Notes On

Tuesday, September 11, 2007

INSOMNIA

Dengan mata terpejam
kubergegas menyusur jalan
ke siang.
mencoba menemukanmu.
berharap ada tunggu di situ.


bibir mimpi senja hari
tidak berhasil kudaki
Tertatih aku pulang
menerobos langit kamar,
menelan raung luka cinta
yang sejak pagi kuragi
rindu.


bibir mimpi senja hari
tidak berhasil kudaki
perut terbakar,
tanpa suara kutelan tiap penggal nestapa
ketika dalam pejam,
aku berdiri di peranginan
menatap hari siang
bermalam-malam
berharap kau melambaikan tangan


Nusa Lembongan, November 2005

Sajak Bulan

- kepada My


Telah bermusim-musim kita saling mencari
ziarah di antara bayang pohon dan lembah,
Telah bermusim-musim kita saling memanggil
diam di telanjang padang atau ketinggian
di antara malam dan awan

Telah kubujuk awan, telah kusapa bayang pepohonan
untuk datang lebih cepat lalu nyingkir
Dalam bentang masa dan semesta aku berjalan
Mencari jejakmu yang gagal dihapus angin

Dan entah mulai kapan perlahan jarak kulepaskan
dalam pilu kau ku seru:
“Tidak bisakah hari ini kita berhenti saja:
Tanpa merisaukan arah angin,
Dan di tengah keluasan entah, kita berjalan bersama,
bercengkrama atau diam saja berdampingan.”

Sambil mereguk sepuas cahaya
Kita biarkan jiwa tersulut gairah

Telah bermusim-musim kumencari
Jejakmu yang dulu pernah kukenali

“Tidak bisakah hari ini kita berhenti saja:
Tanpa merisaukan arah angin,
Dan di tengah keluasan entah, kita reguk semabuk cahaya
biarkan jiwa tumbuh, berkobar dalam gairah.”

2007

Menandai Hujan

Di luar hujan
tak berhenti menikamkan
gundah.
Halaman digenangi percakapan
kita yang gelisah

Lalu teringat:
"tak patut kau sengsara
karena sukar memahamiku"*

Duhai jemari dan hujan
genangan di halaman

Rindu menyulam nama di tirai jendela
ketika gemuruh di dalam dada
memukul daun pintu
Dan di bawah bantal kubekap namamu
dalam-dalam

Mungkin sampai
musim hujan usai
Tirai sulaman rindu
pada tak patut akan tak selesai
Genangan di halaman akan surut
dan gundah, tak lagi ada di sini
di hati

Musim hujan baru mulai
puisiku belum lagi usai


2007



* salah satu larik sajak pablo neruda

Friday, September 7, 2007

Mengantarmu, Waktu

Dengan rindu
Kuantar pulangmu, waktu.
Ombak lamat-lamat sampai di pantai
Kuhitung kabut melaut.
Pada karang di teluk
Kuikat selendang
Ketika malam turun dan nasi harus ditanak

Angin berat, waktu
Cadar pengantinku sobek.
Dari jauh pinang diantarkan, pantun dilantunkan
Lalu daun kelapa muda dijuntaikan diujung jalan.
Kau pulang.
Cuma
aku adalah perempuan dengan luka terbuka.
Yang menjamu tunggu di ranjangnya
Ketika kau tak ada.

2007

Wednesday, September 5, 2007

Puisi Tentang Pergi

aku telah mendatangi tempat-tempat ini. 
Mungkin tidak berulang ke sana lagi. tapi dalam ketidaktahuan akan masa depan,
akan kukirim puisi untukmu, tentang hutan penuh sulur rotan dan kayu melintang yang menjadi tua dan tersandar anggun di bahu kelebatan, hutan tanpa macan, bertaring suram. menggetarkan. 
tentang sungai, dalam ceruk perbukitan alang tempat aku dibesarkan. Sebuah kampung bernama Ifar Gunung. Tentang halaman rumput yang terbentang luas di depan rumah, dan sebagai orang Ambon, ibuku, di halaman itu, telah mengelantang pakaian, supaya warna terang sprei, taplak meja, tirai tetap cemerlang. 
tentang bunga berwarna biru cerah, juga kembang serupa bunga plastik beragam warna yang mekar di Kurima, kampung orang Dani di Lembah Balim. Akan kutulis untukmu, senja di Kaimana pada musim meti panjang, dan pasir mencatat napas ikan yang mati terdampar karena terlalu jauh berenang ke darat.  atau tentang bunga karang merah muda, anemon yang tumbuh di bawah rumah di Ayau. 

Dari kain-kain yang dikelantang di halaman depan, aku telah berjalan, menemui cerita-cerita jemuran di kampung-kampung lain, di kapal-kapal yang bersandar di beragam pelabuhan, tentang kemungkinan yang disediakan malam, sarung, melihat angin dan matahari meremas BH dan dan celana dalam perempuan sampai kering di bentang tali geladak. Kemungkinan adalah jalan-jalan yang menerabas hutan kampung-kampung tak tercatat
Itulah yang ditawarkan pergi: kemungkinan. 
Kemungkinan adalah ragu yang ditaklukkan sanro pinisi', ketika menakar tebal air dengan lidahnya. Kemungkinan juga yang dilambaikan gerombolan kunang-kunang di pohon asam yang tumbuh di tengah kuburan, bagi nelayan. 
di lidah, dan kunang-kunang, kemungkinan duduk. Kemungkinan untuk menempuh perjalanan lain.
Kemungkinan untuk pulang.  


Tuesday, September 4, 2007

Lalu: Aku Tahu

(1)
Indahnya mencintai
Indahnya mencintaimu Keiku
Seru
meriah
pesta airmata
kaya
limpah
dalam kungkung sunyi dan hampa.
Indahnya

(2)
K:
Separuh hatiku terpaut ke masa lalu mencintaimu,
separuh lagi ke masa depan merindukanmu.
Pada kini:
ada gemuruh hambur laut saat pasang,
gelepar pantai dikilik angin musim
penggal cerita pada potongan kaca buram
yang dibawa laut dari negeri ketidaktahuan
penggal yang kukumpulkan dengan bertelanjang
juga: jemari kita yang bertaut
Gairahnya!

(3)
di tempat bernama esok
akan kukenang dirimu
sebagai pantai
yang kudatangi untuk menghadang badai
dan kau adalah saksi
tentang simpul sanggulku
yang terburai
dalam rumah pasir

ketika itu,
aku akan lupa
betapa aku bahagia
berbaring di sana melihat laut
dengan mata buta.

(4)
Berdiri di pantai rasakan angin aku lalu tahu
telah lama
aku jadi riak kecil luka lautan
pantai berangin bukan rumahku

2004

Monday, September 3, 2007

Tentang Tamu

(1)
ada yang mengetuk pintu beberapa subuh,
menggenggam dingin
yang dibalurkannya di atas perutku.
sambil menatap mataku
mencari-cari
entah apa
lalu berbalik
"aku tidak buru-buru" katanya,
di perut yang terbakar
aku membaca telapak tangan yang sama
tertanda: kesedihan.


(2)
di tanganku ada cawan:
hari ini di depanku bersandar,
kami bersulang: untuk kemestian
yang masih harus diteruskan,
untuk kerelaan yang mesti diihklaskan,
ketika antara keping keinginan binal*
dan sehimpun talkin* ada niscaya
yang tidak selesai.


keping keinginan binal, sehimpun talkin: Muhary WN (Bentang Waktu)