kemudian. Saya mengerti kecemasan orang tua saya yang Golkar, ketika dalam "latihan" pemilu, -yang konon berasaskan LUBER (langsung, umum, bebas dan RAHASIA )- ipar saya memilih partai bukan GOLKAR. "lha tak cuma kira latihan.." ipar saya, tidak sesederhana rangkain interview yang mengikuti ayah saya setelah itu.
Yang tidak saya duga, ketakutan itu terus mengikuti saya. Intimidasi tentang kemampuan seorang Suharto menekuk kehidupan seorang "angka" dalam masa pemerintahannya. Intimidasi yang menyusup masuk sampai ke ruang keluarga kami. Mungkin saya sebenarnya ingin bilang, "tiran" tanpa mengembel-embeli "luar negeri", tapi saya masih takut. Takut ditangkap, takut diinterview, takut mengalami nasib seperti teman-teman saya di SMA. Teman-teman yang tiba-tiba menghilang dari kelas. Lalu berbulan-bulan kemudian kami dengar mayat mereka ditemukan, di laut, di pantai, dengan leher terjerat kabel, dengan rumor OPM di sekitar kematian mereka, seperti Gento. Saya enggan, mas. Enggan terus hidup dalam ketakutan seperti itu.

Tuesday, January 15, 2008

Kaluma

Kita tahu pepatah: gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Kita juga tahu beberapa hari belakangan ini, oleh media kita dibanjiri dengan serbasuharto. Mungkin terasa berlebihan, tapi pertanyaan yang mengusik adalah: "why should I care?" . Dalam kesempatan-kesempatan menjauh dari banjir serbasuharto ini, saya membuat penilaian-penilaian pribadi terhadap saling keterkaitan kami. Keterkaitan saya sebagai individu, dengan Suharto sebagai individu pula. Saya sebagai angka selama tahun-tahun pemerintahannya, dengan Suharto sebagai individu yang mantan presiden. Termasuk di dalamnya keputusan-keputusan politis yang ia buat sebagai presiden. Keterkaitan kami? Nyaris tak ada, sampai ketika saya menelusuri julukan yang diberikan kepadanya.

Julukan kita tahu dapat disandangkan kepada seseorang dengan maksud memuja juga menghina. Sebuah julukan sama mistis dengan angan-angan yang dibungkus dalam nama, tapi julukan selalu duduk di bangku depan dalam sejarah, menurut saya. Kita lebih ingat “The Hunchback of Notre Dame” dari pada nama Quasimodo, misalnya. Membicarakan Suharto, tentu tidak harus dengan "itikad baik" dari rangkaian caci maki tentu saja.. karena toh secara langsung kita (maaf kalo dianggap sok mewakili) tidak bersentuhan langsung dengan sang tiran, julukan yang diberikan kepadanya oleh pihak luar negeri. Apa julukan kita -sebagai bangsa kepadanya? Bapak Pembangunan.

Saya berharap kita dapat sepakat, bahwa bagaimanapun nama memiliki aura mistis. Dipicu banjir serbasuharto, bagi saya julukan yang satu ini punya nilai “keramat”. Karrama’, kata orang Makassar. Bukan semata karena kata "pembangunan" adalah karrama'nya "negeri-negeri sedang berkembang". Kita juga sama tahu, pembangunan dan negara berkembang, merujuk pada kata yang sama: Development. Semua negeri yang memiliki salah satu dari label: miskin, korup, chaos berlomba-lomba mengejar, juga berduyun-duyun datang menyembah kata itu: development. Tapi selain itu, bersamaan dengan riuh rendah discourse tentang suharto, saya dengan tercengang melihat aura mistis lain dari kata itu.. kata itu, "pembangunan" seakan sebuah kandungan. Kandungan seorang ibu. Agung.

Membiarkan seseorang menyandang nama Bapak Pembangunan, adalah seperti membiarkan seseorang membentangkan selimut atas -atau seperti kandungan seorang perempuan: menyelubungi - negeri ini dalam proses developmentnya. Menyerap seluruh potensi kehidupan yang disediakannya, atau disisakannya. Sebab janin tidak punya pilihan. Bapak Pembangunan. Kandungan. Suharto. Bagaimana bisa “tempat” yang sangat keramat itu dinodai? Mungkin karena itu, selalu ada rasa antipati terhadap penguasa yang korup, seperti kita menyimpan angkara pada mereka yang menghianati seorang ibu, meski tak terkait darah setetes pun.

Dalam julukan itu, julukan Bapak Pembangunan, yang bersanding dengan Tiran, kita mengagungkan “right or wrong is my country”, dan berbagai jargon basi lainnya. Kandungan pun berubah menjadi kaluma. Kaluma (Greek) secara harfiah berarti selubung. Tapi lebih dari sekedar selubung, kaluma bermakna "kantong yang hitam, gelap, penuh racun." Dan kita ada di dalamnya. Di sini, di tempat kita hari ini. Dalam kaluma yang kita terima tanpa perlawanan, seakan-akan kita tidak punya pilihan. Kemana saja menoleh, setiap "gerak maju" bernama pembangunan adalah peralihan semu dari bayang-bayang mistis nama itu. Julukan itu. Bapak pembangunan. Mungkin itu sebabnya, dengan berbagai alasan, deretan panjang orang masih datang memohon restu.. restu mistis sang ibu, yang notabene laki-laki bernama suharto. Bahkan ketika secara klinis beliau telah wafat. Mungkin itu sebabnya kita merasa terluka sebagai bangsa, mungkin itu sebabnya kita merasa dikhianati sebagai negeri, dan dengan putus asa kita berkata: " dah korup dari sononya sih.." lalu ketika kita tidak "terbawa pusaran arus" kita terpaksa mahfum, kita terpaksa berkompromi. Kronologi premis ini bisa berbalik , tergantung kita sedang berkuasa atau tidak. Tapi untuk benar-benar tidak perduli, kita tidak bisa. Tidak seharusnya kita bisa.

Ada yang terus menghantui gerak maju bangsa ini. Bahkan jika seorang suharto yang presiden ini dimakan ulat, kita akan terus merasa menjadi bagian -yang tak berdaya- dalam selubung pembangunan. Karena di dalam kita telah terbentuk gagasan, mentalitas bahwa pembangunan Indonesia identik dengan Suharto. Bukan berarti saya menafikan kemajuan-kemajuan signifikan yang terjadi dalam era suharto yang bernilai berkelanjutan, tapi pembangunan negeri ini tidak identik dengan seorang Suharto yang pernah presiden. Julukan itu, akan menyamarkan nilai dari gerak maju "pembangunan" lain dalam era siapa saja.

Melihat kehadiran Suharto hanya sebagai sebuah bagian dari kronologis upaya bersama bangsa -kalau memang ada bangsa bernama Indonesia- untuk mencapai masyarakat madani akan menjadikan kita orang-orang yang lebih punya harga diri, lebih punya terimakasih, lebih lama berjuang. Sesuatu yang tidak kita miliki, sebagai bangsa. Jujur saja, di luar negeri, anda Indonesia adakah terbersit untuk berbangga sebagai bangsa lebih dari sekedar memiliki kekayaan tradisi? Ketika di antara kita ada kesempatan untuk masuk hitungan, nyaris semata karena kekuatan individu. Kenapa begitu? Karena kita, di inner most being kita, pada dasarnya setuju bahwa bangsa ini, "dari sono"-nya, dari kandungannya.. cacat.

Saya –jauh di dalam sini, my inner most being -meski tak pernah berurusan langsung- merasa dikhianati. Kenapa mesti? Karena saya diam-diam percaya pada sacre kata "development". Sama seperti saya percaya pada keagungan kata "ibu". Lalu? Jika negeri ini bertumbuh dan berproses, setidaknya saya harus mampu melihat: masa depan sungguh ada. Dengan atau tanpa suharto (dan jejaring mistis yang telah ditebarnya ke seluruh negeri.)

Saya merasa perlu mengajak orang lain melihat masa depan di luar dikte selubung yang telah korup itu. Pula mengajak yang sepakat untuk melakukan upaya spiritual merobek selubung yang telah mengkhianati kita. Bukan untuk menjadi kelompok klenik, tapi melakukan penolakan spiritual terhadap dikte mistis bahwa negeri ini ada dalam kandungan Suharto. Dalam iman saya tindakan seperti ini disebut peperangan rohani, spiritual warfare. Peperangan yang dilakukan melawan penguasa-penguasa, pemerintah dan penguasa dan roh-roh jahat. Semua elemen ini, di tambahi "di udara". Artinya, atmosphere. Something you can' see, but you breath it in. Kenyataan yang tidak nyata. Tapi berkuasa. Sangat berpengaruh.

Selama bertahun-tahun saya berasumsi sebuah peperangan rohani adalah gambar samar-samar tentang orang beriman berhadapan dalam perjumpaan mistis dengan sesembahan para pejabat: kuasa, harta dan goda-goda lain yang membuatnya pantas memakai label “pejabat”. Yang beriman dengan doanya, yang memiliki jabatan dengan godanya. Saling memandang. Saling merendahkan. Ternyata tidak. Memerangi aura ketidakadilan, kesewenang-wenangan, bukan sesuatu yang samar. Bukan cuma adengan saling pelotot, janjang kata orang Makassar. Mengajukan keberatan, menyuarakan pembelaan, atas dasar saling, adalah pemihakan yang dapat dilakukan seorang individu dalam kesempatan apapun. Tindakan individual yang secara spiritual memiliki pengaruh komunal. Tindakan tersebut adalah tindakan peperangan, sebab peperangan kita bukan perkara melawan darah dan daging, tapi mematahkan paradigma.

Jika saya memaklumatkan perang, dan menolak "ditumbuhkan", "dibangun" dalam kandungan yang korup, maka itu bukanlah peperangan samar-samar. Kenapa? Karena itu pilihan setiap hari. Meski untuk mempengaruhi generasi, kita belum tentu melihat hasilnya dengan mata sendiri, dengannya kita berlatih, setiap hari untuk membuat perbedaan, setidaknya di nurani sendiri. /luv