_Bacaan Alkitab: Matius 26:6–13_
_Disclaimer_: Tidak banyak yang menyoroti peristiwa ini dalam minggu-minggu terakhir kehidupan Yesus.
Ada satu momen menjelang penyaliban, ketika seorang perempuan melakukan sesuatu yang membuat seluruh ruangan menjadi tidak nyaman.
Ia masuk saat orang-orang sedang makan. Kehadirannya membuat suasana hening. Di tangannya ada sebuah wadah parfum mahal terbuat dari pualam. Ia membuka wadah itu, mencurahkan isinya ke kepala Yesus, lalu dengan rambutnya menyeka kaki-Nya. Ruangan itu langsung dipenuhi aroma yang kuat dan mahal.
Kehadiran buli-buli parfum bukan detail yang kebetulan. Ada sesuatu yang penting sedang ditandai di sana.
Kebanyakan tafsiran berhenti pada nilai ekonominya. Orang-orang di ruangan itu bergumam: _“Apa-apaan ini? itu kalau dijuala, kan bisa buat bantu orang miskin, dari pada dibuang-buang begitu!”_. Fokusnya pada harga. Atau pada pujian Yesus—bahwa perempuan itu sedang mempersiapkan penguburan-Nya.
Namun, mungkin ada satu lapisan makna lain yang sering terlewat.
Seorang teolog, Lois Tverberg, menjelaskan bahwa dalam budaya Timur Tengah kuno, raja bukan hanya dikenali dari jubah, mahkota, atau tongkatnya—tetapi juga dari *keharumannya*. Aroma menjadi penanda kehormatan. Keharuman itu tinggal bahkan setelah sang raja meninggalkan ruangan. Keharuman menandai hadirat.
Jika demikian, maka apa yang terjadi di Betania bukan sekadar tindakan emosional seorang perempuan. Itu adalah *penandaan kerajaan.*
Ada tradisi yang mengatakan bahwa keharuman pengurapan itu masih “tercium” sampai ke Golgota. Artinya, ketika Yesus melangkah masuk ke dalam pengkhianatan, penghinaan publik, dan kematian yang brutal—tubuh-Nya masih membawa *aroma Kerajaan*. _The smell of royalty._
Sementara orang-orang melihat kehinaan, ada sesuatu yang lain yang tak kasat mata—tetapi nyata—mengelilingi-Nya: keharuman seorang raja.
Dalam bahasa Ibrani, kata untuk “aroma” adalah _reyach_ (רֵיחַ). Kata ini sering muncul dalam konteks korban dan persembahan—digambarkan sebagai sesuatu yang naik sebagai *bau harum di hadapan Tuhan.*
Perempuan itu bukan hanya menunjukan kemurahan hati, dengan “mengorbankan” hartanya yang paling berharga, minyak dalam _alabaster jar_ itu. Perempuan ini melakukan sesuatu yang menandai momentum. Momentum Kerajaan. Perempuan itu bukan hanya memberi sesuatu yang mahal. Ia mempersembahkan sesuatu yang bernilai sebagai *tindakan profetik*. Ia menandai siapa Yesus sebenarnya.
Keharuman raja yang menempel di tubuh Yesus menjadi penjelasan penting kenapa elemen _alabaster jar_, perlu dihadirkan. Yesus sekali pun dihinakan, adalah raja. Raja yang menampilkan berlapis paradoks. Yesus adalah Raja yang Menunggang Keledai, bukan kuda perang. Yesus dimahkotai duri, bukan emas. Karena bukan mahkota duri itu penanda ke-raja-an-Nya, tapi keharuman-Nya. Identitas sebagai raja, tidak hilang di sepanjang masa sengsara-Nya, dalam semua peristiwa yang ditanggung Yesus sampai tiba di Golgota.
Mungkin dari sinilah 2 Korintus 2:15 berbicara:
_“Sebab bagi Allah kami adalah *bau yang harum dari Kristus*…”_
Menariknya, keharuman itu tidak hanya tinggal pada Yesus. Ia juga menempel pada perempuan itu—pada tubuh yang membungkuk di kaki-Nya. Keharuman itu berpindah melalui kedekatan.
Kedekatan menghasilkan aroma.
Artinya, perempuan itu kemudian berjalan keluar dari ruangan itu—membawa keharuman Kristus ke tengah orang banyak.
Dan mungkin, di situlah undangannya bagi kita.
Kedekatan kita dengan Kristus—dalam penyembahan, dalam hidup yang dipersembahkan—akan meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat, tetapi dapat “tercium”.
Bukan secara fisik, tetapi secara rohani. Hidup kita menjadi seperti dupa—_Christ-like fragrance, rising up to God._
Pertanyaannya:
*Apa yang tertinggal pada orang lain setelah mereka bergaul dengan kita?*
*Apakah kedekatan kita dengan Kristus, telah membuat “aroma Kristus” tercium oleh orang lain?*
Tuhan memberkati.
Sumber: @aussiedave
https://www.instagram.com/p/DWgSyhOjlKL/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==