Notes On

Friday, July 20, 2012

Ada yang Berpuasa di Rumah Kami

Sebuah tulisan lama, dari tempat pelatihan menulis saya tentang merayakan Ramadhan..

Sabtu, 15-09-2007 
Ada yang Berpuasa di Rumah Kami…
:: Luna Vidya ::
Citizen reporter Luna Vidya membagi pengalaman seputar toleransi warga non-muslim selama bulan Ramadan. Sebagai pemeluk agama Kristen Pantekosta, ia mengakui rutinitas kesehariannya ikut berubah selama bulan puasa. Tapi ia dan anak-anaknya ikut senang menemani dua pembantu di rumah mereka menjalani puasa. (p!)
Sehari sebelum berpuasa seorang rekan kerja di kantor mengambil cuti setengah hari. "Mau belanja persiapan sahur pertama nanti," katanya. Sementara teman-teman kantor lainnya yang beragama Islam, tetap bertahan sampai jam kerja usai. Alasannya, karena mereka rata-rata adalah para perantau yang tidak memiliki keluarga di Makassar. Bahkan ada di antara mereka yang juga sudah sering melewati Ramadan dan Lebaran tidak bersama keluarga, karena tidak tinggal di kota yang sama.

Erni dan Emmi, dua pembantu rumah tangga yang selama ini membantu saya, memilih menjalani Ramadan di rumah kami. Keduanya tidak termasuk orang yang berusaha keras menjalankan tradisi “berpuasa di hari pertama di kampung halaman”. Ramadan kali ini bukan yang pertama bagi Erni dimasuki tanpa berkumpul dengan keluarga. Meski saya menawarkan kepada mereka cuti untuk pulang ke kampung, berkumpul bersama anak dan orangtuanya, tapi kata Erni, "Lebaran saja saya pulang, Bu."

Kehadiran Erni dan Emmi yang muslim di tengah-tengah kami membuat saya sekeluarga ikut menyaksikan rutinitas puasa yang mereka jalankan, sekaligus menjadi bagiannya.

Jam Tayang “Berubah”
Perubahan pertama selama puasa adalah terkait jam kerja. Penjualan sayur keliling langganan Erni, Pak Udin tidak menjual di pagi hari selama puasa. Menurut Erni, jam berjualan di bulan puasa berganti ke sore hari menjelang berbuka. Perubahan jam jualan ini, juga diikuti oleh penjual tahu tempe dan penjual ikan. Penjual kue langganan kami, Ibu Hamdan di lorong belakang rumah juga termasuk yang mengubah jam buka toko. Tak ada lagi kue di pagi hari. Kue-kue kampungnya, selama Ramadan akan dijual sore, menjelang buka puasa.

Kelihatannya, perubahan "jam tayang" ini berlaku sampai ke lingkup pemasaran yang lebih luas. Bukan cuma pedagang kecil seperti Pak Udin si tukang sayur atau Ibu Hamdan penjual kue di kawasan Perumnas Tamalate, Makassar. Dalam perjalanan ke kantor, saya perhatikan pasar di dekat rumah pun lengang di pagi hari. Jejeran penjual kue yang biasanya ramai dikunjungi pembeli sejak jam 6.30 , sampai jam 9 tadi belum membuka dagangnya. Saya ingat, biasanya pada bulan Ramadan, pasar pun baru akan ramai oleh penjual menjelang tengah hari, dan semakin disesaki pembeli menjelang sore.

Di hari pertama puasa, Erni bercerita tentang pasar yang penuh sesak dan harga sayur yang melonjak. Harga ayam potong yang masih dijual Rp17.000 per ekor minggu lalu, setelah puasa menjadi Rp20.000-Rp21.000. Penganan khas puasa, seperti cendol dengan warna hijau, merah, bahkan oranye ramai dijajakan. Inilah warna khas yang muncul di bulan puasa, yang mengingatkan saya pada telur-telur berhias pada hari-hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

Meski tidak berpuasa, tapi anak-anak saya bersemangat menunggu -nunggu hidangan buka puasa apa yang akan dibuat Erni hari ini. Anak bungsu, tidak berhenti bertanya: "Kakak, mau bikin apa?" , "bikin kue?"

Inilah pertama kali kami ikut merasakan dari dekat ibadah puasa itu karena ada Erni dan Emmi yang menjalankannya di dalam rumah kami. Selama ini, yang membuat terasa datangnya Ramadan adalah hantaran kue atau pisang ijo dari tetangga kami. Atau ramainya penjual kue dan pisang ijo "kaget" di sepanjang jalan utama di depan rumah kami di kawasan Toddopuli Raya dan di lorong belakang rumah kami. Selama Ramadan, setiap sore, kami pun ikut "berbuka" dengan berbagai jajan pasar itu.

Di hari pertama puasa, saya tidak mendapat jatah teh yang biasanya dibuatkan Erni datau Emmi. Selama bulan puasa, saya juga harus pulang lebih cepat, agar Erni dan Emmi bisa ke mesjid untuk shalat tarwih. Selamat datang, Ramadhan. (p!)

*Citizen reporter Luna Vidya dapat dhubungi melalui email lunavidya@gmail.com
Beri Komentar| Jumlah Komentar (17) |

Komentar :01-10-2007
Dari : asfriyanto | asfriyanto@yahoo.com
ccckkkkk!!!!!! tuh kan detil tulsiannnya kak luna luar biasa. yang selalu belajar dan mengoleksi setiap tulisanmu di panyingkul.thanks kaki luna.
24-09-2007
Dari : teddy | teddy.kristedi@anu.edu.au
makasih tulisannya luna. jadi kangen bulan puasa di makassar.
22-09-2007
Dari : sm | 
Manis...
22-09-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
fantastik, idhariu!
18-09-2007
Dari : vy | valent_vy@yahoo.co.id
hey....gak semua yg indah itu hanya ada di dongeng ato sinetron kan...
18-09-2007
Dari : Idha Riu | idhariu@yahoo.com
Hal yang terjadi di rumah orang tua saya kebalikan dari Ibu Luna. Di rumah orang tua saya tinggal seorang perantauan dari Mamuju yang beragama Nasrani. Namanya Aurelius tapi kami lebih sering menanggilnya Relly. Ponakan saya yang berusia 2 tahun memanggilnya Yeyi. Relly telah tinggal bersama kami selama lebih dari 5 tahun, sejak dia mulai menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA, UNM. Relly adalah seorang anak yang cerdas (dia masuk UNM berdasarkan penelusuran minat dan bakat)dan sangat rajin. Di rumah orang tua saya, Relly adalah asisten departemen kebersihan yang dipimpin oleh Papa. Hasil kerjaanya, khususnya pada hari Sabtu dan Minggu selalu mendapatkan 'poejian'. Saat Ramadhan seperti ini, Mama saya tidak pernah lupa menyiapakan sarapan dan juga makan siang untuk Relly. Sore menjelang buka puasa, Relly selalu dengan senang hati mengantarkan teh untuk berbuka puasa ke mesjid dekat rumah. Di pertengahan Ramadhan, Rally akan menunjukkan kinerja yang 'sangat dipoejikan' dalam membersihkan seluruh sudut rumah, termasuk di bawah kolong. Relly sangat mengerti bahwa Mama saya akan sangat bahagia jika rumahnya bersih dalam menyambut sanak kerabat di saat Idul Fitri. Relly dengan senang hati akan berada diantara kami disaat perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha. Kami sekeluarga juga selalu 'merayakan' Natal setiap tanggal 25 December. Mama tidak pernah lupa menyediakan cake dan cookies serta minuman ringan untuk kawan-kawan Relly yang datang berkunjung pada saat itu. Kedua orang tua saya pun tidak pernah keberatan rumahnya menjadi tempat berdoa bagi Relly beserta keluarganya, khususnya ketika mereka merayakan keberhasilan Relly merampungkan kuliahnya. Beberapa bulan terakhir, terutama ketika Relly dalam tahap penyelesaian skripsi. Dia lebih banyak berada di Lab Komputer di kampusnya. Pun juga Ramadhan ini. Dia harus mengejar tenggat waktu untuk perbaikan skripsinya. Namun Mama tidak pernah lupa menyediakan makanan di atas meja, in case Relly pulang untuk makan siang. Saya yakin, sebelum Ramadhan berakhir Relly akan menunjukkan kebolehannya yang 'sangat dipeojikan' dalam membersihkan seluruh sudut rumah untuk menyambut Idul Fitri. Note: Relly sekarang adalah guru honor di salah satu SMU swasta ternama. Kami sangat bangga padanya.
17-09-2007
Dari : ilham anwar | ilox_anwar@yahoo.co.uk
wahai, tirai cahaya tumpah dari langit mengucuri sebuah rumah perumnas di panakukang...
17-09-2007
Dari : ipul | ipulji@yahoo.com
indah...saya hanya bisa bilang itu. salam untuk k'Luna dan keluarga...
17-09-2007
Dari : Ogi Sidenreng | 
Wujud toleransi yang tulus dan ikhlas oleh Keluarga Luna.
17-09-2007
Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com
Cerita kak Luna seharusnya bisa menjadi headline di media mainstream, tidak melulu hanya perspektif subyektif muslim saja ttg ramadhan. Saya yakin banyak cerita yang sama konteknya, terutama semangatnya membagikan ketulusan utk mengakui posisi masing2 dalam keragaman. Cerita romantisme di keluarga Bung Halim HD juga mungkin patut ditayangkan...gmana redaksi?
16-09-2007
Dari : Mustamin al-Mandary | 
No comment. Saya hanya ingin meresapi dengan diam. Luna, tulisanmu semakin menguatkan jalan kami. Thanks.
15-09-2007
Dari : i nuntung | daeng.nuntung@gmail.com
tawwa... wujud toleransi, toleransi yang sipakatau, sipakalabbirik, sikamaseang...
15-09-2007
Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Sebagai orang yg di KTP-nya tercantum beragama Islam , iri dan terharu saya dgn kakak-kakak pembantu ini yang masih bisa merasakan nikmatnya berpuasa walau ditengah keluarga non-muslim.
15-09-2007
Dari : nyonri | hasymi@gmail.com
Luna, makasih atas tulisannya. Menyentuh. Dan seperti bang Halim katakan, mengingatkan betapa ramadhan nan syahdu -- semua bentuk temperamen tinggi tiba-tiba bernada rendah -- di kampung, muncul ke permukaan saat ini. Ada kangen akan ketulusan dan keriaan dengan nada amat rendah, terutama pada malam-malam tarawih di kampung dengan tadarrusan seperti tak habis-habis.
15-09-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
tulisan luna yang bagus ini mengingatkan aku kepada kampung kelahiranku, serang-banten. di sebuah keluarga dengan tradisi 'hibrid' yang datang dari pedesaan pedalaman banten, bulan puasa menjadi sesuatu yang istimewa, walaupun sebagian besar keluarga kami beragama buddha, khong Hu Cu ada yang islam, ada yang kristen dan ada juga yang katholik dan 'kebatinan'. dan disitu pula paman kami, nyai salamah, bi saki, ratem, bi kutil dan sejumlah keluarga dari pedalaman senantiasa berkumpul, termasuk mang an'a, mang ratim besera keluarganya. dan dalam bulan ini, selain imlek, adalah waktu yang paling intensif untuk bertemu dengan keluarga, yang masing-masing sibuk dengan hantaran bahan mentah makanan menjelang lebaran, dan sekaligus juga pembuktian kemampuan keterampilan dalam mengolah penganan. jika saya teringat kampung kelahiran dan kelaurga, dan kini banyak di kota-kota lainnya, ada sesuatu yang 'hilang', seperti juga yang dialami oleh ismad sahupala dalam suatu obrolan kemaren malam tentang betapa nikmatnya bulan puasa dan sekaligus juga suatu bukti dari kultur kuliner yang dimiliki oleh tradisi kiita. kini, di kota rasanya sulit mencari sesuatu yang pernah ada. tapi yang lebih hilang adalah saling hantar, dan sebuah surau di sebrang sungai kampung kami yang selalu menyediakan kepada siapa saja, para musafir, untuk menyecap minuman dan masakan yang disediakan oleh penduduk kampung. sementara itu tarawih menajdi bagian dari kehidupan kampung yang meriah oleh lalu lalang orang dan diiringi oleh salam dan peluk cium, sedangkan pada laur malam, menjelang sahur, serombongan anak-anak dengan ketimpring (rebana kecil) atau terbang melantunkan bebunyian, musik yang terasa syahdu, dans esekali ditimpali dari tetangga kampung lainnya dengan instrumen yang sama, dan ada juga yang menggunakan kentongan dalam irama kothekan, saling bersahutan.
15-09-2007
Dari : Sultan Habnoer | sultan@yps-srk.sch.id
Apa yang dilakukan Bu Luna memberikan pelajaran bahwa sebetulnya keberagaman itu indah.
15-09-2007
Dari : amud | mahmuddin@yps-srk.sch.id
luar biasa, keluarga ini menjadi contoh bagi kami terutama perlu buat sebagian Malaysian yang kerap memperlakukan PRT-nya secara tidak manusiawi. Berkah Ramadhan benar2 terbagi buat seluruh manusia dan makhluk. selamat buat Luna Vidya & keluarga.



No comments:

Post a Comment