Jumat kemarin sangat bising—orang banyak, penuduhan, eksekusi mati di depan publik, seorang sahabat dibunuh. Lalu Sabtu datang. Kesunyian yang mengikuti hari yang sangat kelam dalam sejarah keterhubungan Yesus dengan pengikut-Nya.
Pada hari itu, dalam dunia kecil mereka, murid-murid tidak tahu harus berbuat apa. Pintu kubur itu bukan saja tertutup, tetapi tersegel—masih tersegel. Tidak ada perayaan. Belum. Tidak ada resolusi. Hanya kesenyapan. Dan beban berat yang ditinggalkan hari Jumat.
*“Inilah kasih itu, Yesus Kristus _menyerahkan hidup-Nya_ bagi kita,”* kata Yohanes. Bukan hampir, bukan nyaris, bukan “untung masih bisa lolos.” Yesus betul-betul mati. Yesus tidak melawan balik, tidak menyelamatkan diri-Nya. Beliau memberikan diri-Nya. Yesus benar-benar _laid down_, menyerahkan hidup-Nya.
Sabtu Kudus, hari di antara salib dan kubur kosong, mendudukan kita di antara kenyataan itu. Kita dihadapkan pada satu kebenaran: kasih itu ada harganya. _It costs us something_.
Ayat dari 1 Yohanes 3:16 tidak berhenti pada pernyataan tentang apa yang Yesus lakukan.
Ayat itu seperti menatap kita dan berkata bahwa kita pun harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita. Kenyataannya, kebanyakan dari kita tidak berhadapan dengan situasi sedramatis penyaliban di Hari Jumat Agung. Namun tidak ada satu pun dari kita yang dikecualikan. Kita semua akan berhadapan dengan ketidaknyamanan. Kita akan diminta menyerahkan sesuatu—apa yang kita pilih untuk lindungi dan pertahankan: waktu, rasa nyaman, kebanggaan, uang, bahkan reputasi.
Jadi pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa mengasih seperti Yesus?
Jawabannya mungkin ada dalam momen-momen sederhana ketika kita memberi untuk orang lain, bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi untuk melayani mereka dengan cara yang tidak mudah—yang membuat kita harus “membayar harga.” Kita yang membayar harga itu.
Jika seperti ini wajah Injil yang dimotivasi kasih, bagaimana kita akan membawanya hari ini? Karena ketika kita mengasihi seperti itu, orang bukan hanya mendengar tentang kasih Yesus, tetapi mengalami sendiri kasih itu.
Tuhan berkati.
Sumber: YesHEIs - YouVersion.
No comments:
Post a Comment