orang banyak, penuduhan, eksekusi mati
di depan publik, seorang sahabat dibunuh.
Lalu Sabtu.
Kesunyian yang datang setelah hari yang sangat kelam.
Hari ketika, dalam dunia kecil mereka,
Teriakan dan kekosongan bergema, tubuh-tubuh patah
tidak tahu harus berbuat apa.
Karena Sabat, lalu pintu kubur itu
bukan saja tertutup—tapi tersegel.
Masih tersegel.
Tidak ada resolusi.
Hanya kesenyapan.
Pun beban berat yang ditinggalkan Jumat.
kata Yohanes.
Bukan hampir.
Bukan nyaris.
Bukan “untung masih bisa lolos.”
Yesus betul-betul mati.
Yesus tidak melawan balik.
tidak menyelamatkan diri-Nya.
Ia berikan diri-Nya.
kita duduk di antara kenyataan itu.
hari di antara salib dan kubur kosong,
Dan mengarahkan pandangan kita pada satu kebenaran ini:
Kasih itu ada harganya.
It costs us something.
Yesus menyerahkan hidup-Nya.
Tapi Kebenaran tidak berhenti di situ.
seumpama mata yang menatap,
langkah Sang Kebenaran tegak mendatangi,
dan bicara melampaui masa: kamu pun,
harus menyerahkan hidup
untuk saudara-saudaramu.
Ah.
Kebanyakan kita tidak berhadapan
dengan kelam penyaliban Jumat Agung
bahkan dalam drama terburukpun,
Sabtu Kudus ini.
Kita membuatnya riuh, melibatkan orang banyak,
merancang eksekusi mati satu dua orang
Tapi tidak satu pun dari kita yang dikecualikan.
duduk di depan kebenaran
semua akan menjadi tidak nyaman.
Setiap kita akan diminta menyerahkan sesuatu—
apa yang kita pilih untuk kita peluk, kita pertahankan.
rasa nyaman.
kebanggaan.
Uang.
Reputasi.
bagaimana kita bisa mengasihi seperti Yesus?
Dalam kesenyapan Sabtu Kudus
bersiaplah menyambut momentum-momentum itu—
ketika memberi bukan untuk mendapatkan imbalan,
mengulurkan ketersediaan untuk melayani
dengan cara yang tidak mudah,
dalam semua itu, kita yang membayar harga.
Karena ketika kita mengasihi seperti itu,
orang bukan hanya mendengar tentang kasih Yesus—
mereka mengalami sendiri kasih itu.
1 Yohanes 3:16:
No comments:
Post a Comment