Notes On

Tuesday, July 17, 2012

Separuh Matahari, Sepenuh Matahati

*poethography

dengan separuh matahari, 
aku menunggu ada sebuah pagi
yang kujemput dalam pelukmu
matamu pada mataku
dan
sepenuh matahati engkau menyelamiku

bersama separuh matahari
rindu yang kureguk adalah cara
paling bersahaja
untuk melupakan kita
meski diam-diam berharap
sepenuh matahati bisa saling menyungkup
cangkir kopi 
untuk menunda perpisahan

Mei 2012...

Menggulir Matahari

kau tentu mendengar tawaku 
ketika matahari bergulir sementara cahaya dan angin
bertukar lenguh dan hasrat dalam perjalanan.

kau tentu tak menghitung telah berapa kali 
kugulirkan ke arahmu,
harap dan angan yang keras kepala seperti cahaya
menguntit seperti bayang.

ya salahku:
bermain dengan matahari,
seperti Icarus, kuakui. 
tapi hidup adalah mencipta legenda bukan? 

demikian juga tentang mu, aku, kita:
harapku yang meski bisu akan mengendarai cahaya
jadi burung api.

dan aku terus mengulirkan diri ke matahari. 

May 2012

*inspired by Rini Indrayanti's photo

Selamat Pagi, Kopi

(3)
Kalau kau bangun
menjemput kopimu pagi nanti,
pada sesap pertama yang membalur langit-langit
temukanlah aku: menunggu di bibirmu
jangan tampik, kecap: seluruh aku, seluruh rindu. 
Meski pahit asam.

aku serupa aroma.
menguarkan jejak,
membangkitkan ingatan masa lalu,
kau mengenaliku dalam hela-hela napas. 

(4) 
Aku terjaga 
dan menemukan rindu menunggu.
menyapa selamat pagi.
mataku mendidih: dengan airnya kuseduh pagi.

seperti kopi disesap dengan pahit asam
aku menghirup bahagia: bersamamu

(5)
begini: 
kami lama tak lagi 
bertukar sapa
kami lama 
telah diam diam
berdampingan dan memahami perpisahan

seperti embun memahami matahari
: diam-diam berdampingan dalam keluasan entah.


May 2012

Selamat Pagi, Kopi

*poetag
(1)
k:
kalau kau bangun, lalu menemukan rindu berbaring di sebelahmu,
itu bukan tentang ku.

kalau kau bangun dan menemukan rindu pada hal-hal sederhana,
tersedia seperti secangkir kopi pada pagi -pagi di mana kau hanya ditemani rencana-rencana
tentang hari ini dan selain itu hanya sendiri
ingat aku: tiap kali bibirmu menyetuh tepi cangkir
karena kau tahu aku merindukanmu seperti tepi cangkir menanti bibir.
merindukan bibirmu menyetuh sepi,  sepi menjadi kopi,
setelah terpetik, menunggu.
menunggumu menghirupku.


(2)
kau tahu aku bukan peminum kopi,
tapi padamu, rindu seperti secangkir kopi.
Kalau kau bangun,  menjemputmu kopimu pagi nanti,
pada sesap pertama yang membalur langit-langit
temukanlah aku: 
menunggu di bibirmu
jangan tampik, kecap: seluruh aku, seluruh rindu.
meski pahit asam: tak kan kulukai dirimu, kekasih.

May 2012

Musim dan Anak Kembar

:k

bermalam-malam lalu kekasih, kutangisi rinduku. aku hujan, meluruh diri di ranjang. 

'bruukk!"
sebuah pelepah pinang di jatuhkan umur di halaman.
mungkin juga angin
dan cuaca telah ikut bersepakat di dalamnya. 
"angkat!" 
tentu saja, seperti pelepah pinang yang jatuh di halaman,
orang tak bertanya pada kekosongan yang ditinggalkan.
pangkal pinang itu disingkirkan. 

dirimu kekasih,
tertanam seperti pinang di halaman rumahku.
dan aku pelepah.
jatuh. 

tapi lihatlah: 
dengan siapapun umur bersepakat
tak pernah aku jemu jatuh, 
di halaman, tergeletak dipeluk sendiri.
dirimu memang bukan hujan yang luruh
tapi 
kenapa kau jemu tumbuh? 

mestinya kita terus saja bercinta:
lalu melahirkan musim. 
mungkin kusam.
tapi pertimbangkanlah :
toh rindu tak pernah beranak kembar?

April 2012

Wednesday, June 27, 2012

Terik Senja

hanya sesaat kita mengecup sore
dan seperti angin hinggap di daunan,
lalu menggetarkannya sepanjang malam
: begitu aku


matahari jatuh,
di teriknya rindu luruh
ke dalam pelukmu


kita dihinggapi malam,
dan seperti daun
digetarkan rindu sepanjang tunggu


 June 2012

Rini Indra Yanti's Photo

Monday, April 23, 2012

Musim dan Anak Kembar

:k
bermalam-malam lalu kekasih,
kutangisi rinduku. aku hujan, meluruh diri di ranjang.
'bruukk!"
sebuah pelepah pinang di jatuhkan umur di halaman.
mungkin juga angin dan cuaca telah ikut bersepakat di dalamnya.

 "angkat!" digamit keangkuhan, aku mengiya

tentu saja, seperti pelepah pinang yang jatuh di halaman,
orang tak bertanya pada kekosongan yang ditinggalkan.
kenangan tentang pelepah pinang harus disingkirkan.

dirimu kekasih,
 tertanam seperti pinang di halaman rumahku.
dan aku pelepah. jatuh.

tapi lihatlah:
dengan siapapun umur bersepakat tak pernah aku jemu jatuh, di halaman,
tergeletak dipeluk sendiri.

dirimu memang bukan hujan yang luruh tapi kenapa kau jemu tumbuh?
mestinya kita terus saja bercinta:
lalu melahirkan musim.
mungkin kusam.

pertimbangkanlah : toh rindu tak pernah beranak kembar?

April 2012