Notes On

Thursday, March 27, 2008

Daun Kelu, Bunga Pilu

Kenapa rasa ngilu ini?

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

22.3

Betapa asingnya dirimu. Betapa cerobohnya saya mengartikan keramahanmu dan pertolonganmu. Itu sama sekali belum berarti seluruh sembuh lukamu. Sama sekali tidak berarti kau merelakan pengampunan. Seperti yang kau "minta" dalam emailmu bahkan.

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

Rasa ngilu itu, mendengarmu membisikan luka yang kutoreh ke hatiku. Karena melukaimu. Kata-kata yang mengalir lancar, dengan nada-nada rendah. Kekecewaanmu.

Lalu kemarahan yang melata diam itu, tanpa pengampunan. Bahwa kau melakukannya untukkku, hal terakhir yang akan kau lakukan untukku. Bahwa engkau hanya "toyboy". Toyboy?

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

Saya perlu waktu untuk mengukur kejujuran sendiri, bahwa engkau hanya permainan. Semata permainan. Betapa menyakitkan hal itu nanti, jika ternyata itu tidak benar. Karena itu tidak mengubah apapun yang saya dengar hari ini. Tuduhan. Asumsi. Dan saya tidak berdaya, tidak berdaya membuktikan kau tidak benar. Saya tidak punya alternative untuk memberi bukti bahwa itu tidak benar, selain mengisi halaman-halaman ini. Yang ada padaku hanya keterbatasan yang tidak bisa saya bengkokan sampai kapanpu, untuk bilang padamu dengan cara apapun , kau telah memenuhi hidupku. Mempermainkanmu, adalah mempermainkan hidupku.

Pada "kau telah memenuhi hidupku" itulah halaman-halaman ini telah mempunyai alasan yang sangat kuat untuk terus ada. Apakah pemaknaan yang kutelusuri ini akan bernilai sama, itu soal lain, yang tidak ingin saya hampiri sekarang. Atau kapanpun. Saya tidak inign melukai diriku sendiri dengan asumsi, kau tidak pernah perduli bahwa ada halaman-halaman hidupku, yang hanya terisi olehmu.

Kau tidak perduli. Kau tidak perduli pada jam-jam panjang di tengah kewajiban ini itu pekerjaan, sebagai ibu, pegawai, dan istri, yang kuabdikan dengan bodoh kepada permintaanmu. "bisa terjemahkan?", atau selalu memposisikan diri sebagai pemohon.

Saya perlahan mulai takut, kalau-kalau nanti dengan angkuh kau akan kembali bertanya, "did I ever ask you to do so?" saya tahu saya telah melakukannya karena saya ingin melakukannya untukmu. Karena saya ingin memberimu dukungan apa saja yang masih ungkin dari segala ketidakberdayaanku. sama seperti pertanyaan : "did I ever hurt you?"
untuk pertanyaan ini pun saya tak punya jawaban selain melihat diri sendiri, yang berlari menyongsong luka, luka yang saya tabrakan sendiri. Karena selain terluka, tak ada cara lain untuk mendekatimu, merasakan kehadiranmu di sekitarku.

Betapa menggoda rasa angkuh , untuk melemparkan ke hadapanmu, jam-jam panjang, dan harapan-harapan yang bertunas di dalamnya itu, dan berbantah denganmu soal : "permainan" dan "I do it for you". Tapi saya memilih untuk menerima bagian ini: kau benar, kau tidak pernah melukaiku –pada kalimat sendu bersembilu di restoran baruga siang itu: "do I ever hurt you?". Harapan dan pengabdianku telah melukaiku. Saya memilih untuk terus menyirami halaman tumbuh ini. Untuk alasan yang terus menerus akan melukaiku, aku mencintaimu.

Saya ingin mengingatnya seperti ini, am not belong here. Here in your heart.


23.3,

Kepedihan itu terus mengikutiku. Terus merobekku. Terpikir, apa yang saya butuhkan untuk menyembuhkan kepedihan ini. Yodium? Atau valium? Atau penghilang rasa sakit sesaat lainnya. Apa yang menyakitkan adalah seperti apapun kebutuhanku untuk menawar rasa sakit ini, ada kesadaran yang kuat bahwa "sesaat" jelas tidak menyembuhkan.

Saya harus menghadapimu,sekali lagi. Saya harus menyongsong luka sekali lagi.

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

saya mencari alasan yang paling logis untuk bisa menjumpaimu. Tapi kau tidak bergeming. Jadi saya mendatangimu di kantor Oxfam. Saya ingin mengingatnya sebagai draft -sesamar mungkin- karena saya tidak punya banyak peristiwa dengan dirimu . Peristiwa di mana saya kehilangan keangkuhan saya, dan hanya menjadi diriku saja. Tanpa rencana dan rancangan. Peristiwa dimana diriku hanya molusca tanpa perisai. Ketika oleh bujukan angin lembut saya keluar dari persembunyian untuk menemukan titian sembilu. Di ujungnya bayang-bayangmu berkelebat. Saya pergi juga menjumpaimu. Melata dengan perut, mengemis kerinduan darimu. Perut terbelah, saya menunggu.

"bisaki ketemuka di luar?" lalu dari seberang jalan melalui jeruji pagar, saya melihat kakimu mendekat. Pintu terkuak, dan dirimu. Senyummu. Tidak sama sekali kau tidak gembira. Dengan segera kegelisahan yang selalu menyergapmu setiap berhadapan denganku muncul lagi. Kau berusaha untuk mengusirku. Apapun alasan itu.

Dengan perut terbelah saya memohon sedikit saja dari waktumu. Wahai..

Apapun percakapan kita nanti, setelah sore itu, saya tidak ingin mengingatnya lagi. Tidak ingin mengingat apa yang kau katakan. Karena semakin ke mari, semakin terasa, kau sedang mempermainkanku. Tapi tentang apa yang saya katakan, saya memilih untuk mengingatnya seperti ini:

Jangan lagi pernah mengusirku pergi dengan alasan yang dicari-cari, karena sudah sepantasnya saya tidak berada di sekitar kehidupanmu.

Kau selalu punya cukup kekuatan untuk melakukan banyak hal. Karena dirimu, adalah kekuatanku dan inspirasi bagiku.

Kau selalu bisa meminta apa saja, dan akan kulakukan untukmu seperti yang selalu berlangsung sebelum ini. Entah bagaimana caranya. (tapi bagian ini tidak pernah akan kau dengar, karena pada prinsipnya, begitu kalimat "penyedia jasa" itu terlontar, saya telah kehilang ketulusan. Saya telah menghianati " kepadamu, aku semua-mua, kepadaku kamu semau-mau."

I'll do my best for you, dan sejak sekarang, karya kreatifku is dedicated for you. Kenapa? Entahlah. Ada seribu alasan bisa kuberi peluang. Tapi saya akan menunggu. Sampai saya mendengar sendiri dari hatiku. Sampai saat saya menemukan ada alasan lain selain ini: aku mencintaimu.


24.3

"sekali nanti, akan kutemukan nama bagi pohon hari

Tumbuhan asing yang kusirami air beras dari petak sawahku

Daunnya pilu, bulirnya kelu. "

Saya ingin mengingatnya seperti ini:

Saya bertemu Mila,dalam perjalanan ke Jakarta untuk event Makkunrai di TIM. Dalam perjalan untuk mendedikasikan "the best for you". Dia menceritakan padaku, "pengaduanmu". Duh. Kau mengadu. Kau mencari sekutu untuk menghadapiku. Duhai. Perihnya.

Jam-jam setelah itu, adalah jam-jam yang hampa. Tidak ada lagi artinya. Saya tidak terlalu angkuh dan keras kepala untuk meniadakan kenyataan itu, bahwa kau mencari sekutu untuk memusuhiku. Mencari sekutu untuk mendapatkan pembelaan. Perihnya. Tidak ada yang dapat mengubah kenyataan itu. Saya tidak bisa menolak kenyataan bahwa pada jam-jam hampa itu, benih keangkuhan telah meruak kulit ari kepercayaanku pada harapan, kau tidak sedang mempermainkanku.

Saya tidak ingin mengingat penampilan semu di TIM itu, sampai kapanpun. Sama sekali tidak berarti.

Saya tergoda untuk memangkas rata, mencabut dan membiarkannya tercerabut dari tanah, perasaan yang semu ini.

Tapi saya tahu, ini juga adalah peristiwa penting, sekaligus indicator kejujuran saya pada diri sendiri, tentang posisimu dalam permainan ini. Permainanmu saya pikir. Jadi lebih tepat kalau: posisiku dalam permainan ini

Jadi inget lagu Beatles: "yesterday, love was such an easy game to play. Now I need a place to hide away. Oh yesterday, came suddenly."

Mungkin akan datang juga jemu. Tapi hari ini, biarkan aku mabuk

Mabuk oleh rindu yang kuhirup dari cawan retak.

Pecahan kaca yang tertelan

Di perutku jadi nyanyian cinta


27.3

U'r back in town.. saya ingin bereaksi "biasa-biasa" saja pada moment yang ingin saya ingat ini. Kau menelpon. Tapi tidak bisa. Saya tidak bisa membiasa-biasakan dirimu. Ah, kenapa harus cinta yang jadi tempatku bergelayut? Padahal ada begitu banyak sulur di rapat dan rimbun rasa. Kenapa harus cinta, pula cinta yang sedemikian luka dan terlarang, pula kau campakkan?

My, meski dungu saya toh terus saja mengisi lembaran ini. Meski dungu, kepedihan yang terus merobekku adalah kebutuhan adalah dorongan untuk kembali padamu. Dan ketika menyirami halaman ini dengan kata-kata, kepedihan itu menjadi air beras untuk pohon "jati cinta"ku. inilah percakapan kita, sejati percakapan kita. hening yang beranak pinak, di tengah kita..

My, kenapa harus cinta? pula yang luka dan terlarang seperti ini?

tapi terus kusirami, terus kusiangi.. pada embun menggangtung diujungnya..

kulihat diriku, perawan. Menunggumu.

Monday, March 17, 2008

No.2, what a last glimpse !

then another page was added about you

Saya ingin mengingatnya seperti ini..

Rasa dingin itu. Rasa dingin yang mengantarkan ngilu sampai ke ujung jemari. Bergerak ke dalam, ke ulu hati. Rasa dingin yang mengepulkan asap. Selain rasa ngilu, tidak ada apa-apa di sana. Di rasa dingin itu. Tapi kemudian, ia segera menjadi seperti retakan, retakan pada dinding bendungan kepedihan. Sekali waktu akan bobol. Mungkin tidak hari ini.
Saya seperti menemukan pintu tertutup. Pintu tertutup kita. Saya tahu yang paling buruk adalah jika setelah ini, kita terpaksa memenuhi pertemuan kita dengan basa-basi. Tapi saya mau kau tahu, saya tidak akan lebih buruk dari sekarang.

Kau salah kalau menyangka saya berniat membujukmu dengan mengirim email no 1, itu. Tidak sama sekali. Saya hanya bukan orang yang meninggalkan sesuatu dalam keadaan samar-samar. Saya tidak akan mengkompromikan hal yang sangat sulit itu, dengan kebiasaanmu tidak menjawab. Berlalu diam-diam, tanpa penjelasan. Cukuplah keadaan ini. Kita telah saling memahami. Saya mengerti. Mengerti TIDAKmu. Saya mengerti pilihanmu . Mungkin baru sekarang saya paham, mungkin baru nanti saya akan sangat paham. Tapi untuk sekarang, cukuplah. Saya sudah put everything on the table and what a bonus I got.. u replied and put yours on the table.

Saya mula-mula menerima sms itu. “Saya salah. Saya minta maaf”. Lalu saya delete. Saya tidak ingin ditawan oleh kenangan dan harapan.. kau tahu saya cenayang yang buruk. Saya tidak ingin kecengengan saya sekali nanti membacanya: “I love you”.. ha ha ha.. sama seperti teks IMU yang pernah kau kirim.. saya tidak pernah membacanya lain dari : I miss u..

Email dengan subject : Re: NO 1 itu membuat saya merasa bahagia, karena saya kembali menemukanmu. .
“Pesona yang kau beri”, katamu.. dan meski berusaha memasuki waduk kepedihan with style.. saya toh gemetar mengetahui bahwa tidak ada lagi puisi yang akan sampai padamu. Setidaknya sampai saya memutuskan menebang seluruh tulisan ini. Pada waktu itu, saya ingin kamu membacanya. Pada waktu halaman-halaman ini telah jadi pohon yang setiap dahan dan rantingnya dipenuhi oleh kejujuran tanpa pulasan tentangmu.
Kekecewaanku, kemarahanku, kepedihanku, dan kerinduanku.. yang (buseeet banget..) pasti berdarah-darah.

juga terasa pilu. “bye”-mu itu benar-benar terasa sebagai perpisahan yang lama.. saya ingat kamu pernah bilang: when I say bye, it means forever. What a last glimpse!
Saya mencintaimu, My. Sesamar apapun kehadiranmu, sudah cukup.

Apapun itu, sudah saya buang sampah di dalamku. Maafkan karena sampah itu saya share denganmu.

jala koyak

pada jala yang koyak
mataku
berurai benang waktu
menjahit masa depan jadi kenangan

March 2008

Tuesday, March 11, 2008

Ada Plang di Halaman

Kapan telah memanggil belalang pelahap
ke dalam kebun harap
Kenapa mengundang angin panas dari tenggara
Mengobarkan sengsara
di antara tunas dan kelopak. Juga buah muda.

Mereka pasti tak bisa membaca tanda penawaran
yang kuletakkan di jalan depan:

saya mencintaimu. hanya itu.

March 2008

Mencapai Bulan

Seperti melihat musim tumbuh di ujung pohonan
Putih, hijau terang, merah, di wajah hutan
Kulihat cinta tumbuh di bawah langit telanjang
sulur tanpa penopang
telah mencapai bulan
tanpa warna. Atau hitam?

March 2008

Friday, March 7, 2008

Manggigil*)

Batu di ombak itu,
menunggu di pantai tanpa angin,
memaku mata pada laut yang tak mengalun
sambil mengunyah waktu
dan pada lembah-lembah hari
Duka memanggilnya dari pucuk kering pohonan
jadi helai angin

Batu ombak itu,

mata bermuara tanya:
Kenapa
kepiting bunting
Berendam tenang di sekujur lukanya


Yang diam di ombak itu
dipeluk hidup karang sebelum jadi pasir.
adalah bongkah duka
lupa pada namanya,
yang tanya di mata : " kenapa kelu?"
terbahak-bahak melihat 
pilu riang bermain gelombangpantai berangin, laut mengalun
 

batu ombak itu
telah menjelma aku
kedalaman,
adalah ketenangan yang ganjil.
Sedih yang menggigil

Manggigil = menggigil (Maluku)

March, 2008

Monday, February 4, 2008

Percakapan Setelah Pemakaman

Posting ini adalah komentar yang terkumpul tentang tulisan Kaluma. Di kampung p! ini saya tulis sebagai "Peperangan terhadap Ibu".




Dari : Ami (when suharto’s still dying)
Luna yang baik.
Kamu telah menulis sebuah esei yang saya kira Arge pun akan "terkapar", kumat asam uratnya, lantaran kemilau gagasan dan kecemerlangan diksi yang kamu gunakan mengomentari "banjir" Soeharto.
Namun terlepas dari semua itu, dengan memilik terminologi "kaluma" untuk menyebut "pembangunan" kita memang tak bisa lain, harus takluk. Untung kamu tidak tamat SD Inpres, sehinga alif ba ta mu samasekali tak berkaitan lansung dengan program Soeharto.
Yang ingin saya komentari ialah, bahwa saya sangat setuju dengan kekuatan individu yang kamu paparkan -- karena bangsa, atau apapun identitas lain dalam pergaulan dunia, selalu memang mesti lebih kuat individunya. Dan dalam konteks kaluma pembangunan-isme itu, saya kira pandanglah sebagai sebuah batu asah yang akan melincin dan mengkilatkan giok yang terpendam dalam potensi individual-mu. Saya selalu ingat ecip untuk hal yang satu ini: 'takkan lahir pelaut ulung di laut tenang' -- tetapi tentu saja kita harus pelaut dulu dan bukan hanya pelaut-pelautan yang hanya menghayalkan tantangan sambil duduk di beranda menghadap samudera.
Luna, terima kasih...


27-01-2008
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.comSalam, saya lebih memilih sepakat dengan komentar Romo Mangun Wijaya tentang gelar bapak pembangunan yang disematkan kepada Soeharto, bahwa meskipun Indonesia masih dibawah jajahan Belanda, akan tetap ada pembangunan di negeri ini, bahkan bisa jadi lebih baik dari yang pernah dilakukan Soeharto buat negara ini. Hakikat kemerdekaan bukanlah mampu membangun infra struktur semata, tapi lebih dari itu, yakni, bangunlah jiwanya....lebih dulu...sebelum membangun badannya... Hidup Indonesia Raya....Saya pribadi, sulit memaafkan Soeharto, kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukannya sangat terlalu.


27-01-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Kita telah ditinggalkan oleh "Bapak Pembangunan" yang menyisakan hutang luar negeri yg harus dibayar hingga anak cucu kita, yang membuat sejarahwan harus kerja keras untuk meluruskan kembali sejarah, yang "mendiamkan dengan tangan dingin" orang-orang yang berseberangan, dan peninggalan paling menonjol adalah tersibgahnya "budaya" korupsi dari tingkat atas hingga ke tingkat bawah.


28-01-2008
Dari : Lacigau | andi_acox@yahoo.com
Dulu bicara yang tidak bebas, pangan melimpah, listrik hingga ke desa. Kemana mana tidak takut......aman.Utan g banyak ada buktinya, jalan lintas sumatera, lintas sulawesi terbangun. Sekarang Bebas bicara hingga lupa kerja. Listrik sulit , kaum kapitalis telah sampai ke kampung-kampung.Tana h negara dijual kepala desa. Kemana-mana kita ragu dan takut. Upah naik harga barang 2x naik.Kerja bakti harus ada uangnya. Jalan didepan rumah rusak, tinggal bilang urusan PU. Banjir di mata kaki minta sumbangan. Haluan negara tidak jelas. Ulat ingin jadi naga, belalang ingin jadi elang, ijazah palsu merajalela. Anak tidak dengar orang tua, orang tua seperti anak-anak. Bupati dan gubernur tambah banyak, mobil dinas bertambah.Inikah reformasi?.......... ..apa yang direformasi ?


30-01-2008
Dari : syamsoe | toyota-gue.com
tak ada gading yang tak retak, biar bagaimanapun, kita harus tetap menghargai jasa2 bapak pembangunan, soeharto.. kalo memang ada salah, biarlah nanti berpulang kepada siapa yang memperbuat, peradilan akherat yang memutuskan... tidak munafik juga sih, sebagai anak yang besar dari seorang pns, mungkin saya juga pernah merasakan hidup dari seorang pns yang berpayung partai golkar, atau mungkin tanpa kita sadari, kita pernah merasakan beasiswa supersemar atau mungkin hal2 yang lain yang mungkin berujung pangkal dari seorang jasa pak harto


30-01-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
dear luna, esai anda yang sangat menyentuh ini membuat saya berulang kali untuk membacanya, berulangkali saya harus berpikir, diantara rasa lelah saya karena mata yang kian rapuh dan perasaan serta pikiran menanggung beban informasi yang saya usahakan untuk saya hindari, namun tak terhindari. saya bertanya-tanya, benarkah saya tidak bersentuhan atau berhubungan langsung dengaan 'sang tiran'? benarkah saya langsung berhubungan dengan 'bapak pembangunan'? benarkah bahwa julukan 'sang tiran' datang dari 'luar negeri' dan 'bapak pembangunan' dari 'diri kita', dari 'dalam'? jika ada seorang perempuan beranak dua, isteri ketua serikat buruh kereta api menangis dengan kedalaman suara yang tertahan diantara pepohonan pisang di seberang sungai, dan beberapa serdadu menggagahinya, dan tetangganya tak berdaya, dan saya hanya dicekam rasa takut dan tak bisa bersuara, dan ingatan itu terus mengejar diri saya sejak saya di smp sampai kini, di mana letak, posisi suharto? tentu bukan suharto yang melakukannya, dia juga tidak melakukannya terhadap diri saya ketika beberapa serdadu menangkapi anak-anak remaja kampung yang protes kepada seorang hansip yang suka berlagak koboi yang selalu menakuti orang kampung dengan granat atau senjata api. dan 4 remaja itu direndam di kolam kantor kodim selama 2 hari 2 malam, dan semuanya membawa tanda: kuku jempol kakinya pecah dan bengkak selama berminggu-minggu karena selama interogasi empat kaki meja ditaruh diatas jempol, dan empat serdadu duduk di atas meja sambil membentak-bentak dan menempilingi kepala 4 remaja, diselingi dengan tendangan ditulang kering kaki 4 remaja itu. tanda itu bukan hanya sampai dijempol kaki, bukan hanya ditulang kering yang kini kian pupus karena celana panjang melindunginya. adakah akan hilang? tapi kenapa ingatan ini terus memagut? suharto juga 'tidak-ikut' bertindak dan 'tidak-melarang' ketika ada jenasah yang telah 3 hari terbujur dan para tetangga akan menguburkannya diantara rasa takut dan ada seseorang yang berani mengajak orang-orang untuk menguburkannya dan menyumbang peti jenasah, dan mereka diinterogasi oleh serdadu, karena sang jenasah adalah mantan makhluk yang dianggap lepra politik oleh sang rejim yang baru mencengkeramkan kukunya melalui teror. dan kenapa pula liem tjoe-sen mesti bolak-balik ke kantor kodim hanya karena ingin menyumbangkan peti jenasah? suharto tidak tahu tentang hal itu. dear luna, di rumah kami yang hanya beberapa meter dari sungai kecil yang membelah kampung mangga dua dan kebon sayur dan sebuah sumur yang dibuat oleh ayah saya untuk umum, menjadi saksi dan bagian dari peristiwa pemusnahan buku-buku koleksi kakak saya dan menjadi bagian kehidupan saya. ratusan buku, hampir seribuan bersama majalah, sebagian besar dari koleksi itu,ditenggelamkan oleh ibu saya. jelas, bukan tindakan serdadu, apalagi suharto. cuma rasa takut yang terus-menerus mencengkam ibu saya yang membuatnya melakukan tindakan yang dia tahu benar bahwa buku menjadi bagian penting dari keluarganya, tapi karena setiap minggu 2-3 kali serdadu melakukan kontrol ke rumah-rumah di kampung kami, dan mencurigai setiap rumah yang memiliki buku. ibu saya berpikir, bagaimana melindungi keluarga dari gangguan serdadu. suharto juga tidak ikut menggagahi seorang remaja perempuan yang duduk di smp, jika remaja itu menengok ayahnya yang menjadi tapol sebelum ayahnya dipindah ke pulau buru. dear luna, antara serang dan kota banten-lama jaraknya 10 km, jalan yang pernah begitu indah dengan deretan pohon asam yang kokoh dan rinbun, hasil kolonialisme belanda. dari serang ke batukuwung terbentang 30 km jalan-tanah yang sempit, dan di sana ada tempat tamasya. dari serang ke merak 3o km. dari cilegon ke anyer 30 km. dan di kota serang ada sarana olahraga di alun-alun. kami menyebutnya gelanggang olahraga (gor) dan ada gedung pertemuan yang sudah dirobohkan setelah hampir 20 tahun dibangun, sementara gor-nya, beberapa tahun yang lalu masih saya saksikan. kedua gedung itu di'bangun' oleh tapol atas kontrol serdadu, seperti juga tempat tamasya batukuwung (juga disebut batitit). dan jalan-jalan yang dijaman bung karno rusak berat itu, diperbaiki oleh tapol atas perintah serdadu. dear luna, apa yang saya sampaikan ini ingin menegaskan esai anda, bahwa rekayasa penabalan menciptakan kondisi mistis dan kita dicengkam olehnya, ditarik ke dalam selubung mistis yang seakan-akan (atau sejatinya?) tak mampu menguaknya, seolah-olah menjadi 'takdir' diri kita. saya ingin menarik garis logika ini, bahwa serdadu itu melakukannya juga demi suharto yang bukan hanya sosok tapi lebih dari itu sudah sebuah sistem mistis itu. dan sebagai sistem, tak ada lagi batas antara penabalan dari 'luar negeri' dan 'dalam negeri'. sebagai 'tiran' dan 'bapak pembangunan' dia diciptakan dalam konstelasi kepentingan dalam negeri dan internasional (baca: amerika cs), kepentingan ideologi pembangunan, yang sampai kini kita masih mengabsahkannya, bahkan dengan hal-hal yang paling konyol, misalnya pernah mendapatkan bea siswa super semar. catatan akhir dari tanggapan ini, saya ingin bertanya kepada anda, apakah pernyataan anda tentang anggapan, penabalan 'tiran' kepada suharto itu oleh 'pihak luar' (di antara tanda kutip. hhd.) karena anda membaca dari media luar, analis luar, atau analis indonesia yang ada dan hidup di luar nusantara, sementara itu tak ada media kita yang berani menyebut suharto sebagai 'diktator' atau 'tiran'? atau anda ingin menyatakan bahwa media kita melakukan manipulasi, hipokrisi, tak berani menyampaikan 'realitas' sejarah sosial-politik yang ada dihadapannya?


31-01-2008
Dari : fahrie | www.dokter-unhas.org
Dalam setiap kehidupan pasti ada hitam dan putih, bahkan juga abu-abu , mulai dari gradasi abu-abu tua hampir hitam sampai abu-abu muda nyaris putih. Untuk menakar kehidupan seorang Soeharto dengan kaca mata hitam putih tentulah absurd, seabsurd kita mempertanyakan apakah beliau seorang tiran atau bapak pembangunan. Biarlah yang Maha adil yang memutus -bukan kita - karena boleh jadi kita tanpa sadar lebih tiran dari Soeharto dalam skala peran kita yang serba kecil. Saya hanya tertarik untuk melihat betapa kontras sikap rakyat kecil dan kaum 'intelek' dalam memaknai kepergian seorang Soeharto. Dan saya rasa bahwa teori sederhana Maslow mungkin bisa sedikit menjawab fenomena itu. Bahwa dikalangan rakyat kecil yang masih sibuk memikirkan hari ini mesti makan apa, atau besok si becce kecil harus mulai sekolah tapi ongkos masuk sekolah entah mesti dicari di mana, belum lagi sekolah desa yang nyaris roboh dimakan usia. Bagi mereka, Soeharto adalah pahlawan yang mampu mengatasi itu. Suatu kemampuan yang sayangnya tidak dimiliki para petinggi negara setelah Soeharto. Sementara bagi sebagian dari kita yang mengaku intelek dan pernah mengecap bangku bergengsi kampus, itu bukan lagi masalah buat kita, karena kebutuhan kita telah bergeser kearah yang lebih tinggi, ke jenjang kebebasan aktualisasi diri yang terbelenggu di era sang 'bapak pembangunan' Satu hal menarik lagi adalah ketika gema kebebasan yang lama kita perjuangkan itu akhirnya bisa kita raih, satu borok terkuak betapa sebagai bangsa kita ternyata belum cukup matang untuk memanggul menara emas kebebasan itu, terbukti dari betapa setelah bebas beraktualisasi kita justru sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri, semua merasa berhak untuk mencari untung sebanyak-banyaknya tanpa peduli nasib saudaranya. Soeharto membuktikan bahwa untuk saat ini, masyarakat kita memang masih perlu di'cambuk' untuk bisa bergerak maju secara sinergis demi kepentingan bersama. Satu ujar bijaksana dari Mario Teguh lantas terngiang ditelinga saya: "Seorang pemimpin adalah orang yang mampu memaksakan kehendaknya untuk kepentingan semua orang" Siapapun orang itu.... pastinya bukan seorang peragu yang sibuk bercermin memikirkan citra positif dirinya tanpa mampu membuat perubahan apapun.


31-01-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
bung fahrie, ada ribuan orang, walaupun kompas hanya melaporkan dari sisi sebuah keluarga korban waduk kedung ombo di jateng, yang masih membenci suharto. juga terdapat ribuan orang korban waduk wonogiri, yang mereka anggap suharto membuat mereka miskin: dipindahkan ke sumatera (kalau nggak salah ke daerah sitiung dan sibolangit), di sana mereka akhirnya bergelandangan, dan banyak yang kembali ke jawa dalam kondisi miskin. sementara itu di daerah transmigran, banyak yang jadi gelandangan dan menjadi beban daerah itu. dengan kata lain, untuk menilai suharto, siapapun tidak perlu untuk menjadi 'intelek'. karena, perasaan keadilan, tidak dibentuk oleh dunia pendidikan yang kita miliki. sedikit saja punya kepekan, siapapun bisa menilai, apakah suharto menciptakan keadilan atau tidak? dan saya setuju kepada anda, justeru ketika pintu terbuka, kalangan elite kita kian tak mampu menciptakan kondisi lebih baik. mereka berebut dan menjadi kanibal. dan kini yang menjadi korban adalah kembali kalangan bawah, yang kian menggunung. tapi, bukankah kondisi 10 tahun setelah reformasi juga akibat dari proses yang dibentuk oleh rejim suharto? betapa 'ahistoris'nya jika kita menilai dengan sobekan waktu: reformasi dan 4 presiden pasca suharto adalah 'awal baru', 'sejarah baru', tidak ada hubungannya dengan jaman suharto?! dan tentang 'cambuk suharto', bung fahrie', justeru lebih tepat ditujukan kepada anak-anak cucunya, ketimbang kepada warga. sebagai pejalan, saya banyak menemui kalangan bawah yang rajin, betapapun mereka dalam kemiskinan. lihatlah para nelayan di selayar, taka boneratte, atau tak jauh-jauh, di paotere, hanya untuk sesuap nasi mereka menyabung nyawa di tengah laut! dan betapa rajin para petani di desa menanam cengkeh dan memeliharanya bertahun-tahun sebagai simpanan untuk hari tua, untuk anak isterinya. dan siapa pula yang merusak kondisi tata niaga cengkeh di sulsel, sulut, sumatera melalui bppc, seperti juga tata niaga jeruk? bukankah cambuk itu pantas ditujukan kepada putera kesayangan suharto, tommy? tentu saya bersetuju pula, ini yang mungkin anda maksudkan, bahwa 'tidak sepenuhnya' kesalahan itu pada suharto. namun, bukankah dia yang meraih 'bapak pembangunan', bukankah dia yang menduduki posisi tertinggi? bukankah jabatan membawa konsekuensi logis tanggungjawab? noblesse oblige, kata tetangga jean-paul sartre.


01-02-2008
Dari : fahrie | www.dokter-unhas.org
Terima kasih banyak atas tanggapan bung Halim, saya sangat menghargai pendapat anda. Dan dalam beberapa poin sependapat dengan anda. Sayapun tidak bisa menutup mata untuk menyangkal 'dosa-dosa' Soeharto. Sebagai orang nomer 1 dinegeri ini, amat sangat wajar kalau semua salah yang pernah ada dalam 32 tahun pemerintahannya diarahkan kepadanya. Namun sebaliknya, tentunya kepada beliau juga kita bisa melayangkan acungan jempol untuk beberapa pencapaian yang ada di era itu. Tentang 'cambuk', sebagai orang yang pernah melewatkan hari-hari di beberapa daerah dan negara di Asia Tenggara, saya melihat satu persamaan antara kita dengan 'mereka' para jiran kita. Karakteristik singaporean, malaysian, philipinos, kurang lebih sama dengan kita. Lantas apa yang membuat Saingapore dan Malaysia bisa maju sedangkan kita dan Phillipine jalan ditempat, bahkan cenderung bergerak mundur??? Saya menganggap yang membedakan adalah pemerintahnya! Siapapun - saya yakin - akan setuju kalau saya bilang gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew 'sedikit' diktator dan Mahathir 'cenderung' tiran. Tapi justru itu yang membuat mereka maju. Sebaliknya Philipine yang - karena pengaruh demokrasi ala Amerika - sengkamma ngaseng ji dengan kita. Gonta-ganti pemimpin, korupsi, saling sikut saling jambak. Maaf kalau kemudian saya beranggapan bahwa perlu seorang 'diktator' untuk bisa membawa kita keluar dari lingkaran setan yang kita sebut 'reformasi' ini. Satu figur pemimpin yang sayangnya belum lagi terlihat dari deretan muka-muka lama yang kelihatannya akan kembali berebut tampuk kekuasaan di pemilu 2009. Salahkah kalau dalam rasa kecewa dan frustrasi yang mumbuncah itu, kemudian figur tiran Soeharto terlihat begitu menggoda?????


04-02-2008
Dari : Sugi' |
Mas halim, makasih untuk obrolan ini. Meski saya tidak bisa menampik kebenaran yang disebutkan Ami, mengomentari bahwa "Untung kamu tidak tamat SD Inpres, sehinga alif ba ta mu samasekali tak berkaitan langsung dengan program Soeharto." Atau karena kemampuan keuangan keluarga kami yang cukup, saya tidak mengejar beasiswa supersemar yang disebutkan mas Halim, padahal saya pikir secara akademis, saya memenuhi syarat; Saya harus jujur mengakui, sekarang setelah saya menulis kaluma, bahwa saya takut. Kalau saya menyebutnya tiran, dan membubuhi luar negeri di belakangnya, seperti dugaan mas halim, karena saya ada pada deretan mereka yang "diam-diam" setuju pada julukan itu. Julukan yang, sekali lagi mas halim benar, saya temukan dari bacaan saya yang tidak terbit di dalam negeri.
Saya mungkin terlalu naif untuk menarik keterkaitan Suharto dengan peristiwa matinya Gento. Sahabat kakak saya yang menjadi bagian keluarga kami. Gento ditemukan mati dengan leher terjerat kabel, terkesan terdampar di pantai, karena dia katanya aktivis OPM. Meski kami pun tahu dia memang aktivis OPM. Siapa pelakunya? Saya menyimpan "siapa" itu dalam bisik-bisik di sekitar pemakaman. Mereka yang mas halim sebut "serdadu". Sejak itu saya mengerti kenapa orang tua saya yang dua-duanya pegawai negeri, melarang kami menyebut, mengesankan sosok suharto dengan maksud membuat lelucon. Larangan, dan "hus.. gak boleh itu" juga yang menumbuhkan pengertian saya pada hal-hal yang tidak bisa mereka jelaskan kemudian. Saya mengerti kecemasan orang tua saya yang Golkar, ketika dalam "latihan" pemilu, -yang konon berasaskan LUBER (langsung, umum, bebas dan RAHASIA )- ipar saya memilih partai bukan GOLKAR. "lha tak cuma kira latihan.." ipar saya, tidak sesederhana rangkain interview yang mengikuti ayah saya setelah itu.
Yang tidak saya duga, ketakutan itu terus mengikuti saya. Intimidasi tentang kemampuan seorang Suharto menekuk kehidupan seorang "angka" dalam masa pemerintahannya. Intimidasi yang menyusup masuk sampai ke ruang keluarga kami. Mungkin saya sebenarnya ingin bilang, "tiran" tanpa mengembel-embeli "luar negeri", tapi saya masih takut. Takut ditangkap, takut diinterview, takut mengalami nasib seperti teman-teman saya di SMA. Teman-teman yang tiba-tiba menghilang dari kelas. Lalu berbulan-bulan kemudian kami dengar mayat mereka ditemukan, di laut, di pantai, dengan leher terjerat kabel, dengan rumor OPM di sekitar kematian mereka, seperti Gento. Saya enggan, mas. Enggan terus hidup dalam ketakutan seperti itu.