Notes On

Thursday, October 21, 2010

August 27,10

kita adalah diam yang tak terseberangi. indahnya!

hanya kami hingga siang ini: diriku dan diriku. menunggumu

kau temukankah sepenggal diriku, dalam matamu?

Inilah yang mempertegas jarak kita: kemampuan memandang. Aku membutuhkanmu untuk membacakan naskah yang ditulis waktu.

time never heals, but somehow helps you overcome the bleeding problems..

diam kita makin surut ke laut, teluk penuh dengan sepi. sebentar lagi tsunami.

baru saja: kau melintasi rinduku, jejaknya dalam. seperti perempuan: bolong. itu aku. lalu sepi mencabut gigi-giginya: ompong. itu waktu.

Monday, October 18, 2010

Sore Merah Seperti Teh

musik menjemput larik-larik ini, dari jalan panjang kenangan tentang lhokbon di waisai, dan thalasa yang menyimpan manado tua di berandanya.
kukirim kepadamu, kekasih yang membawa punggungnya terus menjauh dariku.

untuk dinyanyikan:

hanya ada angin jemu
dan sore yang merah
seperti teh
ketika buah bakau jatuh dan pecah
cinta bertolak dari dermaga
ke duanya menuju entah
mencari tempat tumbuh
tempat berlabuh.

tentang kita:
meski atas nama singgah
cinta tak pernah salah
ketika tiba di dermaga

2010

Tuesday, September 28, 2010

Sajak Mesin Jahit

catatan tetang Mesin Jahit

tidak kusimpan gambar ibu, sepotongpun di seluruh rumahku. Rumah dimana aku dipanggil ibu, oleh anak-anakku. tapi di rumahku ada mesin jahit yang tidak pernah melarikan benang dan jarum di atas kain, dan di ujung-ujungnya ada jemari mengapit.

seperti yang ada di rumah ibu. jerrr, jerrrrrrrrrr, jerrrrrrrr bunyinya kuingat.

jerrrrrr, jerrrrrrrrr, jerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, nyanyi mesin mengiring senandung ibu

ketika waktu ia himpit hati-hati dengan cinta, setelah mengukur kain lalu menjahitkan baju, juga menyiapkan kartu untuk ulang tahunku. mesin jahit di rumahku mengelim waktu yang senyap, ketika kusiapkan pesta ulangtahun lewat telepon untuk si bungsu,
sayup mesin jahit ibu terus berbunyi di dalam darahku, meski terhimpit waktu.

kuingat jerrrrrrrrr, jerrrrrrr, jerrrrrrrr cinta ibu

lama sejak kuletakkan gagang telpon mesin itu tidak berhenti: Jerrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrrr. Mengejar. Kali ini ia berbunyi, sebagaimana mesin seharusnya berbunyi. tanpa tanganku menjepit waktu di kedua ujungnya. Jerrrr, jerrrrrrr, jerrrrrrrr. Ibu menjahitkan cintanya ke tubuhku.

kelim dasarnya belum kelar: Jerrrrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrr.

Ben's Birthday 2008

Tentang Hujan

bukan hujan itu benar yang memikatku
tapi setelah itu, setelah hujan,
bening di ujung rumput dan daunan seperti benih di ujung cumbu
kita duduk saling peluk menghirup bau tanah,
sebagaimana kita, sehabis hujan: basah

mengingatkan pada kubur, pada umur
cinta kita, termaterai sekuat maut.

2010

Sunday, September 19, 2010

Kuseru Dirimu

:ami

kuseru dirimu 
ketika mata nanar menatap bias cahaya, 
'mari menggarami luka. 
kita akan menggeliat, dan waktu perih jatuh satu-satu: 
sedang kita hitung bahagia. 
kita mahfum, tanpa mempercakapkan rindu.'

2010

Saturday, September 18, 2010

Mesin Jahit

Tanggal 1 February ini Ben berumur enam tahun. Beberapa minggu sebelumnya Ben, si bungsu, telah merencanakan apa yang ingin ia miliki pada saat hari ulang tahunnya tiba. Tiga potong baju baru.
"Kenapa harus tiga? Untuk apa?" tanya saya.
"Untuk Bum, Jo, sama Jay", jawabnya. Di hari ulang tahunnya, dia ingin memberi hadiah baju untuk ke tiga saudaranya? Saya lebih siap untuk permintaan sebuah perayaan ulang tahun di KFC misalnya atau di restoran cepat saji mana saja, seperti beberapa teman TK-nya. Permintaan umum. Mungkin karena itu lebih 'gampang'. Paketperayaan ulang tahun, tanpa harus repot. Tiga baju baru? Saya samar-samar mencium ide bahwa menghadiahi ke tiga kakanya baju baru, adalah ide hasil provokasi salah seorang dari yang akan diberi hadiah.


Tapi saya menyetujui rencana itu. Kami tidak pernah membahasnya lagi. Lalu semakin dekat hari ulang tahun itu, Ben mendapat ide baru. Dia ingin makan Pizza.
"boleh makan pizza,ma?"
Sudah lama kami tidak makan bersama di luar rumah. Kebiasaan kami keluar untuk makan bersama atau membeli buku, belakangan sudah tidak terjadi lagi. Tidak lagi sejak, ayah mereka jatuh sakit dua bulan lalu. Beberapa akhir minggu kami lewatkan di rumah sakit, menungguinya dan ketika ayah mereka sudah pulang ke rumah pun, kami hanya bisa melewatkan akhir pekan bersama di rumah karena Mike tidak boleh terlalu lelah.

Saya tahu, pada pizza Ben, ada kenangan tentang kesempatan bermain di Timezone, memilih buku mewarnai yang baru, membeli crayon baru, lalu kemudian makan es krim sambil menunggu saya berbelanja. Atau ikut memilih t-shirt di box-box discount Matahari.


Tentu saja, Ben boleh makan pizza. Kami lalu sepakat pada rencana, Ben akan merayakan ulang tahun bersama teman-teman TK-nya. Dengan menu pizza. Lalu malamnya kami akan keluar sekeluarga, makan pizza sepuas hati, lalu membeli baju. Batin saya tahu, saya sedang menebus rasa bersalah pada kesempatan-kesempatan yang terabaikan untuk tetap memelihara kegembiraan mereka. Hari itu saya berencana akan mengambil cuti setengah hari, menemaninya merayakan ulang tahun bersama teman-teman di "sekolah". Begitu rencana saya demi membuat hari ulang tahun Ben tetap istimewa.

Dua hari menjelang hari "H", saya diberi tugas untuk pergi mewakili pimpinan program saya menghadiri rapat di Jeneponto. Tepat pada hari ulang tahun Ben. Yang konyol, ketika mengiyakan, saya lupa sama sekali tentang ulang tahun Ben. Saya baru teringat bahwa hari Jumat yang sama, adalah hari ulang tahun Ben, ketika hendak memasang reminder buat rapat itu, menjelang pulang kantor. Dengan jumlah orang yang sedikit dalam program kami, tidak mungkin meminta orang lain menggantikan tugas itu. Jadi saya merencanakan untuk mengatur delivery pizza ke tempat Ben ber-TK. Toh kami akan makan malam bersama dengan menu pilihan Ben: pizza.

Pada hari Jumat itu, pagi-pagi saya sudah dijemput mobil kantor, Ben masih baru bangun. Saya terlalu buru-buru untuk bilang selamat ulang tahun lengkap dengan doa dan pelukan. Lewat telpon, saya memonitor mekanisme pengantaran pesanan pizza dalam perjalanan ke Jeneponto. Kelihatannya, saya telah mengatur semuanya dengan baik. Bum, panggilan Ben untuk si sulung, akan memotret peristiwa itu. Bum yang saya minta tidak pergi ke sekolah. Mike, dalam keadaan drop -hasil pemeriksaan darahnya menunjukkan gejala yang kurang baik untuk kemajuan pemulihannya sehari sebelumnya- akan ada di sana sekedar hadir, seperti arahan saya. Aman. Every single thing, will drop in its place, pikir saya.

Menjelang sore saya sudah berada di jalan pulang. Dalam keadaan demam. Tanpa sebab. Saya tidak punya keinginan untuk memikirkan sebab musabab demam saya . Saya hanya ingin pulang. Sampai di rumah, saya hanya pasrah digotong ke tempat tidur. Ben kembali terlupakan. Juga rencana makan malam keluarga, hancur berantakan. Saya bangun menjelang subuh. Dengan tubuh basah kuyup. Saya keluar dari kamar, lalu duduk di ruang makan.

Ruang makan kami kecil. Dua setengah kali tiga meter. Di antara meja makan dan televisi yang terletak berhadapan, merapat ke dinding ada sebuah mesin jahit. Bukan milik saya. Milik ipar saya. Sudah lama mesin ini rusak. Bahkan seingat saya sejak mesin jahit itu dititipkan, tali putarannya sudah putus. Merek Singer di badan mesin berwarna hitam itu sudah terkelupas. Posisi mesin pun sudah tidak seimbang. Mesin itu, warnanya, jenisnya, persis seperti mesin jahit mamie. Juga tua seperti dalam ingatanku tentang mesin jahit di rumah kami di Jayapura. Sesungguhnya, itulah alas an kenapa mesin jahit itu ada di sana. Kenangan pada rumah. Mesin jahit itu, selalu mengingatkanku pada mamie.

Dalam kesibukannya mengajar, menjadi kepala sekolah sebuah SMP di Jayapura, mamie masih menjahitkan baju gereja untuk saya hingga saya duduk di bangku SMP. Baju-baju yang membuat saya meradang. Karena baju teman-teman sekolah minggu saya adalah baju yang dibelikan dari toko, sedang punyaku baju jahitan. Suatu siang, saya akhirnya meledak menangis tersedu-sedu, ketika mami menawarkan menjahitkan saya celana panjang dengan warna neon yang waktu itu sedang trend, ketimbang membelikannya saja. “Masa saya harus pake celana yang dijahit, padahal semua yang lain membelinya dari kakak si Ratna?”

Mestinya itu ucapan yang telah menghentikan mamie menjahit sendiri baju-bajuku. Setelah kejadian itu, mami tidak lagi pernah menawarkan jasa menjahitkan saya baju. Kecuali untuk satu peristiwa, waktu saya akan lulus SMA. Sebagai bagian dari pendidikan Kristen, saya di sidi, sebelum makan perjamuan kudus saya yang pertama. Gaun putih yang saya kenakan hari itu, dijahit oleh mamie. Dalam posisinya yang guru mata pelajaran, kepala sekolah dan seorang pengawas mamie menjahitkan saya baju itu . Hampir tiga minggu ia habiskan. Biasanya setelah jam makan malam , dan sepanjang sore di hari Minggu mamie akan duduk di mesin jahit dan mulai menyambung-nyambung potongan kain. Bayangan mamie dan kacamatanya membungkuk di depan mesin jahit, menjepit keliman. Mesin jahit mamie, bermotor. Mesin itu berbunyi di benak. Jerrrrrrrrrrrrrrrr. Jerrrrrrrrrrrrrrrrrr.

Udara dingin menyerbu dari kisi-kisi jendela dapur. Di atas mesin jahit di ruang makanku itu, ada sekotak pizza ukuran personal. Di sampingnya topi kerucut dari kertas koran dengan jumbai kasar warna warni dari kertas lipat. Ah. Ulang tahun Ben. Bagaimana tadi?
Saya lalu teringat mamie, duduk di depan mesin jahit menjelang ulang tahunku. Membuatkan baju untukku. Menyiapkan tart ulang tahun, membuatkan kartu . tapi saya toh tetap merasa tak cukup, waktu itu. Selama tak ada pesta disko, apalah artinya ulang tahun? “Kenapa saya tidak bisa bikinin pesta? Kenapa malah kebaktian rumah tangga?, siapa yang ulang tahunka?” Saya ingat kegusaran saya, di salah satu kesempatan hari ulang tahun.
Bersendiri di ruang makan itu, saya bertanya: cukupkah yang saya beri untuk Ben? Cukupkah 5 kotak pizza yang diantarkan untuk merayakan ulangtahunnya? Mengendapkah kenangan pada cinta mama dalam slice pizza? Di sendiri itu, saya gemetar. Bukan karena sisa demam. Tapi karena gentar pada kenangan tentang cinta ibu. Ibu saya. Mamie. Peristiwa, waktu, cinta ibu, kegigihannya untuk menunjukkan betapa saya begitu istimewa, datang menyerbu. Seperti spatula mesin jahit. Perih sekali. Ada yang menjahitku. Lama saya duduk di ruang makan. Hari sudah terang tanah, pakaian kasih ibuku, ternyata tidak pernah berhenti ia jahitkan ke tubuhku.

sajak mesin jahit

Ben's Birthday 2008

Monday, September 13, 2010

Berterimakasih Tanpa Terimakasih

Lebaran datang lagi, mengantar tulisan lama ini sekali lagi.

Kali ini setengah panci sop saudara, empat ketupat yang dikirim tetangga kami.  Bahkan setelah bertahun-tahun hidup bertetangga, saya masih terus belajar hikmah hidup bertetangga dan berterimakasih.

Kehadiran sebuah kata dalam kosa kata suatu etnis, merupakan akumulasi gagasan yang kompleks. Sebelum gagasan kompleks tersebut menemukan 'cangkang'-nya, dalam bentuk kata,  benih kata itu diekspresikan dalam berbagai tindakan mulai dari gesture individual sampai kepada berbagai ritual yang bersifat komunal. 
Perjalanan menjadi 'kata' itu, kadang selesai, kadang tidak. Kalau selesai, maka jadilah sebuah kata, yang dipahami dan diterima oleh kelompok pemakai bahasa tersebut sebagai cangkang sebuah kompleks ide. Cangkang bagi rangkaian perilaku, gesture.  Mungkin pula perjalanan menjadi kata itu tidak selesai. Asumsi saya, perjalanan yang tidak selesai itu dapat terjadi karena dua alasan : Pertama, karena eskpresi yang ada sudah memadai. Artinya, belum terasa mendesak, untuk mewakilkan rangkaian perilaku, gesture, ke dalam sebuah kata. Dua, karena terjadi pertemuan dan pengadopsian dengan bahasa lain, yang telah lebih dulu menyelesaikan perjalanan 'menjadi kata' itu. Ketika oleh para pendukung bahasa tertentu, 'disepakati' bahwa serapan itu secara paralel mewakili gagasan original yang tumbuh di tengah masyarakat dalam wujud non-verbal, maka jadilah ia bagian dari kosa kata pendukung bahasa tertentu.

Barangkali ini yang terjadi dengan kata terimakasih pada beberapa etnis. Etnis Bugis dan Makassar misalnya, adalah etnis yang tidak punya kata terimakasih. Tapi bukan berarti Etnis Bugis dan Makassar tidak tahu ber-terimakasih, tentu saja. Memang tidak muncul dalam percakapan keseharian, tetapi belakangan dalam wacana, diterima bahwa kata "kuru sumange", adalah kata yang bisa digunakan untuk mengekspresikan rasa terimakasih.   

Tapi wacana itu pada sisi lain, menegaskan bahwa ketika sebuah komunitas belum menemukan sebuah kata untuk mewakili gesture atau rangkaian tindakan tertentu untuk mengekpresikan rasa terimakasih, maka barangkali itu dapat merupakan pentunjuk bahwa expresi yang ada, sudah memadai. Ekspresi terimakasih Orang Bugis dan Makassar saya pahami dan pelajari lewat keluarga Pak Haji, tetangga kami yang nota bene orang Orang Bugis dari Pinrang. Saya mempelajarinya melalui mekanisme menerima dan mengembalikan piring.

Awalnya, saya mendapat kiriman ikan asin dari kampung, dan merasa ini terlalu banyak hanya untuk kami, jadi saya bagikan. Itu saja. Jadi sebuah kata terimakasih, cukuplah. Tapi seiring waktu, saya belajar bahwa hantaran kue atau apapun yang saya kirimkan, selalu mendapatkan balasan wadah hantaran berisi. Wadah hantaran saya, ketika kembali selalu berisi. Isinya macam-macam: dari kue kering, sampai Jeruk Bali Pinrang ketika musimnya datang.

Saya belajar, bahwa mengembalikan piring hantaran dengan mengisinya kembali, adalah ekspresi gagasan, perilaku, sebuah tindakan original yang kualitasnya tidak bisa dipalsukan, untuk sebuah kata bernama terimakasih.

Saya belajar dari peristiwa menerima dan mengantar piring itu. Saya belajar dimensi berterimakasih, tanpa terimakasih- yang kata. Belajar berterimakasih dengan kualitas yang prima. Bagaimana tidak?  Dalam upaya "mengembalikan piring" itu saya dengan serta merta akan membongkar persediaan yang ada. Saya disodorkan pada situasi dimana keputusan dan tindakan harus on the spot. Situasi on the spot, spontan itu, seringkali membuat saya gagap, terus terang. Karena saya sering tidak siap. Situasi on the spot itu, seringkali membuat saya "telanjang". Telanjang, apa adanya, berhadapan dengan kekuatiran saya akan kehidupan, atas dasar "tidak cukup." Telanjang karena ternyata, dalam rumah kami, tidak ada porsi untuk "dibagikan" dengan siapapun. Semua ada porsinya, semua ada amplopnya.

Saya belajar bahwa : kemahiran kita menggunakan ungkapan verbal, bisa saja menjebak kita dalam basa-basi. Kita dengan mudah pula berbasa-basi mengucapkannya. Sehingga -Thanks God- ada kata terimakasih. Terimakasih yang jadi opsi dalam template message di hape saya. Terimakasih pun bisa jadi adalah sebuah kata di layar hape, atau sebuah teks pesan singkat, yang saya kirimkan. Terkadang semata sebuah respon otomatis, yang lahir dari keinginan terlihat berbudaya, tidak selalu ekspresi tulus kemanusiaan saya.

Ketika "kata" terimakasih hadir dalam vocabulary sebuah bahasa, kata itu telah memangkas seluruh rangkaian tindakan yang terkait dengan keinginan dan gagasan untuk "memberi setidaknya setimpal/seimbang/sebanding dengan pemberian yang telah saya terima." Karena sebuah kata telah "ditemukan", lambat-laun semakin menepilah tindakan yang sebelumnya digunakan sebagai cara, untuk mengekspresikan rasa penghargaan dan keinginan untuk memberi setidaknya setimpal/seimbang/sebanding itu.

Saya belajar bahwa orang-orang yang terbiasa dengan ekpresi "terimakasih" secara verbal, akan terlihat canggung atau (malah) menimbulkan kecanggungan bila berada di komunitas gesture dan action. Mediocre, jika tidak palsu sama sekali.

Syukurnya, porsi rangkaian tindakan (tanpa berusaha menjadi sok agamawi) sebagai ekspresi dari action and/or gesture of gratitrude ini tidak bisa tergantikan dengan kata "terimakasih" tok, ketika kita bersujud syukur kepada yang Maha Memberi, misalnya. Kita membutuhkan keluasan ekspresi untuk mengungkapkannya. Kita merasa "cangkang" bernama terimakasih tidak memadai. Kita membutuhkan sujud dan tersungkur. Menangkup tangan dan tafakur. Kita membutuhkannya. Untuk menyampaikan doa yang tak terkatakan. Iya, kan?

Ketika menerima dan mengembalikan wadah hantaran itu, memberi kesempatan kepada saya untuk kembali menjadi hanya "orang." Seorang tetangga, seorang teman, seorang yang mau "bilang" terimakasih. Tapi Lebaran kali ini, saya hanya sanggup mengembalikan panci kosong, yang telah saya cuci bersih. Juga saya terlalu malu hati mengantarkan sendiri panci kosong itu dan bilang: terimakasih. Terimakasih, saya titipkan pada anak saya yang memulangkan panci kosong wadah sop saudara, Pak Haji.

Ternyata memiliki sebuah kata, tidak selalu menjadikan kita lebih unggul. Saya pikir, kualitas tindakan kita bicara lebih keras dari kata yang kita khotbahkan. Meski begitu,  "terimakasih" yang terucap, adalah keniscayaan.