Kita tahu pepatah: gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Kita juga tahu beberapa hari belakangan ini, oleh media kita dibanjiri dengan serbasuharto. Mungkin terasa berlebihan, tapi pertanyaan yang mengusik adalah: "why should I care?" . Dalam kesempatan-kesempatan menjauh dari banjir serbasuharto ini, saya membuat penilaian-penilaian pribadi terhadap saling keterkaitan kami. Keterkaitan saya sebagai individu, dengan Suharto sebagai individu pula. Saya sebagai angka selama tahun-tahun pemerintahannya, dengan Suharto sebagai individu yang mantan presiden. Termasuk di dalamnya keputusan-keputusan politis yang ia buat sebagai presiden. Keterkaitan kami? Nyaris tak ada, sampai ketika saya menelusuri julukan yang diberikan kepadanya.
Julukan kita tahu dapat disandangkan kepada seseorang dengan maksud memuja juga menghina. Sebuah julukan sama mistis dengan angan-angan yang dibungkus dalam nama, tapi julukan selalu duduk di bangku depan dalam sejarah, menurut saya. Kita lebih ingat “The Hunchback of Notre Dame” dari pada nama Quasimodo, misalnya. Membicarakan Suharto, tentu tidak harus dengan "itikad baik" dari rangkaian caci maki tentu saja.. karena toh secara langsung kita (maaf kalo dianggap sok mewakili) tidak bersentuhan langsung dengan sang tiran, julukan yang diberikan kepadanya oleh pihak luar negeri. Apa julukan kita -sebagai bangsa kepadanya? Bapak Pembangunan.
Saya berharap kita dapat sepakat, bahwa bagaimanapun nama memiliki aura mistis. Dipicu banjir serbasuharto, bagi saya julukan yang satu ini punya nilai “keramat”. Karrama’, kata orang Makassar. Bukan semata karena kata "pembangunan" adalah karrama'nya "negeri-negeri sedang berkembang". Kita juga sama tahu, pembangunan dan negara berkembang, merujuk pada kata yang sama: Development. Semua negeri yang memiliki salah satu dari label: miskin, korup, chaos berlomba-lomba mengejar, juga berduyun-duyun datang menyembah kata itu: development. Tapi selain itu, bersamaan dengan riuh rendah discourse tentang suharto, saya dengan tercengang melihat aura mistis lain dari kata itu.. kata itu, "pembangunan" seakan sebuah kandungan. Kandungan seorang ibu. Agung.
Membiarkan seseorang menyandang nama Bapak Pembangunan, adalah seperti membiarkan seseorang membentangkan selimut atas -atau seperti kandungan seorang perempuan: menyelubungi - negeri ini dalam proses developmentnya. Menyerap seluruh potensi kehidupan yang disediakannya, atau disisakannya. Sebab janin tidak punya pilihan. Bapak Pembangunan. Kandungan. Suharto. Bagaimana bisa “tempat” yang sangat keramat itu dinodai? Mungkin karena itu, selalu ada rasa antipati terhadap penguasa yang korup, seperti kita menyimpan angkara pada mereka yang menghianati seorang ibu, meski tak terkait darah setetes pun.
Dalam julukan itu, julukan Bapak Pembangunan, yang bersanding dengan Tiran, kita mengagungkan “right or wrong is my country”, dan berbagai jargon basi lainnya. Kandungan pun berubah menjadi kaluma. Kaluma (Greek) secara harfiah berarti selubung. Tapi lebih dari sekedar selubung, kaluma bermakna "kantong yang hitam, gelap, penuh racun." Dan kita ada di dalamnya. Di sini, di tempat kita hari ini. Dalam kaluma yang kita terima tanpa perlawanan, seakan-akan kita tidak punya pilihan. Kemana saja menoleh, setiap "gerak maju" bernama pembangunan adalah peralihan semu dari bayang-bayang mistis nama itu. Julukan itu. Bapak pembangunan. Mungkin itu sebabnya, dengan berbagai alasan, deretan panjang orang masih datang memohon restu.. restu mistis sang ibu, yang notabene laki-laki bernama suharto. Bahkan ketika secara klinis beliau telah wafat. Mungkin itu sebabnya kita merasa terluka sebagai bangsa, mungkin itu sebabnya kita merasa dikhianati sebagai negeri, dan dengan putus asa kita berkata: " dah korup dari sononya sih.." lalu ketika kita tidak "terbawa pusaran arus" kita terpaksa mahfum, kita terpaksa berkompromi. Kronologi premis ini bisa berbalik , tergantung kita sedang berkuasa atau tidak. Tapi untuk benar-benar tidak perduli, kita tidak bisa. Tidak seharusnya kita bisa.
Ada yang terus menghantui gerak maju bangsa ini. Bahkan jika seorang suharto yang presiden ini dimakan ulat, kita akan terus merasa menjadi bagian -yang tak berdaya- dalam selubung pembangunan. Karena di dalam kita telah terbentuk gagasan, mentalitas bahwa pembangunan Indonesia identik dengan Suharto. Bukan berarti saya menafikan kemajuan-kemajuan signifikan yang terjadi dalam era suharto yang bernilai berkelanjutan, tapi pembangunan negeri ini tidak identik dengan seorang Suharto yang pernah presiden. Julukan itu, akan menyamarkan nilai dari gerak maju "pembangunan" lain dalam era siapa saja.
Melihat kehadiran Suharto hanya sebagai sebuah bagian dari kronologis upaya bersama bangsa -kalau memang ada bangsa bernama Indonesia- untuk mencapai masyarakat madani akan menjadikan kita orang-orang yang lebih punya harga diri, lebih punya terimakasih, lebih lama berjuang. Sesuatu yang tidak kita miliki, sebagai bangsa. Jujur saja, di luar negeri, anda Indonesia adakah terbersit untuk berbangga sebagai bangsa lebih dari sekedar memiliki kekayaan tradisi? Ketika di antara kita ada kesempatan untuk masuk hitungan, nyaris semata karena kekuatan individu. Kenapa begitu? Karena kita, di inner most being kita, pada dasarnya setuju bahwa bangsa ini, "dari sono"-nya, dari kandungannya.. cacat.
Saya –jauh di dalam sini, my inner most being -meski tak pernah berurusan langsung- merasa dikhianati. Kenapa mesti? Karena saya diam-diam percaya pada sacre kata "development". Sama seperti saya percaya pada keagungan kata "ibu". Lalu? Jika negeri ini bertumbuh dan berproses, setidaknya saya harus mampu melihat: masa depan sungguh ada. Dengan atau tanpa suharto (dan jejaring mistis yang telah ditebarnya ke seluruh negeri.)
Saya merasa perlu mengajak orang lain melihat masa depan di luar dikte selubung yang telah korup itu. Pula mengajak yang sepakat untuk melakukan upaya spiritual merobek selubung yang telah mengkhianati kita. Bukan untuk menjadi kelompok klenik, tapi melakukan penolakan spiritual terhadap dikte mistis bahwa negeri ini ada dalam kandungan Suharto. Dalam iman saya tindakan seperti ini disebut peperangan rohani, spiritual warfare. Peperangan yang dilakukan melawan penguasa-penguasa, pemerintah dan penguasa dan roh-roh jahat. Semua elemen ini, di tambahi "di udara". Artinya, atmosphere. Something you can' see, but you breath it in. Kenyataan yang tidak nyata. Tapi berkuasa. Sangat berpengaruh.
Selama bertahun-tahun saya berasumsi sebuah peperangan rohani adalah gambar samar-samar tentang orang beriman berhadapan dalam perjumpaan mistis dengan sesembahan para pejabat: kuasa, harta dan goda-goda lain yang membuatnya pantas memakai label “pejabat”. Yang beriman dengan doanya, yang memiliki jabatan dengan godanya. Saling memandang. Saling merendahkan. Ternyata tidak. Memerangi aura ketidakadilan, kesewenang-wenangan, bukan sesuatu yang samar. Bukan cuma adengan saling pelotot, janjang kata orang Makassar. Mengajukan keberatan, menyuarakan pembelaan, atas dasar saling, adalah pemihakan yang dapat dilakukan seorang individu dalam kesempatan apapun. Tindakan individual yang secara spiritual memiliki pengaruh komunal. Tindakan tersebut adalah tindakan peperangan, sebab peperangan kita bukan perkara melawan darah dan daging, tapi mematahkan paradigma.
Jika saya memaklumatkan perang, dan menolak "ditumbuhkan", "dibangun" dalam kandungan yang korup, maka itu bukanlah peperangan samar-samar. Kenapa? Karena itu pilihan setiap hari. Meski untuk mempengaruhi generasi, kita belum tentu melihat hasilnya dengan mata sendiri, dengannya kita berlatih, setiap hari untuk membuat perbedaan, setidaknya di nurani sendiri. /luv
Tuesday, January 15, 2008
Wednesday, September 12, 2007
Laut Juli
(1)
angin menangis memelukku menyelipkan hangat pada kibar selendang waktu kabut bangkit perlahan dari lautan
di pantai aku berdiri, selendang berkibar koyak moyak oleh rindu. Kau kah itu yang merenangi kabut?
aku menunggu, tak sampai-sampai.
Sendiri dalam angin
yang menggendong kabut lautan
hangat kusimpan dalam tiap belit
selendang yang kembung
lalu pecah
ulang berulang
memanggil namamu penuh rindu.
Nusa Dua, 18 July 2007
(2)
malam
jelang
dan perih begitu tikam
langit mencakar awan
mencari pautan
aku mengisut ke dalam diri
menghambur ke luka lautan
ketika menahan gigil ujung bakau
yang bersembilu
tak kau lihatkah kekasih
aku menghadang di jalan
dengan tubuh bergetar?
Kendari, July 2007
(3)
Dingin
menelusur sela akar dan daunan
melata pasti
meniti jalan ke langit
meninggalkan jejak kesedihan
ujung-ujung bakau bergetar
menahan gigil
menyeret malam dalam angin banal
tanpa bulan
tanpa suara
jauh
jauh
merentang tangan
mementang kaki
laut
terkapar
menunggu pasang.
Kendari Juli 2007
angin menangis memelukku menyelipkan hangat pada kibar selendang waktu kabut bangkit perlahan dari lautan
di pantai aku berdiri, selendang berkibar koyak moyak oleh rindu. Kau kah itu yang merenangi kabut?
aku menunggu, tak sampai-sampai.
Sendiri dalam angin
yang menggendong kabut lautan
hangat kusimpan dalam tiap belit
selendang yang kembung
lalu pecah
ulang berulang
memanggil namamu penuh rindu.
Nusa Dua, 18 July 2007
(2)
malam
jelang
dan perih begitu tikam
langit mencakar awan
mencari pautan
aku mengisut ke dalam diri
menghambur ke luka lautan
ketika menahan gigil ujung bakau
yang bersembilu
tak kau lihatkah kekasih
aku menghadang di jalan
dengan tubuh bergetar?
Kendari, July 2007
(3)
Dingin
menelusur sela akar dan daunan
melata pasti
meniti jalan ke langit
meninggalkan jejak kesedihan
ujung-ujung bakau bergetar
menahan gigil
menyeret malam dalam angin banal
tanpa bulan
tanpa suara
jauh
jauh
merentang tangan
mementang kaki
laut
terkapar
menunggu pasang.
Kendari Juli 2007
Besok Ramadhan
Maafku,
kalau kau butuhkan,
tersedia: meski tidak seperti nasi harum dari beras baru
di buka puasamu bersama cinta yang tak pernah tua.
ia menunggu: berharap kau lupa.
kalau kau butuhkan,
tersedia: meski tidak seperti nasi harum dari beras baru
di buka puasamu bersama cinta yang tak pernah tua.
ia menunggu: berharap kau lupa.
Tidak Sampai
Angin di luar menusuk ngilu. malam melenggang ke lengang.
dalam rinduku pada pulang sejak rembang petang aku telah merangkak
mengais sisa-sisa
remah kebaikan yang tak kau jatuhkan dengan sengaja
di koridor restoran.
Ada awan tembaga, sebelum malam. seperti binatang aku kelu menanti dalam diam
membuntutimu dengan mata nyalang dari kejauhan
menjadi bayang-bayang
ketika malam menggelar perhelatan kelam.
berkalang ngilu angin kucoba menangkap mimpi
yang sesekali dijatuhkan awan . tentang hamparan luas tanah yang dilintasinya
tempat bernama penerimaan
tempat bernama apa adanya.
ketika dengan rindu kupandang kejauhan
menanti kemungkinan sepotong mimpi dijatuhkan awan
si kerdil dalamku membujuk:
"kenyangkan dirimu dengan remah
dan sisa-sisa"
aku menggigil, bahkan ketika
sesaat angin berhenti membalurkan ngilu
ah.
kuayunkan tangan sepi yang telah jadi belati
kurobek perutku
mencari jiwa kerdil
yang terus bicara:
"kenyangkan dirimu dengan remah
dan sisa-sisa"
sampai serpih..
suara itu masih tak berhenti,
tak ada di perutku,
tak ada di sumsumku.
tak ada .
aku belum sempat menata harap
hari terlanjur pagi
ke pulang pun aku tak sampai.
dalam rinduku pada pulang sejak rembang petang aku telah merangkak
mengais sisa-sisa
remah kebaikan yang tak kau jatuhkan dengan sengaja
di koridor restoran.
Ada awan tembaga, sebelum malam. seperti binatang aku kelu menanti dalam diam
membuntutimu dengan mata nyalang dari kejauhan
menjadi bayang-bayang
ketika malam menggelar perhelatan kelam.
berkalang ngilu angin kucoba menangkap mimpi
yang sesekali dijatuhkan awan . tentang hamparan luas tanah yang dilintasinya
tempat bernama penerimaan
tempat bernama apa adanya.
ketika dengan rindu kupandang kejauhan
menanti kemungkinan sepotong mimpi dijatuhkan awan
si kerdil dalamku membujuk:
"kenyangkan dirimu dengan remah
dan sisa-sisa"
aku menggigil, bahkan ketika
sesaat angin berhenti membalurkan ngilu
ah.
kuayunkan tangan sepi yang telah jadi belati
kurobek perutku
mencari jiwa kerdil
yang terus bicara:
"kenyangkan dirimu dengan remah
dan sisa-sisa"
sampai serpih..
suara itu masih tak berhenti,
tak ada di perutku,
tak ada di sumsumku.
tak ada .
aku belum sempat menata harap
hari terlanjur pagi
ke pulang pun aku tak sampai.
Tuesday, September 11, 2007
Tali Kita
Malam datang.
Di antara bulan, ombak dan beting karang
ada kita
menggelepar, liar
di bawah selimut yang dipinjamkan waktu.
Laut pasang di Nusa Lembongan
gemuruhnya memalu pintu.
di laut pasang kularung rindu,
kuntum lingga kudupa di bawah selimut
malam kental, menetes lambat ke fajar
kelam dan cahaya
saling hela,
sepi yang ngilu lelapkan sepi bertahun padamu
Pagi datang
surut membagikan pecah ombak di beting karang
begitu jauh dari pantai
dari kaki telanjangku
dari hasrat rinduku.
Teriris mata oleh tanya,
rindu yang kularung di laut malam
kandas
nyangkut di tali bentang*
terpanggang sepanjang siang
Meski sesekali riak kecil datang membasuh
itu tak mengembalikan hidup
Malam masih mengembalikan ombak
dan gemuruh yang memalu pintu,
tapi hanya semalam itu
waktu telah memeluk kita tanpa prasangka.
Pagi demi pagi kembali
Waktu melipat selimutnya sambil bernyanyi:
Gelepar hidup yang menempel di tali kita
telah mati layu di res-res* Jungut Batu.
Nusa Lembongan, November 2005
bentang (Makassar)/res (Bali dan beberapa daerah lain): sebutan untuk tali yang digunakan sebagai penyokong ikatan rumput laut yang dibudidayakan.
Di antara bulan, ombak dan beting karang
ada kita
menggelepar, liar
di bawah selimut yang dipinjamkan waktu.
Laut pasang di Nusa Lembongan
gemuruhnya memalu pintu.
di laut pasang kularung rindu,
kuntum lingga kudupa di bawah selimut
malam kental, menetes lambat ke fajar
kelam dan cahaya
saling hela,
sepi yang ngilu lelapkan sepi bertahun padamu
Pagi datang
surut membagikan pecah ombak di beting karang
begitu jauh dari pantai
dari kaki telanjangku
dari hasrat rinduku.
Teriris mata oleh tanya,
rindu yang kularung di laut malam
kandas
nyangkut di tali bentang*
terpanggang sepanjang siang
Meski sesekali riak kecil datang membasuh
itu tak mengembalikan hidup
Malam masih mengembalikan ombak
dan gemuruh yang memalu pintu,
tapi hanya semalam itu
waktu telah memeluk kita tanpa prasangka.
Pagi demi pagi kembali
Waktu melipat selimutnya sambil bernyanyi:
Gelepar hidup yang menempel di tali kita
telah mati layu di res-res* Jungut Batu.
Nusa Lembongan, November 2005
bentang (Makassar)/res (Bali dan beberapa daerah lain): sebutan untuk tali yang digunakan sebagai penyokong ikatan rumput laut yang dibudidayakan.
INSOMNIA
Dengan mata terpejam
kubergegas menyusur jalan
ke siang.
mencoba menemukanmu.
berharap ada tunggu di situ.
bibir mimpi senja hari
tidak berhasil kudaki
Tertatih aku pulang
menerobos langit kamar,
menelan raung luka cinta
yang sejak pagi kuragi
rindu.
bibir mimpi senja hari
tidak berhasil kudaki
perut terbakar,
tanpa suara kutelan tiap penggal nestapa
ketika dalam pejam,
aku berdiri di peranginan
menatap hari siang
bermalam-malam
berharap kau melambaikan tangan
Nusa Lembongan, November 2005
kubergegas menyusur jalan
ke siang.
mencoba menemukanmu.
berharap ada tunggu di situ.
bibir mimpi senja hari
tidak berhasil kudaki
Tertatih aku pulang
menerobos langit kamar,
menelan raung luka cinta
yang sejak pagi kuragi
rindu.
bibir mimpi senja hari
tidak berhasil kudaki
perut terbakar,
tanpa suara kutelan tiap penggal nestapa
ketika dalam pejam,
aku berdiri di peranginan
menatap hari siang
bermalam-malam
berharap kau melambaikan tangan
Nusa Lembongan, November 2005
Sajak Bulan
- kepada My
Telah bermusim-musim kita saling mencari
ziarah di antara bayang pohon dan lembah,
Telah bermusim-musim kita saling memanggil
diam di telanjang padang atau ketinggian
di antara malam dan awan
Telah kubujuk awan, telah kusapa bayang pepohonan
untuk datang lebih cepat lalu nyingkir
Dalam bentang masa dan semesta aku berjalan
Mencari jejakmu yang gagal dihapus angin
Dan entah mulai kapan perlahan jarak kulepaskan
dalam pilu kau ku seru:
“Tidak bisakah hari ini kita berhenti saja:
Tanpa merisaukan arah angin,
Dan di tengah keluasan entah, kita berjalan bersama,
bercengkrama atau diam saja berdampingan.”
Sambil mereguk sepuas cahaya
Kita biarkan jiwa tersulut gairah
Telah bermusim-musim kumencari
Jejakmu yang dulu pernah kukenali
“Tidak bisakah hari ini kita berhenti saja:
Tanpa merisaukan arah angin,
Dan di tengah keluasan entah, kita reguk semabuk cahaya
biarkan jiwa tumbuh, berkobar dalam gairah.”
2007
Telah bermusim-musim kita saling mencari
ziarah di antara bayang pohon dan lembah,
Telah bermusim-musim kita saling memanggil
diam di telanjang padang atau ketinggian
di antara malam dan awan
Telah kubujuk awan, telah kusapa bayang pepohonan
untuk datang lebih cepat lalu nyingkir
Dalam bentang masa dan semesta aku berjalan
Mencari jejakmu yang gagal dihapus angin
Dan entah mulai kapan perlahan jarak kulepaskan
dalam pilu kau ku seru:
“Tidak bisakah hari ini kita berhenti saja:
Tanpa merisaukan arah angin,
Dan di tengah keluasan entah, kita berjalan bersama,
bercengkrama atau diam saja berdampingan.”
Sambil mereguk sepuas cahaya
Kita biarkan jiwa tersulut gairah
Telah bermusim-musim kumencari
Jejakmu yang dulu pernah kukenali
“Tidak bisakah hari ini kita berhenti saja:
Tanpa merisaukan arah angin,
Dan di tengah keluasan entah, kita reguk semabuk cahaya
biarkan jiwa tumbuh, berkobar dalam gairah.”
2007
Subscribe to:
Posts (Atom)