Notes On

Thursday, October 13, 2011

Pulau Kita

Badik dan Maespun adalah dua nama pulau. Badik di Wilayah Makassar, saya beberapa waktu bekerja di sana. Maespun di Kabupaten Raja Ampat, saya ke sana untuk menjenguk kedalaman dan mencicip keriangan anak

Prolog:
Di Maespun atau Badik,
pagi sepasti sapu ombak di pantai.
Entah pasang entah surut, lelaki pulau pasti ke laut
Lalu mata kail diturunkan,
di Maespun mengait ikan
di Badik mengait peruntungan

**
Di Maespun, ketapang menua di dahan
Lalu jatuh dalam peluk pantai,
Yang mengupasnya helai demi helai.

Di Maespun dalam tangkup teluk,
tanjung, ratusan pulau
yang dilahirkan ke empat raja
telur memijah,
jemari legenda menyelusup lebat hutan dan karang
malam adalah getar misteri
cahaya yang datang dari kedalaman
pagi bangun pada riuh kicau burung
tak ada yang perlu kau lekaskan:

Mata kail, tombak lelaki di sini berhak memilih
apa yang hendak ditekak
Samandar atau Bobara
Ekor kuning atau Garopa

Sebelum rembang tengah hari,
Lelaki telah mengarahkan perahu ke pantai
Lalu malam diantarkan lama setelah tali perahu ditambat.
Ikan, keladi atau kasbi, tidak digarami.
Rasa cukup dimasak dengan kayu tadampar*

Kuingat kau: lelaki dari pulau Badik
laut mengantarmu jauh sekali,
Untuk membuat mata kail berisi
Bergegas kau pergi ke malam,
atau semalaman menunggu pagi lahir dalam temaram.
Untuk satu dua ekor ikan
kau memancing, menyelam sepanjang siang.
berburu di laut yang mengerangkan kematian.
Ketika waktu pulang tiba dan bubu hampa
kau tak punya pilihan :
kecuali mengayuh ke pulau yang terus menyusut,
pulang ke pantai yang tak punya teduhan
dan harus menambah hutang
untuk biaya makan.

Di Badik,
Bersama malam
cemas melata memasuki kampung yang benderang dengan cahaya neon
cerita - cerita tentang laut kaya
Yang pernah kami punya,
beringsut ke ujung kampung, dulunya tanjung
Kami pun pernah berhak menetukan
menetak kail pada ikan yang mana
Ketika dalam ratus kayuhan
kami pilih apa yang akan dibawa pulang
Sunu atau Baronang,
Lamurru atau Cakalang
Tapi sekarang tak ada karang di pekarangan
Ikan menghilang

Epilog:

Mungkin laut mengantar daeng
Jauh sekali dari pantai
Karena rasa takut dan cukup itu
Yang kau tukar di palelongan
Dan ketika di perahu, kau menurunkan umpan
Mata kailmu diikat untuk menangkap harus:
harus punya ini, harus punya itu.
Maka kau bergegas,
untuk perburuan bom pun dikemas.

Kau pun tahu laut mengerang.
Waktu menyelam,
kematian yang kau genggam
Tak lagi ada penyu berenang mendekat,
Tapi kau pun tak puya pilihan
Kecuali terus berburu di laut sekarat.

Hari ini dengan cemas
Perempuanmu bertanya:
Masih berapa lama daeng sebelum kita berkemas,
Meninggalkan Badik
Meninggalkan tiang-tiang dan setapak
yang bersama ombak dengan cinta telah kita takik?


November 7, 2007
2011

Monday, October 10, 2011

Mantra

pi-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau
puah! puah! puah!

kugali tuah kurapal mantra kukirim teluh
ke ranjang dan telanjangmu

itu aku
yang berdiri dalam ruang matamu
ketika kau pejam linggam kau benam
dalam sumur tersembunyi


kukirim teluh ketika subuh dan tubuhmu berpeluh
pi-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau
puah! puah! puah!

kuburai hasrat di ambang pintu
mulut terpagut, tubuh terbelit
bayangku tuah berbisa: puah! puah!

pi-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau

kurapal mantra
langit jadi tembaga
aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh!

adakah mantra yang merapal tulahnya dengan cinta?


2007-2011

Tuesday, October 4, 2011

Ketika Kemudian

dengan niat menjadikannya lirik


hmm..aku rindu pada cintamu
yang sederhana, gamblang. dan cuma ada aku,
yang sepenuhnya setuju
untuk mencintaimu dengan cara yang sama

kau seperti benih yang menyimpan akar
dan aku tanah tersedia
yang setuju membiarkamu tumbuh.

Ketika kemudian aku kau kenang:

aku adalah seluruh cinta sederhana
sepetak tanah
yang telah melepaskanmu, membebaskanmu
menjadi dahan, daun

lalu berubah jadi angin,
yang mengembara menelusur awan,
dan lembar langit, luas cakrawala

Ketika kemudian kau ku kenang:

hmm.. aku akan selalu rindu
pada cintamu yang bebas terbang
dan cuma ada aku
yang sepenuhnya setuju untuk mencintaimu
dengan menunggu



October 2011

Wednesday, September 28, 2011

Jejak

Sejak sebelas bulan lalu di paper holder pada meja kerja, kusimpan satu sajakmu. Tidak untuk apa-apa selain menghadirkan dirimu di dekatku. Rasa dekat yang sering terasa menggigit. Terutama ketika sms tak terjawab, atau telpon tak kau angkat. Kepada pemberianmu aku pergi. Tidak bukan pemberian, tapi pada jejakmu, aku pergi.

Bukan cuma sajak itu, yang ada di meja kerja. Ada juga selembar kulit jeruk pemberianmu. Tentu saja bukan kulit jeruk kering dalam tempayan kaca yang kau berikan. Lembar coklat dengan semburat hijau itu adalah jejak buah utuh yang kau antarkan, ketika menjengukku di rumah sakit.

Tentang kulit jeruk itu kutulis puisi ini:
meski kering,masih lentur kulit musim di genggamku
sisa yang kusimpan
ketika sebuah rasa kau kupaskan untukku.
kulepaskan jemari dan membiarkan musim pergi
karena kita telah berdampingandi keluasan entah,
pun kau tak bisa menyangkalinya.


October 2007

Sering kali, kulit jeruk kering itu sengaja kuletakan disebelah mouse pad. Supaya setiap kali tersentuh, akan tersengat ingatan padamu. Pada empat peristiwa kau memegang tanganku. Ya. saya menghitung hal-hal seperti itu, dan setiap kali tersentuh kulit jeruk itu, saya juga ingat pada kenyataan bahwa tangan kita saling menggenggam karena kau tidak mengelak. Wah.Ilusi tumbuh dari sana. Dari hal-hal yang cuma satu dua detik itu. Yang bahkan tidak kau maksudkan, barangkali. Tapi lihat apa yang terjadi padaku: aku merasa kau telah memberikan dirimu, untukku.

Aih.. tangan,ji...* sesekali kebinalan mencela.

Ya. Mungkin cuma 'ji' buat beberapa orang, tapi denganmu, itu sudah segalanya. Tapi diam-diam, dalam ketidakberdayaan yang kudus itu, aku masih berharap ada kecelakaan-kecelakaan kecil seperti kau lupa menarik tanganmu, dan aku menggenggamnya lebih lama dari yang sepatutnya.

Juga kepada jejak di secarik karcis parkir,aku pergi. Karcis parkir yang kau tinggalkan untukku, saat satu malam kau pergi membawa kerinduanmu buru-buru. Meninggalkanku di restoran dengan menu pizza dan pasta itu. Kali itu, kita bertemu untuk ke empat kalinya. Janji bertemu di situ. Janji temu kita lebih sering di warung kaki lima. Untuk sepiring nasi kuning di pagi hari, atau secangkir teh di awal malam.

Ketika esoknya kau menelpon dan bertanya tentang karcis itu, barulah kusadari, ada sesuatu yang istimewa di karcis itu. Karcis parkir yang kusimpan, karena kau pasti telah meninggalkannya untukku. Semalam pikirku untuk memberitahu, bahwa kau telah membayarkan ongkos parkir untukku. Apapun alasan yang membuat secarik karcis itu ada dalam dompet, kenyataannya ia telah kusimpan sebagai jejak. Jejak kebersamaanku denganmu.

Mengambil karcis parkir dari dalam dompet, kutemukan: "Nice 2 meet your eyes" tulisan tanganmu. Ilusi tentangmu melingkarkan sulurnya kembali. Tulisan itu terbaca: 'aku rindu.'

Tapi begitulah, selalu terjadi, kehadiranmu di sekitar meja kerjaku menjadi sesuatu yang lumrah dalam gulungan waktu. Kulit jeruk itu, sudah lama tersimpan di wadah kaca, tempat kukumpulkan batu dan kerang dari perjalanan penyelaman. Setelah beberapa lama tak lagi kutengok puisi itu. Meski selalu ada di depan mataku. Hal yang tak terelak atas sebuah rutinitas. Sampai sesuatu memaksa kita berhenti dan melihatnya kembali. Untuk sajak pemberianmu, plafon yang bocor. Setiap hujan datang, dari bocor di plafon, menetes air. Pada sebuah garis irisan antar sudut jatuh tetes air dengan letak paper folder, satu titik air jatuh menimpa puisimu. Percikannya menebar di atas kertas, melunturkan tinta.

Tinta yang pudar, jejak kebocoran pada puisi itu memberitahu bahwa selalu ada kemungkinan kehilangan dirimu. Terhadap datangnya kemungkinan itu, mestinya aku tidak perlu tersentak. Betapapun biasnya pengertian "kehilangan" itu, aku tahu rasa hampa akan beradu bahu dengan keangkuhanku untuk mencari alasan tetap bertahan.
javascript:void(0)
Selalu berulang. Seperti musim. Hujan akan terus datang, meski telah kusingkirkan paper holder itu dari titik jatuh air, noda pada kertas akan terus ada. Menjejak. Meski aku tak lagi menelusurinya dengan rasa yang sama, jejakmu mengingatkanku kau ada, My.

*ji dalam bahasa Makassar adalah penekanan yang dibuat untuk merendahkan. Seperti 'cuman segitu aja kok'

3 Des 2008

Monday, September 12, 2011

Dinding Cermin, Pintu Putar dan Lelaki yang Menulisinya

tulisan ini saya persembahkan untuk 'Aku Hendak Pindah Rumah' M.Aan Mansyur


*dengan revisi :)



Memikirkan Aan hendak pindah rumah, saya menyambanginya dengan semacam truk kosong seperti yang bisa kita sewa untuk keperluan semacam ini. Truk kosong keingintahuan, dan harapan pada "barangkali ada sepotong dua potong perabot yang tidak ingin digunakannya lagi". Perabot terabaikan, yang dapat saya bawa pulang. Kebiasaan saya pula.

Berbekal catatan yang Aan berikan, saya mencari rumah baru itu, pada sebuah potret. Potret dari sebuah rumah di kampung Lassanglassang Jeneponto. Sebuah rumah dengan halaman tak berapa luas, dan beberapa jendela di sisinya. Sebuah rumah di bawah rimbun daun kelapa dan pohonan lain. Dikitari sawah. Langit biru, awan putih. . Kepada dan ke dalam potret itu saya mencari Rumah Lama, Rumah Kenangan . Rumah yang saya kira ingin Aan tinggalkan.

Beberapa waktu menyusuri jalan, saya tidak menemukan rumah seperti di potret itu. Saya menemukan papan petunjuk. Taman Depan. Rumah Lama, Rumah Kenangan. Rumah Hati, Rumah Persembunyian. Rumah Baru, Rumah Kegaduhan. Rumah Waktu, Rumah Perjalanan.Taman Belakang. Dipancang seperti tanda nama jalan. Pada sebentuk pintu. Tapi rumah seperti pada potret yang saya miliki, yang saya jadikan peta menemukan rumah baru Aan, sama sekali tidak saya temukan. Plang – plang yang diletakkan begitu rupa sehingga kau merasa dikitari sekaligus mengitari. Perasaan yang sama ketika berada di sepotong kecil wilayah Raja Ampat.

Ke dalam semacam pintu itu, saya perlu melongok. Bukan sekedar melintasinya. Jadi saya pun berhenti, di Pintu hati, Pintu persembunyian. Melongokan kepala lewat pintu itu, yang mestinya terkatup senyap- sebagaimana seharusnya tempat persembunyian- saya mendengar percakapan yang riuh. Pintu itu mengantar saya pada semacam ruang tunggu. Berdinding cermin. Ada sepasang kekasih, ada seorang ibu, ada seorang anak kecil, ada seorang lelaki yang terus mengamati pintu, dan jendela di sekitarnya serta mencatat. Ia membuat catatan pada cermin.

Barangkali tidak banyak orang dalam ruang tunggu itu, pun tidak luas. Tapi cermin pada dinding telah melipatgandakan jumlah orang dan luas ruang itu. Barangkali lelaki itu adalah semuanya, sepasang kekasih, seorang ibu, anak kecil yang ulang berulang mengejar bayang seseorang yang dipanggilnya ayah, ke pintu. Barangkali ia memang tidak mencatatkan peristiwa sepetak sawah hijau, rumah di bawah rimbun pohonan, awan putih, langit biru seperti potretku. Tapi ia telah mencatatkan peristiwa bertanya dan mempertanyakan, milikku. Barangkali semua peristiwa itu, yang saya lihat pada cermin, sebenarnya terjadi di sini, di luar pintu ini. Di dalam diriku. Lelaki dalam ruang itu telah mencatatkannya untukku.

"saat dibaca, kata-kata berkaca pada telaga mata penyair. Ia melihat dirinya berubah menjadi puisi.." (Puisi yang mencintai dirinya sendiri)

Pergi ke plang terdekat, terpikir barangkali saya seharusnya meninggalkan potret rumah di Lassanglassang dalam kepalaku di halaman depan. Potret yang sama sekali asing. Meninggalkan pintu persembunyian itu, di cermin, melintas plang Taman Depan, berhimpit punggung dengan Taman Belakang. Seperti kembar siam, yang tidak identik.

Di Rumah Baru, Rumah Kegaduhan saya berhenti. Pintu menguak yang sepi. Seorang lelaki yang digerakkan gelisah bergerak dari pintu ke jendela. Dari jendela ke jendela. Ada banyak jendela. Berdinding cermin. Di cermin itu, saya membayangkan antrian panjang orang di depan toilet umum, kebelet mau beol. Atau antrian panjang orang lapar di depan pantri sebuah kapal penumpang untuk mendapat jatah makan pagi . Sepotong telur dadar yang terlalu tipis dan terlalu sedikit. Ada jendela yang membentang ke arah kota, ada jendela yang mengirim suara perang. Kemarahan, kobar api. Jendelajendela itu, mengantar rasa lucu yang sengsara.

"Maka begitulah: kita tak bisa bercerai meski kita terus saja berkelahi". Lucu bukan? Pun sengsara.

Kupikir, tentunya ia lelaki yang sama. Lelaki dari rumah yang gaduh itu. Karena lelaki ini pun, mencatat peristiwa mempertanyakan dan bertanya. Mencatatnya pada cermin di dinding. Hanya kali ini antara ia, peristiwa dan pertanyaannya. Juga berusaha menambahkan asumsi disana sini. Begitu sepi ruang itu. Meski pada cermin, siapa pun bisa menangkap kegaduhan gelisah yang ditulis lelaki itu. Ia sampai-sampai berencana pindah rumah.

"Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh!, " katanya.

Pikir saya, "pindah rumah?." Terdengar seperti rencana Aan. Lelaki yang mencatat itu, Aankah dia? sudah sampaikah saya di tujuan? Saya menegok sekeliling, tak ada tembok atau papan yang ada cermin. Cermin yang mengaburkan batas dan kapasitas ruang. Melalui cermin itu saya melihat laut, sungai, pohon, ladang, padang, langit, laut, jalan, langit lagi, bulan, ruang-ruang, atap kota-kota, pohon. Juga bayangku.

Saya lalu membalik kembali catatan tentang petunjuk yang telah diberikan. Saya tahu saya punya pilihan, untuk sampai ke pintu berikut . Menyusur jalan di depan atau menerobos masuk lebih jauh ke balik pintu. Saya hampir yakin, dengan menerobos saya akan sampai di pintu berikut. Pintu mana saja. Bahkan kepada ke dua taman.

Dengan berandai-andai, lelaki yang menulisi dinding itu adalah Aan, saya membuat catatan kasar. Catatan yang saya buat tentang apa yang saya temukan, alami, ketika berada di kesempatan mencoba menemukan rumah baru Aan. Bukan dari kesan terhadap sebuah potret asing. Saya perlu menulisnya sebelum menerobos ruang kegelisahan lelaki yang menulisi cermin itu. Barangkali karena saya takut pada kemungkinan hilang di dalamnya. Di dalam dan di antara cermin.

Pada dugaan bahwa kegelisahan ini sebenarnya adalah jalan buntu, tapi juga sebuah kemungkinan bahwa saya bisa sampai ke mana saja, saya seakan berhadapan dengan gerumbul belukar. Gerumbul belukar di pekarangan rumah masa kecil. Sebuah "hutan" dalam ingatan kanak-kanak saya. Meski untuk ke tiga saudara tuaku, wilayah itu cuma gerumbul semak. Di "hutan" itu, tinggal banyak ular coklat muda tanpa bisa dan buta, biawak, segala macam serangga , pula beberapa jenis burung bersarang disana. Di antara ilalang yang memenuhi lantai "hutan", di antara batang-batang limabelasan pohon lamtoro. Gerombol semak itu adalah undangan kepada petualangan yang terus mengikuti keingintahuan saya, hingga sekarang. Undangan kepada petualangan. Undangan untuk melakukan perjalanan.

Petualangan dan perjalanan. Keduanya berputar pada poros waktu, seperti ketika hendak menyambangi Aan di rumah barunya. Ketika menyusurinya, saya tidak ingin lagi menyelesaikannya. Menyelesaikan perjalanan itu dengan keinginan seorang pemburu. Saya memang, sampai di halaman belakang. Keterangan tentang taman belakang itu, beradu punggung dengan halaman depan. Saya benar, rupanya. Rumah lelaki yang menulisi dinding itu, pintunya menguak ke mana saja, dapat dimasuki dari mana saja. Rumah yang kupikir akan selalu baru, karena ia tumbuh. Saya tinggalkan pintu itu. Pintu tak berbatas.Sebuah pintu putar, yang menguak kemana saja.

Kemana? Seperti kata lelaki ikan di balik pintu persembunyian itu: ada saja pertanyaan ditakdirkan sia-sia. Hanya saya mungkin perlu membuat janji temu dengan Aan, untuk bertanya.

"Lelaki di rumah tumbuh, dengan pintu putar, dan dinding cermin itu, engkaukah An?"

Sunday, September 4, 2011

Pinang

setiap kali tiba di Sentani, dari tangga pesawat ke ruang tunggu, pegunungan Cyclop selalu seperti sedang menggeliat, kabut merangkak, menggapai matahari.  yang tidak pernah pergi adalah ngilu yang menyertai datang dan pergi.

: dirimu
1.
pagi ini aku:

pegunungan yang menunggu
kabut merangkak di lereng cyclop
diam juga jauh
meski kau aku sama tahu
gemuruh hutan dalam selimut kabut yang menyimpan kita

2.
ingatan, bening dan basah
seperti embun memeluk waktu
kenangan, menggeliat menggapaimu

ketulusan, mungkin masih tidur dalam ceruk

3.
patah perih, seperti sirih.
setelah itu: kenikmatan duka, mengunyah kita
warnanya merah

2010-2011

Saturday, September 3, 2011

tentang kita

"biarkan.. dan berdamailah.. " kataku
kepada diriku.
Lalu rindu berhenti mengobrak-obrik dapur,
mencari pemantik.
kompor tak jadi ia nyalakan.
Nelangsa yang telah dirajang: patah dan menganga

makan malam akan dipesan dari restoran.

26 August 2011

selamat, sekarang giliran menunggu..



Saya sejak lewat tengah malam, lalu kemudian setelah bangun siang tadi, menyempatkan mengirim ucapan selamat ke teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Entah merayakan hari ini, atau besok atau lusa itu tidak penting, atau lebih benar lagi, tidak saya pentingkan.

Ketika menulis dengan berbagai pendekatan dan struktur kalimat Selamat Idul Fitri, supaya ucapan itu terasa dikirimkan dengan niat mengucapkan, bukan semata menggugurkan kewajiban dan bentuk "penghargaan" kepada yang merayakannya, saya tiba pada kerinduan untuk mengirimkan ucapan selamat ke seorang teman. Teman yang menandai kisah hubungan yang melapuk.

Hubungan yang lapuk adalah hubungan yang sulur silahturahminya membusuk. Rusak. Baru saja atau sudah mulai disaput debu ketidakpedulian bukan alasan. Kata orang, waktu menyembuhkan.  Time heals.. benarkah? Kayaknya tidak. Selalu dibutuhkan keputusan untuk menanggalkan bagian yang membusuk dari hubungan itu, atau mencoba mengorek keluar ulat dan mnembiarkan alam mengerjakan bagian (pemulihan)nya. Pada kesempatan seperti ini, saya punya pilihan untuk tidak melakukan apa-apa. Tidak mengirimkan ucapan misalnya. Pura-pura lupa. Dalam situasi seperti ini, siapapun akan merasa diselamatkan oleh pesan-pesan broadcasting, atau ucapan yang diproduksi oleh prosedur: select, copy, paste atau forward. Sesaat termasuk saya.

Cukup lama saya mempertimbangkannya. Ketika saya putuskan untuk mengirim ucapan selamat Idul Fitri untuknya, saya lakukan dengan kesungguhan yang sama: "dari LV" dan "untukmu". Ketika mulai menulis pesan itu, saya hanya berkonsentrasi pada kebaikan-kebaikanya yang hilang ketika hubungan kami mulai  melapuk, seiring sulur komunikasi kami membusuk. Saya putuskan membiarkan kerinduan mengalir, dan tidak melawannya.

Saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, dan mengucapkan selamat juga untuk kebersamaan yang dicatatnya selama Ramadhan tentang anak-anaknya. Catatan tentang pengalaman menjadi orangtua dan menemani anak-anaknya menjalani Ramadhan. Bagaimana sebagai keluarga mereka menempuh Ramadhan.  Sebagai orang tua, sejak awal, saya pikir itu hal yang luar biasa. Membuat catatan. Tapi tentu lebih dari sekedar catatan kemudian, jika catatan itu lahir dari seorang ayah, atau seorang ibu, ketika menemani putra-putri mereka menanam benih ibadah di ladang kehidupan. 

Ketika menulis untuk menandai Selamat Idul Fitri, ucapan itu merekah, melahirkan visualisasi ini dalam benak saya. Saya bayangkan kaki-kaki kecil anak teman saya menyusur bedeng-bedeng ibadah di sepanjang Ramadhan. Mengisi lubang di bendeng itu dengan kewajiban. Sesekali bertanya.

Tentu saja bayangan itu tidak mucul begitu saja. Ia datang dari pengalaman masa kecil. Menanami halaman belakang rumah kami di Ifar Gunung.  Di sana saya belajar menanam nenas, singkong, keladi. Pengetahuan yang tidak saya gunakan sekarang, dan tak bisa ditularkan ke anak-anak saya. Tapi ia tetap saja, pengetahuan. Mengendap dan "lengkap" mengingat pengalaman yang menyertainya.

Ramadhan adalah ladang, barangkali. Anda diberi kesempatan menggarapnya selama kurang lebih 30 hari. Setiap orang saya bayangkan mengerjakan petak yang sama, setiap kali berkesempatan menjumpainya lagi. tapi seperti pengalaman saya menanam di halaman belakang rumah kami, kita sendiri yang memilih menanami ladang itu dengan benih apa. Seperti stek singkong, anakan nenas, atau bibit keladi.

Teman saya, dari catatan yang ala kadar sebagai orang tua, menyiratkan ia menemani anaknya menanami ladang itu dengan benih spiritualitas yang telah diwajibkan sepanjang Ramadhan. Dengan sukacita dan semangat beribadah.

Dari bayangan berladang itu dan melakukannya selama 30 hari, saya melihat kebiasaan dan pengetahuan yang terbangun. Terbiasa merujuk perilaku kepada keabsahan saum, sujud, perenungan, dan kebersamaan.

Laku yang mestinya tinggal. Pengetahuan yang mengendap. Seperti saya dan pengetahuan berladang.

Hal lain, dari  'meladangi' Ramadhan, adalah kerendahan hati untuk memasuki masa yang lain bernama menunggu. Saya pikir selepas Ramadhan, adalah saat menunggu. menunggu dengan berbagai kecamuk persoalan, bahwa benih itu akan dituai.

Tapi bukankah kita tidak terbiasa menunggu ? Sebagian besar dari kita setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan? Kalau harus pun, itu dilakukan sambil. Sambil mengerjakan hal lain, sambil mengomel, sambil kesal. Sambil yang ditepis di hari-hari Ramadhan.

 Apakah begitu nasib 'ladang' Ramadhan setelah usai menelusur hingga ke ujung?

Ketika tak ada lagi "kewajiban", ketika tak ada lagi bonus kesalehan, ketika perjumpaan kita denganNya berbentur dengan kewajiban kita sebagai ibu, sebagai ayah, sebagai mahasiswa, sebagai pegawai, dan di tengahnya tidak ada ruang keistimewaan apapun, kecuali kebiasaan yang terbangun selama 30 hari itu, ketika sujud kita adalah kerinduan semata. Akankah kita nanar oleh kesibukan sehari-hari dan melupakan bedeng, petak kemurahanNya yang kita, atau bersama anggota keluarga, telah tanami?

Apakah kehidupan kita mengaburkan kepastian bahwa ladang Ramadhan itu akan kita panen suatu saat nanti?

Kalau saudara mempertanyakan "kapan?", saya juga tak tahu. Entahlah. Memanen tomat tak sama dengan memanen durian.

Kemenangan orang beriman adalah ketajaman pandangnya tentang benih dan panen. Sehingga menunggu adalah pertaruhan yang sesungguhnya seorang pemenang sejati.

teman, selamat merayakan Idul Fitri.

kalau saya telah dengan tidak tepat beranalogi.. maafkan. Maafkan lahir dan batin.


salam,
LV

30 Agustus 2011

Catat: Keiku, Bukan Haiku

:k
(1)

aku tahu sekarang,
kenapa rindu padamu selalu mengharu biru
aku terlalu sederhana,
dan dengan sederhana telah mencintaimu


(2)
aku bersedia menunggu besok juga beribu esok
ketika kau putuskan menyesapku tanpa sangsi, seperti kopi
dan meletakkannya kembali

(3)
"akan tibakah pasang, membelai?"
angin tipis, bia* di batu menggeliat
"kau merindukanku?"

asa tipis, angan di batu menggelepar
menunggu peluk ombak berikut

*bia=kerang


(4)
sambil menjatuhkan huruf ke dalam
gelas yang terus kita pesan,
jam berderit gelisah. satu lagi perpisahan.

  "aku tak tahu jalan pulang, selain kepadamu"

 (5)
cuma aku yang mencintaimu seperti aku, k
: menulisimu dengan seluruh diriku.

kan?


(6)
ketika menyesapmu,
sambil memikirkan secangkir kopi yang terlambat tiba di pagi hari,
kubiarkan perih memahat namamu ke dalam rinduku

(7)
tentu
kau telah mencintaiku
entah dengan cara apa
itulah musabab rindu: mencari tahu


(8)
pasangan remaja di sebelah meja
mata mereka meruah dengan
ha ha ha ha ha
sebagaimana lelucon kita
semakin tawa ketika makin luka

es krimku meleleh tertimpa air mata


(9)

peristiwa kita, k:
seliweran dalam kepalaku
berhimpit, tak ada etika, mementingkan diri
seperti jam di ap pettarani pada waktu makan siang
dan klaksonnya memekakan telinga

berpegang tangan dengan kenangan
menyeberang jalan
aku: menyebut namamu seperti merapal doa


(10)
dirimu adalah kerinduan yang tidur
tersentak sesekali, lalu lelap makin dalam


(11)
kau semakin tak mungkin ditemui kembali. Indah ya?
:"apa?"

Yang akan tumbuh dari rindu
rinduku, tentu saja

 (12)
ketika malam itu aku melipat kenangan
dan bersiap untuk sebuah perjalanan:
kecupmu memata air
di nadiku
setelah seluruh anak tangga usai,
kemudian semata sepi
dengan airmata berlinang
aku merdeka memekikan:

aku cinta padamu!



September 2011

Tuesday, August 9, 2011

Tu sais je vais t'aimer

Saya mulai menulis lagi. Saya tahu alasannya.
Saya percaya masa lalu tidak punya cukup kekuatan untuk meremukkan kita, juga kesalahan yang "pernah".


Tu sais je vais t'aimer,
même sans ta presence je vais t’aimer,
même sans espérance je vais t’aimer,
tous les jours de ma vie

Dans mes poèmes j’ écrirai,
c’est toi que j’aime
C’est toi que j’aimerai,
tous les jours de ma vie

Tu sais je vais pleurer
quand tu t’éloignera je vais pleurer
Mais tu me reviendras et j’ oublierais
La douleur de m’ennui

Tu sais je souffrirais
A chaque instant d’attendre je souffrirais
Mais quand tu seras lá je renetrai
Tous les jours de ma vie


ini terjemahan  versi free translation dari bahasa Inggris

Kau tahu aku mencintaimu,
bahkan dalam ketidakhadiranmu kucintai kau,
tanpa harap, aku mencintaimu
sepanjang hidupku


pada puisi yang kutulis,
tergurat dirimu
bahwa dirimu yang kucintai
sepanjang hidupku

Kau tahu airmataku merebak
aku menangis ketika kau pergi
tapi tiap kali kau kembali
terhapus lagi perih kesendirian

Kau tahu aku merana
Di tiap tunggu aku merana
tapi ketika kau hadir aku bahagia
setiap kali sepanjang hidupku