Notes On

Saturday, April 4, 2026

The Quiet in Between (Prosa)

 Jumat kemarin, sangat bising…
orang banyak, penuduhan, eksekusi mati 
di depan publik, seorang sahabat dibunuh.

Lalu Sabtu.
Kesunyian yang datang setelah hari yang sangat kelam.
Hari ketika, dalam dunia kecil mereka, 
Teriakan dan kekosongan bergema, tubuh-tubuh patah 
tidak tahu harus berbuat apa.
Karena Sabat, lalu pintu kubur itu 
bukan saja tertutup—tapi tersegel.
Masih tersegel.

Tidak ada perayaan. Belum.
Tidak ada resolusi.
Hanya kesenyapan. 
Pun beban berat yang ditinggalkan Jumat.

Bagaimana kebaikan 
dapat dilahirkan dari kekelaman? 

“Inilah kasih itu, Yesus Kristus menyerahkan hidup-Nya bagi kita,” 
kata Yohanes.
Bukan hampir.
Bukan nyaris.
Bukan “untung masih bisa lolos.”
Yesus betul-betul mati.

Yesus tidak melawan balik.
tidak menyelamatkan diri-Nya.
Ia berikan diri-Nya.

Sabtu Kudus, 
kita duduk di antara kenyataan itu.
hari di antara salib dan kubur kosong, 
Dan mengarahkan pandangan kita pada satu kebenaran ini:
Kasih itu ada harganya.
It costs us something.

Yesus menyerahkan hidup-Nya. 

Tapi Kebenaran tidak berhenti di situ.
seumpama mata yang menatap, 
langkah Sang Kebenaran tegak mendatangi,
dan bicara melampaui masa: kamu pun, 
harus menyerahkan hidup
untuk saudara-saudaramu.

Ah. 

Dalam drama yang kita ambil peran
Kebanyakan kita tidak berhadapan 
dengan kelam penyaliban Jumat Agung
bahkan dalam drama terburukpun,  
kita tidak bersedia duduk di  sunyi sesenyap 
Sabtu Kudus ini. 
Kita membuatnya riuh, melibatkan orang banyak, 
merencanakan penuduhan, 
merancang eksekusi mati satu dua orang 
di depan publik, membunuh seorang sahabat. 

Tapi tidak satu pun dari kita yang dikecualikan.
duduk di depan kebenaran
semua akan menjadi tidak nyaman.
Setiap kita akan diminta menyerahkan sesuatu—
apa yang kita pilih untuk kita peluk, kita pertahankan.

Waktu kita.
rasa nyaman. 
kebanggaan.
Uang.
Reputasi.
Kita. Kita. Kita. Kita. 

(Jadi pertanyaannya: 
bagaimana kita bisa mengasihi seperti Yesus?
membawa kabar-baik, karena kabar itu sungguh kabar-baik?)

Dalam kesenyapan Sabtu Kudus
bersiaplah menyambut momentum-momentum itu—
ketika memberi bukan untuk mendapatkan imbalan,
mengulurkan ketersediaan untuk melayani
dengan cara yang tidak mudah,
dalam semua itu, kita  yang membayar harga.

Karena ketika kita mengasihi seperti itu,
orang bukan hanya mendengar tentang kasih Yesus—
mereka mengalami sendiri kasih itu.

1 Yohanes 3:16: 

The Quiet in Between

Jumat kemarin sangat bising—orang banyak, penuduhan, eksekusi mati di depan publik, seorang sahabat dibunuh. Lalu Sabtu datang. Kesunyian yang mengikuti hari yang sangat kelam dalam sejarah keterhubungan Yesus dengan pengikut-Nya.

Pada hari itu, dalam dunia kecil mereka, murid-murid tidak tahu harus berbuat apa. Pintu kubur itu bukan saja tertutup, tetapi tersegel—masih tersegel. Tidak ada perayaan. Belum. Tidak ada resolusi. Hanya kesenyapan. Dan beban berat yang ditinggalkan hari Jumat.

*“Inilah kasih itu, Yesus Kristus _menyerahkan hidup-Nya_ bagi kita,”* kata Yohanes. Bukan hampir, bukan nyaris, bukan “untung masih bisa lolos.” Yesus betul-betul mati. Yesus tidak melawan balik, tidak menyelamatkan diri-Nya. Beliau memberikan diri-Nya. Yesus benar-benar _laid down_, menyerahkan hidup-Nya.

Sabtu Kudus, hari di antara salib dan kubur kosong, mendudukan kita di antara kenyataan itu. Kita dihadapkan pada satu kebenaran: kasih itu ada harganya. _It costs us something_.

Ayat dari 1 Yohanes 3:16 tidak berhenti pada pernyataan tentang apa yang Yesus lakukan. 

Ayat itu seperti menatap kita dan berkata bahwa kita pun harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita. Kenyataannya, kebanyakan dari kita tidak berhadapan dengan situasi sedramatis penyaliban di Hari Jumat Agung. Namun tidak ada satu pun dari kita yang dikecualikan. Kita semua akan berhadapan dengan ketidaknyamanan. Kita akan diminta menyerahkan sesuatu—apa yang kita pilih untuk lindungi dan pertahankan: waktu, rasa nyaman, kebanggaan, uang, bahkan reputasi.

Jadi pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa mengasih seperti Yesus? 

Jawabannya mungkin ada dalam momen-momen sederhana ketika kita memberi untuk orang lain, bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi untuk melayani mereka dengan cara yang tidak mudah—yang membuat kita harus “membayar harga.” Kita yang membayar harga itu.

Jika seperti ini wajah Injil yang dimotivasi kasih, bagaimana kita akan membawanya hari ini? Karena ketika kita mengasihi seperti itu, orang bukan hanya mendengar tentang kasih Yesus, tetapi mengalami sendiri kasih itu.

Tuhan berkati.

Sumber: YesHEIs - YouVersion. 

Keharuman Sang Raja

 _Bacaan Alkitab: Matius 26:6–13_

_Disclaimer_: Tidak banyak yang menyoroti peristiwa ini dalam minggu-minggu terakhir kehidupan Yesus.

Ada satu momen menjelang penyaliban, ketika seorang perempuan melakukan sesuatu yang membuat seluruh ruangan menjadi tidak nyaman.

Ia masuk saat orang-orang sedang makan. Kehadirannya membuat suasana hening. Di tangannya ada sebuah wadah parfum mahal terbuat dari pualam. Ia membuka wadah itu, mencurahkan isinya ke kepala Yesus, lalu dengan rambutnya menyeka kaki-Nya. Ruangan itu langsung dipenuhi aroma yang kuat dan mahal.

Kehadiran buli-buli parfum bukan detail yang kebetulan. Ada sesuatu yang penting sedang ditandai di sana.

Kebanyakan tafsiran berhenti pada nilai ekonominya. Orang-orang di ruangan itu bergumam: _Apa-apaan ini? itu kalau dijuala, kan bisa buat bantu orang miskin, dari pada dibuang-buang begitu!”_.  Fokusnya pada harga. Atau pada pujian Yesus—bahwa perempuan itu sedang mempersiapkan penguburan-Nya.

Namun, mungkin ada satu lapisan makna lain yang sering terlewat. 

Seorang teolog, Lois Tverberg, menjelaskan bahwa dalam budaya Timur Tengah kuno, raja bukan hanya dikenali dari jubah, mahkota, atau tongkatnya—tetapi juga dari *keharumannya*. Aroma menjadi penanda kehormatan. Keharuman itu tinggal bahkan setelah sang raja meninggalkan ruangan. Keharuman menandai hadirat.

Jika demikian, maka apa yang terjadi di Betania bukan sekadar tindakan emosional seorang perempuan. Itu adalah *penandaan kerajaan.*

Ada tradisi yang mengatakan bahwa keharuman pengurapan itu masih “tercium” sampai ke Golgota. Artinya, ketika Yesus melangkah masuk ke dalam pengkhianatan, penghinaan publik, dan kematian yang brutal—tubuh-Nya masih membawa *aroma Kerajaan*. _The smell of royalty._

Sementara orang-orang melihat kehinaan, ada sesuatu yang lain yang tak kasat mata—tetapi nyata—mengelilingi-Nya: keharuman seorang raja.

Dalam bahasa Ibrani, kata untuk “aroma” adalah _reyach_ (רֵיחַ). Kata ini sering muncul dalam konteks korban dan persembahan—digambarkan sebagai sesuatu yang naik sebagai *bau harum di hadapan Tuhan.*

Perempuan itu bukan hanya menunjukan kemurahan hati, dengan “mengorbankan” hartanya yang paling berharga, minyak dalam _alabaster jar_ itu. Perempuan ini melakukan sesuatu yang menandai momentum. Momentum Kerajaan. Perempuan itu bukan hanya memberi sesuatu yang mahal. Ia mempersembahkan sesuatu yang bernilai sebagai *tindakan profetik*. Ia menandai siapa Yesus sebenarnya.

Keharuman raja yang menempel di tubuh Yesus menjadi penjelasan penting kenapa elemen _alabaster jar_, perlu dihadirkan. Yesus sekali pun dihinakan, adalah raja. Raja yang menampilkan berlapis  paradoks. Yesus adalah Raja yang Menunggang Keledai, bukan kuda perang.  Yesus dimahkotai duri, bukan emas. Karena bukan mahkota duri itu penanda ke-raja-an-Nya, tapi keharuman-Nya. Identitas sebagai raja, tidak hilang di sepanjang masa sengsara-Nya, dalam semua peristiwa yang ditanggung Yesus sampai tiba di Golgota. 

Mungkin dari sinilah 2 Korintus 2:15 berbicara:

_“Sebab bagi Allah kami adalah *bau yang harum dari Kristus*…”_


Menariknya, keharuman itu tidak hanya tinggal pada Yesus. Ia juga menempel pada perempuan itu—pada tubuh yang membungkuk di kaki-Nya. Keharuman itu berpindah melalui kedekatan.

Kedekatan menghasilkan aroma.

Artinya, perempuan itu kemudian berjalan keluar dari ruangan itu—membawa keharuman Kristus ke tengah orang banyak.


Dan mungkin, di situlah undangannya bagi kita.


Kedekatan kita dengan Kristus—dalam penyembahan, dalam hidup yang dipersembahkan—akan meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat, tetapi dapat “tercium”.

Bukan secara fisik, tetapi secara rohani. Hidup kita menjadi seperti dupa—_Christ-like fragrance, rising up to God._


Pertanyaannya:

*Apa yang tertinggal pada orang lain setelah mereka bergaul dengan kita?* 

*Apakah kedekatan kita dengan Kristus, telah  membuat “aroma Kristus” tercium oleh orang lain?*


Tuhan memberkati.


Sumber: @aussiedave

https://www.instagram.com/p/DWgSyhOjlKL/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==