Notes On

Thursday, June 12, 2008

Alkisah: Di Luxemburg

SEEKOR MERPATI TERBANG


Rimbun taman ditembus remang petang
seekor merpati terbang ,
sunyi di bawah sayapnya memasuki seluruh taman
pada terbang dan hinggap merpati
aku melihat diri di antara riap-rimbun kasih sayang
membangun sarang
dari mana seribu esok kemudian kulaga kujelang

di bawah sayapku
petang
semata sepetak ruang
dalam taman

2008

KAU BERJALAN SENDIRI DI TROTOAR KOTA

jelas kudengar suara sepatumu
suara sepi dan rindu
ketika hari itu berjalan sendiri di trotoar kota
menjauh

kuseru namamu
yang menjawab
masih suara dahulu
trotoar panjang kesendirian
dan rindu adalah gegas di kakiku
mencarimu

2008
LV

Saturday, June 7, 2008

Di Depan Jendela


1/
masih begini pagi, daun asoka berputik embun
seperti ketika pertama jumpa,
pagi ini dengan kelu kupetik kata
dari pohon mangga di halaman.
ceritakan padaku
apa yang di letakkan malam
di luar jendelamu?

2/
Kau tahu disini musim membuahi sudah datang?
Setiap pagi halaman dipenuhi jejak musim bersetubuh:
Putik dan buah yang kalah bertarung
seperti tiap pagi kau penuhi rahimku dengan jejakmu
jejak musim tumbuh
benih yang kau tabur
di antara dengus dan erang kasihmu
setubuh indah dahsyat tak berwaktu.

Pagi ini,
Ketika bangun halaman telah tersapu
Putik gugur menyerak di sudut halaman
Aku tahu untuk mangga di halaman
Musim akan terus bersetubuh
di atas putik gugur
tapi halamanku tak lagi akan kau tabur
dengan jejak musim tumbuh

2008

Thursday, June 5, 2008

Perjalanan Bersama

then another page was added about you

Perjalanan Bersama

Ketika kau pergi, sendiri
siapa yang kau temui di perjalanan? orang-orang asing, tentu saja.
tapi wajah asing mereka, tentulah wajahku juga:
wajah dengan mata yang seperti pantai menunggu
ombak menyapu dengan rindu,.
atau wajah dengan leret parit luka seperti wajahmu
pada wajah asing yang sangat kau kenal
perjalanan bersama kau teruskan .


Ketika pergi sendiri siapa yang aku temui diperjalanan?
Ruang-ruang kosong yang tak pernah ragu
Bermanja di pangkuan, menyulut perut dengan birahi tak putus
Ruang kosong yang makin menganga karena kau tak ada
Ruang kosong yang memompakan gegas
pada menuju, tunggu, pada waktu.

Dan diantara leret tunggu dan ruang kosong
Roda perjalanan sendiri
kita tempuh bersama

Wednesday, June 4, 2008

Early Dinner, Late Lunch

then another page was added about you


Apa yang ingin kuingat tentang kencan early dinner , late lunch kita ini?
Kau berubah My.
Terlalu tenang, pertemuan ini menjadi terlalu wajar.. meski kau toh tak mampu menyembunyikan rasa gelisahmu ada di dekatku.
Atau saya ji itu yang (seperti biasa) merasa kau gelisah ada di dekatku.

ini rupanya jam terbaik untuk kita. Di tempat itu tak ada orang lain yang datang selain kita. Jamnya membuatmu sedang lapar-laparnya, tapi tak juga digegas "harus pulang waktu magrib".
dan waktu kerjakupun sudah sangat dekat ke selesai..
pokoknya timingnya, oks. oks banget malah.


kita bicara berdua, tanpa bertengkar. Meski mungkin di kepala kita berseliweran arus-arus ingatan. tapi kita telah ngobrol. Dan bahwa kau mendengar itu tidak lebih penting dari kenyataan kau tidak menghindari appointment ini.

sulit buat saya memikirkan -dulu- akan ada waktu seperti ini.. kita cuma berdua, dan makan dengan tenang (lahap, menghabiskan semua hidangan, dan tau akan ada yang membayar -yang membayar bukan saya, ha ha ha-) pula tanpa berdebat. Meski pembicaraan kita materinya sangat personal, sangat kau, sangat aku. sungguh atmosfirnya seperti sedang "date" beneran.. he he he

saya gak berani -meski ada- meneruskan imaji tentang "date" itu.. kau tahu saya suka terlalu jauh kesana dan kemudian termangu-mangu oleh kenyataan saya hanya sendirian disana..

dan (semoga saya tak salah menafsirkan) hal seperti ini, sangat mungkin terulang lagi.
hanya kita. kau tahu betapa berartinya itu untukku, duduk semeja denganmu tanpa prasangka.
dengan rasa nyaman.

Juga rasa nyaman, rasa nyaman berada di dekatmu. Bagiku, yang paling mendasar adalah kau tahu aku mencintaimu

Monday, June 2, 2008

Imaji Pilu - Kitakah itu?

di pantai yang menegaskan jarak kita
apa yang kau lakukan
ketika waktu memisahkan dulu dan lusa?

aku ingat angin
yang membawa dingin
ketika jarak membungkam raung dan erang
yang mendidih dalam nadi
yang mengabu dalam ingin

kalau ditegas jarak kita
ada rasa dingin
menyusup sela belulang
itu aku
meninggalkan jejak pilu
sedingin dan sengilu itu
sendiri tanpa dirimu

lalu tentang waktu?
waktu melata
dalam nadi yang terbakar oleh ingin.
segala dan seluruh ingin.

Wednesday, May 21, 2008

Menjauh Darimu


Sabtu:
Ada rasa gamang.
Kesedihan menggantung seperti kabut di antara pohonan pinus malino. Dan oleh sedikit angin saja, rasa pilu itu telah ada di depanku, menyungkupku. Seperti bossara pada sajian . Seluruh. Sedikit angin dan aku terhidang, tak berdaya, ada dalam deret pilihan. Di sana, di jamuan pernikahan yang di bawah tendanya aku tergeletak terpanggang.

Seperti pagi-pagi musim kering, kabut akan tinggal lebih lama di antara pohonan pinus di halaman penginapan. Di jalan. Kau tahu, seperti aku berandapun pekat oleh kabut. Di depan jendela, menggumamkan namamu, kuusir-usir ragu. Sebagaimana tanganmu biasa melingkari pinggangku, dari belakang pilu yang menggigilkan memelukku, rapat, ketat, menawarkan kehangatan: “menyerah saja, kau menunggu yang tak akan datang. Bersamaku saja.”
Aku berdesir, dengan jemari goda kusisir. “aku ingin menunggu kabut pergi, karena matahari. Dingin ranjang ini, kekasihku yang akan menghardikmu pergi.”

Dengan tak perduli, pilu duduk di meja makanku tertawa. “Jangan pura-pura tak kau lihat”, katanya. “Ada bayang-bayang berkelebat di antara pohonan, dalam kabut. Mengintip dan mengendap. Lalu siapa akan bersaksi, bukan waktu yang akan menikammu di halaman depan? Kau tak akan dibiarkannya mati, seketika. Percayalah. Tapi karena itu, kau tahu: seperti pada luka damak beripuh, nadimu hanya bisa mengalirkan racunnya ke jantung. Tidak memuntahkannya."

Dan matahari masih tumpul hingga kini. Kabut terus menggantung. Jantungku terus memompakan namamu.

Waktu, kau kah itu?

Ingin sekali memburu bayang berkelebat, yang mengintipkan derita di sudut-sudut mata. Mencengkramnya di bahu dan berkata: “Katakan siapa dirimu. Jangan mengendap-endap dalam kabut sungai. Atau bersembunyi di rimbun pohonan. Ke rumah ibuku, naiklah bertelanjang dada. Di rumahku, tinggallah.”

Minggu:

1/
Seperti haluan perahu kau merobekku.
Meninggalkan busa diburitan
Tanpa sempat merasa sendirian , aku hilang.

2/
Selaut lukaku
Menjelma kemaluan pelacur.
Tak ada rahasia , segala bisa menyelam di sana.

Juga putus asa.

2008

Saturday, May 17, 2008

Tentang Tangan Tunggu

suatu hari
kita duduk di depan jendela
berdampingan,
melepaskan angan-angan
seperti angin melepaskan bau laut
"anyir", kataku. "harum", katamu.


matamu menjelma laut di hari yang surut
melihat apa hati dr jendela imaji?
tangan yang melambai?
Temanmu? Teman lama? Yang mana?
khianat atau rasa bosan?
sejauh apa dia dari kita?
3 hari perjalanan, musim panas yang akan datang, atau akhir tahun
atau berdiri di jendela
kau sedang menanti saat ia menjemputmu
semata menunggu ketukan di pintu?
di jendela,
jendela yang sama:
menjalin jemari menakar waktu
aku mencium lagi bau angin laut. Baunya pilu.

kau akan meninggalkanku akhirnya.
tapi siapa yang bisa mengelakkan perpisahan
mari berpesta!
lalu lupa.
memang hanya perahu karam yang tinggal dekat dermaga
dilapukkan waktu di pantai landai
pula dengan segala yang kau punya
sungguh patut jika laut jua
yang memeluk kibar layarmu
yang merengkuh gelisah kembaramu.
di depan kaca kesedihan berdandan
menunggu waktu itu tiba.

tapi jangan pergi diam-diam
kau akan kuantar sampai ke pekarangan
membenahi letak topi yang kau kenakan
sebelum lepas menyelamlah di mataku
kau tahu
nanti aku akan baik-baik saja
pula luka niscaya kukebas lepas bagai debu
di depan pintu masa lalu

tangan tunggu, kukuh merengkuhku.
ketika bibir gemetar menyebut namamu
dan wajah kubenam dalam sepi yang ngilu


2008