:k
(1)
teluk penuh dengan sepi
menggigilkan meski tanpa gerimis
matahari sengat.
sungguh sengit mengayuh harap sendiri
(2)
satu beranda kita pernah singgah
kita: aku, matahari, gerimis dan kau
matahari mengintip sesekali
ragu seperti kau
aku: gerimis, merah
gigih
(3)
kini aku mengerti:
kau mencintaiku seperti teluk memeluk pulau
tak perlu,
mestinya, mempertanyakan "kenapa?"
kita adalah diam yang tak terseberangi.
indah sekali.
(4)
pagi ini,
dari tempat di mana pernah telah singgah,
kulapisi waktu dengan tanya
adakah kau sesali
pertemuan yang tumbuh jadi percakapan
lalu janji?
aku tak.
tapi ngilu ini tak bisa kuelak.
pangkal hatiku ditohok sepi: telak.
humboldt bay, 2010
Wednesday, September 8, 2010
Jalan Kecil Menuju Rumah
Jalan kecil itu akan mengantarmu ke rumah. Rumahku. Jalan kecil dengan akasia tua di salah satu sisinya. Si pohon bernyanyi, di musim kemarau.
Jalan kecil itu akan mengantarmu kepada pergiku: ke SD dengan seragam, ketika sekolah sebelumnya semata adalah kesenangan bermain di halaman luas berumput tebal dipagari pohonan akasia tua. Sekolah swasta kota kecamatan, tanpa seragam. Kelas dengan tembok-tembok rendah dan terbuka kea rah halaman. Yang semua gurunya kukenal dan dengan nama rumah aku disapa. Dekat pasar. Dekat hanggar. Hidup berakar.
Ke SMP yang kujingkat-jingkati penuh rasa ingin tahu, dengan ketebalan yang sama pada rasa takut. Ke petualangan. Ke debar dan gelisah asmara pertama yang memabukkan. Kepada goda rimbun pohonan di jalan pintas ke pada dewasa. Jalan putih berkerikil.
Juga ke sini, jalan kecil itu akan mengantarmu. Ke hari-ini-ku. Ke hidup seorang perempuan. Sebuah kamar, dengan satu jendela, suram. Di antara bau pesing dan lotion import, di ruang tamu yang penuh buku, kutulis berlembar-lembar ingatan. Mungkin karena takut dilupakan. Lembar-lembar ingatan itu, menjadi selimut bagi sendiriku yang kadang ngilu. Selimut perca. Selimut yang kujahit sendiri dari risau, cabikan mimpi dan harap. Pagi-pagi kulipat rapi. Waktu matahari tinggi, aku tanpa mimpi, kamar-kamar kosong.
Kalau kau lewat kapan-kapan, singgahlah. Tentu bisa kau pilih musim ketika hendak singgah. Tapi buatlah janji lebih dulu. Kadang ketika musim hujan, aku justru sedang dalam perjalanan, membasahi diri dengan kenangan. Dan kau harus mau menunggu. Tidak, tidak harus. Kalau terpaksa menunggu di pintu, selimut perca itu mungkin cukup untuk menghangatkan rasa ingin tahumu. Kau mungkin bisa mengubur jemu dengan membaca sambil berselimut potongan-potongan risauku. Jalan itu licin ketika basah. Hati-hati. Kau bisa terpeleset. Ke dalam iba atau ke dalamku. Bila kau singgah, akan kusiapkan makan siang di dapur kecilku. Sudah lama cinta tak lagi dirajang di sana. Tentu menyenangkan mendengar celoteh minyak, penggorengan dan sutil bersamamu.
Jalan kecil itu akan mengantarmu, ke ruang mataku: ketika kusaksikan bagaimana ia mengusung duka saat kematian keluar dari pintu depan. Mengusung sisa cahaya, membopong kenangan yang meronta memukul-mukul peti mati. Mengusung cahaya seperti lampu jalan, hidup berangsur redup. Dalam cahaya temaram, aku meneruskan kehidupan. Duka mengekor dari belakang.
Jalan kecil berbatu-batu itu, akan mengantarku pada kematian. Jalan kecil ke pada pulang. Meski belum lagi. Tapi jalanku menuju ke petang. Ketika aku menunggu, berjalanlah bersamaku. Menemaniku bertarung dengan takut pada lupa. Melewati kemarau bersama pohon bernyanyi. Aku ingin menunggu petang sambil menyambung potongan perca, dan kau ada di sekitarku sedia menolong memasukkan benang.
2008
Jalan kecil itu akan mengantarmu kepada pergiku: ke SD dengan seragam, ketika sekolah sebelumnya semata adalah kesenangan bermain di halaman luas berumput tebal dipagari pohonan akasia tua. Sekolah swasta kota kecamatan, tanpa seragam. Kelas dengan tembok-tembok rendah dan terbuka kea rah halaman. Yang semua gurunya kukenal dan dengan nama rumah aku disapa. Dekat pasar. Dekat hanggar. Hidup berakar.
Ke SMP yang kujingkat-jingkati penuh rasa ingin tahu, dengan ketebalan yang sama pada rasa takut. Ke petualangan. Ke debar dan gelisah asmara pertama yang memabukkan. Kepada goda rimbun pohonan di jalan pintas ke pada dewasa. Jalan putih berkerikil.
Juga ke sini, jalan kecil itu akan mengantarmu. Ke hari-ini-ku. Ke hidup seorang perempuan. Sebuah kamar, dengan satu jendela, suram. Di antara bau pesing dan lotion import, di ruang tamu yang penuh buku, kutulis berlembar-lembar ingatan. Mungkin karena takut dilupakan. Lembar-lembar ingatan itu, menjadi selimut bagi sendiriku yang kadang ngilu. Selimut perca. Selimut yang kujahit sendiri dari risau, cabikan mimpi dan harap. Pagi-pagi kulipat rapi. Waktu matahari tinggi, aku tanpa mimpi, kamar-kamar kosong.
Kalau kau lewat kapan-kapan, singgahlah. Tentu bisa kau pilih musim ketika hendak singgah. Tapi buatlah janji lebih dulu. Kadang ketika musim hujan, aku justru sedang dalam perjalanan, membasahi diri dengan kenangan. Dan kau harus mau menunggu. Tidak, tidak harus. Kalau terpaksa menunggu di pintu, selimut perca itu mungkin cukup untuk menghangatkan rasa ingin tahumu. Kau mungkin bisa mengubur jemu dengan membaca sambil berselimut potongan-potongan risauku. Jalan itu licin ketika basah. Hati-hati. Kau bisa terpeleset. Ke dalam iba atau ke dalamku. Bila kau singgah, akan kusiapkan makan siang di dapur kecilku. Sudah lama cinta tak lagi dirajang di sana. Tentu menyenangkan mendengar celoteh minyak, penggorengan dan sutil bersamamu.
Jalan kecil itu akan mengantarmu, ke ruang mataku: ketika kusaksikan bagaimana ia mengusung duka saat kematian keluar dari pintu depan. Mengusung sisa cahaya, membopong kenangan yang meronta memukul-mukul peti mati. Mengusung cahaya seperti lampu jalan, hidup berangsur redup. Dalam cahaya temaram, aku meneruskan kehidupan. Duka mengekor dari belakang.
Jalan kecil berbatu-batu itu, akan mengantarku pada kematian. Jalan kecil ke pada pulang. Meski belum lagi. Tapi jalanku menuju ke petang. Ketika aku menunggu, berjalanlah bersamaku. Menemaniku bertarung dengan takut pada lupa. Melewati kemarau bersama pohon bernyanyi. Aku ingin menunggu petang sambil menyambung potongan perca, dan kau ada di sekitarku sedia menolong memasukkan benang.
2008
Friday, September 3, 2010
Angin, Karang, Kapal Karam
:K
ini kesekian kali harap kucari di antara karang,
angin mati.
Seperti kapal karam menyimpan
peluk ombak dan cumbu garam
rindu menyalutku di tiap persinggahan
tak putus memeluk seluruhku
seperti kapal karam bertukar riuh dengan camar
lengking peluit berbagai perjalanan
bertukar pendar dengan kelok, terowongan dan malam
segala pernah, menjauh
jarak kita menelan samar
ini kesekian kali harap
kucari dalam angin karang
kau dengar lengkingku?
menyeru namamu
:belum sampai, belum sampai..
garam merasuk
ombak menoreh jejak di lambungku
:belum sampai, belum sampai
Makassar, 2008
Thursday, September 2, 2010
Saya Luna yang Bukan Maya, Please
Tiba-tiba pop up window chat box di sudut kanan layar computer memberi tanda bahwa ada ajakan percakapan yang ditujukan pada saya.
“Hai Luna Maya..”
Di sapa dalam chat box seperti itu selalu mengucurkan reaksi yang sama dari saya: “ saya Luna yang bukan Maya.. saya lebih cerdas.”
Biasanya basa-basi itu berhenti di sana.
Tapi pagi ini, komentar basa-basi itu berlanjut pada: “tapi lebih cantik mana?”
Saya terhenyak. “lebih cantik mana?” jelas yang dimaksud adalah bahwa saya tidak cantik dibandingkan dengan Luna yang Maya. Ngilu juga rasanya gigi, membaca kalimat seperti itu. Dengan jelas terpeta dalam kepala saya, Luna yang satunya: yang selebriti. Wajah, bentuk tubuh dan warna kulit.
**
Sms itu berbunyi: “ ini mbak Luna ya? Saya ingin kenalan. Nama saya Ical. Salam kenal. ” Nomer itu tidak saya kenal.
“halah! Nape lo, Nil. Iseng amat. Mending kesini. Daripada ngisengin gw.” Saya yakin ini temen saya si Danil. Message sent tertulis di screen.
Dalam hitungan detik, sebuah pesan baru tiba: “Aduh Mbak, saya Ical. Saya gak iseng kok mau kenalan. Sungguh. Maaf kalau mengganggu.”
“eh, ngapain sih doyan ganti nomer. Eloe sini aja. Gw tungguin di mall. Sekalian “kenalan”. Salam kenal balik.”
“sungguh mbak, saya Ical. Saya sebenarnya,adiknya Ratno Timoer. Tapi gak gaul gitu. Dan sedang kerja di Makassar. Makasih ya Mbak sudah terima salam kenal saya. Seneng banget bisa kenalan sama orang terkenal. Dan gak sombong”
Saya mulai merasa, bahwa orang ini sama sekali bukan Danil.
“Terkenal? He he. Saya emang terkenal di kalangan tertentu: keluarga, temen kantor, temen ngumpul.. kayak gak tau aja.. Tidak sombong? Hati-hati, ini di Makassar. He he." Message sent, tertera di screen hape saya. Tidak berapa lama kemudian, incoming text
“oh .. Mbak Luna sedang di Makassar?”
Lalu pesan baru menyusul : “ Kalau di Makassar boleh tidak saya jadi penunjuk jalan, saya temenin jalan-jalan. Tapi mobil saya butut.”
“ha ha.. ada juga saya yang nunjukkin jalan di Makassar ini. Bagaimana kalo saya gonceng ma motor saja?”
“lo kok mbak Luna naik motor?”
“enak lagi. Motor saya gede kok . Thunder.”
Saya makin tidak yakin orang ini Danil, mungkin benar dia bernama Ical. Saya sungguh berharap dia Si Danil. Saya telpon Danil. Temen kantor, temen jalan, temen berantem, yang keisengannya tidak tertebak. Panggilan telepon itu tersambung. Artinya dia gak ganti nomer. Saya tahu Danil hanya punya satu hape.
“Hallo? Nape Les?” Diantara banyak sapaan Danil untuk saya, “Les” adalah salah satunya.
“ Elu ganti nomer?”
“gak”
“hmm ada temen elu namanya Ical?”
Terdengar suara tertawa kecil. “Nape, say?”
“ada orang sms gue, ngakunya Ical, mo kenalan. Tapi aneh gitu.”
“aneh gimana?”
“ya.. kayak pernah ngeliat gue , memuja gitu..”
“Ooo”
“ada gak temen elu namanya Ical?”
Cuma suara ketawa kecilnya terdengar. “darimana elu tahu dia temen gue ?”
“karena smsnya datang gak lama setelah kita ngobrol tadi.”
“ooooo. Gak ada. Ada juga namanya Faizal. Dimana Lun? “
“Masih di mall. Baru kelar belanja.”
“Maen sini dong, ke kos-kosan gw.”
Saya setuju. Di hape ada tanda SMS baru.
Sms dari Ical. “Mbak apa acaranya di Makassar? Apalagi sekarang malam minggu. Apa ada show?”
“Gak ada. Ada juga mau ke rumah temen.” Diam-diam saya menyimpan kebingungan: ‘show’?
“Oh. Dimana? Boleh gabung?”
saya setuju dan memberikan alamat Danil. Kami akan bertemu di rumah Danil.
**
Saya tentu saja tidak bisa berbantah dengan kenyataan bahwa Luna Maya itu cantik. Saya paham dan menerima bahkan sebagai perempuan bila ia dijadikan salah satu ukuran cantik. Ya wajah, ya bentuk tubuh, ya warna kulit. Tapi saya tidak mau membandingkan diri dengan kecantikan iklan sedemikian, karena itu bodoh. Kalau didesak juga, maka hitungan independent (dan narsis)-nya adalah dua komponen penilaian yang terakhir lebih mengurangi skor saya timbang faktor pertama. Sahabat saya, Akhyar, menduga ukuran saya yang XL adalah “kutukan”. Seorang teman baik yang lain mengatakan: “colour matters, Lun.” Ketika saya menggugat penilaiannya tentang siapa cantik siapa tidak. Terkait warna kulit.
Tapi pagi itu pernyataan lebih cantik mana, dari seorang yang barangkali bermaksud basa-basi, bermakna lebih dari sekedar perbandingan iklan. Ini bicara tentang betapa mudah nilai-nilai yang kita pakai dalam kehidupan dikendalikan oleh iklan dan popularitas. Bukan oleh pengenalan kita secara personal pada sesuatu.
Saya butuh bertahun-tahun untuk tidak merasa terintimidasi oleh “harus berkulit putih”. Disodori produk krim pemutih wajah setiap kali ingin menata rambut di salon, adalah pengalaman panjang merasa tersisih dari “standart kecantikan,” hanya karena saya berkulit gelap.
" kita orang apa?" biasanya begitu percakapan dibuka.
" irian"
"ooooo". Ya, tidak salah, dengan o yang ditarik panjang, sebagai tanda kemakluman. " bagus sebenarnya kulit ta. Ada di sini, krim pemutih wajah". Saya harus terima bahwa di salon-salon kecantikan, saya adalah orang yang “perlu perawatan”, karena warna kulit yang gelap identik dengan kotor. Meski kulit saya sangat sehat, saya tersisih dari dunia “Barbie” - kaum kulit putih- yang mereka fasilitasi. Terintimidasikah saya? Ya. Saya pernah percaya, saya akan terlihat lebih baik dengan kulit lebih terang. Tergodakah saya untuk punya kulit terang? Ya. Saya pernah mencoba memakai satu merek krim pemutih. Krim yang kemudian membuat wajah bernoktah putih di beberapa tempat. Saya lalu berhenti, karena pemakai krim pemutih tidak disarankan berlama-lama di matahari. Kami jelas tak berjodoh, saya suka jalan kaki dan naik motor. Waktu itu belum ada kewajiban memakai helm.
Saya bertahun-tahun, menjadi satu-satunya Luna dalam lingkungan pergaulan saya yang kecil, hingga datang Luna yang lain, yang jadi bintang iklan, yang bertubuh proporsional, yang popular. Sejak waktu itu, ketika saya berkenalan dengan orang-orang yang baru, lalu menyebutkan nama, orang menambahkan senyum tipis dibibirnya ketika menyebutkan kata “maya”. Asumsi saya: senyum itu adalah bentuk pemahaman kenapa saya menyusur setapak popularitas dengan memakai nama seorang selebriti. Ah. Saya lagi-lagi tergoda untuk merasa terluka. Tergoda untuk merasa terintimidasi, pada popularitas sang selebriti.
Saya tergoda untuk bilang: “saya make nama itu lebih lama dari sang Maya.” Tapi bukankah itu akan menguak rahasia usia saya ?
Saya tertawa. Saya belakangan mulai belajar tertawa pada ketidaknyamanan itu. Tertawa pada “ketidakadilan” itu. Ketidakadilan dan kesewenangan pihak luar yang membawa saya pada satu wilayah perbandingan dengan sang selebriti.
Ketidakadilanlah itu namanya, jika membandingkan monyet dan burung pada kelas terbang.
Atau kebodohan?
Di setiap generasi, kita melewati tekanan untuk menjadi sama, 'peer pressure'.
Tapi melihat lagi rasa tidak nyaman yang ditimbulkan terhadap saya karena warna kulit, karena rambut ikal, dan belakangan karena bernama seperti seorang seleb, saya temukan bahwa tekanan untuk menjadi sama datang dari hasrat untuk menyeragamkan. Ini soal kekuasaan kemudian. Ada mayoritas dan minoritas. Ada diskriminasi. Ada penghambaan dan pemujaan. Semua itu karena identitas.
Kecenderungan menyamakan diri pada icon iklan dan popularitas (visual, terutama) menjadi begitu besar. Hingga tanpa sadar kita diarahkan untuk menyimpan kerangka iklan dan popularitas sebagai standart, acuan, referensi. Kepada iklan dan billboard kita merujuk.
Kekuasaan untuk meracuni keberagaman dengan membangun imaji, icon, kesamarataan, membuat media mudah dijadikan kambing hitam.
Ketidakadilanlah itu namanya, jika membandingkan monyet dan burung pada kelas terbang.
Atau kebodohan?
Di setiap generasi, kita melewati tekanan untuk menjadi sama, 'peer pressure'.
Ketika iklan shampoo identik dengan rambut lurus tergerai, yang rambutnya “guriting” - istilah untuk rambut yang secara alamiah keriting dan utasnya saling melilit, -tersisih. Bisnis salon semarak dengan bonding dan rebonding. Tidak hanya perkara rambut, saudara-saudara pembantu rumah tangga saya pun berpenampilan seperti para bintang sinetron: berambut coklat kemerahan, memakai kacamata bening untuk bergaya.
Jangan salah paham, ini bukan soal pembantu rumah tangga atau bukan. Ini bukan soal pantas-tidak pantas, tapi bercermin pada mereka, saya melihat saya.
Kecenderungan menyamakan diri pada icon iklan dan popularitas (visual, terutama) menjadi begitu besar. Hingga tanpa sadar kita diarahkan untuk menyimpan kerangka iklan dan popularitas sebagai standart, acuan, referensi. Kepada iklan dan billboard kita merujuk.
Kekuasaan untuk meracuni keberagaman dengan membangun imaji, icon, kesamarataan, membuat media mudah dijadikan kambing hitam.
Semua hal yang diarusutamakan oleh media membuat kita mendongak. Mendongak melihat tayangan iklan, mendongak mempelajari jalan mendaki kesuksesan, -saya teringat pada wajah-wajah mendongak di station kereta , airport, mencoba menemukan tempat, arah yang tepat dan “seharusnya,” di depan billboard atau televisi penunjuk keberangkatan. Mendongak melihat gambaran kabur cita-cita paling masuk akal jaman ini: menjadi idol. Menjadi icon sesuai dengan standart yang dihembuskan oleh mereka yang memahami betapa gagasan untuk menjadi diri sendiri, melekat pada kesejatian diri sangat berbahaya. Bahaya laten.
Tapi tetap saja, upaya menyeragamkan ini, terlucuti di beberapa tempat, di segelintir jiwa yang menolak ngantri di jalur 'keserupaan'. Tekanan untuk menjadi sama ini mendorong terakumulasinya semangat pemberontakan dari komunitas yang disisihkan oleh iklan dan popularitas standart. Semangat pemberontakan yang terlihat pada rambut kepang ala rasta, atau - menyalahi alur kecantikan wanita dalam tulisan ini- pada mulut merah dan gigi bernoda pemuda Papua karena pinang. Mulut dan gigi bernoda pinang, adalah identitas yang membedakan mereka dari arus utama ikonisasi. Meski samar, asumsi saya, semangat “pemberontakan” ini juga upaya membentuk idol, menjadi ikon.
Karena identitas yang terseragamkan, berita dengan tajuk 'telah terjadi kelaparan' adalah kisah ketidakhadiran beras, di masyarakat pemakan ubi dan sagu.
Tapi tetap saja, upaya menyeragamkan ini, terlucuti di beberapa tempat, di segelintir jiwa yang menolak ngantri di jalur 'keserupaan'. Tekanan untuk menjadi sama ini mendorong terakumulasinya semangat pemberontakan dari komunitas yang disisihkan oleh iklan dan popularitas standart. Semangat pemberontakan yang terlihat pada rambut kepang ala rasta, atau - menyalahi alur kecantikan wanita dalam tulisan ini- pada mulut merah dan gigi bernoda pemuda Papua karena pinang. Mulut dan gigi bernoda pinang, adalah identitas yang membedakan mereka dari arus utama ikonisasi. Meski samar, asumsi saya, semangat “pemberontakan” ini juga upaya membentuk idol, menjadi ikon.
Karena identitas yang terseragamkan, berita dengan tajuk 'telah terjadi kelaparan' adalah kisah ketidakhadiran beras, di masyarakat pemakan ubi dan sagu.
Pertanyaannya: Di generasi icon ini, haruskah kita menjadi icon untuk mengukur keberhasilan?
saya pikir kita perlu berhenti mendongak, sesekali. Sebab jika kita tidak mendongak sama sekali, kita juga akan tersisih, bukan karena perbedaan, tapi karena terbelakang, karena buta, dan tak membaca jaman. Yang perlu kita lakukan adalah menunduk dan mencari ke dalam diri. Mulai berfokus pada apa yang kita punya at hand. Membandingkannya dengan system besar yang ditayangkan di berbagai screen. Dan menemukan tempat, arah serta seharusnya yang “pas” buat kita. Jika tidak, kita tidak pernah merasa penuh, content. Rasa tidak penuh, sebagai manusia, akan mempengaruhi reaksi kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Mempengaruhi penilaian kita terhadap orang lain dan diri sendiri. Nilai yang kita pakai dalam hubungan dengan orang lain, menunjukkan score kita. Kita akan menjadi monyet di kelas terbang. Lebih malang lagi jika karena menyangka telah mengikuti kelas terbang, kita menduga kita adalah seekor burung.
Ketika kemudian duduk di ruang tamu kos-kosan Danil, saya baru paham, yang diharapkan Ical adalah Luna yang Maya. Semua kekacauan ini disebabkan karena di hape Danil, nomer saya di save sebagai Luna Maya. Mereka sedang bersama ketika saya menelpon Danil beberapa jam sebelum Ical mulai mengirimkan sms.
“ Elu kenal ma Luna Maya?”
“He’eh. Temen gue.”
“ eh minta dong nomernya?”
Begitulah. Awal dari sms Ical yang membingungkan itu. Jadi ketika kemudian Ical muncul di serambi , dan melihat kami sedang duduk di ruang tamu dari jendela kaca, saya paham akan sorot kekecewaan di matanya, dan wajah bingung yang tidak bisa disembunyikannya. Ketika Ical berdiri saja terpaku di pintu, saya berdiri menyambutnya.
“Maaf, saya Luna. Bukan Luna Maya seperti yang kamu sangka.”
Danil mengulum senyum di bangkunya. Ical menjatuhkan diri ke sofa. “Tapi elu emang kenal sama Luna Maya?” Tanya Ical pada Danil setelah beberapa saat.“Enggak” jawab Danil Kalem. Ical menyeringai. Ketika tertawa, ketawanya asem. Sesaat saya tergoda untuk merasa terluka.
Ada rahasia yang ingin saya bagi. Rahasianya: Saya Luna. Vidya. Saya tidak perlu dirujuk ke siapa-siapa kecuali pada rahasia itu . Saya bukan Luna Maya. Please.
March 2009
Percakapan
:My
(1)
Kau temukankah pecahan kaca
yang jatuh dari mata
kuletakkan di antara awan dalam perjalanan
mencari rindumu
ke tempat di mana kita
tak akan pernah jumpa
kau temukankah pecahan namamu
yang mengucur dari mulutku
segenggam tanya ke awan kulempar
ketika di pematang Lhok Mambang*
tambak-tambak dan sawah terkapar
setengah telanjang
hati kuinjak jadi titian ke petang
kau temukankah diriku
(sepenggal kecilpun cukuplah)
dalam hatimu?
ombak pulang datang pulang datang
mengirisku dengan pecahan kaca
Lhok Ngah* dibalur petang
(2)
Meniti petang
Matahari menyesakkan cahaya
yang datang ke Lhok Nga
ke dalam kabut perak jingga
malam dan pucuk cemara saling pagut
sama lelah dan ingkar denganku
(3)
Sore larut dalam kabut
ketika kucungkil duka dari pokok kelapa
yang hanya sisa sepenggal
Pantai dan aku sama terkapar
duka tenggelam,
lalu malam.
2007-2010
*Lhok Mambang, kampung di Bireun, Aceh.
*Lhok Nga, pantai di Banda Aceh
inun,thanks for the unforgettable twilight @ Lhok Nga.
Matoa dan Transaksi Loyang
Di lingkungan tempat tinggal saya jalan Toddopuli, Makassar, di rumah ujung jalan halamannya tumbuh pohon matoa. Rumah itu sudah lama kosong. Pemiliknya pindah ke kota lain waktu kami pindah ke lingkungan itu. Daunnya yang khas,mirip-mirip daun Kakao langsung memperkenalkan diri rasanya waktu pertama kali saya melihat kehadirannya (setelah beberapa minggu tinggal di sana): "hai!, saya matoa."
saya lalu memperkenalkannya kepada anak-anak saya: "ini pohon matoa."
Daging buahnya seperti rambutan. Juga sebesar rambutan. Tapi Matoa gundul. Kulitnya lebih tebal, warnanya hijau- coklat kemerahan. Lebih mirip klengkeng soal penampilan botaknya. Ada yang kering, seperti rambutan Rapia, ngelotok. Jenis seperti itu biasanya disebut Matoa kelapa. Ada yang lebih berair. Lalu dengan antusias saya dan anak-anak menunggu bersama musim berbuahnya. Matoa hanya berbuah setahun sekali.
"Menunggu musim buah pohon tetangga, bukan contoh yang baik." kata suamiku. "tapi ini matoa!", saya dan anak-anak sepakat. ngotot.
Waktu musim berbuah akhirnya datang, kami sering datang ke ujung jalan. mengawasinya dari luar pagar. Begitu sering kami ‘memantau’ sampai-sampai tukang-tukang becak yang mangkal di ujung jalan itu, akhirnya tertular pengetahuan tentang Matoa. Bahwa buah pohon itu bisa dimakan. Bahwa pohon itu datang dari Irian, -ketika percakapan kami terjadi, Papua masih di sebut Irian Jaya.
Kumpulan tukang becak itu juga yang mengkonfirmasi dugaan saya, bahwa pohon Matoa itu, dengan sengaja dibawa dan ditanam di sana. “Ooooo, iyo tawwa.. ini bapak lama memang tugas di Irian.”
Musim Matoa tiba, tapi buah yang menjadi tua dan berserakan di dalam halaman tidak pernah bisa kami cicipi. Rumah itu tidak pernah berpenghuni. Saya tidak pernah punya kesempatan, menyambangi tetangga di ujung jalan demi buah matoa. Buah Matoa yang gugur membusuk begitu saja. Sedang ranting yang menjulur keluar halaman, sudah dipanen oleh tukang-tukang becak itu.
Enam musim matoa berlalu, saya tidak pernah kebagian buah jatuh pohon matoa di ujung jalan. Karena setelah musim pertama tiba, kumpulan tukang becak itu tentu lebih mampu memanen tangkai buah masak. “Memang enak ki bu!” beberapa dari mereka berbaik memberitahu, ketika saya kebetulan lewat, dan kepergok memandangi pohon itu.
Pohon matoa ditebang, ketika rumah itu beralih pemilik. Kelihatannya pohon matoa tidak mengakomodir rancang bangun rumah sang pemilik baru. Tempat pohon itu tumbuh dulu, sekarang jadi pelataran beton. Rumah itu tidak menyimpan pohon apapun sekarang. Dulu selain Matoa ada dua pohon mangga. Mungkin pertimbangan estetis disain tumah itu, tidak memperhitungkan halaman dengan beberapa pohon di dalamnya. Jadi pohon harus ditebang.
Pohon Matoa di ujung jalan itu, muncul dalam ingatan saya ketika menemukan postingan foto kawan saya, dengan keterangan: “ULANG TAHUN KOTA JAYAPURA yg ke 50, Gouverneur Plattel plan een MATOA BOOM op het plain voor de HERDEN KINGS MUUR.. (terjemahanannya kira-kira..Gubernur Plattel menanam pohon Matoa di pelataran depan Tembok Herden Kings (Taman Imbi). lalu teman saya menambahkan: " Sayangnya pohon matoa dan tugu Hollandia 50 Jar yg ada di Taman IMBI ini ditebang dan di bongkar kemudian di ganti dengan Patung Mas Yos soedarso.......”
Postingan foto kawan saya itu, menunjukkan pilihan sebuah pemerintahan, yang mewakili kebijakan, kekuasaan, dan kemampuan berbuat lain untuk sebuah kota. Ketika dihadapkan pada sebuah tawaran, pada suatu masa, pemerintah memilih untuk menyingkirkan sebuah pohon matoa sebagai icon kota, menggantikannya dengan sebuah tugu. Itu diikuti oleh keharusan menggantikan kerindangan dengan lantai semen. Rangkaian tindakan ini terlihat sebagai sesuatu yang terelakan.
Beton, gedung tinggi, ruko begitu identik dengan kemajuan, pembangunan. Tapi benarkah begitu? Benarkah semakin luas wilayah pembetonan, pembersihan lahan dari pohonan, semakin dekat kita dengan julukan ‘maju’? 'berkembang'? 'developed'?
Betapa berbeda pilihan itu dengan kebijakan pembagunan berwawasan hijau yang saya lihat di Singapore sebagai pelancong. Tidak jauh, kota itu. Ah, maaf. Negara. Tidak jauh negara itu. Hanya 2 jam terbang dari Makassar, 3 jam kalau singgah di Jakarta.
Dalam perjalanan ke hotel, terkagum-kagum dengan kehijauan kota, di salah satu setopan lampu merah, di sisi kiri jalan sedang berlangsung pekerjaan konstruksi. Dari keterangan sopir taxi kami yang sejak decak kagum pertama saya selepas airport, dengan bangga mempromosikan kebersihan kotanya, saya tahu gedung yang sedang dibangun itu untuk menggantikan gedung tua sebelumnya. gedung yang sudah tidak aman lagi untuk dihuni. Dari jendela taksi saya meihat sebuah pohon besar yang rimbun menyembul dari balik pembatas seng lokasi pembangunan. “ sayang ya, pohon sebesar itu harus ditebang.” Saya berkomentar. Bergumam lebih tepat. Jadi pasti sopir itu tidak menduga bahwa keterangan pelengkap yang ditambahkannya kemudian justru adalah hal yang paling terekam dalam benak. “They have to do the construction without cutting off that tree.” Hah?
Where am I?
Saya tahu di Belanda ada program perawatan pohon, yang pake dokter segala. Gedung ABN AMRO Denhag, dibangun di sekitar sebatang pohon. Cerita teman seorang teman saya. Tapi mentalitas orang jajahan di dalam saya, memakluminya sebagai: “itu di Belanda.” Di tempat dari mana saya datang: lahan sawah diubah jadi realestate. Meninggalkan kegamangan pada para bekas petani. Pohon-pohon ditebang dengan alasan perluasan jalan, atas nama pembangunan.
Membangun dan menyesuaikan diri dengan pohon? Becanda lu!
Tapi itu bukan guyonan. Tidak boleh menebang pohon. Pembangunan dikerjakan dengan menyesuaikan diri dengan pohon. Harus. Ada undang-undangnya.
Lalu dari jendela hotel, saya melihat gedung-gedung berseberangan memiliki teras-teras hijau, green canopy. Bukan sekedar tanaman dalam pot. Tapi benar-benar menanam pohon. Pohon tua dari halaman gedung tua itu wajib terpelihara. Jika tidak punya pohon, maka anda diwajibkan menciptakan teduhan hijau, tidak perduli berapa lantai gedung yang sedang anda bangun. Lagi-lagi: ada undang-undangnya.
Saya sungguh sulit menelan kenyataan, bahwa saya masih di Asia. Hanya 3 jam jauhnya dari kota tempat saya tinggal. Ini bukan Eropa. Begitu dekat. Begitu jauh pilihan kebijakan pemerintahan kota kami. Betapa nelangsa.
Ketika menemukan postingan foto kawan SMP saya tentang perayaan 50 tahun kota Jayapura, ingatan tentang membangun di sekitar pohon di Singapore itu kembali lagi.
Jadi mereka menanam pohon. Pohon Matoa. Bukan Beringin, bukan pohon import lain yang sedang jadi mode sehingga perlu ditelaah lagi apakah pilihan pohon itu sudah tepat. Yang ditanam di hari ulang tahun ke 50 itu, sesuatu yang khas. Rasanya pilihan itu begitu brilian. Untuk memperingati hari ulang tahun kota, baiklah kita menanam sesuatu yang berasal dari tanah sendiri, sesuatu yang khas. menanam icon. Karena pohon tumbuh, hidup. Karena kalau tumbuh bisa besar. Begitu modern. Apa yang kurang, ada nilai keberlanjutan. Begitu Avatar*. Tapi seperti keterangan foto teman saya, pohon itu ditebang kemudian.
Dan apa yang dilakukan untuk merayakan ulang tahun ke 100 kota? Salah satu acaranya: lomba gerak jalan. Akibatnya: seorang sahabat yang terjebak macet,karena lomba gerak jalan itu lewat telpon mengeluhkan jalan-jalan yang kecil di Jayapura, dengan volume kendaraan yang terasa melebihi kapasitas. Perlu jalan baru? Hm, memang kelihatan tak terelakan untuk memperluas wilayah beton dan aspal untuk mengakomodir kemajuan.
Saya sendiri tidak pernah melihat ada pohon Matoa di Taman Imbi. Rekaman gambar tentang taman Imbi di masa kecil saya: patung Yos Sudarso, menghadap ke gedung DPR, bangku-bangku beton dan tersebar di beberapa bagian taman, pohon-pohon palem di sisi dekat gedung Sarinah, sebuah kolam air mancur yang sudah lama tak lagi mancur airnya, lampu-lampu taman yang bulat di sisi setapak beton. Ada pelataran panggung beton rendah di bagian depan patung. Tempat banyak kegiatan lomba kesenian diadakan. Ruang publik yang kumuh, kesan saya ketika kemudian sempat pulang ke Jayapura. Artinya, pohon itu telah ditebang sebelum saya cukup besar untuk mengingat. Saya bahkan tak ngeh soal Herden Kings Muur (Tembok Herden Kings) yang kelihatannya justru adalah elemen penting taman itu. Ya ada tembok di kaki patung itu.
Membayangkan Taman Imbi dengan Pohon Matoa, dengan patung seorang pahlawan bersama-sama, saya bertanya-tanya. Kenapa pembangunan - sebusuk apapun bau yang dipikulnya dari sejarah- di negeri ini, identik dengan menyingkirkan? Kenapa tidak bisa berbagi? Membagi Taman Imbi antara Pohon Matoa dengan patung Yos Sudarso, misalnya. Patung itu tidak harus berada di pusat taman bukan? BIsa saja didirikan di salah satu sudut taman bukan? Apakah karena patung lebih mewakili kemajuan? Apakah karena patung itu lebih mewakili keindonesiaan yang satu? Bahwa ada patung seorang ‘mas’ di ‘alun-alun’ kota Jayapura –seperti yang disebut teman saya itu?
Ketika saat-saat ini Jayapura sedang merayakan ulang tahun ke 100nya, patung itu terus dipertahankan, renovasi Taman Imbi yang direncanakan akan dikerjakan di sekitar patung itu. Apakah pertimbangan ini, dibuat karena merubuhkan patung ongkosnya lebih mahal dari menebang pohon? Apakah karena merubuhkan patung yang notabene seorang pahlawan, akan menimbulkan ketersinggungan yang berdampak politis? Meskipun patung itu –setelah berpuluh-puluh tahun hadir, gagal menjadi icon kota? Tidak seperti patung Marta Tiahahu bagi kota Ambon, misalnya?
Tapi setidaknya, patung itu lebih ramah lingkungan, dari pada pohon-pohon nyiur di Waisai. Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat menghiasi jalan utamanya dengan nyiur oranye, kuning dan hijau. Pohon nyiur plastik hiasan dalam mall di Jakarta. Pohon plastik berwarna jreng, di tengah-tengah jalan mulus yang membelah kota. Kota yang dibuka dengan menebas hutan lindung.
Buah-buah matoa yang berserakan di halaman tetangga itu terbayang lagi, ketika melihat lagi foto postingan kawan saya. Pun teringat pada loyang-loyang kaleng penuh matoa yang diletakkan di pinggir jalan sepanjang jalan Sentani-Jayapura, ketika musimnya tiba. Musim Matoa. Loyang yang ditinggalkan tanpa dijaga. Ambillah isi loyang, tinggalkan saja uangnya, di dalam loyang. Himpit dengan batu, supaya tidak diterbangkan angin.
Ketika sempat ke Jayapura February lalu, saya merasa terasing di tempat yang saya rindukan sebagai rumah. Meski usia dan semua yang saya miliki sekarang dimulai dari sini. Di tanah ini, tempat ari-ari saya ditanam. Saya tidak yakin kepercayaan mutualisme dalam transaksi loyang kaleng seperti itu masih ada. Tidak sekarang, ketika untuk memotret dengan maksud menyimpan kenangan masa kecil saya harus membayar.
Transaksi loyang kaleng itu, mewakili kepercayaan. Kepercayaan bahwa masing-masing kita punya harga diri. Harga diri kita ditentukan dari apakah kita meninggalkan uang yang pantas, untuk menggantikan satu loyang matoa, setandan pisang, setumbuk petatas, kasbi atau keladi yang ditinggalkan tanpa penjaga. Transaksi Loyang, sebutlah begitu, tidak bicara nominal yang kita pahami dalam transaksi pasar modern. Ia bicara kepantasan. Ia bicara penerimaan. Transaksi loyang adalah salah satu kelas di mana saya belajar bahwa kehidupan adalah barter panjang dari memberi dan menerima. Kualitasnya makin rendah, ketika kita memperkarakan besarnya nominal mata uang.
Ada belahan diri saya yang tak berhenti merasa bagian dari Papua. Anak-anak dan suami saya belum pernah makan buah matoa. Anak-anak saya mungkin tak akan punya kesempatan menyusuri jalan Sentani-Jayapura. Tapi saya berharap mereka akan tumbuh seperti pohon Matoa, dikenali sebagai diri mereka sendiri. Menjadi diri mereka sendiri. Memiliki kepercayaan pada hal-hal yang baik dalam diri orang lain. Pun punya kapasitas untuk terlibat dalam ‘transaksi loyang’ di dalam hidup mereka nanti.
Kepercayaan. Mungkin itu yang hilang. Pupus. Tapi kelihatannya justru itu yang dibutuhkan untuk membangun Papua. Ya. Kepercayaan itu hilang. Bukan tanpa alasan. Tapi perlu punya cara pandang lain, bukannya menjadi tergugu didikte keharusan menjadi sama dalam mengukur keberhasilan.
Tumbuh seperti pohon mungkin itu cara terbaik melihat masa depan Papua. Tapi bukan juga pohon asing, yang kemudian merangsek kehidupan yang sudah begitu tua, yang sudah lebih dulu ada. Seperti kebijakan mengenai sebuah patung yang berakibat tersingkirnya sebatang pohon Matoa di taman Imbi.
Tapi tumbuh seperti pohon dari tanah sendiri: Matoa. Pohon yang dimiliki bersama, kepadanya setiap orang tanpa halangan mengidentifikasikan diri. Melihat kepentingan bersama lebih jauh dari sekedar menuntut hak atas dana otonomi khusus. Atau hak atas tanah ulayat. Melihat Pohon Matoa yang berbuah. Pohon yang bisa dikenali, manusia khas, manusia Papua. Punya jati diri. Karena percaya atau tidak, Matoa budidaya yang dikembangkan di Jawa, jauh berbeda dengan Matoa dari Papua. Daging buahnya tipis, dan hambar. Kalau sudah begitu, bukan Matoa namanya, tentu saja.
Selamat ulang tahun, Jayapura! Tanam iconmu, lagi. Kali ini di seluruh bagian kota, sebelum semuanya jadi aspal dan beton. Sebelum yang bisa ditumbuh di tepi jalanan kota hanya pohon-pohon plastik berwarna jreng, yang diimpor dari Jakarta.
Selalu, saya menyebutmu rumah bagi jiwa. Saya selalu rindu ingin mencecap lagi manis Matoa. Matoa Papua, bukan yang jenis budidaya dari Jawa.
Merayakanmu, Jayapura.
Long March, Papua
1:08 pm.
Lokasi : Kotaraja, Jayapura
Siang 7 Juli, di kantor, saya diberi informasi: “besok (8 Juli) akan ada demo besar.” Siapa saja akan menangkap nada peringatan untuk waspada dalam sebuah informasi seperti itu. Tapi saya berasal dari kota di mana aksi demo, orasi dan bergerombol adalah makanan sehari-hari media, sehingga terkesan hanya ada demo di Makassar, kota dari mana saya datang. Jadi saya bertanya, menyoalkan kenapa. Kenapa harus waspada?
“Macet.”
Melihat kening saya yang agak terangkat , Luis, teman saya melanjutkan: “Macet total. Dari sini sampai Jayapura.”
Demo yang dibicarakan adalah aksi long march, masyarakat Papua pro Referendum, yang juga disebut Pro “M(erdeka)” -yang disebutkan dengan berbisik. Rencananya, akan start dari gedung Majelis Rakyat Papua, di Kotaraja, menuju gedung DPR di Jayapura.
Rumah kakak, tempat saya menginap ada di dok V, Jayapura dan Kantor tempat saya sedang bekerja terletak di Kotaraja, sekitar satu kilo meter jaraknya dari gedung MRP. Sehingga saya punya resiko terjebak dalam kemacetan jika datang ke kantor. Jarak rumah –kantor saya sekitar 40an km, itu membuat long march ini akan menempuh jarak sekitar 30km. Dalam jarak 30km itu, tidak ada jalur alternatif.
Sepanjang pagi saya bertahan untuk bekerja dari rumah, tapi karena terlanjur membuat rencana memotret kota Jayapura malam ini, saya harus ke kantor untuk mengambil tripod yang saya tinggalkan di sana. Sudah lewat jam 11, ketika meninggalkan rumah. Matahari menyengat. Sambil terus mempertimbangkan apakah perjalanan ini pantas ditempuh dengan resiko terjebak sejauh 30 km dalam arus longmarch, saya sampai juga di kantor dalam waktu kurang dari setengah jam dengan sepeda motor. Tidak ada halangan. Jalan cenderung lengang, atau karena saya biasanya pergi lebih pagi dan arus kendaraan lebih padat pada pagi hari? Entahlah.
Setelah mencopot helm, saya mendengar sayup-sayup orasi. Long march belum mulai, rupanya.
“Kenapa kita diam saja ketika lapar?” Suara seorang perempuan. “Sekarang ada masyarakat Papua yang hanya makan 4 hari dalam satu minggu.” Sesaat saya berhenti dan mencoba mendengar dari lapangan parkir.
Ruang kantor berbentuk U dengan 6 meja, dua meja di tiap sisi lengang. Biasanya ke lima meja terisi, tapi hari ini hanya ada office boy dan seorang rekan kerja. Yang lain?
“Tidak masuk karena ada demo.” Kata Hardi teman kerja.
Dari lantai dua kantor, orasi itu terdengar lebih jelas. Orator kali ini seorang pria, dan kelihatannya berlatar belakang gereja. Mempersoalkan dana OTSUS yang dinilainya telah gagal dimanfaatkan, ia juga menyinggung soal janji 80-20 antara masyarakat Papua dan Pusat, yang tidak terwujud.
Dalam orasi itu dia menekankan, bahwa pergerakan ini adalah pergerakan tanpa kekerasan. Papua hanya menuntut haknya sebagai manusia yang layak diperlakukan sederajat. Karena itu, perjalanan ini bukan hanya akan dikawal oleh pihak luar (polisi) tapi juga dari dalam.
“Jadi mama, bapa, kitorang jalan ini jangan sampai ada gerakan tambahan. Kalau ada yang mau bikin gerakan tambahan, tegur. Biar dia kakaka, ato adeka, tegur.” (jadi mama, bapa –sapaan, jangan sampai gerakan ini ditunggangi. Kalau ada yang kelihatannya mau mengacau, tegur. Meskipun dia lebih tua, atau lebih muda, tegur, halangi)
Orasi itu ditutup dengan doa. Di doa itu sang orator meminta penyertaan Tuhan, untuk memberkati gerakan yang dibuat bersama di berbagai tempat pada hari ini, Di Indonesia, Amerika, Eropa dan Australia. Di dalam doa itu, saya mendengar kalimat-kalimat ini: “ Tuhan, kami akan berjalan sambil berdansa, sertai perjalanan kami..”
Matahari di atas ubun-ubun, ketika rombongan itu tua muda besar kecil, laki perempuan, mulai berdansa, menuju Jayapura.
1.43 pm
Perempuan itu duduk di bawah rindang pohon, keriput di sudut matanya berdenyut. Wajahnya basah oleh keringat. Wajar saja, matahari sudah di ubun-ubun.
“Mama juga mau jalan ke Jayapura?”
Perempuan itu tersenyum, mengangguk. Membaca keraguan di mataku, dia menjelaskan: “kalau cape, sa duduk dulu. Sa su jalan dari Waena, jadi sekarang saya duduk dulu.”
Saya berdiri ragu di sampingnya. Ingin, tapi sungkan menanyakan kenapa. Kenapa harus ada di jalan dalam umur seperti itu.
Kami saling memandang, lalu katanya: “ sap u anak-anak su jalan ke muka. Jadi sa harus ikut dorang.” (anak-anak saya sudah jalan lebih dulu, jadi saya harus ikut mereka).
Ya, saya paham. Saya juga ibu. Saya pun pasti akan menemani perjuangan anak-anak saya.
Seorang wanita yang lebih muda datang dengan sepeda motor. Kemenakannya. Sang kemenakan menyarankan supaya perempuan paruh baya itu naik ojek saja. Dia setuju. Menyetop sepeda motor yang lewat. Lalu pergi menyusul rombongan yang menjauh.
Saya masih termangu melihat kepergian perempuan paruh baya tadi. Ketika menengok ke lain arah, mata kami bersirobok. Topi hitamnya berlogo burung cendrawasih. Dari sisi-sisi topi, keriting kecil rambutnya mengintip. Putih. Polo-shirtnya berwarna biru muda. Bersih tapi terlihat tua. Matanya tajam, tapi tidak mengancam.
Saya tersenyum. Dia membalasnya.
“Bapa mau jalan ke Jayapura?” Dia mengangguk. Lalu sambil menatap langsung mataku, lelaki tua itu mengucapkan beberapa baris kalimat dalam bahasa yang tidak saya kenal. Tidak ada bunyi “oi” yang mendominasi bahasa keret–keret (klan)di Sentani, atau kata-kata dengan bunyi “g” yang menandai bahasa dari daerah Pegunungan Tengah. Tapi saya tahu, lelaki itu sedang mendoakan saya. Karena saya mendengar kata “Yesus” di sebut beberapa kali dalam kalimat-kalimat itu.
Setelah doa itu, dia berkata “Saya Pendeta, Jemaat Sion di Waena.”
Apakah dia melihat pikiran di kepala saya, seperti orang membaca running text? ketika berdiri di pinggir jalan, di tengah massa, bertanya siapa mereka?
Apakah bapa tahu, adalah “tabu” menyatakan identitas diri ketika sedang demo? Karena bapak pasti akan diseret masalah, jika dikenali. Setidaknya saya pikir begitu, makanya para pendemo suka menutup separuh wajah mereka?
Ah. Airmata mengambang di pelupuk mata saya. Dia tersenyum, menepuk bahu saya sebelum pergi.
Terimakasih untuk doamu, apa pun itu. Terimakasih untuk matahatimu, yang menemukan saya di tepi jalan itu dan menjamin, saya aman ada di sini. Saya juga mencintai tanah ini, Bapa.
Pesannya: “Jangan sedih, kerjakan apa yang harus kau kerjakan saja.”
Umur mereka rasanya sebaya dengan Jay, anak saya yang ke tiga. Wajah lelah bersimbah keringat. Ketika sedang berbicara dengan perempuan pertama itu, mereka sedang beristirahat di bawah rindang pohon, menyender ke pagar. Yang satu berkaos putih polos. Yang satu berkaos bola garis-garis merah hitam. Sandal jepit mereka berwarna merah dan hijau, berabu. Salah satu dari antara mereka, rupanya baru saja membasuh muka dengan air dari botol palstik yang ada di tanggannya. Mukanya basah.
“Mau ke Jayapura juga?”
Bocah lelaki berkaos polos dengan ragu memandang temannya, lalu menggeleng.
“kami mau pulang saja, takut nanti sampe malam”
“rumah di mana ka? Tanya saya.
“Perumnas III"
"Waena?” mereka berdua mengangguk.
“jadi ini mau jalan kaki sampai waena?” di kepala saya terbayang 5 km tanpa pohonan dari kotaraja ke Waena.
Lagi-lagi mereka saling bertukar pandang dengan ragu-ragu.
“Tidak. Sampai di Abe saja, dari sana baru naik taksi.” Si kaos merah hitam memberi keterangan.
Taksi adalah sebutan untuk angkutan umum di Jayapura.
Saya teringat anak-anak saya. Anak-anak yang tumbuh di kota “besar”. Menikmati semua kemudahan. Saya teringat saya, yang seringkali mengeluhkan terik matahari. Yang selalu merasa berkorban menempuh 3 kilometer dengan jalan kaki. Apakah kemampuan membeli kenyamanan ini telah membuat kami lemah? telah membuat saya menutup mata, dan sebuah “ya, namanya juga usaha” semata kepada ketidakadilan?
“Iyo, kam dua pulang suda” kata saya.
Tiba-tiba saya ingin menjadi anak kecil yang tidak punya keharusan memilih. Pun kalau memilih, saya memilih karena waktu harus diperlakukan dengan bijak. Seperti ke dua bocah itu, yang takut pada malam.
Saya menduga-duga apakah di jalan pulang saya masih akan menemukan rombongan tadi menempuh jalan panjang sambil berdansa? Yang pasti, ada ibu yang akan menemani anak-anaknya. ada pendeta yang menabur doanya, dan anak-anak kecil yang memutuskan untuk pulang telah mematri diri mereka di hidup saya. Meski tak bernama.
Kotaraja, 8 Juli 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
