Monday, December 21, 2020
Berapa Lama Lagi?
Saturday, December 19, 2020
Keiku, Bukan Haiku
:k
(1)
aku tahu sekarang,
kenapa rindu padamu selalu mengharu biru
aku terlalu sederhana,
dan dengan sederhana telah mencintaimu
(2)
aku bersedia menunggu besok juga beribu esok
ketika kau putuskan menyesapku tanpa sangsi,
seperti kopi
dan meletakkannya kembali
(3)
"akan tibakah pasang, membelai?"
angin tipis, bia* di batu menggeliat
"kau merindukanku?"
asa tipis, angan di batu menggelepar
menunggu peluk ombak berikut.
*bia=kerang
(4)
sambil menjatuhkan huruf ke dalam
gelas yang terus kita pesan,
jam berderit gelisah. mengulur satu lagi perpisahan.
di ujungnya aku tertambat.
"aku tak tahu jalan pulang, selain kepadamu"
(5)
cuma aku yang mencintaimu seperti aku, k
: menulisimu dengan seluruh diriku.
kan?
(6)
ketika menyesapmu,
sambil memikirkan secangkir kopi yang terlambat tiba di pagi hari,
kubiarkan rindu memahat namamu
kopi itu kemudian menunggu.
dingin.pahit.
(7)
tentu
kau telah mencintaiku
entah dengan cara apa
itulah musabab rindu: mencari tahu
(8)
pasangan remaja di sebelah meja
mata mereka meruah dengan
ha ha ha ha ha
sebagaimana lelucon kita
semakin tawa ketika makin luka
pesanan kami sama,
es krimku meleleh tertimpa air mata
(9)
peristiwa kita, k:
seliweran dalam kepalaku
berhimpit, tak ada etika, mementingkan diri
riuh seperti di pettarani pada waktu makan siang
klaksonnya memekakan telinga
berpegang tangan dengan kenangan
menyeberang jalan
dari sepi yang satu ke sepi yang lain
aku: menyebut namamu seperti
merapal doa
(10)
dirimu adalah rindu
yang tidur
tersentak sesekali,lalu
tenggelam
dilelap. makin dalam
(11)
kita semakin tak mungkin ditemui kembali.Indah ya?
:"apa?"
yang akan tumbuh dari rindu
(12)
ketika malam itu aku melipat kenangan
bersiap untuk sebuah perjalanan:
kecupmu memata air
di nadiku
setelah seluruh anak tangga usai,
kemudian semata sepi
dengan airmata berlinang
aku merdeka memekikan:
aku cinta padamu!
September 2011
Friday, July 20, 2012
Perjalanan Sumarah
| Sabtu, 20-12-2008 |
| Meledakkan Rintihan Sumarah di Tengah Pengembara :: Luna Vidya :: |
”Mari ke Ambang sana, menemani saya menjadi Sumarah!. Foto: Dokumentasi Luna Vidya. Terbang ke Perancis melalui Dubai menjadi semacam berkah tak terduga bagi citizen reporter Luna Vidya yang menyiapkan nomor “Balada Sumarah”untuk pentas monolog dalam perayaan ulangtahun Restoran Indonesia di Paris. Penerbangan Jakarta-Dubai serta obrolan dengan para pahlawan devisa saat menunggu penerbangan lanjutan, membuat Sumarah seolah betul-betul hidup dan siap menemani pementasannya. Cerita pilu TKW yang ayahnya dituduh aktivis PKI itu diledakkan Luna dengan segenap pengalaman yang dipungutnya sepanjang jalan. Sumarah muncul di hadapan penonton yang di antaranya juga mengalami nasib buruk yang sama: dicap PKI dan semua pintu tertutup untuk mereka. (p!) |
| Pintu restoran kecil yang beralamat di 12 Rue Vaugirard di jantung kota itu, seperti tangan yang hendak mendekap, siap menghalau udara malam dingin berkabut. Cuaca berkisar 4-5 derajat Celsius. Paris gemerlap dengan hiasan lampu-lampu menyambut Natal. Saat saya melangkah masuk, rasa hangat dan akrab menyergap. Meja-meja makan kecil yang siang tadi memenuhi dua ruang makan di lantai pertama telah dipindahkan. Kursi dijejerkan menyusur sisi ruangan. Di meja terdapat piring berisi kacang, mete dan emping goreng. Di sisi meja yang melekat pada dinding, dijajar buku-buku bergambar lelaki setengah baya. Di dinding, terpasang foto-foto berpigura dengan tema Indonesia. Ada hajatan malam itu, Senin 15 Desember 2008: acara ulang tahun ke-26 Restoran Indonesia, Paris. Acara ulang tahun Restoran Indonesia itu menjadikan "Indonesie " sebagai sentral perayaan. Buku Indonesie, adalah kumpulan karya fotografer Patrick Blanche dengan tema Indonesia. Foto-foto di dinding restoran malam itu, adalah "cuplikan" karya fotonya. Semakin malam, ruang menjadi semakin sempit oleh tetamu. Yang datang sangat beragam. Ada teman-teman sang fotografer, ada komunitas orang Indonesia dalam lingkaran Koperasi Restoran Indonesia, pelanggan mereka, atau pun mahasiswa Indonesia yang tinggal di Paris. Beberapa wajah saya kenali sebagai peminat Indonesia" dalam jaringan Asosiasi Persahabatan Indonesia – Perancis Pasar Malam, yang mengundang saya. Pertemuan Pasar Malam bertajuk 10 Jam Menikmati Sastra Indonesia berlangsung seminggu sebelumnya. Senang rasanya melihat wajah yang "tak asing". Sayang sekali, Johanna Lederer, Ketua Pasar Malam, terhalang datang oleh sakit. Juga hadir para wakil dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Perancis. Kemudian saya tahu, keberadaan wakil KBRI di acara malam itu, mencatat sejarah sendiri. Kehadiran resmi seperti itu, baru terjadi pertama kalinya selama 26 tahun kehadiran Restoran Indonesia di Paris. Tetamu yang menghadiri rangkaian ulangtahun ke-26 Restoran Indonesia di Paris. Foto: Dokumentasi Luna Vidya. Acara bergulir santai, meski suasana berubah sedikit formal ketika kepada Atase Pendidikan KBRI Perancis, Sudrajat diberi kehormatan memberikan sambutan. Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Umar Said, yang akrab dipanggil Om Umar, sesepuh koperasi Indonesia, dilanjutkan dengan Pak Yoso, pimpinan Restoran Indonesia. Terus terang, jangan berharap saya menangkap apa yang dikatakan para pemberi sambutan itu. Saya hanya mendengarnya lamat-lamat dari pintu dapur. Suara mereka berdengung, baik sang pemberi sambutan maupun suara Nita, salah seolah pegawai Restoran Indonesia yang malam itu bertindak sebagai pembawa acara, sekaligus penerjemah. Bukan karena terhalang suara lain, tapi karena kegelisahan saya lebih riuh. Suara-suara di dalam kepala saya lebih keras dari gelak gurau dua juru masak yang bertugas malam itu, Mbak Didien dan Kak Yudith. Terduduk di dapur, di atas sebuah wadah plastik, saya mulai mengurai perjalanan Sumarah. Tokoh yang akan saya bawakan dalam monolog. Saya gugup. Bukan hanya karena pementasan yang harus saya jelang dalam hitungan 30 menit ke depan, penuh dengan "pertama kali". Pertama kali pentas sendiri di luar negeri – jika itu penting- adalah salah satunya. Tapi yang terpenting, karena pementasan ini, adalah pementasan pertama Balada Sumarah di mana dalam wilayah mental saya, telah terekam gambar wajah para Tenaga Kerja Wanita (TKW). Wajah-wajah yang saya temui dalam perjalanan menuju Paris. Menuju ke pementasan malam itu. Terlintas wajah-wajah teman sebangku saya dalam perjalanan dari Jakarta menuju Dubai. Wajah Sundari, dari Majalengka, dan Sinar dari Kendari. Mereka yang kita sebut pahlawan devisa. Wajah-wajah mereka yang penuh dengan kelelahan menghadapi kemiskinan, memantul-mantul jelas malam itu. Seperti kata Sumarah: "…jadilah saya Sumarah binti Sulaiman, seorang TKW.. mencoba meraih hidup yang lebih baik dengan menjadi budak di negeri orang." Benak saya juga penuh dengan impresi kegagahan dan sikap berani mereka, yang memilih menjadi TKW yang notabene babu. Seperti yang disuarakan Sumarah: " ya, saya memang babu, tapi karena itu saya hebat. Saya hebat karena berani memilih membuat keputusan menjadi bagian paling bawah dari struktural manusia. Tidak ada orang yang mau jadi manusia di bawahnya manusia. Inilah saya Sumarah, menjadi babu, menjadi budak sudah menjadi pilihan." Tapi dalam obrolan dengan tamu-tamu yang datang pada hajatan malam itu, saya tahu, perjalanan Sumarah adalah juga pecahan cermin perjalanan banyak orang di ruang itu. Perjalanan para pengembara. Perjalanan orang-orang yang tak bisa pulang –karena dicekal dengan alasan politik di masa Orde Baru-- dan kemudian memilih tak pulang. Sedikit banyaknya, di mata saya, para pengembara itu seperti Sumarah. Ketika memberitahu pihak Restoran Indonesia bahwa nomor Balada Sumarah ini yang akan saya tampilkan, saya memilihnya lebih karena relevansi kisah Sumarah sang tokoh, dengan "legenda" di sekitar Koperasi Restoran Indonesia. Latar belakang keduanya yang sama, langsung atau tidak langsung: peristiwa G30S PKI 1965. Tapi pilihan itu tidak menjadi sederhana, ketika saya bertemu dengan "Sumarah-Sumarah" lain, di perjalanan Jakarta- Dubai dan di Restoran Indonesia yang hangat malam itu. Saya gugup, karena paham dengan beragam tamu malam itu, isu yang termuat dalam monolog Balada Sumarah ini, adalah isu yang rawan. Isu yang dapat mengulik luka beberapa orang secara pribadi, beberapa orang secara politis. Tapi saya tidak bisa mundur. Panggung harus saya isi. Sumarah, jadi bagian kisah hidup sejumlah penonton. Foto: Dokumentasi Luna Vidya. Detik-detik Pementasan "Sudah siap?" tanya Nita. Saya tidak punya pilihan lain kecuali mengangguk tentu saja. Di ambang pintu pembatas ruang makan restoran saya berdiri. Lalu saya memberi pengantar pada pementasan Balada Sumarah. Nita menerjemahkan sinopsisnya dalam bahasa Perancis. Sinopsis yang saya tulis ini, jauh lebih baik dari yang saya narasikan di ambang pintu. Kepada semua yang siap menyaksikan Sumarah, saya berkata, “Mari ke sana, ke ambang pintu itu, menemani saya menjadi Sumarah!” Balada Sumarah karya Tentrem Lestari ini pertama kali saya bawakan pada Festival Monolog di Jakarta pada tahun 2006. Kali ini, dengan ruang pentas yang lebih kecil, beban saya justru lebih berat karena akan mengulik-ulik luka lama sejumlah penonton. Kisah ini dibuka degan adegan perempuan bernama Sumarah seorang TKW, di Arab Saudi duduk di bangku terdakwa di sebuah ruang pengadilan. Ia ada di sana karena tuduhan membunuh majikannya. Dari bangku itu, tanpa pembela atau penasehat hukum, ia minta diberi kesempatan untuk menceritakan saja kisahnya. "Ini bukan pembelaan", kata Sumarah. "Karena apapun yang saya katakan, itu adalah merah hitam, putih abu-abu diri saya, belang loreng, gelap cahaya hidup saya." Di ruang pengadilan itu Sumarah yang berani mengambil keputusan menjadi babu, menjadi manusia di bawah manusia, meminta agar ia boleh berbicara, berbicara untuk terakhir kalinya sebelum menjalani hukuman mati. Di bangku pesakitan Sumarah bercerita tentang kehidupannya. Kehidupan sebagai sebagai anak seorang pembuat gula yang kena ciduk karena dianggap anggota PKI. Sulaiman ayah Sumarah, ditangkap karena menjual gulanya kepada koperasi yang dibentuk oleh PKI. Sumarah masih dalam kandungan, ketika ayahnya ditangkap dan seumur hidupnya ia tidak pernah bertemu dengan sang ayah, yang meninggalkan jejak bayang hitam di sepanjang hidupnya. Bayang hitam yang menguntit dan merebut separuh ruang hidupnya. Sedari kecil, dikitari bisik-bisik dan sindiran warga kampung, Sumarah tidak berani mengangkat kepala dan tidak berani bicara. Bicara berarti bencana. Tapi Sumarah yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib, berpikir ijazah dan prestasi akan membawa perubahan. Karena itu dengan gigih ia berusaha untuk terus sekolah. Tapi kemudian, ternyata karena bayang-bayang hitam ayahnya, Sumarah meski lulus dengan nilai tertinggi tidak punya kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Ijazahnya tidak memberi keajaiban apa-apa. Tidak bisa membuka pintu kesempatan. Ia terdepak dari pintu ke pintu, karena bayang-bayang nama ayahnya. Bayang-bayang hitam nama Sulaiman yang terkait PKI membuat Sumarah kehilangan cintanya. Sumarah bercerita tentang bagaimana ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika hak-haknya diselewengkan, tidak berani bicara apa-apa, lagi-lagi karena nama ayahnya yang masuk daftar hitam. Sumarah bercerita tentang betapa mudahnya segala urusan bila disertai amplop berisi lembaran rupiah. Sumarah bercerita tentang harapannya untuk mengubah nasib keluarga dengan menjadi TKW di negeri orang. Harapan yang membungkus kenyataan bahwa ia adalah warga selipan, setengah gelap di negerinya sendiri. Warga yang kepalanya tidak boleh kelihatan di antara kerumunan banyak orang. Harapan itu kandas ketika ia -untuk pertama kalinya- mencoba mempertahankan haknya. Menolak diperkosa terus oleh majikannya. "Bertahun-tahun di negeri saya sendiri, saya hanya diselipkan, setengah gelap, kepala saya tidak boleh kelihatan di antara kerumunan banyak orang. Apakah sekarang di negeri orang saya masih harus dimelatakan...? seperti budak hina yang boleh dibinatangkan?" Ia membunuh majikannya. Sumarah juga memilih untuk tidak diadili di negerinya sendiri, negeri yang belum tentu akan membela hak-haknya. Setelah tidak ada lagi yang bisa diperas darinya: seorang perempuan, TKW, seorang pesakitan. Menonton Penonton Saya bisa menerka Nita, sang pembawa acara, menambahkan keterangan historis pada bagian Partai Komunis Indonesia, untuk memberi penjelasan arti penting organisasi terlarang itu dan dihapuskannya bagian itu dalam kisah Balada Sumarah. Setelah uraian tentang monolog itu, saya "mencuri" kesempatan untuk membacakan sebuah puisi, yang diadaptasi ke dalam Bahasa Perancis oleh Alex Cormanski. Puisi berjudul "Merayakan Lebaran" itu dalam adaptasinya diberi judul "La Fe`te du Pardon" atau "Merayakan Pengampunan". Para tamu berdiri mengitari, juga menyesak di ruang sebelah untuk bisa mengawasi saya. Dua puluh lima menit. Seluruh kegugupan lumer jadi jeritan Sumarah: dengarlah saya! Dengan penonton yang terdekat berdiri dalam jarak jangkauan tangan, dan yang paling jauh hanya berjarak dua meter, selama dua puluh lima menit, saya menonton mata-mata yang menemani Sumarah menyanyikan baladanya. Ada bagian dari rintihan itu yang juga menjadi bagian hidup sejumlah penonton, ya para pengembara. juga para eksil yang masih terang jejaknya di sejumlah kota Eropa. Selama dua puluh lima menit, saya sang pelakon yang justru menjadi penonton, mengikuti perjalanan yang ditempuh beberapa orang dalam ruangan itu ke masa lalu. Saya menyaksikan pedih memancar, ketika mata mereka menyempit ngilu, atau raut yang tiba-tiba melengos, juga kepala yang tertunduk. Atau bahu yang ditarik ke belakang dengan berat supaya kepala tetap tegak. Selama dua puluh lima menit itu, saya menerima empati mereka yang tidak pernah ada di jalan pengembaraan Sumarah: mereka orang-orang yang menjauh dari negeri sendiri, yang menyebut Indonesia sebagai sesuatu yang asing. Sumarah selesai. "Saya siap mati", katanya. Pasrah, seperti artinya namanya.Tapi ada yang tidak selesai. Ada banyak komentar yang saya terima setelah itu. Saya menerima jabat hangat, pelukan dan ciuman pipi seusai pementasan. Pertanyaan seorang bapak yang menemani saya di awal malam ketika belum banyak tamu datang, menghentak saya: "Jadi sekarang boleh membicarakan hal-hal seperti itu di Indonesia?" Pertanyaan itu membuat saya tahu, bahwa untuk banyak orang, perjalanan ke negeri asing terkadang bukan pilihan, tapi keterpaksaan. Malam itu saya merasa sangat beruntung, bisa pulang ke negeri sendiri dan membayangkan tangan-tangan hangat yang siap mendekap. (p!) *Citizen reporter Luna Vidya dapat dihubungi melalui email lunavidya@gmail.com |
| Beri Komentar| Jumlah Komentar (29) |
|
| Komentar :24-02-2009 Dari : tentrem lestari | tentrem_smantid @yahoo.com hai luna .saya tentrem lestari penulis naskah monolog Balada Sumarah. beberapa berita pementasan Balada Sumarah ku ikuti. Makasih ya ..atas apresiasinya .Kalo Luna berkenan kirim foto-foto pementasan di emailku .trims 31-01-2009 Dari : tita | titayanto@yahoo.com quite a piece, Non. congratulations! 25-12-2008 Dari : ardadi | diwanua@gmail.com hebat mentongi tauwwa. sukses buat jeng Luna.... 23-12-2008 Dari : ikha | moigreen@yahoo.co.id selamat...selamat kk!!! makin sukses aju ya bu....... bagussssssssss he..he -au revoir- 22-12-2008 Dari : tourist | setelah marsinah, rupanya ada sumarah ya? dan mungkin: 'itu belum yang tak sempat disebut'. negeri ini hebat betul ya? he he 22-12-2008 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com sms yang saya terima malam ini dari seorang teman di solo, tyas namanya: SUMARAH (bhs. jawa), pasrah kepada tuhan. sms dari suprapto suryodarmo, pendiri dan pengelola padepokan 'lemah putih': SUMARAH adalah pasrah dgn rasa bertanggung jawab, bukan apatis, atau tidak loyo atau mopo (mandeg); melalui sumarah seseorang mengembangkan daya terima lewat kepekaan. 22-12-2008 Dari : rose | ros@gmail.com Congratulations..... 22-12-2008 Dari : rose | ros@gmail.com wooooooooooooooooooo oow 22-12-2008 Dari : Muhammad Ridwan Thahir | info@muhammadridwanthahir.com SUMARAH Su = Soe = (bahasa Jawa) artinya baik Marah = ya, marah jadi Sumarah adalah "marah yang baik" sama dengan SUMARAH itu sendiri yang punya kemarahan yang baik. 22-12-2008 Dari : Muhammad Ridwan Thahir | info@muhammadridwanthahir.com Diralat: SUMARAH bukan SUMIRAH tapi kayaknya mirip ya. Hi...hi...hi. Sekali lagi SALUT buat Luna. Ciao!!!! 22-12-2008 Dari : Muhammad Ridwan Thahir | info@muhammadridwanthahir.com Salut buat Luna! yang berani tampil beda di depan panggung di salah satu Kota Utama Dunia, Paris. Tapi potret Sumirah adalah potret Indonesia itu sendiri. Potret negeri yang terporak-porandakan oleh orang Indonesia sendiri. Sumirah hadir disetiap sudut kehidupan di negeri yang kata ekonom hampir bangkrut. Itulah Kenyataan Hidup yang harus dihadapi bahwa terkadang kita harus HIJRAH dari tanah kelahiran untuk mencari HIDUP yang lebih menjanjikan. Mungkin potret hidup SAYA adalah potret SUMIRAH dengan alur cerita yang lain. Saya merasa sekarang hidup di ANTARA DUA DUNIA yang saling bertolak belakang dalam banyak hal. Satunya Negeri Indonesia yang telah membesarkan saya dan satunya lagi Negeri Belanda yang memanjakan saya. Sekali lagi salut!!! Oh iya Luna, senang bisa ketemu dengan kamu dan famili serta Lily di Amsterdam. Gezellig kata orang sini. Oh iya, apa RED LIGHT DISTRIKNYA AMSTERDAM bisa masuk di PANYINGKUL nggak??? Hi..hi..hi. Kirim dong foto-fotonya ke emailku. Saya tunggu, loch! Salam lagi! 22-12-2008 Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com Penampilannya oke punya Jeng...Kapan kita duet? "duelogi" hahaha. 21-12-2008 Dari : halim hd. | hlimhade@yahoo.com U/ DAEANG RUSLE: masalah sumarah, bagi saya, bukanlah masalah ketiak sendiri yang berbau atau diciumi dengan romantisme. jika kita merasa bahwa masalah sumarah adalah masalah kemanusiaan, maka soalnya bisa kian melebar keberbagai wilayah warga yang bukan hanya di nusantara saja, tapi juga diberbagai penjuru. dan hal itu tidak bis dditutup-tutupi dengan jenis bungkusan apapun juga. missisipi burning, film yang berulangkali saya tonton, adalah bukti dari peristiwa sejatah sosial yang berusaha untuk membongkar lobang hitam sejarah amerika. dan di cina, jerman, india-pakistan dan berbagai negeri lainnya; sangat mungkin di nusantara akan ada banyak bukan hanya pembocoran tapi mengungkap lebih dalam masalah kemanusiaan ini, dalam bentuk jurnalisme, cerpen, novel, biografi dan sejarah. buku john roosa, tentang pembantaian tahun 1965-68 adalah upaya untuk mengungkapkan fakta sejarah sosial politik di negeri kita; dan kita tunggu untuk kesekiana kalinya usaha untuk membongkar lebih dalam ssoal peristiwa pembantaian oleh pasukan westerling di sulsel. dalam suatu obrolan ditahun 1980-an, dalam kunjungan ke rumah pak pram, seorang teman bertanya, bagaimana untuk menuliskan sejarah. pak pram menjawab, kemanusiaan dan keberanian. kemanusiaan tanpa keberanian, katanya hanya melahirkan keluh kesah. saya pikir, hal ini mirip seperti yang dikatakan oleh nelson mandela. dan keberanian nelson mandela adalah bukan hanya mengungkapkan, tapi juga berani untuk memaafkan namun tak melupakan apa yang pernah terjadi. belajarlah dari yang pernah terjadi, katanya, dan mari kita melangkah ke depan untuk rekonsiliasi. 21-12-2008 Dari : jimpe | saintjimpe@gmail.com kerennya! makin lancar ya jeng, ... merebak dan semerbak :-) 21-12-2008 Dari : dirmansaad | sudirmansaad@yahoo.com Luna, kamu HEBAT! Tema ANAK PKI dan TKI sekaligus dalam satu monolog. Bisakah ada apresiasi dari komunitas Panyingkul! Misalnya Panyingkul! Award 2008. 21-12-2008 Dari : syamsoe | syamsoebalha@gmail.com fiuhh.. foto yang hebat 21-12-2008 Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org Kita sudah sangat terbiasa untuk berusaha menutup hidung dari ketiak orang lain, namun secara sembunyi2 menciumi ketiak sendiri. Seberapa asam dan asin ia ketika berjarak hanya puluhan senti dari hidung. Sumarah mungkin adalah ketiak kita sendiri, kita sering membauinya, terkadang dengan romansa rindu. Tapi kita lebih sering menganggapnya hanya milik sendiri, padahal ia bisa mengganggu orang lain. Mari kita bungkus cerita Sumarah seperti kita menciumi bau ketiak orang lain, yg serta merta kita ingin segera sodorkan deodoran untuk di'sembuh'kan. 20-12-2008 Dari : idha | idhariu@yahoo.com Usah lah kita berhitung secara nurani kemanusiaan, cukup lah dengan hitung-hitungan ekonomi matematika: berjuta Sumarah yang ada membuat perekonomian di negeri asing bernama Indonesia bergerak dengan konsisten. Pertanyaannya: mengapa kita tetap mengesampingkan apa yang telah dihasilkan oleh Sumarah-Sumarah tersebut? Kapan kah kita bisa mengakui apa yang dilakukan para Sumarah merupakan pekerjaan profesional walau pun tanpa ijazah sekolah tinggi? Sumarah yang perempuan, yang terpinggirkan, yang terlecehkan, yang penuh tanggung jawab meluruskan nasib, yang selalu berusaha mematahkan tiang kemiskinan ... yang pekerjaannya tidak pernah tercatat sebagai sebuah 'profesi'. Selamat Sister Luna! 20-12-2008 Dari : nilam indahsari | nilam_indahsari@yahoo.com luvly one :) 20-12-2008 Dari : koko | lekopr@gmail.com ...ayaknya menara eiffel rada-rada goyang and gemetar kali yeee dengar raungannya sumarah ...kapan di makassar (lagi-lagi dengan huruf 'm' kecil) ada pertunjukan yang bisa mentertawakan hidup yang fana ini? yang bisa jadi otokritik dalam keseharian kita? 20-12-2008 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com bukan maen, luna, anda menuliskan pengalaman, yaaa pengalaman anda, bukan sekedar pementasan, bukan sekedar review. matur sembah nuwun. 20-12-2008 Dari : Armin Hari | artsuru@gmail.com sebenarnya tidak ada komentar untuk tulisan ini. nda ada pi yg kalahki Jeng Luna kalo urusan ini. selalu ada bagian ta yg ia lakonkan dalam monolog. salama ki tue Kak Luna... 20-12-2008 Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com Saya mau tulis ucapan selamat dalam bahasa parsi, "Barakallah, che qadr kor-e khub anjom dodid, umid woram keh ba'ad mituni behtar az in kor mikunid, muaffaq bosyid dusyton !!! salamat bosyid :-) 20-12-2008 Dari : -ellie- | wairatta@yahoo.com Hoi Ka Lun..welkom thuis en ook dank je voor het verhaal. Heel erg interessant om dat te lezen!! Uitstekend!! 20-12-2008 Dari : iv@n | ... brAAAvOOO ! kapan ya mentas di kantor lurah baranglompo bersama ibu2 penganyam jaring :) 20-12-2008 Dari : Sudirman Nasir | sudirmannasir@yahoo.com selamat luna. selamat. 20-12-2008 Dari : anbhar | andhy2@gmail.com selamat atas pementasan monolognya (rock) 20-12-2008 Dari : Mustamin al-Mandary | Ralat: "Sayang sering geram sendiri..." menjadi "Saya sering geram sendiri...." 20-12-2008 Dari : Mustamin al-Mandary | mustamin.almandary@gmail.com Sebuah cerita perjalanan yang indah Sister Luna. Dan sebuah potret, tentang Samarrah, yang saya yakin masih banyak disana: Samarrah-Samarrah lain yang ditindas dan tidak-di-manusiakan. Sayang sering geram sendiri mengingat penindasan atas nama negara, yang dilakukan oleh penguasa di masa lalu (sekarang juga mungkin masih ada, dgn modus yang lain). Para penindas itu, tidak pernah saya doakan baik-baik. Ingin rasanya kembali ke masa lalu dan juga melempar muka para penguasa itu dengan sepatu sambil berujar, "ini untuk Samarrah". |
sumber: http://www.panyingkul.com/view.php?id=1025
Ada yang Berpuasa di Rumah Kami
Tuesday, March 6, 2012
Pohon Pinang di Pekarangan
Kutipan dari postingan itu:
"Kita, orang Papua generasi sekarang, cenderung melupakan kewajiban dan tanggungjawab kita terhadap kelanjutan hidup generasi generasi berikutnya dan sedang mengobral habis kekayaan bersama itu untuk kenikmatan diri sendiri.
Gejala ini sudah mulai tampak di daerah perkotaan di seluruh Tanah Papua. Kelompok klan atau suku tertentu sudah menunjukkan tanda tanda kehilangan tanah adatnya. Generasi barunya sedang frustasi berat dan melarikan diri ke minuman keras karena merasa tidak memiliki masa depan lagi."
Saya punya pendapat yang sama mengenai keberlanjutan generasi di Papua. Sudah tidak bisa 'ngeyel' lagi bahwa perlu tampil generasi dengan komitment kuat bagi masa depan Papua. Ini bahkan sama sekali tidak ada hubungan dengan isu politis. Ini soal mentalitas, ini kajian antropologi dari wilayah sekitar tungku saja.
1. Perlu tampil generasi yang mengelola hak-hak individunya sebagai komunitas.
Jelas di ingatan saya, bahwa 'kampung'- kampung di jalan Sentani- Ifar di masa kecil saya, adalah pemukiman klan. Beberapa rumah panggung dengan pekarangan terbuka di tengah dan satu dua pohon pinang. Pemandangan yang sama yang saya rekam, ketika mengunjungi Waisai di Kabupaten Raja Ampat. Kampung-kampung itu disebut dengan nama keluarga. Ada Kampung Sawaki, misalnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketika mulai sering kembali ke Jayapura kampung-kampung yang saya ingat di masa kecil itu sudah menghilang. Kemana mereka? Ruas jalan Sentani- Ifar Gunung itupun telah menjadi jalur yang hampir separuh dikawal oleh perumahan. Perumahan yang dibangun merapat ke tepi jalan. Ada persoalan apa dengan pekarangan yang luas dan rindang dengan satu dua pohon-pohon pinang?
Dugaan saya, mereka menukar komunitas dan kebersamaan dengan hak individu untuk menjadi bagian dari masyarakat 'modern', maju. Sebuah pencapaian yang secara salah diidentikkan dengan kemampuan membeli. Membeli rumah batu, membeli motor, membeli mobil, membeli perempuan dan membeli minuman keras. Membeli dan mabuk oleh kepedihan lain yang datang bersama 'kemajuan' itu: kekuasaan.
Kekuasaan (dalam sistem politik) yang teranut saat ini di Papua sama sekali bertolak belakang dengan semangat yang membangun struktur masyarakat klan. Sebagian besar kita mau tidak mau harus merujuk pada sistem itu. Tentu tidak berarti kehadiran sebuah sistem lalu menjadi mataair kesalahan. Tidak ada yang salah dengan sistem itu. Sebab lebih dari sekedar sebuah intervensi sistem politik, kita semua dijajah sampai ke dalam ruang tamu oleh ide globalisasi.
Yang terjadi adalah ide modernisasi, globalisasi telah membentuk sebuah generasi yang gamang. Generasi yang berusaha seragam dengan indikator kemajuan yang ‘asing’: besarnya kapital, dan tajamnya kompetisi individual. Padahal, spirit klan itu yang menjadi roh hak individu Orang Papua. Klan adalah mentalitas: sebuah cara pandang ketika hak individual melebur dalam belanga komunitas. Sadar atau tidak. Tak bisa mengelak dari serbuan globalisasi, semangat klan ini semakin menyusut ke dalam keluarga batih atau paling tidak keluarga luas.
Semangat klan itu harus dikembalikan. Individualitas perlu kembali disuarakan sebagai suara klan, yang istilah kerennya : komunitas. Suara yang keluar dari pekarangan terbuka, kemana pintu-pintu rumah mengarah.
2. Pemegang Saham dan Pendukung Kepentingan
Masih dari postingan yang sama:
Ingat! Orang Papua Tanpa Tanah dan Tanpa Hutan serta Lingkungan Alam yang Lestari akan menjadi ORANG ORANG YANG PALING MALANG DI TANAH KELAHIRANNYA SENDIRI.
Kecuali! Dari hasil penjualan hutan dan tanah itu, Orang Papua sudah menjadi KAPITALIS atau dari hasil penjualan tanah dan hutan itu Orang Papua sudah BERHASIL MENYEKOLAHKAN GENERASI BARUNYA menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga MAMPU BERKOMPETISI di era globalisasi.
Saya tidak terlalu setuju dengan 'dorongan' untuk menjual tanah -meski dengan harga tinggi.
Menurut saya yang harus didorong adalah kepemilikan bersama, seperti semangat yang dulu membentuk kampung-kampung. Artinya sebagai komunitas dalam arus trading global sekarang, pemilik tanah adalah pemegang saham (stockholder) dan pendukung kepentingan (stakeholder) dari aktivitas apapun di wilayah itu. Ini mencakup seluruh kegiatan pembangunan maupun peningkatan ekonomi. Yang dimotori pemerintah maupun sektor swasta.
Untuk membangun jalan tol misalnya, perlu dibangun mekanisme yang memungkinkan kampung-kampung yang dilewati, juga menjadi pemegang saham investasi itu. Mereka (dan kemudian anak-anak cucunya) berhak atas retribusi penggunaan fasilitas.
Rumit? Saya pikir yang dibutuhkan ‘hanya’ database kampung yang rapih dan cermat. Tentu saja kerja ini akan memerlukan investasi yang besar. Sumber daya, dana, akan jadi alasan. Utopia database kampung yang ada dalam benak saya adalah sebuah produk kerja bersama teman-teman LSM, para fasilitator RESPEK.
Database yang rapih dan cermat ini akan menjadi semacam social garantie masa depan generasi yang akan datang. Yang menjamin bagi hasil share investasi atas penggunaan tanah ulayat. Bahwa tanah di mana tumbuh ruko, mall, perkantoran, sekolah adalah investasi komunitas, sumber dana abadi komunitas, bukan individu. Investasi klan. Berbasis kontrak bisnis. Bahwa mereka masih pemilik sah tanah warisan mereka, sebagai sebuah klan. Bukan penonton, atau korban yang gamang dari lindas maju buldoser globalisasi*
Tapi jangan menutup mata bahwa penting untuk mengawal semua perubahan ini dengan pendidikan. Untuk penduduk di kampung, saya memilih gereja untuk terlibat melakukannya. Pilihan ini menimbulkan pertanyaan: Apakah Yayasan Pendidikan Kristen yang mengasuh sebagian masa pendidikan dasar saya dan tempat orang tua saya mengabdikan diri masih punya visi yang sama ? Visi yang saya coba lihat dari sekolah berasrama untuk guru-guru SD, SGB YPK Ifar Gunung tempat orang tua saya mengajar? Asrama-asrama yang kemudian kosong, tanpa murid dan kami kemudian pindah ke kota?
Saya masih percaya bahwa pendidikan untuk orang Papua perlu melibatkan gereja. Sama seperti saya percaya bahwa jumlah penjual buah pinang di emper toko di sepanjang pertokoan Imbi di Jayapura, menunjukkan masih ada pohon pinang yang tumbuh di pekarangan. Mungkin tidak di pekarangan rumah anda, tapi di tempat lain dengan pekarangan terbuka yang rindang.
Kerja besar ? Ya. Itulah yang disebut panggilan untuk mengabdi dan itu wujud komitment untuk masa depan Papua: menyiapkan sesuatu yang tidak kelihatan, yang tidak serta merta jadi sorotan, tapi tetap harus dikerjakan. dan dikerjakan mulai sekarang.
Bagaimana?
*buldoser globalisasi - film Avatar, sutradara: James Cameron
Wednesday, September 28, 2011
Jejak
Bukan cuma sajak itu, yang ada di meja kerja. Ada juga selembar kulit jeruk pemberianmu. Tentu saja bukan kulit jeruk kering dalam tempayan kaca yang kau berikan. Lembar coklat dengan semburat hijau itu adalah jejak buah utuh yang kau antarkan, ketika menjengukku di rumah sakit.
Tentang kulit jeruk itu kutulis puisi ini:
meski kering,masih lentur kulit musim di genggamku
sisa yang kusimpan
ketika sebuah rasa kau kupaskan untukku.
kulepaskan jemari dan membiarkan musim pergi
karena kita telah berdampingandi keluasan entah,
pun kau tak bisa menyangkalinya.
October 2007
Sering kali, kulit jeruk kering itu sengaja kuletakan disebelah mouse pad. Supaya setiap kali tersentuh, akan tersengat ingatan padamu. Pada empat peristiwa kau memegang tanganku. Ya. saya menghitung hal-hal seperti itu, dan setiap kali tersentuh kulit jeruk itu, saya juga ingat pada kenyataan bahwa tangan kita saling menggenggam karena kau tidak mengelak. Wah.Ilusi tumbuh dari sana. Dari hal-hal yang cuma satu dua detik itu. Yang bahkan tidak kau maksudkan, barangkali. Tapi lihat apa yang terjadi padaku: aku merasa kau telah memberikan dirimu, untukku.
Aih.. tangan,ji...* sesekali kebinalan mencela.
Ya. Mungkin cuma 'ji' buat beberapa orang, tapi denganmu, itu sudah segalanya. Tapi diam-diam, dalam ketidakberdayaan yang kudus itu, aku masih berharap ada kecelakaan-kecelakaan kecil seperti kau lupa menarik tanganmu, dan aku menggenggamnya lebih lama dari yang sepatutnya.
Juga kepada jejak di secarik karcis parkir,aku pergi. Karcis parkir yang kau tinggalkan untukku, saat satu malam kau pergi membawa kerinduanmu buru-buru. Meninggalkanku di restoran dengan menu pizza dan pasta itu. Kali itu, kita bertemu untuk ke empat kalinya. Janji bertemu di situ. Janji temu kita lebih sering di warung kaki lima. Untuk sepiring nasi kuning di pagi hari, atau secangkir teh di awal malam.
Ketika esoknya kau menelpon dan bertanya tentang karcis itu, barulah kusadari, ada sesuatu yang istimewa di karcis itu. Karcis parkir yang kusimpan, karena kau pasti telah meninggalkannya untukku. Semalam pikirku untuk memberitahu, bahwa kau telah membayarkan ongkos parkir untukku. Apapun alasan yang membuat secarik karcis itu ada dalam dompet, kenyataannya ia telah kusimpan sebagai jejak. Jejak kebersamaanku denganmu.
Mengambil karcis parkir dari dalam dompet, kutemukan: "Nice 2 meet your eyes" tulisan tanganmu. Ilusi tentangmu melingkarkan sulurnya kembali. Tulisan itu terbaca: 'aku rindu.'
Tapi begitulah, selalu terjadi, kehadiranmu di sekitar meja kerjaku menjadi sesuatu yang lumrah dalam gulungan waktu. Kulit jeruk itu, sudah lama tersimpan di wadah kaca, tempat kukumpulkan batu dan kerang dari perjalanan penyelaman. Setelah beberapa lama tak lagi kutengok puisi itu. Meski selalu ada di depan mataku. Hal yang tak terelak atas sebuah rutinitas. Sampai sesuatu memaksa kita berhenti dan melihatnya kembali. Untuk sajak pemberianmu, plafon yang bocor. Setiap hujan datang, dari bocor di plafon, menetes air. Pada sebuah garis irisan antar sudut jatuh tetes air dengan letak paper folder, satu titik air jatuh menimpa puisimu. Percikannya menebar di atas kertas, melunturkan tinta.
Tinta yang pudar, jejak kebocoran pada puisi itu memberitahu bahwa selalu ada kemungkinan kehilangan dirimu. Terhadap datangnya kemungkinan itu, mestinya aku tidak perlu tersentak. Betapapun biasnya pengertian "kehilangan" itu, aku tahu rasa hampa akan beradu bahu dengan keangkuhanku untuk mencari alasan tetap bertahan.
javascript:void(0)
Selalu berulang. Seperti musim. Hujan akan terus datang, meski telah kusingkirkan paper holder itu dari titik jatuh air, noda pada kertas akan terus ada. Menjejak. Meski aku tak lagi menelusurinya dengan rasa yang sama, jejakmu mengingatkanku kau ada, My.
*ji dalam bahasa Makassar adalah penekanan yang dibuat untuk merendahkan. Seperti 'cuman segitu aja kok'
3 Des 2008
Monday, September 12, 2011
Dinding Cermin, Pintu Putar dan Lelaki yang Menulisinya
*dengan revisi :)
Memikirkan Aan hendak pindah rumah, saya menyambanginya dengan semacam truk kosong seperti yang bisa kita sewa untuk keperluan semacam ini. Truk kosong keingintahuan, dan harapan pada "barangkali ada sepotong dua potong perabot yang tidak ingin digunakannya lagi". Perabot terabaikan, yang dapat saya bawa pulang. Kebiasaan saya pula.
Berbekal catatan yang Aan berikan, saya mencari rumah baru itu, pada sebuah potret. Potret dari sebuah rumah di kampung Lassanglassang Jeneponto. Sebuah rumah dengan halaman tak berapa luas, dan beberapa jendela di sisinya. Sebuah rumah di bawah rimbun daun kelapa dan pohonan lain. Dikitari sawah. Langit biru, awan putih. . Kepada dan ke dalam potret itu saya mencari Rumah Lama, Rumah Kenangan . Rumah yang saya kira ingin Aan tinggalkan.
Beberapa waktu menyusuri jalan, saya tidak menemukan rumah seperti di potret itu. Saya menemukan papan petunjuk. Taman Depan. Rumah Lama, Rumah Kenangan. Rumah Hati, Rumah Persembunyian. Rumah Baru, Rumah Kegaduhan. Rumah Waktu, Rumah Perjalanan.Taman Belakang. Dipancang seperti tanda nama jalan. Pada sebentuk pintu. Tapi rumah seperti pada potret yang saya miliki, yang saya jadikan peta menemukan rumah baru Aan, sama sekali tidak saya temukan. Plang – plang yang diletakkan begitu rupa sehingga kau merasa dikitari sekaligus mengitari. Perasaan yang sama ketika berada di sepotong kecil wilayah Raja Ampat.
Ke dalam semacam pintu itu, saya perlu melongok. Bukan sekedar melintasinya. Jadi saya pun berhenti, di Pintu hati, Pintu persembunyian. Melongokan kepala lewat pintu itu, yang mestinya terkatup senyap- sebagaimana seharusnya tempat persembunyian- saya mendengar percakapan yang riuh. Pintu itu mengantar saya pada semacam ruang tunggu. Berdinding cermin. Ada sepasang kekasih, ada seorang ibu, ada seorang anak kecil, ada seorang lelaki yang terus mengamati pintu, dan jendela di sekitarnya serta mencatat. Ia membuat catatan pada cermin.
Barangkali tidak banyak orang dalam ruang tunggu itu, pun tidak luas. Tapi cermin pada dinding telah melipatgandakan jumlah orang dan luas ruang itu. Barangkali lelaki itu adalah semuanya, sepasang kekasih, seorang ibu, anak kecil yang ulang berulang mengejar bayang seseorang yang dipanggilnya ayah, ke pintu. Barangkali ia memang tidak mencatatkan peristiwa sepetak sawah hijau, rumah di bawah rimbun pohonan, awan putih, langit biru seperti potretku. Tapi ia telah mencatatkan peristiwa bertanya dan mempertanyakan, milikku. Barangkali semua peristiwa itu, yang saya lihat pada cermin, sebenarnya terjadi di sini, di luar pintu ini. Di dalam diriku. Lelaki dalam ruang itu telah mencatatkannya untukku.
"saat dibaca, kata-kata berkaca pada telaga mata penyair. Ia melihat dirinya berubah menjadi puisi.." (Puisi yang mencintai dirinya sendiri)
Pergi ke plang terdekat, terpikir barangkali saya seharusnya meninggalkan potret rumah di Lassanglassang dalam kepalaku di halaman depan. Potret yang sama sekali asing. Meninggalkan pintu persembunyian itu, di cermin, melintas plang Taman Depan, berhimpit punggung dengan Taman Belakang. Seperti kembar siam, yang tidak identik.
Di Rumah Baru, Rumah Kegaduhan saya berhenti. Pintu menguak yang sepi. Seorang lelaki yang digerakkan gelisah bergerak dari pintu ke jendela. Dari jendela ke jendela. Ada banyak jendela. Berdinding cermin. Di cermin itu, saya membayangkan antrian panjang orang di depan toilet umum, kebelet mau beol. Atau antrian panjang orang lapar di depan pantri sebuah kapal penumpang untuk mendapat jatah makan pagi . Sepotong telur dadar yang terlalu tipis dan terlalu sedikit. Ada jendela yang membentang ke arah kota, ada jendela yang mengirim suara perang. Kemarahan, kobar api. Jendelajendela itu, mengantar rasa lucu yang sengsara.
"Maka begitulah: kita tak bisa bercerai meski kita terus saja berkelahi". Lucu bukan? Pun sengsara.
Kupikir, tentunya ia lelaki yang sama. Lelaki dari rumah yang gaduh itu. Karena lelaki ini pun, mencatat peristiwa mempertanyakan dan bertanya. Mencatatnya pada cermin di dinding. Hanya kali ini antara ia, peristiwa dan pertanyaannya. Juga berusaha menambahkan asumsi disana sini. Begitu sepi ruang itu. Meski pada cermin, siapa pun bisa menangkap kegaduhan gelisah yang ditulis lelaki itu. Ia sampai-sampai berencana pindah rumah.
"Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh!, " katanya.
Pikir saya, "pindah rumah?." Terdengar seperti rencana Aan. Lelaki yang mencatat itu, Aankah dia? sudah sampaikah saya di tujuan? Saya menegok sekeliling, tak ada tembok atau papan yang ada cermin. Cermin yang mengaburkan batas dan kapasitas ruang. Melalui cermin itu saya melihat laut, sungai, pohon, ladang, padang, langit, laut, jalan, langit lagi, bulan, ruang-ruang, atap kota-kota, pohon. Juga bayangku.
Saya lalu membalik kembali catatan tentang petunjuk yang telah diberikan. Saya tahu saya punya pilihan, untuk sampai ke pintu berikut . Menyusur jalan di depan atau menerobos masuk lebih jauh ke balik pintu. Saya hampir yakin, dengan menerobos saya akan sampai di pintu berikut. Pintu mana saja. Bahkan kepada ke dua taman.
Dengan berandai-andai, lelaki yang menulisi dinding itu adalah Aan, saya membuat catatan kasar. Catatan yang saya buat tentang apa yang saya temukan, alami, ketika berada di kesempatan mencoba menemukan rumah baru Aan. Bukan dari kesan terhadap sebuah potret asing. Saya perlu menulisnya sebelum menerobos ruang kegelisahan lelaki yang menulisi cermin itu. Barangkali karena saya takut pada kemungkinan hilang di dalamnya. Di dalam dan di antara cermin.
Pada dugaan bahwa kegelisahan ini sebenarnya adalah jalan buntu, tapi juga sebuah kemungkinan bahwa saya bisa sampai ke mana saja, saya seakan berhadapan dengan gerumbul belukar. Gerumbul belukar di pekarangan rumah masa kecil. Sebuah "hutan" dalam ingatan kanak-kanak saya. Meski untuk ke tiga saudara tuaku, wilayah itu cuma gerumbul semak. Di "hutan" itu, tinggal banyak ular coklat muda tanpa bisa dan buta, biawak, segala macam serangga , pula beberapa jenis burung bersarang disana. Di antara ilalang yang memenuhi lantai "hutan", di antara batang-batang limabelasan pohon lamtoro. Gerombol semak itu adalah undangan kepada petualangan yang terus mengikuti keingintahuan saya, hingga sekarang. Undangan kepada petualangan. Undangan untuk melakukan perjalanan.
Petualangan dan perjalanan. Keduanya berputar pada poros waktu, seperti ketika hendak menyambangi Aan di rumah barunya. Ketika menyusurinya, saya tidak ingin lagi menyelesaikannya. Menyelesaikan perjalanan itu dengan keinginan seorang pemburu. Saya memang, sampai di halaman belakang. Keterangan tentang taman belakang itu, beradu punggung dengan halaman depan. Saya benar, rupanya. Rumah lelaki yang menulisi dinding itu, pintunya menguak ke mana saja, dapat dimasuki dari mana saja. Rumah yang kupikir akan selalu baru, karena ia tumbuh. Saya tinggalkan pintu itu. Pintu tak berbatas.Sebuah pintu putar, yang menguak kemana saja.
Kemana? Seperti kata lelaki ikan di balik pintu persembunyian itu: ada saja pertanyaan ditakdirkan sia-sia. Hanya saya mungkin perlu membuat janji temu dengan Aan, untuk bertanya.
"Lelaki di rumah tumbuh, dengan pintu putar, dan dinding cermin itu, engkaukah An?"
Saturday, September 3, 2011
selamat, sekarang giliran menunggu..
Saya sejak lewat tengah malam, lalu kemudian setelah bangun siang tadi, menyempatkan mengirim ucapan selamat ke teman-teman yang merayakan Idul Fitri. Entah merayakan hari ini, atau besok atau lusa itu tidak penting, atau lebih benar lagi, tidak saya pentingkan.
Ketika menulis dengan berbagai pendekatan dan struktur kalimat Selamat Idul Fitri, supaya ucapan itu terasa dikirimkan dengan niat mengucapkan, bukan semata menggugurkan kewajiban dan bentuk "penghargaan" kepada yang merayakannya, saya tiba pada kerinduan untuk mengirimkan ucapan selamat ke seorang teman. Teman yang menandai kisah hubungan yang melapuk.
Hubungan yang lapuk adalah hubungan yang sulur silahturahminya membusuk. Rusak. Baru saja atau sudah mulai disaput debu ketidakpedulian bukan alasan. Kata orang, waktu menyembuhkan. Time heals.. benarkah? Kayaknya tidak. Selalu dibutuhkan keputusan untuk menanggalkan bagian yang membusuk dari hubungan itu, atau mencoba mengorek keluar ulat dan mnembiarkan alam mengerjakan bagian (pemulihan)nya. Pada kesempatan seperti ini, saya punya pilihan untuk tidak melakukan apa-apa. Tidak mengirimkan ucapan misalnya. Pura-pura lupa. Dalam situasi seperti ini, siapapun akan merasa diselamatkan oleh pesan-pesan broadcasting, atau ucapan yang diproduksi oleh prosedur: select, copy, paste atau forward. Sesaat termasuk saya.
Cukup lama saya mempertimbangkannya. Ketika saya putuskan untuk mengirim ucapan selamat Idul Fitri untuknya, saya lakukan dengan kesungguhan yang sama: "dari LV" dan "untukmu". Ketika mulai menulis pesan itu, saya hanya berkonsentrasi pada kebaikan-kebaikanya yang hilang ketika hubungan kami mulai melapuk, seiring sulur komunikasi kami membusuk. Saya putuskan membiarkan kerinduan mengalir, dan tidak melawannya.
Saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, dan mengucapkan selamat juga untuk kebersamaan yang dicatatnya selama Ramadhan tentang anak-anaknya. Catatan tentang pengalaman menjadi orangtua dan menemani anak-anaknya menjalani Ramadhan. Bagaimana sebagai keluarga mereka menempuh Ramadhan. Sebagai orang tua, sejak awal, saya pikir itu hal yang luar biasa. Membuat catatan. Tapi tentu lebih dari sekedar catatan kemudian, jika catatan itu lahir dari seorang ayah, atau seorang ibu, ketika menemani putra-putri mereka menanam benih ibadah di ladang kehidupan.
Ketika menulis untuk menandai Selamat Idul Fitri, ucapan itu merekah, melahirkan visualisasi ini dalam benak saya. Saya bayangkan kaki-kaki kecil anak teman saya menyusur bedeng-bedeng ibadah di sepanjang Ramadhan. Mengisi lubang di bendeng itu dengan kewajiban. Sesekali bertanya.
Tentu saja bayangan itu tidak mucul begitu saja. Ia datang dari pengalaman masa kecil. Menanami halaman belakang rumah kami di Ifar Gunung. Di sana saya belajar menanam nenas, singkong, keladi. Pengetahuan yang tidak saya gunakan sekarang, dan tak bisa ditularkan ke anak-anak saya. Tapi ia tetap saja, pengetahuan. Mengendap dan "lengkap" mengingat pengalaman yang menyertainya.
Ramadhan adalah ladang, barangkali. Anda diberi kesempatan menggarapnya selama kurang lebih 30 hari. Setiap orang saya bayangkan mengerjakan petak yang sama, setiap kali berkesempatan menjumpainya lagi. tapi seperti pengalaman saya menanam di halaman belakang rumah kami, kita sendiri yang memilih menanami ladang itu dengan benih apa. Seperti stek singkong, anakan nenas, atau bibit keladi.
Teman saya, dari catatan yang ala kadar sebagai orang tua, menyiratkan ia menemani anaknya menanami ladang itu dengan benih spiritualitas yang telah diwajibkan sepanjang Ramadhan. Dengan sukacita dan semangat beribadah.
Dari bayangan berladang itu dan melakukannya selama 30 hari, saya melihat kebiasaan dan pengetahuan yang terbangun. Terbiasa merujuk perilaku kepada keabsahan saum, sujud, perenungan, dan kebersamaan.
Laku yang mestinya tinggal. Pengetahuan yang mengendap. Seperti saya dan pengetahuan berladang.
Hal lain, dari 'meladangi' Ramadhan, adalah kerendahan hati untuk memasuki masa yang lain bernama menunggu. Saya pikir selepas Ramadhan, adalah saat menunggu. menunggu dengan berbagai kecamuk persoalan, bahwa benih itu akan dituai.
Tapi bukankah kita tidak terbiasa menunggu ? Sebagian besar dari kita setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan? Kalau harus pun, itu dilakukan sambil. Sambil mengerjakan hal lain, sambil mengomel, sambil kesal. Sambil yang ditepis di hari-hari Ramadhan.
Apakah begitu nasib 'ladang' Ramadhan setelah usai menelusur hingga ke ujung?
Ketika tak ada lagi "kewajiban", ketika tak ada lagi bonus kesalehan, ketika perjumpaan kita denganNya berbentur dengan kewajiban kita sebagai ibu, sebagai ayah, sebagai mahasiswa, sebagai pegawai, dan di tengahnya tidak ada ruang keistimewaan apapun, kecuali kebiasaan yang terbangun selama 30 hari itu, ketika sujud kita adalah kerinduan semata. Akankah kita nanar oleh kesibukan sehari-hari dan melupakan bedeng, petak kemurahanNya yang kita, atau bersama anggota keluarga, telah tanami?
Apakah kehidupan kita mengaburkan kepastian bahwa ladang Ramadhan itu akan kita panen suatu saat nanti?
Kalau saudara mempertanyakan "kapan?", saya juga tak tahu. Entahlah. Memanen tomat tak sama dengan memanen durian.
Kemenangan orang beriman adalah ketajaman pandangnya tentang benih dan panen. Sehingga menunggu adalah pertaruhan yang sesungguhnya seorang pemenang sejati.
teman, selamat merayakan Idul Fitri.
kalau saya telah dengan tidak tepat beranalogi.. maafkan. Maafkan lahir dan batin.
salam,
LV
30 Agustus 2011
Tuesday, August 9, 2011
Tu sais je vais t'aimer
même sans ta presence je vais t’aimer,
même sans espérance je vais t’aimer,
tous les jours de ma vie
Dans mes poèmes j’ écrirai,
c’est toi que j’aime
C’est toi que j’aimerai,
tous les jours de ma vie
Tu sais je vais pleurer
quand tu t’éloignera je vais pleurer
Mais tu me reviendras et j’ oublierais
La douleur de m’ennui
Tu sais je souffrirais
A chaque instant d’attendre je souffrirais
Mais quand tu seras lá je renetrai
Tous les jours de ma vie
ini terjemahan versi free translation dari bahasa Inggris
bahkan dalam ketidakhadiranmu kucintai kau,
tanpa harap, aku mencintaimu
sepanjang hidupku
pada puisi yang kutulis,
tergurat dirimu
sepanjang hidupku
Kau tahu airmataku merebak
aku menangis ketika kau pergi
tapi tiap kali kau kembali
terhapus lagi perih kesendirian
Kau tahu aku merana
Di tiap tunggu aku merana
tapi ketika kau hadir aku bahagia
setiap kali sepanjang hidupku
Saturday, September 18, 2010
Mesin Jahit
"Kenapa harus tiga? Untuk apa?" tanya saya.
"Untuk Bum, Jo, sama Jay", jawabnya. Di hari ulang tahunnya, dia ingin memberi hadiah baju untuk ke tiga saudaranya? Saya lebih siap untuk permintaan sebuah perayaan ulang tahun di KFC misalnya atau di restoran cepat saji mana saja, seperti beberapa teman TK-nya. Permintaan umum. Mungkin karena itu lebih 'gampang'. Paketperayaan ulang tahun, tanpa harus repot. Tiga baju baru? Saya samar-samar mencium ide bahwa menghadiahi ke tiga kakanya baju baru, adalah ide hasil provokasi salah seorang dari yang akan diberi hadiah.
Tapi saya menyetujui rencana itu. Kami tidak pernah membahasnya lagi. Lalu semakin dekat hari ulang tahun itu, Ben mendapat ide baru. Dia ingin makan Pizza.
"boleh makan pizza,ma?"
Sudah lama kami tidak makan bersama di luar rumah. Kebiasaan kami keluar untuk makan bersama atau membeli buku, belakangan sudah tidak terjadi lagi. Tidak lagi sejak, ayah mereka jatuh sakit dua bulan lalu. Beberapa akhir minggu kami lewatkan di rumah sakit, menungguinya dan ketika ayah mereka sudah pulang ke rumah pun, kami hanya bisa melewatkan akhir pekan bersama di rumah karena Mike tidak boleh terlalu lelah.
Saya tahu, pada pizza Ben, ada kenangan tentang kesempatan bermain di Timezone, memilih buku mewarnai yang baru, membeli crayon baru, lalu kemudian makan es krim sambil menunggu saya berbelanja. Atau ikut memilih t-shirt di box-box discount Matahari.
Tentu saja, Ben boleh makan pizza. Kami lalu sepakat pada rencana, Ben akan merayakan ulang tahun bersama teman-teman TK-nya. Dengan menu pizza. Lalu malamnya kami akan keluar sekeluarga, makan pizza sepuas hati, lalu membeli baju. Batin saya tahu, saya sedang menebus rasa bersalah pada kesempatan-kesempatan yang terabaikan untuk tetap memelihara kegembiraan mereka. Hari itu saya berencana akan mengambil cuti setengah hari, menemaninya merayakan ulang tahun bersama teman-teman di "sekolah". Begitu rencana saya demi membuat hari ulang tahun Ben tetap istimewa.
Dua hari menjelang hari "H", saya diberi tugas untuk pergi mewakili pimpinan program saya menghadiri rapat di Jeneponto. Tepat pada hari ulang tahun Ben. Yang konyol, ketika mengiyakan, saya lupa sama sekali tentang ulang tahun Ben. Saya baru teringat bahwa hari Jumat yang sama, adalah hari ulang tahun Ben, ketika hendak memasang reminder buat rapat itu, menjelang pulang kantor. Dengan jumlah orang yang sedikit dalam program kami, tidak mungkin meminta orang lain menggantikan tugas itu. Jadi saya merencanakan untuk mengatur delivery pizza ke tempat Ben ber-TK. Toh kami akan makan malam bersama dengan menu pilihan Ben: pizza.
Pada hari Jumat itu, pagi-pagi saya sudah dijemput mobil kantor, Ben masih baru bangun. Saya terlalu buru-buru untuk bilang selamat ulang tahun lengkap dengan doa dan pelukan. Lewat telpon, saya memonitor mekanisme pengantaran pesanan pizza dalam perjalanan ke Jeneponto. Kelihatannya, saya telah mengatur semuanya dengan baik. Bum, panggilan Ben untuk si sulung, akan memotret peristiwa itu. Bum yang saya minta tidak pergi ke sekolah. Mike, dalam keadaan drop -hasil pemeriksaan darahnya menunjukkan gejala yang kurang baik untuk kemajuan pemulihannya sehari sebelumnya- akan ada di sana sekedar hadir, seperti arahan saya. Aman. Every single thing, will drop in its place, pikir saya.
Menjelang sore saya sudah berada di jalan pulang. Dalam keadaan demam. Tanpa sebab. Saya tidak punya keinginan untuk memikirkan sebab musabab demam saya . Saya hanya ingin pulang. Sampai di rumah, saya hanya pasrah digotong ke tempat tidur. Ben kembali terlupakan. Juga rencana makan malam keluarga, hancur berantakan. Saya bangun menjelang subuh. Dengan tubuh basah kuyup. Saya keluar dari kamar, lalu duduk di ruang makan.
Ruang makan kami kecil. Dua setengah kali tiga meter. Di antara meja makan dan televisi yang terletak berhadapan, merapat ke dinding ada sebuah mesin jahit. Bukan milik saya. Milik ipar saya. Sudah lama mesin ini rusak. Bahkan seingat saya sejak mesin jahit itu dititipkan, tali putarannya sudah putus. Merek Singer di badan mesin berwarna hitam itu sudah terkelupas. Posisi mesin pun sudah tidak seimbang. Mesin itu, warnanya, jenisnya, persis seperti mesin jahit mamie. Juga tua seperti dalam ingatanku tentang mesin jahit di rumah kami di Jayapura. Sesungguhnya, itulah alas an kenapa mesin jahit itu ada di sana. Kenangan pada rumah. Mesin jahit itu, selalu mengingatkanku pada mamie.
Dalam kesibukannya mengajar, menjadi kepala sekolah sebuah SMP di Jayapura, mamie masih menjahitkan baju gereja untuk saya hingga saya duduk di bangku SMP. Baju-baju yang membuat saya meradang. Karena baju teman-teman sekolah minggu saya adalah baju yang dibelikan dari toko, sedang punyaku baju jahitan. Suatu siang, saya akhirnya meledak menangis tersedu-sedu, ketika mami menawarkan menjahitkan saya celana panjang dengan warna neon yang waktu itu sedang trend, ketimbang membelikannya saja. “Masa saya harus pake celana yang dijahit, padahal semua yang lain membelinya dari kakak si Ratna?”
Mestinya itu ucapan yang telah menghentikan mamie menjahit sendiri baju-bajuku. Setelah kejadian itu, mami tidak lagi pernah menawarkan jasa menjahitkan saya baju. Kecuali untuk satu peristiwa, waktu saya akan lulus SMA. Sebagai bagian dari pendidikan Kristen, saya di sidi, sebelum makan perjamuan kudus saya yang pertama. Gaun putih yang saya kenakan hari itu, dijahit oleh mamie. Dalam posisinya yang guru mata pelajaran, kepala sekolah dan seorang pengawas mamie menjahitkan saya baju itu . Hampir tiga minggu ia habiskan. Biasanya setelah jam makan malam , dan sepanjang sore di hari Minggu mamie akan duduk di mesin jahit dan mulai menyambung-nyambung potongan kain. Bayangan mamie dan kacamatanya membungkuk di depan mesin jahit, menjepit keliman. Mesin jahit mamie, bermotor. Mesin itu berbunyi di benak. Jerrrrrrrrrrrrrrrr. Jerrrrrrrrrrrrrrrrrr.
Udara dingin menyerbu dari kisi-kisi jendela dapur. Di atas mesin jahit di ruang makanku itu, ada sekotak pizza ukuran personal. Di sampingnya topi kerucut dari kertas koran dengan jumbai kasar warna warni dari kertas lipat. Ah. Ulang tahun Ben. Bagaimana tadi?
Saya lalu teringat mamie, duduk di depan mesin jahit menjelang ulang tahunku. Membuatkan baju untukku. Menyiapkan tart ulang tahun, membuatkan kartu . tapi saya toh tetap merasa tak cukup, waktu itu. Selama tak ada pesta disko, apalah artinya ulang tahun? “Kenapa saya tidak bisa bikinin pesta? Kenapa malah kebaktian rumah tangga?, siapa yang ulang tahunka?” Saya ingat kegusaran saya, di salah satu kesempatan hari ulang tahun.
Bersendiri di ruang makan itu, saya bertanya: cukupkah yang saya beri untuk Ben? Cukupkah 5 kotak pizza yang diantarkan untuk merayakan ulangtahunnya? Mengendapkah kenangan pada cinta mama dalam slice pizza? Di sendiri itu, saya gemetar. Bukan karena sisa demam. Tapi karena gentar pada kenangan tentang cinta ibu. Ibu saya. Mamie. Peristiwa, waktu, cinta ibu, kegigihannya untuk menunjukkan betapa saya begitu istimewa, datang menyerbu. Seperti spatula mesin jahit. Perih sekali. Ada yang menjahitku. Lama saya duduk di ruang makan. Hari sudah terang tanah, pakaian kasih ibuku, ternyata tidak pernah berhenti ia jahitkan ke tubuhku.
sajak mesin jahit
Ben's Birthday 2008