Notes On

Wednesday, May 19, 2021

Mazmur 151

aku mau bermazmur, mazmur tentang mekar mawar

dan perjalanan hujan. tentangmu. 


Darimu,

ada senantiasa  yang mengalir

Terus hadir :

Meski malam kelam pekat terbentang

Kebaikan kesetiaanmu pasti tiba. Sepasti fajar. 

Padamu 

ada yang tak bisa ditunda.

Seperti terang datang bersama matahari,

Tak terkalahkan, tak bisa dihalangi

Sepasti ' jadilah petang, jadilah pagi,'

tak perduli musim berganti.

cahaya wajahmu mengawal hari-hari kami.

Kehidupan kau perintahkan mengalir

Mengairi hidup kami

kun faya kun!

bukan sulap, bukan iklan: 'mawar!' seru orang

takjub. 

Seperti bunga di ujung peluk kuntum

demikian kebaikan dan kesetiaanMu

Saling memeluk dan merayakan

Sedang kami baru akan mawar

Ketika kehidupanMu mengantarkan mekar

Semarak kami datang dari genggam anugerah.


Aku mau bermazmur

Tentang mekar mawar tentang perjalanan hujan.


Padamu ada perjalanan 

memaknai arti tak terlihat

seperti laut didihkan langit, 

hidup merangkak: dari uap air, jadi hujan, 

mengerjakan tumbuh bagi benih. 

memaknai luka dan meringkuk dalam harap

seperti benih membutuhkan retak, untuk tumbuh tanpa suara. 

derita membuka jalan: aku menjadi

diri sendiri pada waktu dan musimnya.


Padamu perjalanan 

adalah menuju latar belakang

seperti langit malam

yang membuat bulan dan bintang jadi terang

dan kembang api sebuah perayaan

mendapat decak kekaguman

Padamu perjalanan adalah memberi

bukan karena mati dan tanpa daya,

tapi memilih untuk menyerahkan kepentingan diri sendiri:

menjadi semakin kecil, semakin tak dikenal

semakin melebur, membuat orang lain tumbuh subur.

mewujud dari melebur, remuk dan hancur. 


Aku mau bermazmur tentang kita. Perjalanan kita.

Engkau terus mengalir terus hadir

menelusur perjalanan,melintasi musim kehidupan

Tak terhalangi dalam memerintahkan anugerah

Demi anugerah

Mengawal hari-hari kami

teguh dalam setia, entah kupahami, entah tidak


Aku mau bermazmur

Mazmur perjalanan kita

Seumur hidup akan kunyanyikan:

kebenaran tentang hadiratMu

Yang tak terdustakan.


Engkau terus hadir, senantiasa mengalir

demikian KesetiaanMu, KemurahanMu

Mengawal keliaran hingga pemberontakan,

dusta hingga pengkhianatan

luka dan pedih yang ditorehkan ketidaksabaran

dalam kelam kefanaan

Engkau menunggu dan menyerahkan

Mengangkat dan meneguhkan

Di sepanjang perjalanan

Membungkusnya dengan kehidupan

Memenuhinya dengan anugerah.


Seumur hidup akan kunyanyikan

Mazmur perjalanan hujan dan mekar mawar

Perjalanan cinta kita.


November 2016


Wednesday, April 21, 2021

JAHITAN CINTA IBU -SAJAK MESIN JAHIT (2)

 Udara dingin menyerbu dari kisi-kisi jendela dapur. ruang makan itu, menghidupkan ingatan tentang seorang perempuan

perempuan kuat, yang menolak mengintip hidup darikisi-kisi, 

perempuan yang kupanggil mami, perempuan paling sulit dipahami diusia remaja,

ketika mami duduk di depan mesin jahit menjelang ulang tahunku. Membuatkan baju untukku. Menyiapkan tart ulang tahun, membuatkan kartu . tapi saya toh tetap merasa tak cukup, waktu itu. Selama tak ada pesta disko, apalah artinya ulang tahun? “Kenapa saya tidak bisa bikinin pesta? Kenapa malah kebaktian rumah tangga?, siapa yang ulang tahunka?” Saya ingat kegusaran saya, di salah satu kesempatan hari ulang tahun. 

teman paling kurindukan ketika menjadi istri,

mentor yang paling kuharakan ketika menjadi ibu. 

tidak kusimpan gambar ibu, sepotongpun di seluruh rumahku. Rumah dimana aku dipanggil ibu, oleh anak-anakku. 

tapi di rumahku ada mesin jahit yang tidak pernah melarikan benang dan jarum di atas kain, dan di ujung-ujungnya ada jemari mengapit.

seperti yang ada di rumah ibu. jerrr, jerrrrrrrrrr, jerrrrrrrr bunyinya kuingat.

jerrrrrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, nyanyi mesin mengiring senandung ibu

ketika waktu ia himpit hati-hati dengan cinta, setelah mengukur kain lalu menjahitkan baju, juga menyiapkan kartu untuk ulang tahunku. mesin jahit di rumahku mengelim waktu yang senyap, ketika kusiapkan pesta ulangtahun lewat telepon untuk si bungsu,

sayup mesin jahit ibu terus berbunyi di dalam darahku, meski terhimpit waktu.

jerrrrrrrrr, jerrrrrrr, jerrrrrrrr cinta ibuku, berdesir di darahku dan mendesau di ingatanku.

Jerrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrrr. Mengejar diri dengan tanya: cukupkah perayaan ulang tahun dengan pesanan dari restoran dengan alasan tak ada waktu?

Tak sanggup kubandingkan pilihan mami dengan pilihan-pilihanku sebagai ibu.. Mesin jahit tua, Kali ini ia berbunyi, sebagaimana mesin seharusnya berbunyi. tanpa tanganku menjepit waktu di kedua ujungnya. Jerrrr, jerrrrrrr, jerrrrrrrr. Ibu menjahitkan cintanya ke tubuhku.

padanya aku belajar, kelim dasarnya belum kelar: Jerrrrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrr.

Tuesday, March 9, 2021

Choose to Challenge

Renungan tanggal 9 Maret 2021
Hari Perempuan International - International Women's Day
Luna Vidya
Bagian ke 3

MAZMUR 119:65-72 - STANZA KE 9

Tanggal 8 kemarin, adalah Hari Perempuan International - _International Women's Day_, temanya "choose to challenge", berani menantang, jika diterjemahkan. Dari sudut pandang "berani menantang", sebagai seorang perempuan, mari kita lihat apa yang dapat ditemukan dalam stanza ke 9 Mazmur 119. 

65 _Kebaikan hati-Mu yang berlimpah kepadaku membuatku semakin ingin mengikuti  firman-Mu_
66 _Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik, dan berilah aku terang, karena aku percaya kepada perintah-perintahMu._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu_
68 _Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah._
69 _Para pembual yang sombong mengarang dusta tentang aku karena aku bersemangat mengikuti semua yang Kau katakan._ 
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu._
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia. (Terjemahan Passion)_

Kemarin, saya akhiri renungan dengan ini: "...Saran saya daftarkan diri anda - ke 'sekolah' pembuat keputusan yang baik-. Pembuat keputusan yang baik, adalah kebutuhan saat ini, sekarang dan berdampak kekekalan. Terutama karena anda perempuan. Saya juga. Orang menduga, kita adalah kaum yang membuat keputusan dituntun perasaan semata. Tak apa. *Tapi mari mengalahkan dunia,* dengan memiliki kualitas warga Kerajaan Allah ini: Anda adalah *seorang perempuan* yang mampu membuat keputusan yang baik. Bukan hanya 'baik', tapi juga memenuhi kriteria "berkenan ke pada Allah, dan sempurna".  

*Mari mengalahkan dunia*, _choose to challenge_ dengan cara

*1. Mengembangan kapasitas untuk menjadi pembuat keputusan yang baik*, dengan dua panduan pikir:  (a) Menjadikan Alkitab sebagai referensi utama, 
( b) Kebersediaan menindaklanjuti koreksi.
Dimensi _"choose to challenge"_ kita bersama dalam hal ini  adalah kegigihan untuk menjadi maksimal di dalam kapasitas dan mengakses apa yang (sesungguhnya!) disediakan Kerajaan Allah bagi kita. 

*2. Mempunyai mata yang melihat hasil akhir*

Orang dengan mata yang mampu melihat hasil akhir, dalam stanza ini digambarkan sebagai  (a) orang yang perjalanannya diarahkan oleh Firman Tuhan dan dengan bersemangat berjalan dalam kebenaran (65, 66 dan 69), (b) memiliki kesadaran bahwa *semua yang terjadi* - , adalah intervensi ilahi yang indah di setiap bagiannya dan bersumber dari kebaikan Tuhan (68). Orang yang mempunyai mata melihat hasil akhir, melihat (c) disiplin sebagai bagian tak terelakan untuk mengeluarkan noda dari karakter kita. Seperti api digunakan untuk memurnikan emas (71). 
Jadi _"choose to challenge"_ kita di sini adalah soal persepsi tentang "nasib". Bagaimana anda melihat nasib anda? Individu yang dimakan usia, makin menua atau pribadi yang sedang berjalan makin lama makin kuat, bersemangat ke arah pembuktian kebenaran Firman Tuhan? Bahwa hari-hari kita adalah momentum yang penuh "amin!" ? 

*3. Mengejar kesejatian. _Don't die as a copy_*

70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, *tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu.*_
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku *adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku*, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku *lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia.*(Terjemahan Passion)_

_"Choose to challenge"_ kita untuk ini adalah memerdekaan diri dari cara ukur dunia dan menyesuaikan diri dengan Kesejatian. Pada ayat 70-72, terdapat pesan yang kemudian terus menerus bergema di Perjanjian Baru: persepsi tentang ukuran.  Bagaimana kita mengukur "terbaik", kekayaan dan pencapaian. Tantang dunia ini, bahwa sebagai perempuan Kristen, kilau kekaguman yang memikat kita bukan kilau yang ditempelkan pada tag harga, tapi pada nilai dan jaminan kekekalan. Kita adalah orang yang merdeka, benar-benar merdeka untuk menjadi sejati, bukan KW, bukan korban _trend_. Ya itu, _don't die as a copy._

Tuhan berkati.
LV

Teach Me Better Judgment (2)

Renungan tanggal 8 Maret 2021
Luna Vidya
Bagian ke 2

MAZMUR 119:65-72 - STANZA KE 9
65 _Kebaikan hati-Mu yang berlimpah kepadaku membuatku semakin ingin mengikuti  firman-Mu_
66 *_Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik,* dan berilah aku terang, karena aku percaya kepada perintah-perintahMu._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu_
68 _Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah._
69 _Para pembual yang sombong mengarang dusta tentang aku karena aku bersemangat mengikuti semua yang Kau katakan._ 
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu._
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia. (Terjemahan Passion)

Bagian pertama dari membangun keterampilan menghasilkan keputusan yang baik adalah dengan menjadikan Alkitab referensi utama. Semoga kita bersepakat dalam cara pandang: tidak ada opsi lain. 

Kapasitas lain yang harus dikembangkan untuk menjadi pembuat keputusan yang baik adalah: 
2. Kesediaan Menindaklanjuti Koreksi

Menelusur kembali stanza ke 9 Mazmur 119 ini, kita temukan bahwa keterampilan membuat keputusan yang baik, diteguhkan dengan proses evaluasi dan koreksi. Evaluasi dan koreksi diri ini, adalah keterampilan yang harus dibangun, karena umumnya evaluasi dan koreksi, bukan proses yang menyenangkan. Saya mengenali kecenderungan saya membela diri, ketika dievaluasi dan dikoreksi. Kecenderungan yang harus ditaklukan. 
 
_"Bahwa aku tertindas, itu baik bagiku, supaya aku belajar jalan-jalan-Mu."_ (71 - LAI) 
_"Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu"_ (67 - Passion Translation)
_"Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu."_ (Passion Translation)

Perhatikan bahwa panduan bagi kita adalah bukan hanya bersedia dikoreksi saja, tapi melanjutkan evaluasi dan koreksi itu ke tahap "barang siapa mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia seperti orang yang membangun rumahnya di atas batu". 
Ya tahap tidak lanjut. Tahap melakukan. Karena bahkan ketika kita dapat menerima koreksi setelah evaluasi diri atau lewat orang lain dan berbagai cara pengungkapan fakta lain, di fase ini pilihannya adalah melanjutkan koreksi ke tahap melakukan sesuai arahan Firman Tuhan atau melakukan penyangkalan. Penyangkalan itu termasuk sikap ini: "aih biar mi deh, terlanjur mi."  Terdengar rendah hati, tapi sebenarnya itu sikap tidak mau dikoreksi. 
 
Dalam kebiasaan serba instan saat ini, dengan tips-tips untuk menguasai keterampilan dalam waktu singkat, belajar lewat jalan 'tertindas', bukan solusi populer. Tidak ada sekolah yang akan mempromosikan diri dengan slogan: "Tertindas Itu Baik Bagiku" tidak ada yang akan mendaftar ke sana. 

Tapi referensi utama kita menunjukkan tertindas itu jalan belajar.  Belajar tentang ketetapan. Belajar prinsip lewat disiplin. Anda tahu istilah detoksifikasi, bukan? Kata "tertindas" bekerja seperti detoksifikasi, terapi untuk mengeluarkan racun dari tubuh kita. "Tertindas" yang ini punya tujuan mengeluarkan racun dari cara pandang kita.   

Dalam stanza ini, sikap beriman diungkapkan dalam: "aku percaya", "aku melihat".

66 _Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik, dan berilah aku terang, *karena aku percaya kepada perintah-perintahMu*._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi *sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu*
68 *Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu*, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah.
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, *tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu.*_
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku *adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._* 
(Terjemahan Passion)

Jadi terang benderang bukan bahwa iman dibutuhkan di sini? Dan iman itu, adalah iman unggul yang mengalahkan (sistem) dunia. Bukan iman KW, yang menguat seturut _mood_, dan karena hal-hal baik saja. Kalau ada sekolah memakai slogan "Tertindas Itu Baik Bagiku", hanya mereka yang percaya hasil akhir yang akan mendaftarkan diri.  Kabar baik dari  promo tegas  'modul tertindas' ini adalah lulusannya akan hadir sebagai pribadi yang mahir membuat keputusan yang baik, dalam peran apa pun di masa hidup mereka. 

'Sekolah' menjadi pembuat keputusan yang baik, membuka kelasnya setiap waktu: 24/7. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Saran saya daftarkan diri anda - ke 'sekolah' pembuat keputusan yang baik-. Pembuat keputusan yang baik, adalah kebutuhan saat ini, sekarang dan berdampak kekekalan. Terutama karena anda perempuan. Saya juga. Orang menduga, kita adalah kaum yang membuat keputusan dituntun perasaan semata. Tak apa. *Tapi mari mengalahkan dunia,* dengan memiliki kualitas warga Kerajaan Allah ini: Anda adalah *seorang perempuan* yang mampu membuat keputusan yang baik. Bukan hanya 'baik', tapi juga memenuhi kriteria "berkenan ke pada Allah, dan sempurna".  

Tuhan berkati. 
LV. 
   
_catatan pinggir:_
Mazmur 119, terdiri dari 22 stanza. Stanza adalah bentuk puisi yang setiap baitnya terdiri dari 8 larik. Stanza dalam Mazmur 119 ini, disusun mengikuti abjad Ibrani pada awal setiap stanza. Ayat 65-72 ini adalah stanza/bait ke 9 yang larik pertamanya diawali dengan huruf ke 9, --> ט‎ - _tet._ 

Teach Me Better Judgment

Renungan tanggal 7 Maret 2021
Luna Vidya

_Bagian 1_.

MAZMUR 119:65-72 - STANZA KE 9
65 _Kebaikan hati-Mu yang berlimpah kepadaku membuatku semakin ingin mengikuti  firman-Mu_
66 _Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik, dan berilah aku terang pewahyuan-Mu, karena aku percaya kepada perintah-perintahMu._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu_
68 _Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah._
69 _Para pembual yang sombong mengarang dusta tentang aku karena aku bersemangat mengikuti semua yang Kau katakan._ 
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu._
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia._

*Ajarlah aku mengambil keputusan yang baik *,_teach me better judgment_.
Kita semua pasti pernah tiba pada titik di mana kita termangu-mangu menyadari, bahwa kita telah ada dalam sebuah situasi sulit, karena keputusan yang kita ambil beberapa masa sebelumnya, ternyata bukanlah keputusan yang baik.  
Keputusan buruk yang terus menerus terjadi akan menimbulkan keputusasaan. 
Artinya ayat ini sedang berbicara pada kita, bahwa membuat keputusan yang baik adalah sebuah keterampilan. Kualitas yang harus dibangun. Ditempa tepatnya.   

Bagaimana cara membangun keterampilan "membuat keputusan yang baik"?
dalam stanza ke 9 Mazmur 119 ini, terdapat 'panduan peningkatan kapasitas' membuat keputusan yang baik.  

1.  _Menjadikan Alkitab sebagai referensi utama_

'Referensi utama' artinya menjadikan Alkitab sebagai sumber prinsip dari tindak tindakan. Sama seperti kita mengenali 'pagi' dan 'malam' dengan memakai matahari dan bulan, demikian seharusnya prinsip kepastian keutamaan Alkitab berlaku dalam hidup kita, kita tidak ragu-ragu, tidak bimbang. Kalau matahari sudah terbit, itu 'pagi', kalau matahari sudah tenggelam, 'malam'. 

Kenapa kita perlu ditempa untuk bisa menjadi pembuat keputusan yang baik? Karena menjadikan Alkitab sebagai rujukan dalam membuat keputusan yang baik bukan perkara mudah. Proses ini seperti mengganti 'peta perjalanan' dalam proses pembuatan keputusan. Sebab sadar atau tidak, banyak proses pengambilan keputusan kita didasarkan pada pendapat pun kebiasaan mayoritas. 'Peta' yang dibentuk oleh kebiasaan, pandangan mayoritas ini harus ditinggalkan dan beralih menggunakan peta  ketetapan Tuhan, peta Kebenaran.
 
Saya berasumsi kita semua paham fase "peralihan" itu seringkali meninggalkan jurang menganga di sana sini, kebingungan.  Ini salah satu hal yang perlu diwaspadai: jurang-jurang dan kebingungan yang timbul sebagai konsekwensi memakai Alkitab sebagai referensi utama. Dalam situasi inilah, ketika ada dalam fase peralihan, kita perlu iman untuk bisa meneruskan proses belajar dalam kelas "membuat keputusan yang baik". Sebab tanpa iman, kita akan segera membuang referensi, peta kebenaran kita. Karena di kelas ini, kita bisa kecewa. Rasa kecewa, ketika sedang berlatih membuat keputusan di atas peta kebenaran, adalah godaan terbesar untuk kembali ke cara-cara membuat keputusan berdasarkan kebiasaan atau pandangan mayoritas.  
  
Tidak ada opsi lain, untuk menjadi terampil membuat keputusan yang baik. Alkitab harus menjadi referensi utama.Menjadi cara ukur, prinsip. Tidak tersedia pilihan alternatif , untuk memakai kebiasaan, 'apa kata orang', dan arahan 'orang pintar' sebagai faktor-faktor penentu dalam membuat keputusan. Bukan sekedar  keputusan, tapi keputusan yang baik.  Bahkan jika nasehat itu kita peroleh dari para motivator, dipandang lumrah, dapat dimaklumi, menawarkan solusi cepat. Jika arahan itu, tidak bisa disesuaikan dengan kebenaran Alkitabiah, tidak merupakan konfirmasi dari kerja Roh Kudus dalam kita, meneguhkan ketuhanan Kristus, kemahakuasaan Bapa,  maka nasehat itu, maaf, adalah nasehat orang yang tidak jujur,  "para pembual yang sombong". 
Jika sebuah nasehat tidak mencerminkan ketetapan, prinsip-prinsip perjanjian Tuhan, maka nasehat itu ADALAH nasehat yang menyimpangkan. Kalau mau lebih lugas, itu bukan nasehat, tapi noda dusta dalam proses pengambilan keputusan.  

Tanpa mengecilkan makna 'persekutuan orang percaya" yang di dalamnya ada nasehat dari dan untuk sesama anggota Tubuh Kristus, tapi karena setiap kita harus memadankan diri dengan prinsip-prinsip yang tersedia dalam Alkitab, maka kita harus bisa bertaut dan tertaut pada referensi utama itu secara pribadi.  Setiap kita sebagai individu, dapat mengakses tuntunan, strategi, pertimbangan-pertimbangan, prinsip-prinsip dan semua elemen lain yang dibutuhkan untuk membuat pertimbangan dan menghasilkan keputusan yang baik. Untuk memanfaatkan kekayaan itu,  kita sendiri harus membaca Alkitab. Jangan bersandar pada _bedde'_ (menurut kata orang, bahasa Makassar) tapi bersandar pada Firman Hidup yang dinyatakan Roh Kudus dalam Alkitab. Membaca sendiri, membukakan bagi kita kesempatan untuk mengalami pengalaman "paham", pengalaman "terang pewahyuan-Mu".

Jangan biarkan keputusan buruk yang satu menyeret keputusan buruk  lain, yang kemudian membentuk lingkaran keputusasaan. Akhiri siklus keputusasaan, dengan menjadikan Alkitab, terang pewahyuan Kristus yang di kerjakan Roh Kudus bekerja bersama-sama dalam hidup kita. Sehingga kita dari sekarang sampai ke kekekalan, akan hidup dalam rencana Tuhan yang baik, berkenan kepada Allah dan sempurna. 

Saturday, February 13, 2021

Satu dengan Dia

Bab 12 - (menjadi) Satu dengan Dia
The Golden Thread-Darlene Zschech

Nilai Usaha atau Kerja Keras
Saya bertanya-tanya, kenapa "Satu dengan Dia" dimulai dengan memperkenalkan pentingnya belajar konsep "berhenti", "beristirahat"? Karena untuk bisa satu dengan Dia, kita perlu melalukan koreksi terhadap di mana kita menempatkan diri kita dalam mencapai sebuah tujuan. 
Seringkali kita menemukan dan menempatkan diri kita/ identitas kita dalam pekerjaan atau peran kita.  Tidak ada yang salah dengan melakukan pekerjaan. Tidak ada yang tidak mulia dengan melayani, melakukan pekerjaan pelayanan dan menjadi pelayan/hamba Tuhan. Ada hal-hal yang harus dicapai dengan kerja keras. 
Tapi kerja keras apalagi jika kita menikmatinya, sering kali membuat kita sibuk dan kemudia melupakan pentingnya beristirahat. Bukan saja secara fisik, tapi juga secara rohani. Kerja-kerja pelayanan sering kali membuat para pelayan Tuhan lupa memaknai: menanti. Menanti-nantikan Tuhan.  
Jika kita salah menempatkan diri dalam mencapai tujuan, terutama tujuan-Nya, maka ketika ada perubahan musim terjadi dalam hidup kita, maka inilah hal-hal yang perlu kita ingat:
1. Tuhan memakai "perubahan musim dalam hidup kita" -kita bisa menamakannya kesulitan - tapi sebenarnya juga kesukaan dalam hidup kita - untuk menyesuaikan kita dengan tujuan-Nya. Perhatikan: Tuhan berinisiatif, lebih dulu bertindak untuk menyesuaikan kita dengan rencana-Nya. 
Sering kali dalam perubahan musim, kita cenderung lupa siapa diri kita. Perubahan musim itu, adalah kesempatan Tuhan menempatkan kita kembali pada track tujuan-Nya. Jika kita setuju terhadap kebenaran, transisi musim kehidupan ini akan terasa lebih perih dan sulit. 
2. dalam transisi kehidupan -situasi krisis atau situasi bahagia pun - pertahankan apa yang bisa kita kendalikan: konsisten dan utama. 
3. menemukan kembali dalam musim perubahan ini, ruang untuk menjadi diri sendiri: termasuk untuk berhenti dan beristirahat. tak perlu diberhentikan untuk menerima fase "istirahat yang dipaksakan". 
4. Kemuliaan Tuhan tidak dapat kita atur. Kebaikan Tuhan tidak hilang karena kita "pelayanan", kebaikan Tuhan bukan gaji yang kita dapatkan karena bekerja dan tidak ada ketika kita tidak bekerja. Kebaikan-Nya adalah kebaikan-Nya, bukan berdasarkan apa yang kita buat atau tidak kita buat. 
Ini yang perlu seimbang kita perhatikan dan waspadai dalam musim perubahan: berjalan dalam Kristus, beristirahat dalam Kristus, bertumbuh dalam Kristus. 

Nilai Komunitas
Konsep "gedung gereja" harus diubah ke konsep "Tubuh Kritus"

Gereja itu bukan tempat kemana kita pergi, tapi bagian dari diri kita. Kita adalah Tubuh Kristus. Ketika menjadikan gereja tempat pergi, atau melihat gereja sebagai organisasi yang menawarkan memfasilitasi atau menjalankan  kegiatan rohani saja, kita akan jadi lelah, kecewa dan frustasi. Memaknai "gereja" sebagai tempat telah membuat "pelayanan" dan "pelayan" maknanya mengabur. Orang-orang menjauh, dari kegiatan, tapi kemudian dari iman dan paling sering dari tujuan Tuhan dalam hidup mereka. 
Tidak bisa melihat bahwa gereja adalah bagian dari kita, menarik diri dari komunitas, sebenarnya bentuk dari sikap tidak menghargai Tubuh Kristus.  
dan karena tidak ada dalam tubuh, kita kehilangan banyak hal yang Tuhan janjikan yang hanya bisa terwujud jika kita ambil bagian dalam komunitas. Sebab kita tidak ditebus untuk hidup "sendiri". tapi juga untuk bersama-sama orang lain, untuk tujuan-Nya. 
Di dalam "Tubuh Kristus" ada ruang buat setiap orang, tapi tidak ada ruang buat berkompetisi. Kita akan bertumbuh dalam kepercayaan diri terhadap apapun yang menjadi panggilan-Nya bagi kita.
Tubuh Kristus juga membuat kita sulit keluar dari rencana-Nya.  

Nilai Individu
Apakah anda penting? Ya! Anda penting.  
Keyakinan pada pentingnya anda -meskipun cuma debu, tapi "penting dan berharga" hanya dapat diletakkan dalam wadah yang tepat: tujuan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menciptakan kita, bukan untuk cita-cit kita sendiri. Bukan untuk merasa nyaman sebagai istri, ibu atau nenek. 
Tuhan membuat kita ada, untuk kepentingan-Nya, kemuliaan-Nya, tujuan-Nya, dan kesenangan-Nya.  Berusaha, berkompetisi, benci diri sendiri, sibuk, merasa lelah, stres adalah gambaran umum bagaimana orang merespon situasi "perubahan musim", mestinya respon kita berbeda karena tahu, kita tidak perlu membela "cita-cita" dan "tujuan" kita. Tujuan kita ada di dalam TUHAN.
"Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula Sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan, menurut kerelaan-nya." Filipi 2:12-13

Ketika harus membuat keputusan, buatlah keputusan karena anda menanti-nantikan Tuhan dan dalam kondisi "stand by". Selalu bersedia digerakkan bagi tujuan-Nya. Keputusan itu mungkin bukan yang terlihat "baik" atau "umum". Malah mungkin terlihat bodoh. Tapi keputusan itu di ambil dari kondisi "stand by" dan menantikan yang terbaik dari Tuhan. Keputusan semacam ini, sekalipun bodoh bagi dunia, dalam ekonomi Tuhan, tidak salah. 

Mari relakan diri disatukan untuk tujuan Tuhan. 


Monday, January 25, 2021

Bagiku: Kau

Mazmur 17
Bagiku: Kau

Tidak ada cara lain. Datang padamu. 
Sampai di sini, kususur jejak yang kau tinggalkan. Dengan bilah besi di tangan, menusukkan permohonan ke hatimu. Meminta keadilan. 
Nyatakan aku tak bersalah. Kau telah memeriksaku dengan api. 
Pelihara aku seperti biji matamu, sembunyikan aku di bawah naungan sayapmu, sembunyikan aku dalam pelukmu. 

Bagiku: kau. 
Sampai aku tiba di waktu itu: memandang wajahmu. 
“aku akan bangkit dengan bentukmu, dan merasa puas sepenuhnya, puas dengan pewahyuan tentang kemuliaanmu di dalamku.” 

Mazmur 17

#ireadpsalm 
#biblicalpoetry 
#biblejournaling 
#selfnote 
#mazmur 

📸 Kelompok penari dari Bulukumba, di #inibukanfestival 


Friday, January 22, 2021

Amanda dan Bukit-bukitnya


Read the full text of Amanda Gorman’s inaugural poem ‘The Hill We Climb'

Inaugural poet Amanda Gorman delivers a poem at Biden’s inauguration

Amanda Gorman made history Wednesday when she became the youngest inaugural poet during President Joe Biden’s swearing-in ceremony in Washington.

The 22-year-old Los Angeles resident, youth poet laureate of Los Angeles, first national youth poet laureate and Harvard graduate was invited to speak at the event by First Lady Jill Biden, who had previously seen the poet do a reading at the Library of Congress.

Gorman told The New York Times she wasn’t given any direction in what to write, but that she would be contributing to the event’s theme of “America United.” She was about halfway finished with the piece when, on Jan. 6, pro-Trump rioters stormed the Capitol Building.

Gorman ended up staying up late following the unprecedented attack and finished her piece, “The Hill We Climb,” that night. The poet, whose work examines themes of race and racial justice in America, felt she couldn’t “gloss over” the events of the attack, nor of the previous few years, in her work.

“We have to confront these realities if we’re going to move forward, so that’s also an important touchstone of the poem,” she told the Times. “There is space for grief and horror and hope and unity, and I also hope that there is a breath for joy in the poem, because I do think we have a lot to celebrate at this inauguration.”

Gorman drew inspiration from the speeches of American leaders during other historic times of division, including Abraham Lincoln and the Rev. Martin Luther King Jr.

During her reading, Gorman wore a ring with a caged bird, a gift from Oprah for the occasion and tribute to symbolize Maya Angelou, a previous inaugural poet

“Here’s to the women who have climbed my hills before,” Gorman tweeted.

The Hill We Climb"

When day comes, we ask ourselves, where can we find light in this never-ending shade?

The loss we carry. A sea we must wade.

We braved the belly of the beast.

We’ve learned that quiet isn’t always peace, and the norms and notions of what “just” is isn’t always justice.

And yet the dawn is ours before we knew it.

Somehow we do it.

Somehow we weathered and witnessed a nation that isn’t broken, but simply unfinished.

We, the successors of a country and a time where a skinny Black girl descended from slaves and raised by a single mother can dream of becoming president, only to find herself reciting for one.

And, yes, we are far from polished, far from pristine, but that doesn’t mean we are striving to form a union that is perfect.

We are striving to forge our union with purpose.

To compose a country committed to all cultures, colors, characters and conditions of man.

And so we lift our gaze, not to what stands between us, but what stands before us.

We close the divide because we know to put our future first, we must first put our differences aside.

We lay down our arms so we can reach out our arms to one another.

We seek harm to none and harmony for all.

Let the globe, if nothing else, say this is true.

That even as we grieved, we grew.

That even as we hurt, we hoped.

That even as we tired, we tried.

That we’ll forever be tied together, victorious.

Not because we will never again know defeat, but because we will never again sow division.

Scripture tells us to envision that everyone shall sit under their own vine and fig tree, and no one shall make them afraid.

If we’re to live up to our own time, then victory won’t lie in the blade, but in all the bridges we’ve made.

That is the promise to glade, the hill we climb, if only we dare.

It’s because being American is more than a pride we inherit.

It’s the past we step into and how we repair it.

We’ve seen a force that would shatter our nation, rather than share it.

Would destroy our country if it meant delaying democracy.

And this effort very nearly succeeded.

But while democracy can be periodically delayed, it can never be permanently defeated.

In this truth, in this faith we trust, for while we have our eyes on the future, history has its eyes on us.

This is the era of just redemption.

We feared at its inception.

We did not feel prepared to be the heirs of such a terrifying hour.

But within it we found the power to author a new chapter, to offer hope and laughter to ourselves.

So, while once we asked, how could we possibly prevail over catastrophe, now we assert, how could catastrophe possibly prevail over us?

We will not march back to what was, but move to what shall be: a country that is bruised but whole, benevolent but bold, fierce and free.

We will not be turned around or interrupted by intimidation because we know our inaction and inertia will be the inheritance of the next generation, become the future.

Our blunders become their burdens.

But one thing is certain.

If we merge mercy with might, and might with right, then love becomes our legacy and change our children’s birthright.

So let us leave behind a country better than the one we were left.

Every breath from my bronze-pounded chest, we will raise this wounded world into a wondrous one.

We will rise from the golden hills of the West.

We will rise from the windswept Northeast where our forefathers first realized revolution.

We will rise from the lake-rimmed cities of the Midwestern states.

We will rise from the sun-baked South.

We will rebuild, reconcile, and recover.

And every known nook of our nation and every corner called our country, our people diverse and beautiful, will emerge battered and beautiful.

When day comes, we step out of the shade of flame and unafraid.

The new dawn balloons as we free it.

For there is always light, if only we’re brave enough to see it.

If only we’re brave enough to be it.

Tuesday, January 19, 2021

Di Bawah Cakrawala

Di Bawah Cakrawala

Mazmur 5
Dengarkanlah doaku.
Tidak dapatkah Engkau mendengar keluh ku?
Setiap kali matahari terbit 
saat aku mempersiapkan persembahan doaku kepadamu 
setiap pagi aku menyusun potongan-potongan kehidupanku di mezbah-Mu.  Dan menantikan api-Mu turun ke hatiku. 
Tuhan tuntunlah aku di jalan yang menyenangkanmu seperti yang Kau janjikan, kalau tidak musuh-musuhku akan mengalahkanku. 
Ratakanlah jalanmu di depanku 
luruskan dan ratakan supaya aku tahu jalan yang harus kutempuh.
Tuhan betapa indahnya Engkau memberkati orang benar, 
kebaikan-Mu melingkupi setiap orang dan menutupi mereka 
di bawah naungan kebaikan dan sukacita-Mu.