Notes On

Wednesday, June 27, 2012

Terik Senja

hanya sesaat kita mengecup sore
dan seperti angin hinggap di daunan,
lalu menggetarkannya sepanjang malam
: begitu aku


matahari jatuh,
di teriknya rindu luruh
ke dalam pelukmu


kita dihinggapi malam,
dan seperti daun
digetarkan rindu sepanjang tunggu


 June 2012

Rini Indra Yanti's Photo

Monday, April 23, 2012

Musim dan Anak Kembar

:k
bermalam-malam lalu kekasih,
kutangisi rinduku. aku hujan, meluruh diri di ranjang.
'bruukk!"
sebuah pelepah pinang di jatuhkan umur di halaman.
mungkin juga angin dan cuaca telah ikut bersepakat di dalamnya.

 "angkat!" digamit keangkuhan, aku mengiya

tentu saja, seperti pelepah pinang yang jatuh di halaman,
orang tak bertanya pada kekosongan yang ditinggalkan.
kenangan tentang pelepah pinang harus disingkirkan.

dirimu kekasih,
 tertanam seperti pinang di halaman rumahku.
dan aku pelepah. jatuh.

tapi lihatlah:
dengan siapapun umur bersepakat tak pernah aku jemu jatuh, di halaman,
tergeletak dipeluk sendiri.

dirimu memang bukan hujan yang luruh tapi kenapa kau jemu tumbuh?
mestinya kita terus saja bercinta:
lalu melahirkan musim.
mungkin kusam.

pertimbangkanlah : toh rindu tak pernah beranak kembar?

April 2012

Tuesday, March 6, 2012

Pohon Pinang di Pekarangan

Ada beberapa hal yang menggugah saya membaca postingan John Boekorsjom: “AMYAS” Wisdom dari Negeri Cenderawasih 106 kisah inspirasional Penerang Hidup oleh Simon P. Morin.


Kutipan dari postingan itu:

"Kita, orang Papua generasi sekarang, cenderung melupakan kewajiban dan tanggungjawab kita terhadap kelanjutan hidup generasi generasi berikutnya dan sedang mengobral habis kekayaan bersama itu untuk kenikmatan diri sendiri.

Gejala ini sudah mulai tampak di daerah perkotaan di seluruh Tanah Papua. Kelompok klan atau suku tertentu sudah menunjukkan tanda tanda kehilangan tanah adatnya. Generasi barunya sedang frustasi berat dan melarikan diri ke minuman keras karena merasa tidak memiliki masa depan lagi."


Saya punya pendapat yang sama mengenai keberlanjutan generasi di Papua. Sudah tidak bisa 'ngeyel' lagi bahwa perlu tampil generasi dengan komitment kuat bagi masa depan Papua. Ini bahkan sama sekali tidak ada hubungan dengan isu politis. Ini soal mentalitas, ini kajian antropologi dari wilayah sekitar tungku saja.

1. Perlu tampil generasi yang mengelola hak-hak individunya sebagai komunitas.

Jelas di ingatan saya, bahwa 'kampung'- kampung di jalan Sentani- Ifar di masa kecil saya, adalah pemukiman klan. Beberapa rumah panggung dengan pekarangan terbuka di tengah dan satu dua pohon pinang. Pemandangan yang sama yang saya rekam, ketika mengunjungi Waisai di Kabupaten Raja Ampat. Kampung-kampung itu disebut dengan nama keluarga. Ada Kampung Sawaki, misalnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika mulai sering kembali ke Jayapura kampung-kampung yang saya ingat di masa kecil itu sudah menghilang. Kemana mereka? Ruas jalan Sentani- Ifar Gunung itupun telah menjadi jalur yang hampir separuh dikawal oleh perumahan. Perumahan yang dibangun merapat ke tepi jalan. Ada persoalan apa dengan pekarangan yang luas dan rindang dengan satu dua pohon-pohon pinang?



Dugaan saya, mereka menukar komunitas dan kebersamaan dengan hak individu untuk menjadi bagian dari masyarakat 'modern', maju. Sebuah pencapaian yang secara salah diidentikkan dengan kemampuan membeli. Membeli rumah batu, membeli motor, membeli mobil, membeli perempuan dan membeli minuman keras. Membeli dan mabuk oleh kepedihan lain yang datang bersama 'kemajuan' itu: kekuasaan.

Kekuasaan (dalam sistem politik) yang teranut saat ini di Papua sama sekali bertolak belakang dengan semangat yang membangun struktur masyarakat klan. Sebagian besar kita mau tidak mau harus merujuk pada sistem itu. Tentu tidak berarti kehadiran sebuah sistem lalu menjadi mataair kesalahan. Tidak ada yang salah dengan sistem itu. Sebab lebih dari sekedar sebuah intervensi sistem politik, kita semua dijajah sampai ke dalam ruang tamu oleh ide globalisasi.

Yang terjadi adalah ide modernisasi, globalisasi telah membentuk sebuah generasi yang gamang. Generasi yang berusaha seragam dengan indikator kemajuan yang ‘asing’: besarnya kapital, dan tajamnya kompetisi individual. Padahal, spirit klan itu yang menjadi roh hak individu Orang Papua. Klan adalah mentalitas: sebuah cara pandang ketika hak individual melebur dalam belanga komunitas. Sadar atau tidak. Tak bisa mengelak dari serbuan globalisasi, semangat klan ini semakin menyusut ke dalam keluarga batih atau paling tidak keluarga luas.

Semangat klan itu harus dikembalikan. Individualitas perlu kembali disuarakan sebagai suara klan, yang istilah kerennya : komunitas. Suara yang keluar dari pekarangan terbuka, kemana pintu-pintu rumah mengarah.

2. Pemegang Saham dan Pendukung Kepentingan

Masih dari postingan yang sama:

Ingat! Orang Papua Tanpa Tanah dan Tanpa Hutan serta Lingkungan Alam yang Lestari akan menjadi ORANG ORANG YANG PALING MALANG DI TANAH KELAHIRANNYA SENDIRI.

Kecuali! Dari hasil penjualan hutan dan tanah itu, Orang Papua sudah menjadi KAPITALIS atau dari hasil penjualan tanah dan hutan itu Orang Papua sudah BERHASIL MENYEKOLAHKAN GENERASI BARUNYA menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga MAMPU BERKOMPETISI di era globalisasi.


Saya tidak terlalu setuju dengan 'dorongan' untuk menjual tanah -meski dengan harga tinggi.

Menurut saya yang harus didorong adalah kepemilikan bersama, seperti semangat yang dulu membentuk kampung-kampung. Artinya sebagai komunitas dalam arus trading global sekarang, pemilik tanah adalah pemegang saham (stockholder) dan pendukung kepentingan (stakeholder) dari aktivitas apapun di wilayah itu. Ini mencakup seluruh kegiatan pembangunan maupun peningkatan ekonomi. Yang dimotori pemerintah maupun sektor swasta.

Untuk membangun jalan tol misalnya, perlu dibangun mekanisme yang memungkinkan kampung-kampung yang dilewati, juga menjadi pemegang saham investasi itu. Mereka (dan kemudian anak-anak cucunya) berhak atas retribusi penggunaan fasilitas.

Rumit? Saya pikir yang dibutuhkan ‘hanya’ database kampung yang rapih dan cermat. Tentu saja kerja ini akan memerlukan investasi yang besar. Sumber daya, dana, akan jadi alasan. Utopia database kampung yang ada dalam benak saya adalah sebuah produk kerja bersama teman-teman LSM, para fasilitator RESPEK.

Database yang rapih dan cermat ini akan menjadi semacam social garantie masa depan generasi yang akan datang. Yang menjamin bagi hasil share investasi atas penggunaan tanah ulayat. Bahwa tanah di mana tumbuh ruko, mall, perkantoran, sekolah adalah investasi komunitas, sumber dana abadi komunitas, bukan individu. Investasi klan. Berbasis kontrak bisnis. Bahwa mereka masih pemilik sah tanah warisan mereka, sebagai sebuah klan. Bukan penonton, atau korban yang gamang dari lindas maju buldoser globalisasi*

Tapi jangan menutup mata bahwa penting untuk mengawal semua perubahan ini dengan pendidikan. Untuk penduduk di kampung, saya memilih gereja untuk terlibat melakukannya. Pilihan ini menimbulkan pertanyaan: Apakah Yayasan Pendidikan Kristen yang mengasuh sebagian masa pendidikan dasar saya dan tempat orang tua saya mengabdikan diri masih punya visi yang sama ? Visi yang saya coba lihat dari sekolah berasrama untuk guru-guru SD, SGB YPK Ifar Gunung tempat orang tua saya mengajar? Asrama-asrama yang kemudian kosong, tanpa murid dan kami kemudian pindah ke kota?

Saya masih percaya bahwa pendidikan untuk orang Papua perlu melibatkan gereja. Sama seperti saya percaya bahwa jumlah penjual buah pinang di emper toko di sepanjang pertokoan Imbi di Jayapura, menunjukkan masih ada pohon pinang yang tumbuh di pekarangan. Mungkin tidak di pekarangan rumah anda, tapi di tempat lain dengan pekarangan terbuka yang rindang.

Kerja besar ? Ya. Itulah yang disebut panggilan untuk mengabdi dan itu wujud komitment untuk masa depan Papua: menyiapkan sesuatu yang tidak kelihatan, yang tidak serta merta jadi sorotan, tapi tetap harus dikerjakan. dan dikerjakan mulai sekarang.

Bagaimana?

*buldoser globalisasi - film Avatar, sutradara: James Cameron

Thursday, October 13, 2011

Pulau Kita

Badik dan Maespun adalah dua nama pulau. Badik di Wilayah Makassar, saya beberapa waktu bekerja di sana. Maespun di Kabupaten Raja Ampat, saya ke sana untuk menjenguk kedalaman dan mencicip keriangan anak 

Prolog: Di Maespun atau Badik, pagi sepasti sapu ombak di pantai. Entah pasang entah surut, lelaki pulau pasti ke laut Lalu mata kail diturunkan, di Maespun mengait ikan di Badik mengait peruntungan ** Di Maespun, ketapang menua di dahan Lalu jatuh dalam peluk pantai, Yang mengupasnya helai demi helai. Di Maespun dalam tangkup teluk, tanjung, ratusan pulau yang dilahirkan ke empat raja telur memijah, jemari legenda menyelusup lebat hutan dan karang malam adalah getar misteri cahaya yang datang dari kedalaman pagi bangun pada riuh kicau burung tak ada yang perlu kau lekaskan: Mata kail, tombak lelaki di sini berhak memilih apa yang hendak ditekak Samandar atau Bobara Ekor kuning atau Garopa Sebelum rembang tengah hari, Lelaki telah mengarahkan perahu ke pantai Lalu malam diantarkan lama setelah tali perahu ditambat. Ikan, keladi atau kasbi, tidak digarami. Rasa cukup dimasak dengan kayu tadampar* 

Kuingat kau: lelaki dari pulau Badik
laut mengantarmu jauh sekali, 
Untuk membuat mata kail berisi Bergegas kau pergi ke malam, atau semalaman menunggu pagi lahir dalam temaram. 
Untuk satu dua ekor ikan kau memancing, menyelam sepanjang siang. berburu di laut yang mengerangkan kematian. Ketika waktu pulang tiba dan bubu hampa kau tak punya pilihan : kecuali mengayuh ke pulau yang terus menyusut, pulang ke pantai yang tak punya teduhan dan harus menambah hutang untuk biaya makan. Di Badik, Bersama malam cemas melata memasuki kampung yang benderang dengan cahaya neon cerita - cerita tentang laut kaya Yang pernah kami punya, beringsut ke ujung kampung, dulunya tanjung Kami pun pernah berhak menetukan menetak kail pada ikan yang mana Ketika dalam ratus kayuhan kami pilih apa yang akan dibawa pulang Sunu atau Baronang, Lamurru atau Cakalang Tapi sekarang tak ada karang di pekarangan Ikan menghilang 

Epilog: Mungkin laut mengantar daeng Jauh sekali dari pantai Karena rasa takut dan cukup itu Yang kau tukar di palelongan Dan ketika di perahu, kau menurunkan umpan Mata kailmu diikat untuk menangkap harus: harus punya ini, harus punya itu. Maka kau bergegas, untuk perburuan bom pun dikemas. Kau pun tahu laut mengerang. Waktu menyelam, kematian yang kau genggam Tak lagi ada penyu berenang mendekat, Tapi kau pun tak puya pilihan Kecuali terus berburu di laut sekarat. Hari ini dengan cemas Perempuanmu bertanya: Masih berapa lama daeng sebelum kita berkemas, Meninggalkan Badik Meninggalkan tiang-tiang dan setapak yang bersama ombak dengan cinta telah kita takik? November 7, 2007 2011

Monday, October 10, 2011

Mantra

pi-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau
puah! puah! puah!

kugali tuah kurapal mantra kukirim teluh
ke ranjang dan telanjangmu

itu aku
yang berdiri dalam ruang matamu
ketika kau pejam linggam kau benam
dalam sumur tersembunyi


kukirim teluh ketika subuh dan tubuhmu berpeluh
pi-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau
puah! puah! puah!

kuburai hasrat di ambang pintu
mulut terpagut, tubuh terbelit
bayangku tuah berbisa: puah! puah!

pi-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-ri-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau-ri-sau-rin-du-pi-sau-pi-sau-rin-du-ri-sau

kurapal mantra
langit jadi tembaga
aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh!

adakah mantra yang merapal tulahnya dengan cinta?


2007-2011

Tuesday, October 4, 2011

Ketika Kemudian

dengan niat menjadikannya lirik hmm..aku rindu pada cintamu yang sederhana, gamblang. dan cuma ada aku, yang sepenuhnya setuju untuk mencintaimu dengan cara yang sama 

kau seperti benih yang menyimpan akar dan aku tanah tersedia yang setuju membiarkamu tumbuh. Ketika kemudian aku kau kenang: kenangkanlah aku demikian 

aku adalah seluruh cinta sederhana sepetak tanah yang telah melepaskanmu, membebaskanmu menjadi dahan, daun lalu berubah jadi angin, yang mengembara menelusur awan dan lembar langit, luas cakrawala 

 Ketika kemudian kau ku kenang: hmm.. aku akan selalu rindu pada cintamu yang bebas terbang dan cuma ada aku yang sepenuhnya setuju untuk mencintaimu dengan menunggu October 2011

Wednesday, September 28, 2011

Jejak

Sejak sebelas bulan lalu di paper holder pada meja kerja, kusimpan satu sajakmu. Tidak untuk apa-apa selain menghadirkan dirimu di dekatku. Rasa dekat yang sering terasa menggigit. Terutama ketika sms tak terjawab, atau telpon tak kau angkat. Kepada pemberianmu aku pergi. Tidak bukan pemberian, tapi pada jejakmu, aku pergi.

Bukan cuma sajak itu, yang ada di meja kerja. Ada juga selembar kulit jeruk pemberianmu. Tentu saja bukan kulit jeruk kering dalam tempayan kaca yang kau berikan. Lembar coklat dengan semburat hijau itu adalah jejak buah utuh yang kau antarkan, ketika menjengukku di rumah sakit.

Tentang kulit jeruk itu kutulis puisi ini:
meski kering,masih lentur kulit musim di genggamku
sisa yang kusimpan
ketika sebuah rasa kau kupaskan untukku.
kulepaskan jemari dan membiarkan musim pergi
karena kita telah berdampingandi keluasan entah,
pun kau tak bisa menyangkalinya.


October 2007

Sering kali, kulit jeruk kering itu sengaja kuletakan disebelah mouse pad. Supaya setiap kali tersentuh, akan tersengat ingatan padamu. Pada empat peristiwa kau memegang tanganku. Ya. saya menghitung hal-hal seperti itu, dan setiap kali tersentuh kulit jeruk itu, saya juga ingat pada kenyataan bahwa tangan kita saling menggenggam karena kau tidak mengelak. Wah.Ilusi tumbuh dari sana. Dari hal-hal yang cuma satu dua detik itu. Yang bahkan tidak kau maksudkan, barangkali. Tapi lihat apa yang terjadi padaku: aku merasa kau telah memberikan dirimu, untukku.

Aih.. tangan,ji...* sesekali kebinalan mencela.

Ya. Mungkin cuma 'ji' buat beberapa orang, tapi denganmu, itu sudah segalanya. Tapi diam-diam, dalam ketidakberdayaan yang kudus itu, aku masih berharap ada kecelakaan-kecelakaan kecil seperti kau lupa menarik tanganmu, dan aku menggenggamnya lebih lama dari yang sepatutnya.

Juga kepada jejak di secarik karcis parkir,aku pergi. Karcis parkir yang kau tinggalkan untukku, saat satu malam kau pergi membawa kerinduanmu buru-buru. Meninggalkanku di restoran dengan menu pizza dan pasta itu. Kali itu, kita bertemu untuk ke empat kalinya. Janji bertemu di situ. Janji temu kita lebih sering di warung kaki lima. Untuk sepiring nasi kuning di pagi hari, atau secangkir teh di awal malam.

Ketika esoknya kau menelpon dan bertanya tentang karcis itu, barulah kusadari, ada sesuatu yang istimewa di karcis itu. Karcis parkir yang kusimpan, karena kau pasti telah meninggalkannya untukku. Semalam pikirku untuk memberitahu, bahwa kau telah membayarkan ongkos parkir untukku. Apapun alasan yang membuat secarik karcis itu ada dalam dompet, kenyataannya ia telah kusimpan sebagai jejak. Jejak kebersamaanku denganmu.

Mengambil karcis parkir dari dalam dompet, kutemukan: "Nice 2 meet your eyes" tulisan tanganmu. Ilusi tentangmu melingkarkan sulurnya kembali. Tulisan itu terbaca: 'aku rindu.'

Tapi begitulah, selalu terjadi, kehadiranmu di sekitar meja kerjaku menjadi sesuatu yang lumrah dalam gulungan waktu. Kulit jeruk itu, sudah lama tersimpan di wadah kaca, tempat kukumpulkan batu dan kerang dari perjalanan penyelaman. Setelah beberapa lama tak lagi kutengok puisi itu. Meski selalu ada di depan mataku. Hal yang tak terelak atas sebuah rutinitas. Sampai sesuatu memaksa kita berhenti dan melihatnya kembali. Untuk sajak pemberianmu, plafon yang bocor. Setiap hujan datang, dari bocor di plafon, menetes air. Pada sebuah garis irisan antar sudut jatuh tetes air dengan letak paper folder, satu titik air jatuh menimpa puisimu. Percikannya menebar di atas kertas, melunturkan tinta.

Tinta yang pudar, jejak kebocoran pada puisi itu memberitahu bahwa selalu ada kemungkinan kehilangan dirimu. Terhadap datangnya kemungkinan itu, mestinya aku tidak perlu tersentak. Betapapun biasnya pengertian "kehilangan" itu, aku tahu rasa hampa akan beradu bahu dengan keangkuhanku untuk mencari alasan tetap bertahan.
javascript:void(0)
Selalu berulang. Seperti musim. Hujan akan terus datang, meski telah kusingkirkan paper holder itu dari titik jatuh air, noda pada kertas akan terus ada. Menjejak. Meski aku tak lagi menelusurinya dengan rasa yang sama, jejakmu mengingatkanku kau ada, My.

*ji dalam bahasa Makassar adalah penekanan yang dibuat untuk merendahkan. Seperti 'cuman segitu aja kok'

3 Des 2008