Notes On

Showing posts with label Poetag. Show all posts
Showing posts with label Poetag. Show all posts

Friday, February 13, 2015

Pasar Malam

(1) 
kali ini pun
kau pergi membawa rindumu ke pada sendiri.
dirimu sendiri.      
malam menelanmu
lampu warni-warni,
keriuhan tawa       
yang digulir di atas komedi putar, menyisakan aku.      

kupikir kau pun
belajar bercakap-cakap dengan sepi
di setiap pasar malam
yang kau singgahi    

(2) 
berhadapan dengan waktu, aku menyimpan tanya: ‘kapan’? 
kapan putaran rindu membawa kudamu, mencapaiku.


(3) 
ditemani khayalan, aku pasrah, bukan mengalah. 

(4) 
seperti dalam kumpulan arisan perempuan setengah baya,
sepi mengorek kisah kita. 
hidup dan diriku tergelak. 
ia atas kebodohanku, aku atas diriku.

seperti malam membuat cahaya pendar di pasar malam
pun kunang-kunang pada pohon-pohon di kuburan
kami mencintaimu
dengan cara berbeda. 
hingga kini.  




Agustus 2008-September 2013

Friday, July 20, 2012

Antologi Teh


1
sepokok gelisah yang kau lupakan di dalamku
ditoreh pada waktu-waktu tertentu
seperti ketika bulan pasi dan malam rindang
rindu diremas: nira menetes
seperti aku dan gulaku
pohon lontar menunggu
untuk memaniskan tehmu

jeneponto

2
Di bawah sinar bulan pucat bayang pohon lontar,
malam muda melontarkan tanya:
adakah yang tengah mengaduk hatimu?'

Rindu menggenggam kenangan. Hujan.
Tak seperti waktu itu.

3
cabikan indah diriku
dipasang waktu seperti penjor pada masa raya galungan
tak tegak  oleh benih bumi
di ujungnya angin menari

ah.
hingga musim usai
aku terpancang di sini, 
padamu sekujur diri melambai.

March 2012

Tuesday, July 17, 2012

Petaka Gula

Langit dingin.
Dalam diam sediam tungku batu sedingin tempayan,
dengan tangan telanjang, kukoyak tirai langit.
aku perempuan: tersedia untuk bertahan.

Di bawah langit koyak, menyiang ladang,
harap kuangin-angin.
berkali-kali berganti musim angin
cahaya semakin sayup, harap seperti sisa-sisa api tanpa kayu.

aku perempuan: pemburu 'kenapa?'

sambil terus mengumpulkan kayu,
berupaya mendidihkan getah jadi gula
memaniskan langit-langit yang luka
telah jadi hujan
garam yang ada di penyimpanan.
aku dan diriku
ibarat tempayan dan tungku dingin
tanpa kayu,


tanpa dirimu, aku abu

ketika mata kupaku ke lautan, dari hutan kayu-kayu bakar dihantarkan.

Lihat , olehmu sendiri
Ada api di bawah tungku!
lalu panas untuk mendidihkan tempayan bergetah
darinya gula, untuk langit-langit luka
lalu rumah, rumah getah rumah gula.

Ke langit koyak, ku kirim undangan: langit dingin. 
aku perempuan, tersedia untuk diam saja
berpura-pura lupa
aku tak lupa restu langit  tak hadir di acara pesta.
tapi tanpa restu langit
apa yang dapat menjelma?

ketika sedang memasak gula,
telah tumpah petaka ke dalam getah,
tempayan terjungkal, tiang rumah tersulut angkara.

Sekarang aku tak punya apa,
pada bara tiang-tiang rumah aku berdiang
seorang-orang,
berangin-angin, seorang-orang.
Di atasku langit koyak.
Di mataku laut bergelombang.
Di dalamku malam. Bulan hilang.


2008-2012

Waktu Kita

*poetag
:k

(1)
apakah yang dipinjamkan waktu
ketika di bawah sebuah pohon kesempatan
aku bangun
dan menemukan
embun di ubun-ubun
dan kehangatanmu di sebelahku?




(2)
tiap melipat selimut kita,
aku menimba sepi:
makin hari makin panjang kuulur tali
untuk menahan diri 
dari mencari 
sebab waktu yang menyimpan kita 
tak meninggalkan alamat


(3)
di tiap selamat jalan
aku tercabik,
berdarah rindu tersemat
seperti kembang di lekuk telinga.

lalu matahari tenggelam,
berulang-ulang
dalam gelap waktu
aku menunggu

Juli 2012

photo by Rini Indra Yanti

Terik Senja

*poetag
matahari jatuh,
di teriknya rindu luruh
ke dalam pelukmu

hanya sesaat kita mengecup sore
dan seperti angin hinggap di daunan,
lalu menggetarkannya sepanjang malam
: begitu aku


kita dihinggapi malam,
dan seperti daun
digetarkan rindu sepanjang tunggu

photo by Rini Indra Yanti

June 2012

Sunyi Akan Segera Mulai


*poetag

ketika taut bibir perlahan lepas
dan di jalan angin menderas
kita tertawakan perpisahan
dan seperti pada pertemuan sebelumnya, 
kita lupakan pertarungan dengan sunyi
yang akan segera mulai 

:di pintu pongah aku berdiri
mata nanar melambaikan jangan lupa
jemariku mengumpal menyumpal gumam

sunyi akan menemani
aku menunggu lelakiku datang
dengan cinta bertelanjang

Mei 2012

photo by Ricky Dajoh

Separuh Matahari, Sepenuh Matahati

*poethography

dengan separuh matahari, 
aku menunggu ada sebuah pagi
yang kujemput dalam pelukmu
matamu pada mataku
dan
sepenuh matahati engkau menyelamiku

bersama separuh matahari
rindu yang kureguk adalah cara
paling bersahaja
untuk melupakan kita
meski diam-diam berharap
sepenuh matahati bisa saling menyungkup
cangkir kopi 
untuk menunda perpisahan

Mei 2012...

Menggulir Matahari

kau tentu mendengar tawaku 
ketika matahari bergulir sementara cahaya dan angin
bertukar lenguh dan hasrat dalam perjalanan.

kau tentu tak menghitung telah berapa kali 
kugulirkan ke arahmu,
harap dan angan yang keras kepala seperti cahaya
menguntit seperti bayang.

ya salahku:
bermain dengan matahari,
seperti Icarus, kuakui. 
tapi hidup adalah mencipta legenda bukan? 

demikian juga tentang mu, aku, kita:
harapku yang meski bisu akan mengendarai cahaya
jadi burung api.

dan aku terus mengulirkan diri ke matahari. 

May 2012

*inspired by Rini Indrayanti's photo

Selamat Pagi, Kopi

(3)
Kalau kau bangun
menjemput kopimu pagi nanti,
pada sesap pertama yang membalur langit-langit
temukanlah aku: menunggu di bibirmu
jangan tampik, kecap: seluruh aku, seluruh rindu. 
Meski pahit asam.

aku serupa aroma.
menguarkan jejak,
membangkitkan ingatan masa lalu,
kau mengenaliku dalam hela-hela napas. 

(4) 
Aku terjaga 
dan menemukan rindu menunggu.
menyapa selamat pagi.
mataku mendidih: dengan airnya kuseduh pagi.

seperti kopi disesap dengan pahit asam
aku menghirup bahagia: bersamamu

(5)
begini: 
kami lama tak lagi 
bertukar sapa
kami lama 
telah diam diam
berdampingan dan memahami perpisahan

seperti embun memahami matahari
: diam-diam berdampingan dalam keluasan entah.


May 2012

Selamat Pagi, Kopi

*poetag
(1)
k:
kalau kau bangun, lalu menemukan rindu berbaring di sebelahmu,
itu bukan tentang ku.

kalau kau bangun dan menemukan rindu pada hal-hal sederhana,
tersedia seperti secangkir kopi pada pagi -pagi di mana kau hanya ditemani rencana-rencana
tentang hari ini dan selain itu hanya sendiri
ingat aku: tiap kali bibirmu menyetuh tepi cangkir
karena kau tahu aku merindukanmu seperti tepi cangkir menanti bibir.
merindukan bibirmu menyetuh sepi,  sepi menjadi kopi,
setelah terpetik, menunggu.
menunggumu menghirupku.


(2)
kau tahu aku bukan peminum kopi,
tapi padamu, rindu seperti secangkir kopi.
Kalau kau bangun,  menjemputmu kopimu pagi nanti,
pada sesap pertama yang membalur langit-langit
temukanlah aku: 
menunggu di bibirmu
jangan tampik, kecap: seluruh aku, seluruh rindu.
meski pahit asam: tak kan kulukai dirimu, kekasih.

May 2012

Wednesday, June 27, 2012

Terik Senja

hanya sesaat kita mengecup sore
dan seperti angin hinggap di daunan,
lalu menggetarkannya sepanjang malam
: begitu aku


matahari jatuh,
di teriknya rindu luruh
ke dalam pelukmu


kita dihinggapi malam,
dan seperti daun
digetarkan rindu sepanjang tunggu


 June 2012

Rini Indra Yanti's Photo

Sunday, June 22, 2008

Malam di Losari


berhadapan dengan malam
bau laut menggantung
pekat
sudah selarut ini
kau masih belum kembali
pada trotoar losari kosong berangin
pada gerobak dengan peti-peti sepi pembeli
pada sayup pelita di buritan sampan
ada aku terhampar
di antara angin dan malam
padamu kukemas rindu

seperti angin silir, ombak, es dalam kotak sepi
tak putus-putus dingin
melarutkan malam
rindu tak jemu kularung ke arahmu
semoga sampai
sebelum pagi

/2/
kabut di laut, hari larut di langit hampa, kepada bayang hitam perahu pulang
rindu tersangkut di tiang dermaga
ombak mengusap kayu, waktu mengusapku.mengusap risau yang sebahu.
bagiku kau binatang karang di tiang-tiang dermaga, lekat, pada surut dan pasang
pada pecah gelombang, tumbuh dan diam.
tentangmu: waktu adalah tangan yang melambai, melepas pergi. pun aku, buih busa di buritan kapal , kenangan yang tak jejak, tak sisa.
di dermaga, kuantar kenangan pulang ke malam.

/3/

di sebuah pantai lain,
angin membawa bau hutan,
bertiup dari lautan sarat dengan 'jangan', 
sarat oleh 'tak boleh',  menghembuskan gamang
menyisirkan bimbang.
Lalu hujan jatuh,
membalurku dengan perih dan gigil
yang memamah dirinya sendiri
ketika berhenti.

2008