Notes On

Saturday, April 4, 2026

The Quiet in Between (Prosa)

 Jumat kemarin, sangat bising…
orang banyak, penuduhan, eksekusi mati 
di depan publik, seorang sahabat dibunuh.

Lalu Sabtu.
Kesunyian yang datang setelah hari yang sangat kelam.
Hari ketika, dalam dunia kecil mereka, 
Teriakan dan kekosongan bergema, tubuh-tubuh patah 
tidak tahu harus berbuat apa.
Karena Sabat, lalu pintu kubur itu 
bukan saja tertutup—tapi tersegel.
Masih tersegel.

Tidak ada perayaan. Belum.
Tidak ada resolusi.
Hanya kesenyapan. 
Pun beban berat yang ditinggalkan Jumat.

Bagaimana kebaikan 
dapat dilahirkan dari kekelaman? 

“Inilah kasih itu, Yesus Kristus menyerahkan hidup-Nya bagi kita,” 
kata Yohanes.
Bukan hampir.
Bukan nyaris.
Bukan “untung masih bisa lolos.”
Yesus betul-betul mati.

Yesus tidak melawan balik.
tidak menyelamatkan diri-Nya.
Ia berikan diri-Nya.

Sabtu Kudus, 
kita duduk di antara kenyataan itu.
hari di antara salib dan kubur kosong, 
Dan mengarahkan pandangan kita pada satu kebenaran ini:
Kasih itu ada harganya.
It costs us something.

Yesus menyerahkan hidup-Nya. 

Tapi Kebenaran tidak berhenti di situ.
seumpama mata yang menatap, 
langkah Sang Kebenaran tegak mendatangi,
dan bicara melampaui masa: kamu pun, 
harus menyerahkan hidup
untuk saudara-saudaramu.

Ah. 

Dalam drama yang kita ambil peran
Kebanyakan kita tidak berhadapan 
dengan kelam penyaliban Jumat Agung
bahkan dalam drama terburukpun,  
kita tidak bersedia duduk di  sunyi sesenyap 
Sabtu Kudus ini. 
Kita membuatnya riuh, melibatkan orang banyak, 
merencanakan penuduhan, 
merancang eksekusi mati satu dua orang 
di depan publik, membunuh seorang sahabat. 

Tapi tidak satu pun dari kita yang dikecualikan.
duduk di depan kebenaran
semua akan menjadi tidak nyaman.
Setiap kita akan diminta menyerahkan sesuatu—
apa yang kita pilih untuk kita peluk, kita pertahankan.

Waktu kita.
rasa nyaman. 
kebanggaan.
Uang.
Reputasi.
Kita. Kita. Kita. Kita. 

(Jadi pertanyaannya: 
bagaimana kita bisa mengasihi seperti Yesus?
membawa kabar-baik, karena kabar itu sungguh kabar-baik?)

Dalam kesenyapan Sabtu Kudus
bersiaplah menyambut momentum-momentum itu—
ketika memberi bukan untuk mendapatkan imbalan,
mengulurkan ketersediaan untuk melayani
dengan cara yang tidak mudah,
dalam semua itu, kita  yang membayar harga.

Karena ketika kita mengasihi seperti itu,
orang bukan hanya mendengar tentang kasih Yesus—
mereka mengalami sendiri kasih itu.

1 Yohanes 3:16: 

The Quiet in Between

Jumat kemarin sangat bising—orang banyak, penuduhan, eksekusi mati di depan publik, seorang sahabat dibunuh. Lalu Sabtu datang. Kesunyian yang mengikuti hari yang sangat kelam dalam sejarah keterhubungan Yesus dengan pengikut-Nya.

Pada hari itu, dalam dunia kecil mereka, murid-murid tidak tahu harus berbuat apa. Pintu kubur itu bukan saja tertutup, tetapi tersegel—masih tersegel. Tidak ada perayaan. Belum. Tidak ada resolusi. Hanya kesenyapan. Dan beban berat yang ditinggalkan hari Jumat.

*“Inilah kasih itu, Yesus Kristus _menyerahkan hidup-Nya_ bagi kita,”* kata Yohanes. Bukan hampir, bukan nyaris, bukan “untung masih bisa lolos.” Yesus betul-betul mati. Yesus tidak melawan balik, tidak menyelamatkan diri-Nya. Beliau memberikan diri-Nya. Yesus benar-benar _laid down_, menyerahkan hidup-Nya.

Sabtu Kudus, hari di antara salib dan kubur kosong, mendudukan kita di antara kenyataan itu. Kita dihadapkan pada satu kebenaran: kasih itu ada harganya. _It costs us something_.

Ayat dari 1 Yohanes 3:16 tidak berhenti pada pernyataan tentang apa yang Yesus lakukan. 

Ayat itu seperti menatap kita dan berkata bahwa kita pun harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita. Kenyataannya, kebanyakan dari kita tidak berhadapan dengan situasi sedramatis penyaliban di Hari Jumat Agung. Namun tidak ada satu pun dari kita yang dikecualikan. Kita semua akan berhadapan dengan ketidaknyamanan. Kita akan diminta menyerahkan sesuatu—apa yang kita pilih untuk lindungi dan pertahankan: waktu, rasa nyaman, kebanggaan, uang, bahkan reputasi.

Jadi pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa mengasih seperti Yesus? 

Jawabannya mungkin ada dalam momen-momen sederhana ketika kita memberi untuk orang lain, bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi untuk melayani mereka dengan cara yang tidak mudah—yang membuat kita harus “membayar harga.” Kita yang membayar harga itu.

Jika seperti ini wajah Injil yang dimotivasi kasih, bagaimana kita akan membawanya hari ini? Karena ketika kita mengasihi seperti itu, orang bukan hanya mendengar tentang kasih Yesus, tetapi mengalami sendiri kasih itu.

Tuhan berkati.

Sumber: YesHEIs - YouVersion. 

Keharuman Sang Raja

 _Bacaan Alkitab: Matius 26:6–13_

_Disclaimer_: Tidak banyak yang menyoroti peristiwa ini dalam minggu-minggu terakhir kehidupan Yesus.

Ada satu momen menjelang penyaliban, ketika seorang perempuan melakukan sesuatu yang membuat seluruh ruangan menjadi tidak nyaman.

Ia masuk saat orang-orang sedang makan. Kehadirannya membuat suasana hening. Di tangannya ada sebuah wadah parfum mahal terbuat dari pualam. Ia membuka wadah itu, mencurahkan isinya ke kepala Yesus, lalu dengan rambutnya menyeka kaki-Nya. Ruangan itu langsung dipenuhi aroma yang kuat dan mahal.

Kehadiran buli-buli parfum bukan detail yang kebetulan. Ada sesuatu yang penting sedang ditandai di sana.

Kebanyakan tafsiran berhenti pada nilai ekonominya. Orang-orang di ruangan itu bergumam: _Apa-apaan ini? itu kalau dijuala, kan bisa buat bantu orang miskin, dari pada dibuang-buang begitu!”_.  Fokusnya pada harga. Atau pada pujian Yesus—bahwa perempuan itu sedang mempersiapkan penguburan-Nya.

Namun, mungkin ada satu lapisan makna lain yang sering terlewat. 

Seorang teolog, Lois Tverberg, menjelaskan bahwa dalam budaya Timur Tengah kuno, raja bukan hanya dikenali dari jubah, mahkota, atau tongkatnya—tetapi juga dari *keharumannya*. Aroma menjadi penanda kehormatan. Keharuman itu tinggal bahkan setelah sang raja meninggalkan ruangan. Keharuman menandai hadirat.

Jika demikian, maka apa yang terjadi di Betania bukan sekadar tindakan emosional seorang perempuan. Itu adalah *penandaan kerajaan.*

Ada tradisi yang mengatakan bahwa keharuman pengurapan itu masih “tercium” sampai ke Golgota. Artinya, ketika Yesus melangkah masuk ke dalam pengkhianatan, penghinaan publik, dan kematian yang brutal—tubuh-Nya masih membawa *aroma Kerajaan*. _The smell of royalty._

Sementara orang-orang melihat kehinaan, ada sesuatu yang lain yang tak kasat mata—tetapi nyata—mengelilingi-Nya: keharuman seorang raja.

Dalam bahasa Ibrani, kata untuk “aroma” adalah _reyach_ (רֵיחַ). Kata ini sering muncul dalam konteks korban dan persembahan—digambarkan sebagai sesuatu yang naik sebagai *bau harum di hadapan Tuhan.*

Perempuan itu bukan hanya menunjukan kemurahan hati, dengan “mengorbankan” hartanya yang paling berharga, minyak dalam _alabaster jar_ itu. Perempuan ini melakukan sesuatu yang menandai momentum. Momentum Kerajaan. Perempuan itu bukan hanya memberi sesuatu yang mahal. Ia mempersembahkan sesuatu yang bernilai sebagai *tindakan profetik*. Ia menandai siapa Yesus sebenarnya.

Keharuman raja yang menempel di tubuh Yesus menjadi penjelasan penting kenapa elemen _alabaster jar_, perlu dihadirkan. Yesus sekali pun dihinakan, adalah raja. Raja yang menampilkan berlapis  paradoks. Yesus adalah Raja yang Menunggang Keledai, bukan kuda perang.  Yesus dimahkotai duri, bukan emas. Karena bukan mahkota duri itu penanda ke-raja-an-Nya, tapi keharuman-Nya. Identitas sebagai raja, tidak hilang di sepanjang masa sengsara-Nya, dalam semua peristiwa yang ditanggung Yesus sampai tiba di Golgota. 

Mungkin dari sinilah 2 Korintus 2:15 berbicara:

_“Sebab bagi Allah kami adalah *bau yang harum dari Kristus*…”_


Menariknya, keharuman itu tidak hanya tinggal pada Yesus. Ia juga menempel pada perempuan itu—pada tubuh yang membungkuk di kaki-Nya. Keharuman itu berpindah melalui kedekatan.

Kedekatan menghasilkan aroma.

Artinya, perempuan itu kemudian berjalan keluar dari ruangan itu—membawa keharuman Kristus ke tengah orang banyak.


Dan mungkin, di situlah undangannya bagi kita.


Kedekatan kita dengan Kristus—dalam penyembahan, dalam hidup yang dipersembahkan—akan meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat, tetapi dapat “tercium”.

Bukan secara fisik, tetapi secara rohani. Hidup kita menjadi seperti dupa—_Christ-like fragrance, rising up to God._


Pertanyaannya:

*Apa yang tertinggal pada orang lain setelah mereka bergaul dengan kita?* 

*Apakah kedekatan kita dengan Kristus, telah  membuat “aroma Kristus” tercium oleh orang lain?*


Tuhan memberkati.


Sumber: @aussiedave

https://www.instagram.com/p/DWgSyhOjlKL/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Saturday, November 1, 2025

Sebelum Tumbang

Negeri ini telah bertahan di bawah separuh bendera
Angin terpendam bersama nyanyian raya
dalam lembah

'Hiduplah Indonesia Raya' 
di latarbelakang gemuruh suara truk 
dengan roda-roda raksasa
membawa kayu dan emas
dari halaman
dan dari belakang gergaji mesin 
maju pelan-pelan di dalam hutan
dijejaknya 
lahan-lahan kelapa sawit membentangkan
pikat dan muslihat kemakmuran. 

Seorang pemuda tanpa tato menyanyikan
Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak
Tapi bukan kami punya. 
Gitarnya patah, giginya patah. Kemudian. 

"Kami menjadi penggarap sewaan tanah leluhur kami. 
ketika kembali ke mata air asal 
dan palung tempat legenda memelihara mutiara.
Kami dihadang senjata dan tentara.
'Dilarang masuk'.

Teriakan namamu 
Sebelum suara burung dan sungaimu
Menjadi ilusi kebeningan hutan dan pantai
di ruang-ruang spa.  

2. 

"Tanah kami dirobek
Oleh mereka yang tak pernah mencecap air sungai-sungai kami, 
dan belulang leluhurnya tak lapuk 
Di bawah daun-daun pohon kayu kami."

Di bawah separuh bendera, bataria!
Teriakan namamu. Sebelum legenda tumbang. 

Jangan lupa rekam!


Sunday, June 5, 2022

Ini Sa Suda

Ini Sa Suda

Apa katamu tentang tanah ini?
Mari berdiri: ini kesaksian negeri Tabi, La Pago, Mee Pago, Animha dan Saireri
tempat orang melihat matahari keluar dari kedalaman lubuk Pasifik
memanjat pucuk-pucuk pohon, menyeruak dari dalam tebal pekat kabut Amungsa.

Mari berdiri di sini, pilih: 
dari mana akan kau timba kearifan?
dari lintas sungai atau rawa-rawa Animha, tempat gaharu berendam, dipeluk perih peradaban.
dari derai ombak di pantai-pantai Saireri, Animha dan Tabi di mana badai bagi mereka adalah cara laut mencintai pantai
Dan perahu adalah cara merekam kisah cinta pada gurat kayu. Seperti patung-Asmat dan Kamoro merekam ingatan.

atau dari bentang pegunungan tengah yang didiami kaum
La Pago dan Mee Pago?
ah. tentang mereka: 
seperti aniani di tangan perempuan tani yang mengasihi padi
Demikian jaring bagi perempuan yang mendiami tepian Tigi dan danau-danau Enarotali.

Setiap kaum memiliki pengetahuannya sendiri
Seperti sungai memiliki kelok masing-masing
Seperti gunung memiliki ceruk dan lembahnya, sebagai tanda, seperti nama. 

Ini kesaksian 
tentang ketekunan benih 
hutan bakau, hutan kelapa yang tumbuh menebal sendiri, 
seolah tanah telah digarap para tua-tua ketika malam
dalam terang kunang-kunang
dan esoknya 
pohon-pohon berselimut lumut, 
yang disimpan hutan-hutan tanpa macan itu
merebahkan diri, untuk kemudian hidup dalam ulat sagu, burung kasuari, cendrawasih.  
Atau jadi pohon lagi. 

Merdeka? 

Apakah ada yang lebih merdeka dari memiliki pengetahuan, memiliki mata yang membaca langit malam sebagai arah pelayaran, dan menelusur jejak patahan ranting di hutan dengan akurasi shareloc seperti kita hari ini?

adakah yang lebih merdeka dari kelenturan benang tunggal noken, terfo, buah merah dan nyanyi? Apakah yang lebih merdeka, dari pukulan tifa, hentak kaki, 
Sebut kuskus, kasuari, cendrawasih lalu menari sampai kaki baabu? 

adakah rahim lain bagi kemerdekaan selain ketekunan, dari kaum yang perempuannya, menggiling serat tanaman jadi benang? 
Adakah tempat menimang kemerdekaan, selain dalam gendongan mama yang tangannya kokoh membelai tanah, memanen hidup dengan ruas-ruas jari yang tersisa? menjalin kehidupan bersama semua yang kau sebut hutan, keterpencilan?  

Adakah yang lebih merdeka dari menjadi sa. 
adakah yang lebih lantang menyerukan merdeka dari: ini sa suda. 

Ini Tabi, ini Mee Pago, Ini Saereri
Ini Ha Anim ini La Pago:
ini Papua, ini sa suda. 

Wa wa wa

Tuesday, March 22, 2022

Tuhan Bukan Gembalaku


TUHAN ADALAH GEMBALAKU 
TAK AKAN KEKURANGAN AKU


Meski bibir tak berucap,  lakuku mengungkap: 
Tuhan bukan gembalaku. 

Aku selalu kekurangan:
Kurang ini, kurang itu. 
Belum punya ini, belum punya itu
Karena kurang atau belum punya
Mulutku seperti mata air yang berbual-bual
Mengeluarkan keluh dan persungutan 
Hidupku adalah daftar panjang iri hati dan ketidakpuasan 

TUHAN ADALAH GEMBALAKU
IA MEMBARINGKAN AKU 
DI PADANG YANG BERUMPUT HIJAU
IA MEMBIMBING AKU KE AIR YANG TENANG

Duka, luka, ku beri label 
‘konsekwensi’ dan ‘tanggungjawab’ 
Saling sikut, tipu muslihat adalah mata angin
Untuk mencari air di balik belukar
Aku merambah jalan sendiri, 
Perjalanan yang kutempuh, 
Adalah siang yang jam-jamnya panjang.
Tanpa teduhan tanpa singgahan. 
Di ujung jalan buntu,
 di depan orang, aku memukul dada
Bertanya dalam doa: ‘Lord, why me?’
Tapi tidak jarang, ketika sendiri aku memaki:

‘Tempat apa ini? Situasi apa ini? Gak bisa jadi Tuhan, turun! Gue ganti!

TUHAN ADALAH GEMBALAKU, 
IA MENUNTUN AKU DI JALAN YANG BENAR
OLEH KARENA NAMA – NYA

Tuhan bukan gembalaku, 
Hidupku adalah pertaruhan 
yang dadunya di lempar oleh mumpung dan kebetulan.
Dengannya kutukar kasih dan setia.
Setelah itu sepi. Sendiri.

Perlahan hari bergulir ke petang.
Menengok ke kiri dan ke kanan
yang kulihat adalah bayang-bayang
mengepung malam,
aku berjalan dituntun sunyi  
Suaranya memanggil-manggil
Sementara dadu terus dilemparkan
Di meja pertaruhan.
Kutukar meterai kekudusan, 
Untuk membayar sepotong perjalanan menuju kemewahan
Yang setelah itu tidak bisa membeli damai bagi jiwa.
Untuk dahaga bermusim-musim jiwa yang merana, 
Kutukar ketulusan
Dengan setangkup air kubangan, 
sepiring keraguan, belati dan ranjang pinjaman 

SEKALIPUN AKU BERJALAN 
DALAM LEMBAH KEKELAMAN 
AKU TIDAK TAKUT BAHAYA
SEBAB ENGKAU BESERTAKU
GADAMU DAN TONGKATMU
ITULAH YANG MENGHIBUR AKU

Penuh luka,  memar, menanggung sepi dan kemarahan 
Jalan masih penuh belukar, hati penuh caci maki
aku bertemu, jejak hujan
Tapi hari terlanjur malam, 
Dengan keberanian yang tersisa, 
Belati dalam genggam aku berjalan 
terus mengarah kepada entah
menggapai-gapai ke sia-sia 

ENGKAU MENYEDIAKAN HIDANGAN
BAGIKU DI HADAPAN LAWANKU
ENGKAU MENGURAPI KEPALAKU DENGAN MINYAK
PIALAKU PENUH MELIMPAH

padaku tidak ada kesempatan
untuk menangkup tangan

Malam adalah perut yang memuntahkan darah
dan padanya aku menghamba,
di bawah bulan yang hadir di langit tembaga
ketika beruntung
aku melolong
raung kosong tak berkawan:
aku harus berkhianat untuk makan,
membunuh untuk kenyang
meski belati dalam genggam,
di meja para lawan, 
aku tertunduk
aku merangkak mengais sisa-sisa 

TUHAN ADALAH GEMBALAKU
KEBAJIKAN DAN KEMURAHAN BELAKA
AKAN MENGIKUTI AKU SEUMUR HIDUPKU
DAN AKU AKAN DIAM 
DALAM RUMAH TUHAN SEPANJANG MASA

Tanpa Tuhan tanpa gembala
Jiwaku terperangkap, hilang, 
Diabaikan dari  hitungan. 
Meski belati dalam genggam,
Aku menghitung kekalahan 
Di dalam diri yang sendiri
Aku akan memejamkan mata
di peluk sunyi tanpa Tuhan tanpa gembala

Kau dengar?

menempuh waktu 
ada tangis. tak berbunyi: 
‘tolong…. ada orang di sini *)


*) petikan dialog dalam naskah "Tolong", Nano Riantiarno.

Wednesday, May 19, 2021

Mazmur 151

aku mau bermazmur, mazmur tentang mekar mawar

dan perjalanan hujan. tentangmu. 


Darimu,

ada senantiasa  yang mengalir

Terus hadir :

Meski malam kelam pekat terbentang

Kebaikan kesetiaanmu pasti tiba. Sepasti fajar. 

Padamu 

ada yang tak bisa ditunda.

Seperti terang datang bersama matahari,

Tak terkalahkan, tak bisa dihalangi

Sepasti ' jadilah petang, jadilah pagi,'

tak perduli musim berganti.

cahaya wajahmu mengawal hari-hari kami.

Kehidupan kau perintahkan mengalir

Mengairi hidup kami

kun faya kun!

bukan sulap, bukan iklan: 'mawar!' seru orang

takjub. 

Seperti bunga di ujung peluk kuntum

demikian kebaikan dan kesetiaanMu

Saling memeluk dan merayakan

Sedang kami baru akan mawar

Ketika kehidupanMu mengantarkan mekar

Semarak kami datang dari genggam anugerah.


Aku mau bermazmur

Tentang mekar mawar tentang perjalanan hujan.


Padamu ada perjalanan 

memaknai arti tak terlihat

seperti laut didihkan langit, 

hidup merangkak: dari uap air, jadi hujan, 

mengerjakan tumbuh bagi benih. 

memaknai luka dan meringkuk dalam harap

seperti benih membutuhkan retak, untuk tumbuh tanpa suara. 

derita membuka jalan: aku menjadi

diri sendiri pada waktu dan musimnya.


Padamu perjalanan 

adalah menuju latar belakang

seperti langit malam

yang membuat bulan dan bintang jadi terang

dan kembang api sebuah perayaan

mendapat decak kekaguman

Padamu perjalanan adalah memberi

bukan karena mati dan tanpa daya,

tapi memilih untuk menyerahkan kepentingan diri sendiri:

menjadi semakin kecil, semakin tak dikenal

semakin melebur, membuat orang lain tumbuh subur.

mewujud dari melebur, remuk dan hancur. 


Aku mau bermazmur tentang kita. Perjalanan kita.

Engkau terus mengalir terus hadir

menelusur perjalanan,melintasi musim kehidupan

Tak terhalangi dalam memerintahkan anugerah

Demi anugerah

Mengawal hari-hari kami

teguh dalam setia, entah kupahami, entah tidak


Aku mau bermazmur

Mazmur perjalanan kita

Seumur hidup akan kunyanyikan:

kebenaran tentang hadiratMu

Yang tak terdustakan.


Engkau terus hadir, senantiasa mengalir

demikian KesetiaanMu, KemurahanMu

Mengawal keliaran hingga pemberontakan,

dusta hingga pengkhianatan

luka dan pedih yang ditorehkan ketidaksabaran

dalam kelam kefanaan

Engkau menunggu dan menyerahkan

Mengangkat dan meneguhkan

Di sepanjang perjalanan

Membungkusnya dengan kehidupan

Memenuhinya dengan anugerah.


Seumur hidup akan kunyanyikan

Mazmur perjalanan hujan dan mekar mawar

Perjalanan cinta kita.


November 2016


Wednesday, April 21, 2021

JAHITAN CINTA IBU -SAJAK MESIN JAHIT (2)

 Udara dingin menyerbu dari kisi-kisi jendela dapur. ruang makan itu, menghidupkan ingatan tentang seorang perempuan

perempuan kuat, yang menolak mengintip hidup darikisi-kisi, 

perempuan yang kupanggil mami, perempuan paling sulit dipahami diusia remaja,

ketika mami duduk di depan mesin jahit menjelang ulang tahunku. Membuatkan baju untukku. Menyiapkan tart ulang tahun, membuatkan kartu . tapi saya toh tetap merasa tak cukup, waktu itu. Selama tak ada pesta disko, apalah artinya ulang tahun? “Kenapa saya tidak bisa bikinin pesta? Kenapa malah kebaktian rumah tangga?, siapa yang ulang tahunka?” Saya ingat kegusaran saya, di salah satu kesempatan hari ulang tahun. 

teman paling kurindukan ketika menjadi istri,

mentor yang paling kuharakan ketika menjadi ibu. 

tidak kusimpan gambar ibu, sepotongpun di seluruh rumahku. Rumah dimana aku dipanggil ibu, oleh anak-anakku. 

tapi di rumahku ada mesin jahit yang tidak pernah melarikan benang dan jarum di atas kain, dan di ujung-ujungnya ada jemari mengapit.

seperti yang ada di rumah ibu. jerrr, jerrrrrrrrrr, jerrrrrrrr bunyinya kuingat.

jerrrrrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, nyanyi mesin mengiring senandung ibu

ketika waktu ia himpit hati-hati dengan cinta, setelah mengukur kain lalu menjahitkan baju, juga menyiapkan kartu untuk ulang tahunku. mesin jahit di rumahku mengelim waktu yang senyap, ketika kusiapkan pesta ulangtahun lewat telepon untuk si bungsu,

sayup mesin jahit ibu terus berbunyi di dalam darahku, meski terhimpit waktu.

jerrrrrrrrr, jerrrrrrr, jerrrrrrrr cinta ibuku, berdesir di darahku dan mendesau di ingatanku.

Jerrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrrr. Mengejar diri dengan tanya: cukupkah perayaan ulang tahun dengan pesanan dari restoran dengan alasan tak ada waktu?

Tak sanggup kubandingkan pilihan mami dengan pilihan-pilihanku sebagai ibu.. Mesin jahit tua, Kali ini ia berbunyi, sebagaimana mesin seharusnya berbunyi. tanpa tanganku menjepit waktu di kedua ujungnya. Jerrrr, jerrrrrrr, jerrrrrrrr. Ibu menjahitkan cintanya ke tubuhku.

padanya aku belajar, kelim dasarnya belum kelar: Jerrrrr, jerrrrrrrr, jerrrrrrr.

Tuesday, March 9, 2021

Choose to Challenge

Renungan tanggal 9 Maret 2021
Hari Perempuan International - International Women's Day
Luna Vidya
Bagian ke 3

MAZMUR 119:65-72 - STANZA KE 9

Tanggal 8 kemarin, adalah Hari Perempuan International - _International Women's Day_, temanya "choose to challenge", berani menantang, jika diterjemahkan. Dari sudut pandang "berani menantang", sebagai seorang perempuan, mari kita lihat apa yang dapat ditemukan dalam stanza ke 9 Mazmur 119. 

65 _Kebaikan hati-Mu yang berlimpah kepadaku membuatku semakin ingin mengikuti  firman-Mu_
66 _Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik, dan berilah aku terang, karena aku percaya kepada perintah-perintahMu._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu_
68 _Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah._
69 _Para pembual yang sombong mengarang dusta tentang aku karena aku bersemangat mengikuti semua yang Kau katakan._ 
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu._
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia. (Terjemahan Passion)_

Kemarin, saya akhiri renungan dengan ini: "...Saran saya daftarkan diri anda - ke 'sekolah' pembuat keputusan yang baik-. Pembuat keputusan yang baik, adalah kebutuhan saat ini, sekarang dan berdampak kekekalan. Terutama karena anda perempuan. Saya juga. Orang menduga, kita adalah kaum yang membuat keputusan dituntun perasaan semata. Tak apa. *Tapi mari mengalahkan dunia,* dengan memiliki kualitas warga Kerajaan Allah ini: Anda adalah *seorang perempuan* yang mampu membuat keputusan yang baik. Bukan hanya 'baik', tapi juga memenuhi kriteria "berkenan ke pada Allah, dan sempurna".  

*Mari mengalahkan dunia*, _choose to challenge_ dengan cara

*1. Mengembangan kapasitas untuk menjadi pembuat keputusan yang baik*, dengan dua panduan pikir:  (a) Menjadikan Alkitab sebagai referensi utama, 
( b) Kebersediaan menindaklanjuti koreksi.
Dimensi _"choose to challenge"_ kita bersama dalam hal ini  adalah kegigihan untuk menjadi maksimal di dalam kapasitas dan mengakses apa yang (sesungguhnya!) disediakan Kerajaan Allah bagi kita. 

*2. Mempunyai mata yang melihat hasil akhir*

Orang dengan mata yang mampu melihat hasil akhir, dalam stanza ini digambarkan sebagai  (a) orang yang perjalanannya diarahkan oleh Firman Tuhan dan dengan bersemangat berjalan dalam kebenaran (65, 66 dan 69), (b) memiliki kesadaran bahwa *semua yang terjadi* - , adalah intervensi ilahi yang indah di setiap bagiannya dan bersumber dari kebaikan Tuhan (68). Orang yang mempunyai mata melihat hasil akhir, melihat (c) disiplin sebagai bagian tak terelakan untuk mengeluarkan noda dari karakter kita. Seperti api digunakan untuk memurnikan emas (71). 
Jadi _"choose to challenge"_ kita di sini adalah soal persepsi tentang "nasib". Bagaimana anda melihat nasib anda? Individu yang dimakan usia, makin menua atau pribadi yang sedang berjalan makin lama makin kuat, bersemangat ke arah pembuktian kebenaran Firman Tuhan? Bahwa hari-hari kita adalah momentum yang penuh "amin!" ? 

*3. Mengejar kesejatian. _Don't die as a copy_*

70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, *tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu.*_
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku *adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku*, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku *lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia.*(Terjemahan Passion)_

_"Choose to challenge"_ kita untuk ini adalah memerdekaan diri dari cara ukur dunia dan menyesuaikan diri dengan Kesejatian. Pada ayat 70-72, terdapat pesan yang kemudian terus menerus bergema di Perjanjian Baru: persepsi tentang ukuran.  Bagaimana kita mengukur "terbaik", kekayaan dan pencapaian. Tantang dunia ini, bahwa sebagai perempuan Kristen, kilau kekaguman yang memikat kita bukan kilau yang ditempelkan pada tag harga, tapi pada nilai dan jaminan kekekalan. Kita adalah orang yang merdeka, benar-benar merdeka untuk menjadi sejati, bukan KW, bukan korban _trend_. Ya itu, _don't die as a copy._

Tuhan berkati.
LV

Teach Me Better Judgment (2)

Renungan tanggal 8 Maret 2021
Luna Vidya
Bagian ke 2

MAZMUR 119:65-72 - STANZA KE 9
65 _Kebaikan hati-Mu yang berlimpah kepadaku membuatku semakin ingin mengikuti  firman-Mu_
66 *_Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik,* dan berilah aku terang, karena aku percaya kepada perintah-perintahMu._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu_
68 _Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah._
69 _Para pembual yang sombong mengarang dusta tentang aku karena aku bersemangat mengikuti semua yang Kau katakan._ 
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu._
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia. (Terjemahan Passion)

Bagian pertama dari membangun keterampilan menghasilkan keputusan yang baik adalah dengan menjadikan Alkitab referensi utama. Semoga kita bersepakat dalam cara pandang: tidak ada opsi lain. 

Kapasitas lain yang harus dikembangkan untuk menjadi pembuat keputusan yang baik adalah: 
2. Kesediaan Menindaklanjuti Koreksi

Menelusur kembali stanza ke 9 Mazmur 119 ini, kita temukan bahwa keterampilan membuat keputusan yang baik, diteguhkan dengan proses evaluasi dan koreksi. Evaluasi dan koreksi diri ini, adalah keterampilan yang harus dibangun, karena umumnya evaluasi dan koreksi, bukan proses yang menyenangkan. Saya mengenali kecenderungan saya membela diri, ketika dievaluasi dan dikoreksi. Kecenderungan yang harus ditaklukan. 
 
_"Bahwa aku tertindas, itu baik bagiku, supaya aku belajar jalan-jalan-Mu."_ (71 - LAI) 
_"Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu"_ (67 - Passion Translation)
_"Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu."_ (Passion Translation)

Perhatikan bahwa panduan bagi kita adalah bukan hanya bersedia dikoreksi saja, tapi melanjutkan evaluasi dan koreksi itu ke tahap "barang siapa mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia seperti orang yang membangun rumahnya di atas batu". 
Ya tahap tidak lanjut. Tahap melakukan. Karena bahkan ketika kita dapat menerima koreksi setelah evaluasi diri atau lewat orang lain dan berbagai cara pengungkapan fakta lain, di fase ini pilihannya adalah melanjutkan koreksi ke tahap melakukan sesuai arahan Firman Tuhan atau melakukan penyangkalan. Penyangkalan itu termasuk sikap ini: "aih biar mi deh, terlanjur mi."  Terdengar rendah hati, tapi sebenarnya itu sikap tidak mau dikoreksi. 
 
Dalam kebiasaan serba instan saat ini, dengan tips-tips untuk menguasai keterampilan dalam waktu singkat, belajar lewat jalan 'tertindas', bukan solusi populer. Tidak ada sekolah yang akan mempromosikan diri dengan slogan: "Tertindas Itu Baik Bagiku" tidak ada yang akan mendaftar ke sana. 

Tapi referensi utama kita menunjukkan tertindas itu jalan belajar.  Belajar tentang ketetapan. Belajar prinsip lewat disiplin. Anda tahu istilah detoksifikasi, bukan? Kata "tertindas" bekerja seperti detoksifikasi, terapi untuk mengeluarkan racun dari tubuh kita. "Tertindas" yang ini punya tujuan mengeluarkan racun dari cara pandang kita.   

Dalam stanza ini, sikap beriman diungkapkan dalam: "aku percaya", "aku melihat".

66 _Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik, dan berilah aku terang, *karena aku percaya kepada perintah-perintahMu*._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi *sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu*
68 *Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu*, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah.
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, *tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu.*_
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku *adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._* 
(Terjemahan Passion)

Jadi terang benderang bukan bahwa iman dibutuhkan di sini? Dan iman itu, adalah iman unggul yang mengalahkan (sistem) dunia. Bukan iman KW, yang menguat seturut _mood_, dan karena hal-hal baik saja. Kalau ada sekolah memakai slogan "Tertindas Itu Baik Bagiku", hanya mereka yang percaya hasil akhir yang akan mendaftarkan diri.  Kabar baik dari  promo tegas  'modul tertindas' ini adalah lulusannya akan hadir sebagai pribadi yang mahir membuat keputusan yang baik, dalam peran apa pun di masa hidup mereka. 

'Sekolah' menjadi pembuat keputusan yang baik, membuka kelasnya setiap waktu: 24/7. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Saran saya daftarkan diri anda - ke 'sekolah' pembuat keputusan yang baik-. Pembuat keputusan yang baik, adalah kebutuhan saat ini, sekarang dan berdampak kekekalan. Terutama karena anda perempuan. Saya juga. Orang menduga, kita adalah kaum yang membuat keputusan dituntun perasaan semata. Tak apa. *Tapi mari mengalahkan dunia,* dengan memiliki kualitas warga Kerajaan Allah ini: Anda adalah *seorang perempuan* yang mampu membuat keputusan yang baik. Bukan hanya 'baik', tapi juga memenuhi kriteria "berkenan ke pada Allah, dan sempurna".  

Tuhan berkati. 
LV. 
   
_catatan pinggir:_
Mazmur 119, terdiri dari 22 stanza. Stanza adalah bentuk puisi yang setiap baitnya terdiri dari 8 larik. Stanza dalam Mazmur 119 ini, disusun mengikuti abjad Ibrani pada awal setiap stanza. Ayat 65-72 ini adalah stanza/bait ke 9 yang larik pertamanya diawali dengan huruf ke 9, --> ט‎ - _tet._ 

Teach Me Better Judgment

Renungan tanggal 7 Maret 2021
Luna Vidya

_Bagian 1_.

MAZMUR 119:65-72 - STANZA KE 9
65 _Kebaikan hati-Mu yang berlimpah kepadaku membuatku semakin ingin mengikuti  firman-Mu_
66 _Ajarlah aku untuk mengambil keputusan yang baik, dan berilah aku terang pewahyuan-Mu, karena aku percaya kepada perintah-perintahMu._
67 _Sebelum aku direndahkan, aku selalu menyimpang, tetapi sekarang aku melihat hikmat dari firman-Mu_
68 _Segala yang Kau lakukan itu indah, mengalir dari kebaikanMu, ajarilah aku kuasa dari firman-Mu yang indah._
69 _Para pembual yang sombong mengarang dusta tentang aku karena aku bersemangat mengikuti semua yang Kau katakan._ 
70 _Hati mereka tumpul dan tidak berperasaan, tetapi aku menemukan harta sejatiku dalam kebenaran-Mu._
71 _Hukuman yang  Kau bawa kepadaku adalah hal terbaik yang dapat terjadi padaku, karena itu mengajarku jalan-jalan-Mu._ 
72 _Perkatan yang Kau ucapkan kepadaku lebih berharga dari kekayaan di seluruh dunia._

*Ajarlah aku mengambil keputusan yang baik *,_teach me better judgment_.
Kita semua pasti pernah tiba pada titik di mana kita termangu-mangu menyadari, bahwa kita telah ada dalam sebuah situasi sulit, karena keputusan yang kita ambil beberapa masa sebelumnya, ternyata bukanlah keputusan yang baik.  
Keputusan buruk yang terus menerus terjadi akan menimbulkan keputusasaan. 
Artinya ayat ini sedang berbicara pada kita, bahwa membuat keputusan yang baik adalah sebuah keterampilan. Kualitas yang harus dibangun. Ditempa tepatnya.   

Bagaimana cara membangun keterampilan "membuat keputusan yang baik"?
dalam stanza ke 9 Mazmur 119 ini, terdapat 'panduan peningkatan kapasitas' membuat keputusan yang baik.  

1.  _Menjadikan Alkitab sebagai referensi utama_

'Referensi utama' artinya menjadikan Alkitab sebagai sumber prinsip dari tindak tindakan. Sama seperti kita mengenali 'pagi' dan 'malam' dengan memakai matahari dan bulan, demikian seharusnya prinsip kepastian keutamaan Alkitab berlaku dalam hidup kita, kita tidak ragu-ragu, tidak bimbang. Kalau matahari sudah terbit, itu 'pagi', kalau matahari sudah tenggelam, 'malam'. 

Kenapa kita perlu ditempa untuk bisa menjadi pembuat keputusan yang baik? Karena menjadikan Alkitab sebagai rujukan dalam membuat keputusan yang baik bukan perkara mudah. Proses ini seperti mengganti 'peta perjalanan' dalam proses pembuatan keputusan. Sebab sadar atau tidak, banyak proses pengambilan keputusan kita didasarkan pada pendapat pun kebiasaan mayoritas. 'Peta' yang dibentuk oleh kebiasaan, pandangan mayoritas ini harus ditinggalkan dan beralih menggunakan peta  ketetapan Tuhan, peta Kebenaran.
 
Saya berasumsi kita semua paham fase "peralihan" itu seringkali meninggalkan jurang menganga di sana sini, kebingungan.  Ini salah satu hal yang perlu diwaspadai: jurang-jurang dan kebingungan yang timbul sebagai konsekwensi memakai Alkitab sebagai referensi utama. Dalam situasi inilah, ketika ada dalam fase peralihan, kita perlu iman untuk bisa meneruskan proses belajar dalam kelas "membuat keputusan yang baik". Sebab tanpa iman, kita akan segera membuang referensi, peta kebenaran kita. Karena di kelas ini, kita bisa kecewa. Rasa kecewa, ketika sedang berlatih membuat keputusan di atas peta kebenaran, adalah godaan terbesar untuk kembali ke cara-cara membuat keputusan berdasarkan kebiasaan atau pandangan mayoritas.  
  
Tidak ada opsi lain, untuk menjadi terampil membuat keputusan yang baik. Alkitab harus menjadi referensi utama.Menjadi cara ukur, prinsip. Tidak tersedia pilihan alternatif , untuk memakai kebiasaan, 'apa kata orang', dan arahan 'orang pintar' sebagai faktor-faktor penentu dalam membuat keputusan. Bukan sekedar  keputusan, tapi keputusan yang baik.  Bahkan jika nasehat itu kita peroleh dari para motivator, dipandang lumrah, dapat dimaklumi, menawarkan solusi cepat. Jika arahan itu, tidak bisa disesuaikan dengan kebenaran Alkitabiah, tidak merupakan konfirmasi dari kerja Roh Kudus dalam kita, meneguhkan ketuhanan Kristus, kemahakuasaan Bapa,  maka nasehat itu, maaf, adalah nasehat orang yang tidak jujur,  "para pembual yang sombong". 
Jika sebuah nasehat tidak mencerminkan ketetapan, prinsip-prinsip perjanjian Tuhan, maka nasehat itu ADALAH nasehat yang menyimpangkan. Kalau mau lebih lugas, itu bukan nasehat, tapi noda dusta dalam proses pengambilan keputusan.  

Tanpa mengecilkan makna 'persekutuan orang percaya" yang di dalamnya ada nasehat dari dan untuk sesama anggota Tubuh Kristus, tapi karena setiap kita harus memadankan diri dengan prinsip-prinsip yang tersedia dalam Alkitab, maka kita harus bisa bertaut dan tertaut pada referensi utama itu secara pribadi.  Setiap kita sebagai individu, dapat mengakses tuntunan, strategi, pertimbangan-pertimbangan, prinsip-prinsip dan semua elemen lain yang dibutuhkan untuk membuat pertimbangan dan menghasilkan keputusan yang baik. Untuk memanfaatkan kekayaan itu,  kita sendiri harus membaca Alkitab. Jangan bersandar pada _bedde'_ (menurut kata orang, bahasa Makassar) tapi bersandar pada Firman Hidup yang dinyatakan Roh Kudus dalam Alkitab. Membaca sendiri, membukakan bagi kita kesempatan untuk mengalami pengalaman "paham", pengalaman "terang pewahyuan-Mu".

Jangan biarkan keputusan buruk yang satu menyeret keputusan buruk  lain, yang kemudian membentuk lingkaran keputusasaan. Akhiri siklus keputusasaan, dengan menjadikan Alkitab, terang pewahyuan Kristus yang di kerjakan Roh Kudus bekerja bersama-sama dalam hidup kita. Sehingga kita dari sekarang sampai ke kekekalan, akan hidup dalam rencana Tuhan yang baik, berkenan kepada Allah dan sempurna. 

Saturday, February 13, 2021

Satu dengan Dia

Bab 12 - (menjadi) Satu dengan Dia
The Golden Thread-Darlene Zschech

Nilai Usaha atau Kerja Keras
Saya bertanya-tanya, kenapa "Satu dengan Dia" dimulai dengan memperkenalkan pentingnya belajar konsep "berhenti", "beristirahat"? Karena untuk bisa satu dengan Dia, kita perlu melalukan koreksi terhadap di mana kita menempatkan diri kita dalam mencapai sebuah tujuan. 
Seringkali kita menemukan dan menempatkan diri kita/ identitas kita dalam pekerjaan atau peran kita.  Tidak ada yang salah dengan melakukan pekerjaan. Tidak ada yang tidak mulia dengan melayani, melakukan pekerjaan pelayanan dan menjadi pelayan/hamba Tuhan. Ada hal-hal yang harus dicapai dengan kerja keras. 
Tapi kerja keras apalagi jika kita menikmatinya, sering kali membuat kita sibuk dan kemudia melupakan pentingnya beristirahat. Bukan saja secara fisik, tapi juga secara rohani. Kerja-kerja pelayanan sering kali membuat para pelayan Tuhan lupa memaknai: menanti. Menanti-nantikan Tuhan.  
Jika kita salah menempatkan diri dalam mencapai tujuan, terutama tujuan-Nya, maka ketika ada perubahan musim terjadi dalam hidup kita, maka inilah hal-hal yang perlu kita ingat:
1. Tuhan memakai "perubahan musim dalam hidup kita" -kita bisa menamakannya kesulitan - tapi sebenarnya juga kesukaan dalam hidup kita - untuk menyesuaikan kita dengan tujuan-Nya. Perhatikan: Tuhan berinisiatif, lebih dulu bertindak untuk menyesuaikan kita dengan rencana-Nya. 
Sering kali dalam perubahan musim, kita cenderung lupa siapa diri kita. Perubahan musim itu, adalah kesempatan Tuhan menempatkan kita kembali pada track tujuan-Nya. Jika kita setuju terhadap kebenaran, transisi musim kehidupan ini akan terasa lebih perih dan sulit. 
2. dalam transisi kehidupan -situasi krisis atau situasi bahagia pun - pertahankan apa yang bisa kita kendalikan: konsisten dan utama. 
3. menemukan kembali dalam musim perubahan ini, ruang untuk menjadi diri sendiri: termasuk untuk berhenti dan beristirahat. tak perlu diberhentikan untuk menerima fase "istirahat yang dipaksakan". 
4. Kemuliaan Tuhan tidak dapat kita atur. Kebaikan Tuhan tidak hilang karena kita "pelayanan", kebaikan Tuhan bukan gaji yang kita dapatkan karena bekerja dan tidak ada ketika kita tidak bekerja. Kebaikan-Nya adalah kebaikan-Nya, bukan berdasarkan apa yang kita buat atau tidak kita buat. 
Ini yang perlu seimbang kita perhatikan dan waspadai dalam musim perubahan: berjalan dalam Kristus, beristirahat dalam Kristus, bertumbuh dalam Kristus. 

Nilai Komunitas
Konsep "gedung gereja" harus diubah ke konsep "Tubuh Kritus"

Gereja itu bukan tempat kemana kita pergi, tapi bagian dari diri kita. Kita adalah Tubuh Kristus. Ketika menjadikan gereja tempat pergi, atau melihat gereja sebagai organisasi yang menawarkan memfasilitasi atau menjalankan  kegiatan rohani saja, kita akan jadi lelah, kecewa dan frustasi. Memaknai "gereja" sebagai tempat telah membuat "pelayanan" dan "pelayan" maknanya mengabur. Orang-orang menjauh, dari kegiatan, tapi kemudian dari iman dan paling sering dari tujuan Tuhan dalam hidup mereka. 
Tidak bisa melihat bahwa gereja adalah bagian dari kita, menarik diri dari komunitas, sebenarnya bentuk dari sikap tidak menghargai Tubuh Kristus.  
dan karena tidak ada dalam tubuh, kita kehilangan banyak hal yang Tuhan janjikan yang hanya bisa terwujud jika kita ambil bagian dalam komunitas. Sebab kita tidak ditebus untuk hidup "sendiri". tapi juga untuk bersama-sama orang lain, untuk tujuan-Nya. 
Di dalam "Tubuh Kristus" ada ruang buat setiap orang, tapi tidak ada ruang buat berkompetisi. Kita akan bertumbuh dalam kepercayaan diri terhadap apapun yang menjadi panggilan-Nya bagi kita.
Tubuh Kristus juga membuat kita sulit keluar dari rencana-Nya.  

Nilai Individu
Apakah anda penting? Ya! Anda penting.  
Keyakinan pada pentingnya anda -meskipun cuma debu, tapi "penting dan berharga" hanya dapat diletakkan dalam wadah yang tepat: tujuan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menciptakan kita, bukan untuk cita-cit kita sendiri. Bukan untuk merasa nyaman sebagai istri, ibu atau nenek. 
Tuhan membuat kita ada, untuk kepentingan-Nya, kemuliaan-Nya, tujuan-Nya, dan kesenangan-Nya.  Berusaha, berkompetisi, benci diri sendiri, sibuk, merasa lelah, stres adalah gambaran umum bagaimana orang merespon situasi "perubahan musim", mestinya respon kita berbeda karena tahu, kita tidak perlu membela "cita-cita" dan "tujuan" kita. Tujuan kita ada di dalam TUHAN.
"Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula Sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan, menurut kerelaan-nya." Filipi 2:12-13

Ketika harus membuat keputusan, buatlah keputusan karena anda menanti-nantikan Tuhan dan dalam kondisi "stand by". Selalu bersedia digerakkan bagi tujuan-Nya. Keputusan itu mungkin bukan yang terlihat "baik" atau "umum". Malah mungkin terlihat bodoh. Tapi keputusan itu di ambil dari kondisi "stand by" dan menantikan yang terbaik dari Tuhan. Keputusan semacam ini, sekalipun bodoh bagi dunia, dalam ekonomi Tuhan, tidak salah. 

Mari relakan diri disatukan untuk tujuan Tuhan. 


Monday, January 25, 2021

Bagiku: Kau

Mazmur 17
Bagiku: Kau

Tidak ada cara lain. Datang padamu. 
Sampai di sini, kususur jejak yang kau tinggalkan. Dengan bilah besi di tangan, menusukkan permohonan ke hatimu. Meminta keadilan. 
Nyatakan aku tak bersalah. Kau telah memeriksaku dengan api. 
Pelihara aku seperti biji matamu, sembunyikan aku di bawah naungan sayapmu, sembunyikan aku dalam pelukmu. 

Bagiku: kau. 
Sampai aku tiba di waktu itu: memandang wajahmu. 
“aku akan bangkit dengan bentukmu, dan merasa puas sepenuhnya, puas dengan pewahyuan tentang kemuliaanmu di dalamku.” 

Mazmur 17

#ireadpsalm 
#biblicalpoetry 
#biblejournaling 
#selfnote 
#mazmur 

📸 Kelompok penari dari Bulukumba, di #inibukanfestival 


Friday, January 22, 2021

Amanda dan Bukit-bukitnya


Read the full text of Amanda Gorman’s inaugural poem ‘The Hill We Climb'

Inaugural poet Amanda Gorman delivers a poem at Biden’s inauguration

Amanda Gorman made history Wednesday when she became the youngest inaugural poet during President Joe Biden’s swearing-in ceremony in Washington.

The 22-year-old Los Angeles resident, youth poet laureate of Los Angeles, first national youth poet laureate and Harvard graduate was invited to speak at the event by First Lady Jill Biden, who had previously seen the poet do a reading at the Library of Congress.

Gorman told The New York Times she wasn’t given any direction in what to write, but that she would be contributing to the event’s theme of “America United.” She was about halfway finished with the piece when, on Jan. 6, pro-Trump rioters stormed the Capitol Building.

Gorman ended up staying up late following the unprecedented attack and finished her piece, “The Hill We Climb,” that night. The poet, whose work examines themes of race and racial justice in America, felt she couldn’t “gloss over” the events of the attack, nor of the previous few years, in her work.

“We have to confront these realities if we’re going to move forward, so that’s also an important touchstone of the poem,” she told the Times. “There is space for grief and horror and hope and unity, and I also hope that there is a breath for joy in the poem, because I do think we have a lot to celebrate at this inauguration.”

Gorman drew inspiration from the speeches of American leaders during other historic times of division, including Abraham Lincoln and the Rev. Martin Luther King Jr.

During her reading, Gorman wore a ring with a caged bird, a gift from Oprah for the occasion and tribute to symbolize Maya Angelou, a previous inaugural poet

“Here’s to the women who have climbed my hills before,” Gorman tweeted.

The Hill We Climb"

When day comes, we ask ourselves, where can we find light in this never-ending shade?

The loss we carry. A sea we must wade.

We braved the belly of the beast.

We’ve learned that quiet isn’t always peace, and the norms and notions of what “just” is isn’t always justice.

And yet the dawn is ours before we knew it.

Somehow we do it.

Somehow we weathered and witnessed a nation that isn’t broken, but simply unfinished.

We, the successors of a country and a time where a skinny Black girl descended from slaves and raised by a single mother can dream of becoming president, only to find herself reciting for one.

And, yes, we are far from polished, far from pristine, but that doesn’t mean we are striving to form a union that is perfect.

We are striving to forge our union with purpose.

To compose a country committed to all cultures, colors, characters and conditions of man.

And so we lift our gaze, not to what stands between us, but what stands before us.

We close the divide because we know to put our future first, we must first put our differences aside.

We lay down our arms so we can reach out our arms to one another.

We seek harm to none and harmony for all.

Let the globe, if nothing else, say this is true.

That even as we grieved, we grew.

That even as we hurt, we hoped.

That even as we tired, we tried.

That we’ll forever be tied together, victorious.

Not because we will never again know defeat, but because we will never again sow division.

Scripture tells us to envision that everyone shall sit under their own vine and fig tree, and no one shall make them afraid.

If we’re to live up to our own time, then victory won’t lie in the blade, but in all the bridges we’ve made.

That is the promise to glade, the hill we climb, if only we dare.

It’s because being American is more than a pride we inherit.

It’s the past we step into and how we repair it.

We’ve seen a force that would shatter our nation, rather than share it.

Would destroy our country if it meant delaying democracy.

And this effort very nearly succeeded.

But while democracy can be periodically delayed, it can never be permanently defeated.

In this truth, in this faith we trust, for while we have our eyes on the future, history has its eyes on us.

This is the era of just redemption.

We feared at its inception.

We did not feel prepared to be the heirs of such a terrifying hour.

But within it we found the power to author a new chapter, to offer hope and laughter to ourselves.

So, while once we asked, how could we possibly prevail over catastrophe, now we assert, how could catastrophe possibly prevail over us?

We will not march back to what was, but move to what shall be: a country that is bruised but whole, benevolent but bold, fierce and free.

We will not be turned around or interrupted by intimidation because we know our inaction and inertia will be the inheritance of the next generation, become the future.

Our blunders become their burdens.

But one thing is certain.

If we merge mercy with might, and might with right, then love becomes our legacy and change our children’s birthright.

So let us leave behind a country better than the one we were left.

Every breath from my bronze-pounded chest, we will raise this wounded world into a wondrous one.

We will rise from the golden hills of the West.

We will rise from the windswept Northeast where our forefathers first realized revolution.

We will rise from the lake-rimmed cities of the Midwestern states.

We will rise from the sun-baked South.

We will rebuild, reconcile, and recover.

And every known nook of our nation and every corner called our country, our people diverse and beautiful, will emerge battered and beautiful.

When day comes, we step out of the shade of flame and unafraid.

The new dawn balloons as we free it.

For there is always light, if only we’re brave enough to see it.

If only we’re brave enough to be it.

Tuesday, January 19, 2021

Di Bawah Cakrawala

Di Bawah Cakrawala

Mazmur 5
Dengarkanlah doaku.
Tidak dapatkah Engkau mendengar keluh ku?
Setiap kali matahari terbit 
saat aku mempersiapkan persembahan doaku kepadamu 
setiap pagi aku menyusun potongan-potongan kehidupanku di mezbah-Mu.  Dan menantikan api-Mu turun ke hatiku. 
Tuhan tuntunlah aku di jalan yang menyenangkanmu seperti yang Kau janjikan, kalau tidak musuh-musuhku akan mengalahkanku. 
Ratakanlah jalanmu di depanku 
luruskan dan ratakan supaya aku tahu jalan yang harus kutempuh.
Tuhan betapa indahnya Engkau memberkati orang benar, 
kebaikan-Mu melingkupi setiap orang dan menutupi mereka 
di bawah naungan kebaikan dan sukacita-Mu. 

Thursday, December 31, 2020

EBEN-HAEZER, AMIN

EBEN-HAEZER, AMIN

Sejak PSBB diterapkan, saya bergabung dalam sebuah group doa, lintas agama.
Rencananya hanya untuk sebulan ke depan, seminggu 3 kali, pada hari dan jam tertentu. Tidak jadi berakhir di Mei, grup doa ini terus bertahan sampai hari ini. 
Kami mendoakan pokok doa yang dibagi, siapa pun sebenarnya berhak memposting sesuatu yang dianggap patut dan penting didoakan. Menandai keterlibatan, dalam pertemuan doa hari itu, anggota grup memposting "amin". Tidak selalu semua orang memposting kata penanda itu. 

Tulisan ini telah saya revisi dari tulisan awal yang saya posting di group WA bersangkutan. 

***
Di bawah ini, rangkuman pokok doa di awal perjalanan kita: April 2020. 
Pokok Doa: 22 April 2020
1. Doa Bagi Masyarakat dan Bangsa Indonesia agar dapat tertib menjalankan Instruksi Pencegahan Covid19 dari Pemerintah (memiliki inisiatif dalam diri masing”)
2. Doa bagi Petugas Medis , Rumah Sakit, Dokter dan semua yang paling rentan terpapar atas virus Covid19 ini 
3. Dampak Sosial Ekonomi dari Covid 19
4. Distribusi Pangan / bantuan kepada masyarakat kurang mampu kiranya tepat SASARAN dan SESEGERA MUNGKIN 
5. Pemberlakuan PSBB di wilayah Makassar diharapkan berjalan lancar & kondusif.

Apakah keadaan berubah? Tidak banyak. Tidak radikal.
Apakah berdoa bersama tidak ada gunanya? Mungkin buat beberapa orang. 
Tapi kita bertahan. Menurutku karena kita punya pengakuan dalam diri,  bahwa ada hal yang kasat mata telah menolong kita, hingga tiba di hari ini. 30 Desember 2020. Hal kasat mata yang kita identifikasi sebagai TUHAN. Amin. 

Ada sebuah kata Eben-Haezer, kata dalam bahasa Ibrani, yang artinya: Batu (bisa juga 'tugu') Pertolongan, memuat narasi pengakuan " sampai di sini TUHAN (telah) menolong kita". Batu peringatan yang diletakkan oleh seorang yang sejak usia muda, telah memdengar suara YHWH, dan kemudian menjadi hakim bangsa Israel: Samuel. Sampai di sini, jika menengok ke daftar doa kita di akhir April itu, menjadi petunjuk bagaimana daftar doa itu tumbuh, dan bagaimana TUHAN telah menolong kita. Eben-Haezer.
 
Menjenguk lagi daftar doa minggu pertama itu, ingin saya sampaikan: perjalanan bersama kita, seperti saya melaluinya: tertatih-tatih, bolong-bolong. Tapi grup ini, telah menjadi cara harapan dikomunikasikan bagi beberapa orang, jika tidak semua. 

Bagi saya, kita seperti kapal ada di laut yang bergelombang pun tepi pandemi belum terlihat. Tapi setiap 'amin' yang disematkan di sini, telah berfungsi seperti Signal Morse, yang dikirimkan dari satu kapal ke kapal lain dalam kabut. 
 A= •- (beep beeeeep)
M= - - (beeeeep beeeeep)
I  = •• (beep beep)
N = -• (beeeeep beep)

Aminmu, wankawan, telah mendorong dan mengingatkan saya, untuk menjenguk pokok doa demi pokok doa yang diletakkan di pelataran doa kita bersama. 
'Amin' wankawan, selalu mengetarkan hati saya.  Menjadi penanda, ada yang telah memasuki pelataran doa. Tidak selalu saya kenal secara formal. Tidak setiap amin, seiman dengan saya. Tapi pemilik 'amin' ini, merendahkan diri untuk permohonan yang sama. Kemudian ketika saya ada di pelataran doa pribadi saya,  saya dapat mengirim sinyal harapan yang sama dalam permohonan yang serupa. 
 
Tentu bisa kita pakai pokok doa/daftar doa kita, menjadi seperti tugu. Menjadi peringatan tentang apa yang telah kita lewati.  Tepi pandemi belum terlihat,  jadi tidak akan menciderai siapa-siapa jika kita tetap saling mengirim pesan harapan, dengan "Amin". Sebab menurutku, kita toh sadar, bahwa bukan hanya untuk info antara kita, amin itu. Itu bentuk klaim solidaritas sebagai manusia, bahwa kita telah tiba di pelataran doa dan menaikan permohonan kepada TUHAN, Allah khalik langit dan bumi. 

•-                          /- -                               / ••                 /-•
[beep beeeeep]|[beeeeep beeeeep]|[beep beep]|[beeeeep beep]

📸 Ardan, 2013. Prita Istri Kita.

Monday, December 21, 2020

Berapa Lama Lagi?

Kami menunggu dan dengan satu dua alasan
kami hilang harap.
kami, dunia yang sekarat, membuat hati tercekat. 
berapa lama lagi?  sambil melayangkan mata ke gunung-gunung
berapa lama lagi?  dari mana akan datang pertolongan kami?

Jika bukan Engkau yang menyelamatkan kami 
dari mana akan datang pertolongan kami? 
Kau kah, ya Allah yang membuat kami makan dukacita, 
dan minum sampai kenyang air mata sendiri? 

Seperti sinar matahari yang menandai datang pagi, 
biarlah sinar kemuliaan-Mu terbit atas kami, 
dan wajah-Mu bercahaya atas kami, 
mengakhiri malam penantian kami yang pekat dengan "tidak tahu"
gulita oleh tidak mengerti
karam
tenggelam
nyawa tak lagi berharga 
di negeri di mana Kau tempatkan kami, 
mata keadilan mengkhianati.
Sendiriankah kami dalam negeri ini
angin menerpa, dan sebagai bunga terlintas 
kami lenyap. 
gunung-gunung bisu.
Sendiriankah kami? 
Tapi ini yang kupercaya:

Pertolongan kami ialah dari TUHAN Allah
yang menciptakan langit dan bumi. 
Sebab jika berehendak Kau mampu merobek langit
melangkah turun dalam kemegahan-Mu. 
Datanglah, datanglah ungkapkan belaskasihan-Mu
pulihkanlah kami.
Datanglah, datanglah dengan perbuatan-perbuatan-Mu yang besar.
Hosana. 
Hosana.  Selamatkanlah kami. 

1st Adventus - 2020

Saturday, December 19, 2020

SETELAH ITU

Dia memecah roti
mengambil cawan
inilah tubuhKu inilah darahKu
setelah itu dia menundukkan kepala
menyerahkan nyawa
setelah itu
aku
di dalam Yesus Kristus
yaitu Dia yang disalibkan
menerima Perjanjian Baru
Paskah 2020

Keiku, Bukan Haiku

Keiku, Bukan Haiku

:k

(1)

aku tahu sekarang,

kenapa rindu padamu selalu mengharu biru

aku terlalu sederhana,

dan dengan sederhana telah mencintaimu


(2)

aku bersedia menunggu besok juga beribu esok

ketika kau putuskan menyesapku tanpa sangsi, 

seperti kopi

dan meletakkannya kembali


(3)

"akan tibakah pasang, membelai?"

angin tipis, bia* di batu menggeliat 

"kau merindukanku?"

asa tipis, angan di batu menggelepar

menunggu peluk ombak berikut.


*bia=kerang


(4)

sambil menjatuhkan huruf ke dalam

gelas yang terus kita pesan,

jam berderit gelisah. mengulur satu lagi perpisahan.

di ujungnya aku tertambat.

"aku tak tahu jalan pulang, selain kepadamu"


(5)

cuma aku yang mencintaimu seperti aku, k

: menulisimu dengan seluruh diriku.

kan?


(6)

ketika menyesapmu,

sambil memikirkan secangkir kopi yang terlambat tiba di pagi hari,

kubiarkan rindu memahat namamu 


kopi itu kemudian menunggu.

dingin.pahit.


(7)

tentu

kau telah mencintaiku

entah dengan cara apa

itulah musabab rindu: mencari tahu


(8)

pasangan remaja di sebelah meja

mata mereka meruah dengan

ha ha ha ha ha

sebagaimana lelucon kita

semakin tawa ketika makin luka

pesanan kami sama,

es krimku meleleh tertimpa air mata


(9)

peristiwa kita, k:

seliweran dalam kepalaku 

berhimpit, tak ada etika, mementingkan diri

riuh seperti di pettarani pada waktu makan siang

klaksonnya memekakan telinga

berpegang tangan dengan kenangan

menyeberang jalan

dari sepi yang satu ke sepi yang lain

aku: menyebut namamu seperti 

merapal doa


(10)

dirimu adalah rindu 

yang tidur

tersentak sesekali,lalu

tenggelam 

dilelap. makin dalam


(11)

kita semakin tak mungkin ditemui kembali.Indah ya?

:"apa?"

yang akan tumbuh dari rindu


(12)

ketika malam itu aku melipat kenangan

bersiap untuk sebuah perjalanan:

kecupmu memata air

di nadiku

setelah seluruh anak tangga usai,

kemudian semata sepi

dengan airmata berlinang

aku merdeka memekikan:

aku cinta padamu!


 September 2011

Wednesday, January 15, 2020

POHON PINANG DI PEKARANGAN

Tulisan 8 tahun lalu, yang masih dapat dipertimbangkan sebagai referensi untuk mengenali Papua, hari ini.