"biarkan.. dan berdamailah.. " kataku
kepada diriku.
Lalu rindu berhenti mengobrak-obrik dapur,
mencari pemantik.
kompor tak jadi ia nyalakan.
Nelangsa yang telah dirajang: patah dan menganga
makan malam akan dipesan dari restoran.
26 August 2011
Saturday, September 3, 2011
selamat, sekarang giliran menunggu..
Saya sejak lewat tengah malam, lalu kemudian setelah bangun siang tadi, menyempatkan mengirim ucapan selamat ke teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Entah merayakan hari ini, atau besok atau lusa itu tidak penting, atau lebih benar lagi, tidak saya pentingkan.
Ketika menulis dengan berbagai pendekatan dan struktur kalimat Selamat Idul Fitri, supaya ucapan itu terasa dikirimkan dengan niat mengucapkan, bukan semata menggugurkan kewajiban dan bentuk "penghargaan" kepada yang merayakannya, saya tiba pada kerinduan untuk mengirimkan ucapan selamat ke seorang teman. Teman yang menandai kisah hubungan yang melapuk.
Hubungan yang lapuk adalah hubungan yang sulur silahturahminya membusuk. Rusak. Baru saja atau sudah mulai disaput debu ketidakpedulian bukan alasan. Kata orang, waktu menyembuhkan. Time heals.. benarkah? Kayaknya tidak. Selalu dibutuhkan keputusan untuk menanggalkan bagian yang membusuk dari hubungan itu, atau mencoba mengorek keluar ulat dan mnembiarkan alam mengerjakan bagian (pemulihan)nya. Pada kesempatan seperti ini, saya punya pilihan untuk tidak melakukan apa-apa. Tidak mengirimkan ucapan misalnya. Pura-pura lupa. Dalam situasi seperti ini, siapapun akan merasa diselamatkan oleh pesan-pesan broadcasting, atau ucapan yang diproduksi oleh prosedur: select, copy, paste atau forward. Sesaat termasuk saya.
Cukup lama saya mempertimbangkannya. Ketika saya putuskan untuk mengirim ucapan selamat Idul Fitri untuknya, saya lakukan dengan kesungguhan yang sama: "dari LV" dan "untukmu". Ketika mulai menulis pesan itu, saya hanya berkonsentrasi pada kebaikan-kebaikanya yang hilang ketika hubungan kami mulai melapuk, seiring sulur komunikasi kami membusuk. Saya putuskan membiarkan kerinduan mengalir, dan tidak melawannya.
Saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, dan mengucapkan selamat juga untuk kebersamaan yang dicatatnya selama Ramadhan tentang anak-anaknya. Catatan tentang pengalaman menjadi orangtua dan menemani anak-anaknya menjalani Ramadhan. Bagaimana sebagai keluarga mereka menempuh Ramadhan. Sebagai orang tua, sejak awal, saya pikir itu hal yang luar biasa. Membuat catatan. Tapi tentu lebih dari sekedar catatan kemudian, jika catatan itu lahir dari seorang ayah, atau seorang ibu, ketika menemani putra-putri mereka menanam benih ibadah di ladang kehidupan.
Ketika menulis untuk menandai Selamat Idul Fitri, ucapan itu merekah, melahirkan visualisasi ini dalam benak saya. Saya bayangkan kaki-kaki kecil anak teman saya menyusur bedeng-bedeng ibadah di sepanjang Ramadhan. Mengisi lubang di bendeng itu dengan kewajiban. Sesekali bertanya.
Tentu saja bayangan itu tidak mucul begitu saja. Ia datang dari pengalaman masa kecil. Menanami halaman belakang rumah kami di Ifar Gunung. Di sana saya belajar menanam nenas, singkong, keladi. Pengetahuan yang tidak saya gunakan sekarang, dan tak bisa ditularkan ke anak-anak saya. Tapi ia tetap saja, pengetahuan. Mengendap dan "lengkap" mengingat pengalaman yang menyertainya.
Ramadhan adalah ladang, barangkali. Anda diberi kesempatan menggarapnya selama kurang lebih 30 hari. Setiap orang saya bayangkan mengerjakan petak yang sama, setiap kali berkesempatan menjumpainya lagi. tapi seperti pengalaman saya menanam di halaman belakang rumah kami, kita sendiri yang memilih menanami ladang itu dengan benih apa. Seperti stek singkong, anakan nenas, atau bibit keladi.
Teman saya, dari catatan yang ala kadar sebagai orang tua, menyiratkan ia menemani anaknya menanami ladang itu dengan benih spiritualitas yang telah diwajibkan sepanjang Ramadhan. Dengan sukacita dan semangat beribadah.
Dari bayangan berladang itu dan melakukannya selama 30 hari, saya melihat kebiasaan dan pengetahuan yang terbangun. Terbiasa merujuk perilaku kepada keabsahan saum, sujud, perenungan, dan kebersamaan.
Laku yang mestinya tinggal. Pengetahuan yang mengendap. Seperti saya dan pengetahuan berladang.
Hal lain, dari 'meladangi' Ramadhan, adalah kerendahan hati untuk memasuki masa yang lain bernama menunggu. Saya pikir selepas Ramadhan, adalah saat menunggu. menunggu dengan berbagai kecamuk persoalan, bahwa benih itu akan dituai.
Tapi bukankah kita tidak terbiasa menunggu ? Sebagian besar dari kita setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan? Kalau harus pun, itu dilakukan sambil. Sambil mengerjakan hal lain, sambil mengomel, sambil kesal. Sambil yang ditepis di hari-hari Ramadhan.
Apakah begitu nasib 'ladang' Ramadhan setelah usai menelusur hingga ke ujung?
Ketika tak ada lagi "kewajiban", ketika tak ada lagi bonus kesalehan, ketika perjumpaan kita denganNya berbentur dengan kewajiban kita sebagai ibu, sebagai ayah, sebagai mahasiswa, sebagai pegawai, dan di tengahnya tidak ada ruang keistimewaan apapun, kecuali kebiasaan yang terbangun selama 30 hari itu, ketika sujud kita adalah kerinduan semata. Akankah kita nanar oleh kesibukan sehari-hari dan melupakan bedeng, petak kemurahanNya yang kita, atau bersama anggota keluarga, telah tanami?
Apakah kehidupan kita mengaburkan kepastian bahwa ladang Ramadhan itu akan kita panen suatu saat nanti?
Kalau saudara mempertanyakan "kapan?", saya juga tak tahu. Entahlah. Memanen tomat tak sama dengan memanen durian.
Kemenangan orang beriman adalah ketajaman pandangnya tentang benih dan panen. Sehingga menunggu adalah pertaruhan yang sesungguhnya seorang pemenang sejati.
teman, selamat merayakan Idul Fitri.
kalau saya telah dengan tidak tepat beranalogi.. maafkan. Maafkan lahir dan batin.
salam,
LV
30 Agustus 2011
Catat: Keiku, Bukan Haiku
:k
(1)
aku tahu sekarang,
kenapa rindu padamu selalu mengharu biru
aku terlalu sederhana,
dan dengan sederhana telah mencintaimu
(2)
aku bersedia menunggu besok juga beribu esok
ketika kau putuskan menyesapku tanpa sangsi, seperti kopi
dan meletakkannya kembali
(3)
"akan tibakah pasang, membelai?"
angin tipis, bia* di batu menggeliat
"kau merindukanku?"
asa tipis, angan di batu menggelepar
menunggu peluk ombak berikut
*bia=kerang
(4)
sambil menjatuhkan huruf ke dalam
gelas yang terus kita pesan,
jam berderit gelisah. satu lagi perpisahan.
"aku tak tahu jalan pulang, selain kepadamu"
(5)
cuma aku yang mencintaimu seperti aku, k
: menulisimu dengan seluruh diriku.
kan?
(6)
ketika menyesapmu,
sambil memikirkan secangkir kopi yang terlambat tiba di pagi hari,
kubiarkan perih memahat namamu ke dalam rinduku
(7)
tentu
kau telah mencintaiku
entah dengan cara apa
itulah musabab rindu: mencari tahu
(8)
pasangan remaja di sebelah meja
mata mereka meruah dengan
ha ha ha ha ha
sebagaimana lelucon kita
semakin tawa ketika makin luka
es krimku meleleh tertimpa air mata
(9)
peristiwa kita, k:
seliweran dalam kepalaku
berhimpit, tak ada etika, mementingkan diri
seperti jam di ap pettarani pada waktu makan siang
dan klaksonnya memekakan telinga
berpegang tangan dengan kenangan
menyeberang jalan
aku: menyebut namamu seperti merapal doa
(10)
dirimu adalah kerinduan yang tidur
tersentak sesekali, lalu lelap makin dalam
(11)
kau semakin tak mungkin ditemui kembali. Indah ya?
:"apa?"
Yang akan tumbuh dari rindu
rinduku, tentu saja
(12)
ketika malam itu aku melipat kenangan
dan bersiap untuk sebuah perjalanan:
kecupmu memata air
di nadiku
setelah seluruh anak tangga usai,
kemudian semata sepi
dengan airmata berlinang
aku merdeka memekikan:
aku cinta padamu!
September 2011
(1)
aku tahu sekarang,
kenapa rindu padamu selalu mengharu biru
aku terlalu sederhana,
dan dengan sederhana telah mencintaimu
(2)
aku bersedia menunggu besok juga beribu esok
ketika kau putuskan menyesapku tanpa sangsi, seperti kopi
dan meletakkannya kembali
(3)
"akan tibakah pasang, membelai?"
angin tipis, bia* di batu menggeliat
"kau merindukanku?"
asa tipis, angan di batu menggelepar
menunggu peluk ombak berikut
*bia=kerang
(4)
sambil menjatuhkan huruf ke dalam
gelas yang terus kita pesan,
jam berderit gelisah. satu lagi perpisahan.
"aku tak tahu jalan pulang, selain kepadamu"
(5)
cuma aku yang mencintaimu seperti aku, k
: menulisimu dengan seluruh diriku.
kan?
(6)
ketika menyesapmu,
sambil memikirkan secangkir kopi yang terlambat tiba di pagi hari,
kubiarkan perih memahat namamu ke dalam rinduku
(7)
tentu
kau telah mencintaiku
entah dengan cara apa
itulah musabab rindu: mencari tahu
(8)
pasangan remaja di sebelah meja
mata mereka meruah dengan
ha ha ha ha ha
sebagaimana lelucon kita
semakin tawa ketika makin luka
es krimku meleleh tertimpa air mata
(9)
peristiwa kita, k:
seliweran dalam kepalaku
berhimpit, tak ada etika, mementingkan diri
seperti jam di ap pettarani pada waktu makan siang
dan klaksonnya memekakan telinga
berpegang tangan dengan kenangan
menyeberang jalan
aku: menyebut namamu seperti merapal doa
(10)
dirimu adalah kerinduan yang tidur
tersentak sesekali, lalu lelap makin dalam
(11)
kau semakin tak mungkin ditemui kembali. Indah ya?
:"apa?"
Yang akan tumbuh dari rindu
rinduku, tentu saja
(12)
ketika malam itu aku melipat kenangan
dan bersiap untuk sebuah perjalanan:
kecupmu memata air
di nadiku
setelah seluruh anak tangga usai,
kemudian semata sepi
dengan airmata berlinang
aku merdeka memekikan:
aku cinta padamu!
September 2011
Tuesday, August 9, 2011
Tu sais je vais t'aimer
Saya mulai menulis lagi. Saya tahu alasannya.
Saya percaya masa lalu tidak punya cukup kekuatan untuk meremukkan kita, juga kesalahan yang "pernah".
Tu sais je vais t'aimer,
même sans ta presence je vais t’aimer,
même sans espérance je vais t’aimer,
tous les jours de ma vie
Dans mes poèmes j’ écrirai,
c’est toi que j’aime
C’est toi que j’aimerai,
tous les jours de ma vie
Tu sais je vais pleurer
quand tu t’éloignera je vais pleurer
Mais tu me reviendras et j’ oublierais
La douleur de m’ennui
Tu sais je souffrirais
A chaque instant d’attendre je souffrirais
Mais quand tu seras lá je renetrai
Tous les jours de ma vie
même sans ta presence je vais t’aimer,
même sans espérance je vais t’aimer,
tous les jours de ma vie
Dans mes poèmes j’ écrirai,
c’est toi que j’aime
C’est toi que j’aimerai,
tous les jours de ma vie
Tu sais je vais pleurer
quand tu t’éloignera je vais pleurer
Mais tu me reviendras et j’ oublierais
La douleur de m’ennui
Tu sais je souffrirais
A chaque instant d’attendre je souffrirais
Mais quand tu seras lá je renetrai
Tous les jours de ma vie
ini terjemahan versi free translation dari bahasa Inggris
Kau tahu aku mencintaimu,
bahkan dalam ketidakhadiranmu kucintai kau,
tanpa harap, aku mencintaimu
sepanjang hidupku
pada puisi yang kutulis,
tergurat dirimu
bahkan dalam ketidakhadiranmu kucintai kau,
tanpa harap, aku mencintaimu
sepanjang hidupku
pada puisi yang kutulis,
tergurat dirimu
bahwa dirimu yang kucintai
sepanjang hidupku
Kau tahu airmataku merebak
aku menangis ketika kau pergi
tapi tiap kali kau kembali
terhapus lagi perih kesendirian
Kau tahu aku merana
Di tiap tunggu aku merana
tapi ketika kau hadir aku bahagia
setiap kali sepanjang hidupku
sepanjang hidupku
Kau tahu airmataku merebak
aku menangis ketika kau pergi
tapi tiap kali kau kembali
terhapus lagi perih kesendirian
Kau tahu aku merana
Di tiap tunggu aku merana
tapi ketika kau hadir aku bahagia
setiap kali sepanjang hidupku
Friday, November 19, 2010
Kisah Prau, Angin dan Bulan
ini catatan tentang perjalanan ke Skouw Mabo. Tientang ranjang penuh pasir, diterbangkan angin menembus pilah-pilah dinding rumah yang terbuat dari pelepah sagu.atau bahan lain, entahlah. tidak penting lagi kini.
tapi ranjang berpasir itu, dan angin yang menerbangkannya sesekali berkelebat di sudut mataku.
@ami, ilo: my beloved ones.
padaku pernah singgah: sebuah bodi*
yang dicungkil dariku adalah harap.yang dipasak dalamku: kau
kesedihan menoreh karang,
selalu hampir membuat langkah karam.
begitu hampir, hingga telah lama tak lagi kutahu asal pasir di atas ranjang.
adakah angin sakal, bawa butir pasir dari pantai asing
atau jejak diri yang pergi menelusur pantai
menganyam angin
niscaya: layar koyak jadi sayap, aku terbang.
padaku: sebuah rumah
tanpa tirai, kini dengan jendela terpentang
malam-malam pada waktu angin bisa dianyam jadi buaian,
penuh pasir,penuh desir, kupasrahkan diri ditelan bulat bulan.
lalu terbang.
menemuimu di bawah cemara.
*bodi, jenis perahu yang terbuat dari kayu utuh, yang dilubangi. umum di daerah sultra.
makassar 2009
Thursday, October 21, 2010
August 27,10
kita adalah diam yang tak terseberangi. indahnya!
hanya kami hingga siang ini: diriku dan diriku. menunggumu
kau temukankah sepenggal diriku, dalam matamu?
Inilah yang mempertegas jarak kita: kemampuan memandang. Aku membutuhkanmu untuk membacakan naskah yang ditulis waktu.
time never heals, but somehow helps you overcome the bleeding problems..
diam kita makin surut ke laut, teluk penuh dengan sepi. sebentar lagi tsunami.
hanya kami hingga siang ini: diriku dan diriku. menunggumu
kau temukankah sepenggal diriku, dalam matamu?
Inilah yang mempertegas jarak kita: kemampuan memandang. Aku membutuhkanmu untuk membacakan naskah yang ditulis waktu.
time never heals, but somehow helps you overcome the bleeding problems..
diam kita makin surut ke laut, teluk penuh dengan sepi. sebentar lagi tsunami.
baru saja: kau melintasi rinduku, jejaknya dalam. seperti perempuan: bolong. itu aku. lalu sepi mencabut gigi-giginya: ompong. itu waktu.
Monday, October 18, 2010
Sore Merah Seperti Teh
musik menjemput larik-larik ini, dari jalan panjang kenangan tentang lhokbon di waisai, dan thalasa yang menyimpan manado tua di berandanya.
kukirim kepadamu, kekasih yang membawa punggungnya terus menjauh dariku.
untuk dinyanyikan:
hanya ada angin jemu
dan sore yang merah
seperti teh
ketika buah bakau jatuh dan pecah
cinta bertolak dari dermaga
ke duanya menuju entah
mencari tempat tumbuh
tempat berlabuh.
tentang kita:
meski atas nama singgah
cinta tak pernah salah
ketika tiba di dermaga
2010
kukirim kepadamu, kekasih yang membawa punggungnya terus menjauh dariku.
untuk dinyanyikan:
hanya ada angin jemu
dan sore yang merah
seperti teh
ketika buah bakau jatuh dan pecah
cinta bertolak dari dermaga
ke duanya menuju entah
mencari tempat tumbuh
tempat berlabuh.
tentang kita:
meski atas nama singgah
cinta tak pernah salah
ketika tiba di dermaga
2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
